Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 247


__ADS_3

Aku sudah selesai melayani pelanggan satu persatu. Tidak terlalu melelahkan lah. Minimal ada pergerakan di tubuhku. Jadi tidak harus berbaring di kasur terus.


Aku juga masih bisa bermain dengan Diaz. Beda jika ke kantor. Aku hanya bertemu diaz di rumah, itu pun sudah sore menjelang malam. Rasanya tak pernah puas.


Diaz masih bermain-main dengan mainan nya di lantai bersama teh Neng. Aku sendiri duduk di kursi kasir. Iseng-iseng ku buka-buka laci. Masih rapi tak ada yang berantakan sampai mataku menemukan tumpukan kertas. Ku ambil satu per satu, ternyata itu gambar disain gaun dan pakaian modis. Siapa yang menggambar nya?


"Hem...teh, teh neng tahu siapa yang suka gambar ini?", tanyaku sambil menunjukkan gambar itu kepada teh Neng.


"Itu, Imah mbak Dian."


"Imah? Ternyata pinter disain baju ya? Selama ini ngga tahu deh aku....!"


"Iseng cenah mbak....!", sahut Teh Neng.


Ah, iya kenapa Imah nggak ke sini? Apa jangan-jangan masih bertengkar sama Dadan?


Aku iseng memotret gambar Imah lalu ku kirim kan pada Rani. Orang kepercayaan kami di Nugroho's butik.


Rani pun membuka gambar yang bos nya kirim.


[Disain yang bagus Mba. Mau di realisasi?]


[Boleh! Itu buatan adik ipar ku]


[Baik mbak. akan saya siapkan segera]


[Makasih mbak Rani.]


Sekarang, aku tinggal mengirimkan nya pada mas Aziz. Dia pasti seneng, adiknya punya potensi menjadi disainer meski hanya lulusan SMP. Karena bakat tidak ditentukan oleh lulusan apa kan????


Ada beberapa yang ku kirim, ada juga yang ku simpan. Tapi sepertinya mas Aziz sibuk, dia tak membuka chat dariku .


Aku pun ikut duduk di lantai bersama Diaz dan teh neng.


.


.


.


Damar dan hayu pergi ke rumah sakit usai sarapan dan berpamitan kepada Daddynya. Meskipun sedih, Faiz tetap ingin mengikuti orang tuanya. Toh...opa nya adalah orang asing baginya.


"Papa...kita mau langsung pulang ke kontrakan?", tanya Faiz kepada damar.


"Kita ke rumah papa dulu. Mau ambil baju sama barang-barang penting papa. Abis itu kerumah sakit. Ada urusan sebentar. Habis itu, baru kita ke kontrakan."


"Ke rumah papa?", tanya Faiz pelan. Hayu pun melihat perubahan ekspresi Faiz.


"Kenapa sayang?", tanya Hayu pada Faiz yang duduk ke belakang.

__ADS_1


"Umi, om dan Tante itu kan galak? Kemarin bentak-bentak aja ngomong nya kan?", kata Faiz lugu. Hayu jadi tak enak sendiri kepada Damar. Tapi damar justru tersenyum.


"Mereka memang galak. Tapi sebenarnya baik kok. Papa cuma ambil barang papa. Orang tua papa jam segini udah berangkat ke kantor dan kampus."


Faiz mengangguk tanda mengerti.


"Biar nanti papa aja yang turun. kalian tunggu di mobil saja."


Hayu dan Faiz hanya mengangguk mengerti. Lima belas menit kemudian, mobil Damar sudah terparkir di depan pagar rumah yang tinggi dan megah.


"Papa tinggal sebentar ya, janji kok cuma sebentar?!", ucap Damar mengelus puncak kepala Hayu dan mencubit pipi Faiz yang duduk di belakang.


"Iya Pa."


Damarpun meninggalkan istri dan anaknya di dalam mobil. Dia memasuki rumah mewah orang tuanya.


"Umi, papa orang kaya juga ya?", tanya Faiz.


Hayu tersenyum tipis. Tak mengiyakannya juga tidak membantah. Biarlah Faiz berpikir sendiri.


"Mi...Faiz haus....!", kata Faiz.


"Yah...umi nggak bawa minum lagi."


Hayu menatap ke sekitar tempat tinggal Damar. Ada sebuah warung di sebrang jalan. Tidak memungkinkan juga meminta damar membela minum ke mobil di saat damar sedang sibuk mengepak barangnya.


"Itu ada warung. Kita ke sana saja?!", ucap Hayu.


Keduanya pun turun dari mobil, menyebrangi jalan raya yang tak terlalu ramai karena bukan jalan protokol.


