Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 215


__ADS_3

Usai solat berjamaah, ketiga sahabat itu kembali ke UGD. Julian masih setia menunggu di sana.


Seperti nya ketiga nya memang sudah mulai tenang, tidak emosi seperti tadi.


"Terimakasih Julian."


Aziz menepuk bahu Aspri istrinya itu.


"Sudah kewajiban saya pak aziz."


Sekarang mereka berempat kembali duduk. Damar sudah selesai praktek seperti Mika sejak sore tadi.


Ddddrrttttt..... ponsel Aziz bergetar. Imah? Batin AziZ.


[Assalamualaikum Mah!]


Aziz menyahut lirih.


[Mas ...mbak Di Kenapa? Mbak Hayu bilang katanya mba Di di rawat di rumah sakit?]


[Iya mah]


[Mbak Dian kenapa sih mas? Diaz rewel dari sore mas]


Terdengar Imah mulai terisak.


Ya Allah....Diaz! Aziz mengusap wajahnya sendiri.


[Terus, gimana Diaz sekarang?]


[Diaz di gendong A Dadan, baru mau tidur mas.Diaz rewel sejak sore.]


[Maaf ya Mah, mas ngerepotin kamu terus. Mas titip Diaz ya....]


[Mas Aziz jangan bicara kaya gitu mas.]


Imah mulai terisak.


[Mas Aziz tenang aja. Fokus sama mbak Dian. Biar Diaz Imah yang jaga.]


[Iya mah!]


[Sama....itu mas, mbak Hayu tidur di rumah nggak apa-apa kan? Dia bilang mau sekalian jaga rumah, soalnya Faiz juga udah tidur di kamar Imah ]


[Mas nggak apa-apa Mah, cuma nggak enak aja sama mbak Hayu.]


[Mbak Hayu yang menawarkan diri kok mas. Dia nggak masalah berati mas]


[Ya udah, tolong sampaikan terimakasih mas buat mbak Hayu ya mah]


[Iya mas. Semoga mbak Dian cepet pulih ya. Kasian Diaz. Tolong kabarin Imah ya mas kalau ada perkembangan kesehatan mbak Di.]


[Iya mah. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Disaat yang bersamaan, dokter Lala dan Mika keluar dari UGD.


"Dokter, bagaimana kondisi istri saya?", Aziz menghampiri dokter Lala. Sedangkan Fai menghampiri Mika. Merangkul bahu Mika, dan mengusapnya.


"Pasien mengalami pendarahan yang cukup serius. Andai terlambat sedikit saja, mungkin


...tidak akan tertolong."


Ya Allah, batin Aziz. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.


Mika sendiri diam, dalam pelukan suaminya.


"Dari pemeriksaan kami.... sepertinya....ada unsur kesengajaan di sini."


"Unsur kesengajaan?", tanya Damar.

__ADS_1


"Betul dokter damar. Ada kandungan zat berbahaya di dalam tubuh pasien. Yang menyebabkan pasien keguguran, meskipun awal nya memang harus di kuret dok."


Dokter Lala memberikan penjelasan kepada dokter damar, karena dokter Damar pasti kerabat pasien nya.


"Tapi bagaimana bisa?", tanya Aziz.


"Entah bagiamana zat itu masuk ke dalam tubuh pasien. Dan....mohon maaf, untuk saat ini pasien belum bisa di jenguk ya. Nanti setelah pasien sadar dan dibawa ke ruang rawat, anda baru bisa menemui nya. Saya permisi dulu. Mari ...", Dokter Lala.


Setelah itu, dokter Lala pun meninggalkan UGD untuk mengunjungi pasien lain.


Aziz memandang Julian. Julian pun menunduk, dia merasa bersalah tidak bisa menjaga Diandra.


"Julian? Apa yang sudah Diandra konsumsi? Bukannya dia bersama mu sepanjang hari?", tanya Fai.


Mika menatap wajah suami nya yang begitu mencemaskan Diandra.


Kamu masih sangat mencintai nya mas, batin Mika.


"Iya pak Fai. saya sendiri tidak menyangka.Tapi bagaimana mungkin, ada orang yang mau mencelakai Bu Dian lewat zat itu yang mengakibatkan pendarahan Bu Dian? Sedangkan saya saja yang sedari pagi bersama Bu Dian, tidak tahu beliau hamil pak?", kata Julian panjang lebar.


Semua terdiam. Julian berpikir terus sampai akhirnya ia mengingat sesuatu.


"Pak aziz!" kata Julian.


"Ada yang kamu ingat Jul?!", tanya Aziz.


Baru saja mau mengatakan sesuatu, seseorang yang ia curigai melintas di depan mereka. Julian fokus melihat ponsel yang berada di tangan orang itu.


