
"Kita berhenti di depan kios aja Om. Biar om langsung ketemu mbak Hayu."
"Oke!", Stevan pun menepikan mobilnya ke depan kios. Di kios ada mbak Hayu dan mas Aziz yang ada di belakang meja kasir. Ki berdua turun dari mobil.
"Assalamualaikum!", aku mengucap salam.
"Walaikumsalam!", sahut Aziz dan Hayu.
"Kamu udah pulang sayang, eh...om Stevan?", sapa Aziz. Hayu yang tak tahu Daddynya datang pun mendongak.
"Dad?", sapa Hayu sambil tersenyum senang.
"Stev, Aziz? Apa kabar kalian?", tanya Stevan sambil duduk di bangku pelanggan.
"Alhamdulillah baik Om!", jawab Aziz.
"Alhamdulillah, Stevi juga baik Dad!", jawab Hayu.
Aku sudah berdiri di sebelah mas Aziz, lalu meraih punggung tangannya untuk ku cium.
Mas Aziz pun mengusap puncak kepalaku.
"Kamu capek banget ya sayang?"
"Dikit, kalo udah ketemu mas capek nya ilang kok heheheh!"
"Halah...gombal banget istri ku ini!", mas Aziz menowel ku.
"Kan belajar dari kamu mas !"
"Bisa aja!", mas Aziz mencubit gemas pipiku.
Ehem....suara om Stevan berdehem. Membuat kami tersadar jika kami tidak hanya berdua.
"Maaf om... kelepasan!", kataku malu.
"Iya, om paham kok!"
"Om mau buka puasa di sini sekalian kan? Om udah belanja makanan sebanyak ini lho!"
"Boleh deh, om juga pengen sekali-kali bukber sama putri-putri om!", kata Stevan.
"Putri-putri?", tanya Hayu.
Stevan menyungginggkan senyumnya.
"Iya, putri Daddy. Stevia Winata dan Diandra Saputri, putri-putri Daddy!"
Hayu memeluk Daddynya, sedang aku? Jangan di tanya, aku merasa terharu di anggap anak oleh Daddynya Hayu. Hal yang sama, yang papa nya Mika katakan. Papa Umar. Bukan hanya sebuah kata-kata, tapi mereka memang tulus menyayangi ku.
Aziz menyadari perasaan istrinya yang merasa terharu. Di usap nya lengan sang istri.
"Semua sayang sama kamu Dek!", kata Aziz pelan. Aku mengangguk pelan. Lalu tersenyum tipis.
''Iya, Alhamdulillah ya mas. Terimakasih ya Allah!", gumam ku.
"Maaf Om, kami tinggal ngga apa-apa ya? Dian mau siapin buat kita buka sama-sama!"
"Jangan Di, kamu capek. Biar aku aja!", kata Hayu berdiri.
"Mbak Hayu temenin om Stevan aja. Aku ngga capek banget kali, nanti di bantu sama Teh Neng!"
__ADS_1
"Oh...ya udah kalo gitu."
Aku pun mendorong kursi roda mas Aziz.
"Dwp sama butik udah kelar semua Dek?"
"Alhamdulillah udah mas. Jadi mulai besok mereka bisa libur. Masuk lagi nanti tanggal sembilan."
"Heum gitu. Terus , kamu udah konfirmasi ke Revan soal jadwal kontrol mas?"
Aku diam beberapa saat.
"Udah mas, tapi ya udah lah kita bisa kontrol habis jam makan siang juga bisa. Toh, kita solat Ied nya kan pagi-pagi."
"Jadi, maksud mu Revan tidak bersedia menggeser jadwal?"
"Nggak tahu sih mas, tapi ya...udah lah ya. Kamu harus tetap datang di waktu yang sudah di tetapkan sebelumnya. Toh, sebenernya kita tak masalah hari apa pun itu."
"Iya , mas tahu. Tapi bukannya lebih terasa gitu kalo lebaran kita berkumpul bersama keluarga?"
"Mas, setelah itu pun kita bisa tetap kumpul bareng kok. Justru, mereka tuh yang pada kasian. Para pegawai medis, polisi dan semua lah yang bertugas di hari lebaran malah ngga bisa ikut merayakan lebaran karena tugas yang mereka emban. Selain karena tugas negara, juga karena kemanusiaannya."
"Iya sih, dek. Seharusnya aku lebih banyak bersyukur, bisa selalu bersama mu!"
"Aku pun sama mas!", kataku sambil menghentikan mas Aziz di depan meja makan.
"Ke kamar bentar ya mas. Ganti baju dinas dulu. Mandi nya nanti aja habis makan!"