"Umi, Faiz mau minum itu sama kue yang itu Mi!", tunjuk Faiz. Hayu pun menuruti permintaan putranya. Si penjual yang sedang melayani pelanggan lain pun bersikap ramah kepada Hayu.


Di seberang sana, Damar kelumpuhan mencari keberadaan istri dan anaknya.


''Mereka kemana sih?", Damar bermonolog. Akhirnya matanya menangkap keberadaan Hayu dan Faiz. Damar buru-buru menyebrang untuk menghampiri mereka.


"Sayang....kan tadi papa bilang tunggu di mobi! Kok malah disini?", tanya damar pada keduanya.


Pelanggan warung yang sedang berbelanja di situ pun dikejutkan dengan panggilan 'papa' kepada damar. Setahu mereka, dokter tampan ini belum menikah. Apalagi punya anak sebesar ini???


"Faiz haus Pa. Makanya Umi ngajak Faiz ke sini. Ya Mi?", Hayu pun mengangguk.


"Kan bisa bilang papa. Papa ambil di rumah."


"Udah nggak apa-apa mas. Ya udah katanya sekarang mau ke rumah sakit?", kata Hayu.


"Iya. Mas juga udah selesai beberes kok."


Mereka berjalan bersama. Damar menggendong Faiz agar lebih cepat sampai ke mobil. Mereka berdua tak memikirkan pandangan orang-orang yang tadi ada di warung.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke rumah sakit.


"Umi, nanti papa kerjain urusan papa dulu. Umi sama Faiz ke ruang dokter Lala dulu. Papa udah daftarin umi buat Konsul sama dokter Lala", kata Damar.


Hayu menaikan salah satu alisnya. Damar menyadari itu.


"Papa kan harus terbiasa memanggil begitu biar nanti kalo Faiz punya adik Papa udah nggak kagok!", kata Damar.


Hayu tersenyum malu. Adik buat Faiz?


"Memangnya Faiz udah mau punya adik pa?", tanya Faiz dengan polosnya.


"Doakan saja biar diperut umi ada dedek bayinya", kata Damar mengusap perut Hayu. Hayu yang diperlakukan seperti itu di depan Faiz jadi merasa malu sendiri. Ngarep nya berlebihan sekali si damar ini. Baru aja memproduksi semalam, udah ngarepin aja hasilnya.


"Aamiin....!", kata Faiz. Sepasang pengantin baru itu pun tersenyum.


"Tapi Pa, gimana cara dedek bayinya masuk ke perut umi?", tanya Faiz berdiri di antara kursi jok Hayu dan Damar.


Hayu dan damar saling berpandangan.


"Em...gimana ya? Pokoknya.... malem-malem Allah meniupkan Dede bayi ke perut umi", jawab Damar.


"Ditiup?", tanya bocah yang belum genap Lina tahun itu.


"Hem...iya nanti kalau Faiz udah besar juga tahu!", kata Hayu mencoba membujuk Faiz biar tidak memberikan pertanyaan yang lebih kritis.


"Apa Faiz bisa liat gimana Allah niup dede bayi nya ke perut umi?", tanya Faiz lagi.


Tiba-tiba Damar tersedak liurnya sendiri.


Bocah ini nanyanya kok gini amat sih? Untung aja udah terbiasa tidur sendiri. Coba kalau sekamar? Bisa-bisa libur panjang. Batin Damar.


"Kan malam-malam Faiz nya bobok. Udah, jangan tanya-tanya soal dedek bayi dulu. Yang penting sekarang, umi sama Papa pengen rawat anak ganteng nya umi ini biar makin pinter dan Soleh!"


Faiz tersenyum.


"Kalau Faiz punya dedek, Faiz masih di sayang sama Umi dan papa kan?", tiba-tiba pertanyaannya itu meluncur dari bibir mungil Faiz.


"Tentu kami sayang sama Faiz ,Faiz kan anak umi dan Papa!", sahut Damar.


Faiz tertawa girang dan mobil pun sudah memasuki parkiran rumah sakit Persada, dimana dokter damar dan dokter mika dinas di sana.


*****


🙏🙏🙏🙏🙏 telat uplot ya??? ada yang nunggu nggak sih tulisan mamak ini?


Gegara vaksin kemaren, body mamak lagi nggak vit nih. Semoga masih bisa di nikmati ya tulisan receh mamak ini. Insyaallah,nanti aplot lagi kalo udah lebih baik🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗


Like dan komen kalian adalah semangat mamak 💪💪💪💪

__ADS_1


Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2