Tanpa menjawab pertanyaan Aziz, Julian mengehentikan langkah orang itu.


"Sebentar!", Julian meraih bahu pria itu. Pria itu pun berbalik.


"Iya mister?", tanya orang itu .


Iya, orang yang sama dengan yang aku temui di hotel. Suara itu! Batin Julian.


"Berikan ponsel mu!", kata Julian.


Julian menarik paksa ponsel itu.


Memeriksa sebentar!


"Apa ini?!!!!", hardik Julian menunjukan video percakapan kami di depan UGD. Mungkin pria itu sudah berganti kostum, tapi suara itu masih Julian ingat.


"Ada apa Jul?", aziz mendekati Julian.


Julian mencengkeram baju pria itu tapi kepalanya menoleh kepada bos nya. Dan tentu saja kelengahan itu di manfaatkan oleh pria itu.


Dengan begitu cepat, pria itu menarik ponselnya dari tangan Julian dan melepaskan diri dari cengkeramannya.


"Hei....tunggu! Berhenti!", Julian bermaksud mengejar pria itu tapi Aziz melarangnya.


"Apa yang kamu lihat di ponsel nya Julian? Kenapa dia jadi ketakutan seperti itu?", tanya Aziz.


"Pak, ini ketiga kalinya saya menyadari kehadiran pria itu ."


Tidak hanya Aziz yang tercengang, damar ,Fai dan mika pun tampak bingung.


"Maksud kamu apa? Jangan membuat ku berspekulasi yang tidak-tidak."


Julian tampak menghela nafasnya.


"Dari pagi, sepertinya ada yang mengikuti pergerakan kami pak. Saya dan Bu Dian."


"Maksudnya orang itu mengikuti kegiatan kalian dari pagi?" tanya Aziz.


"Sepertinya begitu pak. Saya baru menyadari nya saat pulang dari hotel pak. Saya tidak sengaja menabrak pria tadi. Meskipun dia memakai masker dan sudah berganti pakaian, tapi saya masih ingat suaranya."


"Saya nggak paham...!",kata Aziz.


"ini baru asumsi saya. Sepertinya,orang yang merekam Bu Dian dan Pak Fai, serta bu Dian dan kak Ben adalah orang yang sama."

__ADS_1


Mereka semua yang ada disitu melongo.


Julian mengingat-ingat kejadian setelah bos nya pulang dari rumah sakit.


Ah, iya. Diandra sempat turun membeli air mineral ke minimarket. Dia tak mengijinkan Julian membelikan minuman untuk nya.


"Pak...saya ingat. Bu Dian sempat ke minimarket membeli air mineral. Apa itu mungkin....????", kata Julian seolah mendapat sedikit pencerahan.


"Lalu???", tanya Damar.


"Sebentar pak. Saya rasa botol minuman itu masih ada di mobil."


Julian segera beranjak tanpa menunggu persetujuan bosnya. Tapi dia kembali berbalik arah.


"Kenapa Jul?", tanya Aziz.


"Saya khawatir jika...orang itu juga mengincar anda pak."


Aziz mendekati Julian.


"Kamu jangan mengkhawatirkan aku. Kamu lihat, aku tidak sendiri."


Julian pun akhirnya meninggalkan mereka.


"Julian, saya ikut!", kata Damar.


Julian pun mengiyakan, mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran.


Di perjalanan menuju parkiran, Damar membuka obrolan.


"Julian....!"


"Ya dok....?", kata Julian sambil menengok ke arah Damar.


"Kamu mau ambil air mineral itu untuk di teliti?", tanya Damar.


"Iya pak. Saya mencurigai air mineral itu salah satu penyebab Bu Dian mengalami kejadian ini. Saya merasa gagal menjaga Bu Dian dok."


Suara Julian terdengar menyesal. Damar menepuk bahu Julian.


"Yakin lah, Dian tidak selemah itu. Dia perempuan kuat."


Julian pun tersenyum.


"Iya dok!"


Mereka berdua sudah berada di parkiran. Dan Julian memberanikan diri untuk bertanya kepada Damar.


"Dok...boleh saya bertanya tapi agak pribadi?", tanya Julian.


Damar mengernyitkan dahinya.


"Soal apa?"


"Em... bagaimana perkembangan hubungan anda dengan Stevi?", tanya Julian.


Damar sedikit tersenyum.


"Belum ada perkembangan yang signifikan Julian. tapi ...aku pasti akan menunggu nya."


Julian pun membalas nya dengan senyuman juga.


"Selamat berjuang ya dok!" kata Julian.


Lalu mereka berdua menuju laboratorium untuk meneliti kandungan dari air mineral itu.


******


Siapa sih orang di balik kejadian ini? Coba tuh orang nggak kabur ya????


🤔🤔🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2