Mas Aziz mengangguk, aku pun menuju kamar. Selang beberapa menit, Diaz sudah bersama mas Aziz. Teh neng sibuk menyiapkan diri di atas meja. Ternyata teh neng juga masih sempat masak.
"Da...da...nda....!", Diaz menggapai tangan ku.
"Cup...cup... sayangnya bunda.Kangen ya sama bunda yang cantik ini ya???!", godaku.
"Cantik lah, istrinya ayah kan emang cantik!"
"Eh, malah ayah yang muji bunda heheheheh!"
Kami tertawa bersama-sama.
"Teh neng sempet masak?"
"Iya mbak. Saya ngga tahu kalau mbak Di bakal belanja sebanyak ini", sahut Neng.
"Daddy nya Mbak Hayu yang beliiin teh."
"Owh..."
"Kita suapin tiker aja teh. Biar enak dan lega. Yang makan kan banyak."
"Siap mbak!"
Teh neng pun menggelar tikar. Aku membantu teh neng menyiapkan makanan di atas tikar. Tak lupa aku memisahkan buat mas Agus dan mas Tino.
"Teh, tolong ini anter ke depan!", aku menyerahkan dua porsi makanan yang sama seperti yang aku makan.
"Iya mbak!"
Teh neng pun membawa makanan ke depan. Di saat yang bersamaan, hayu damar dan om stevan muncul dari pintu belakang.
"Assalamualaikum!", sapa mereka.
__ADS_1
"Walaikumsalam!", aku dan mas Aziz menyahut bersamaan.
Mereka mendekat pada ku.
"Kita lesehan lagi nih!", kata Hayu.
"Iya mbak, lebih leluasa!", jawabku.
"Tapi maaf ya, aku di atas sendiri deh!", kata Aziz.
"Nggak apa-apa Ziz!", kata Stevan.
Teh Neng sudah kembali ke dalam rumah. Lalu dia cekatan membuatkan teh manis hangat untuk kami semua. Takjil yang om Stevan beli pun sudah berjajar rapi di atas tikar.
"Teh, kang Ujang belum sampe? Hari ini terakhir kerja sebelum lebaran lho!", kataku kepada teh neng yang ada di meja dapur bersama ku.
"Belum Mbak. Mungkin beres-beres dulu kali, kan mau libur panjang."
"Heum! Iya sih! Ya udah atuh, pisahin buat kang Ujang. Kasian kalo pulang belum ada makanan."
"Muhun Mbak!", kata Teh neng sambil mengambil beberapa makanan dan masakan yang ia masak tadi.
"Teh neng mau mudik kapan?"
"Kalau saya mudik, karunya atuh mbak Di teh!"
"Kunaon?"
"Pasti mbak Di sibuk pisan. Belum ngurus den Diaz, mas Aziz juga."
"Ya ampun Teh, nggak usah dipikirin sampe begitu banget kenapa. Insyaallah, aku bisa teh.Tenang aja!"
"Mbak Di ah...teteh kan jadi nggak enak sendiri."
"Nggak usah pake acara nggak enak. Selama ini waktu teh neng udah banyak banget buat ngurusin keluarga ku. Anak teteh sama orang tua di kampung kan juga kangen sama Teteh!"
"Iya sih teh!"
"Ya udah teh, ke sana yuk. Bentar lagi azan magrib."
"Iya Mbak!"
Aku dan teteh membawakan beberapa piring dan teman-temannya.
Baru ku duduk, azan magrib berkumandang. Sontak kami semua mengucap hamdalah bersama. Bergegas kami membatalkan puasa kami.
Sambil menikmati takjil yang ada, sesekali terdengar candaan dari damar kepada Aziz. Dan Aziz pun tampak santai saja meski kadang ucapan damar sedikit mengesalkan. Coba aja kalau Fai yang bicara seperti itu, di jamin gelas yang ada di meja akan melayang di udara.
Tok...tok....
"Eh, ada siapa?", tanya Aziz.
"Paling mas Agus apa mas Tino. Biar aku buka mas!", aku pun menuju ruang tamu.
"Iya?", tanyaku. Aku terkejut saat tahu siapa yang datang.
"Hai!", sapa nya!
Orang ini mau apa? Dari mana dia tahu tempat tinggal ku?
"Anda mau apa ke mari?"
__ADS_1
"Kamu ngga mempersilahkan aku masuk?", tanya nya. Tapi tanpa ku jawab dia malah nyelonong masuk.
Astagfirullah....cobaan apa lagi ini! Batinku.