Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Membujuk Farhan


__ADS_3

Malam pun tiba. Aku sengaja meletakkan Diaz di dekat ku agar nanti saat dia terbangun,aku tidak perlu turun dari ranjang ke box bayiku.


Mas Aziz mengalah, tidur di sofa. Dia takut tidak sengaja menindih Diaz saat ia tertidur nanti.


Aziz mendekati istrinya lalu mengecup kening istrinya yang ada sedikit luka.


"Kamu bikin mas cemas tau nggak dek?Mas nggak bisa maafin diri mas kalau sampai kamu kenapa-kenapa!", batin Aziz.


Lalu Aziz berjalan keluar kamar sambil menenteng ponsel nya. Tak lama setelah itu, ponsel Aziz berdering.


Fai? Ngapain jam segini telpon? Aziz melirik jam yang menunjukan pukul setengah sepuluh malam.


[Assalamualaikum Fai, kenapa?]


[Walaikumsalam.Lo belom tidur kan?]


[Belom. Kenapa?]


[Gue di luar! Gue mau ngobrol sama Lo!]


[Harus sekarang?]


[Iya lah, gue di depan gerbang!]


Klik!


Fai mematikan panggilan nya. Aziz pun berjalan menuju gerbang.


"Ada apaan sih Lo malem-malem ke sini?"


"Giman keadaan Dian?"


"Lo cuma mau nanyain keadaan istri gue? Kan bisa lewat telpon, ngapain nyamperin gue!"


"Gue nanya, Dian gimana?"


"Udah tidur! Lukanya ngga parah kok! Udah nanya itu doang?"


"Syukurlah , Alhamdulillah kalau nggak apa-apa."


"Ya udah, mau ngapain lagi?"


"Bisa nggak sih Lo nggak usah ketus sama gue?"


"Tergantung, kalau urusan sama istri gue...lain cerita nya!"


"Dasar Lo, masih cemburu aja!"


"Iya lah!"


"Hem...Lo sadar nggak, kalau...Feby lama ngga ke sini?"


"Feby? Ngapain Lo nanya Feby? Jangan bilang, Lo kangen sama ulet bulu itu?"


"Ishhh! Kagak ada yang lain apa?"


"Terus kenapa Lo ngomongin dia? malem-malem begini, sama gue pula. Lo tau ndiri, gimana dia ke gue?"


"Dia sakit bro! Lo tau, tadi sore waktu gue keluar dari IGD, gue liat Feby. Dia lagi menjalani kemo, dan...Damar yang nanganin dia!"


"Damar? Damar temen kita?"


"Iya lah Ziz, siapa lagi?"


"Terus , hubungan nya sama gue apa?", tanya Aziz.


"Kenapa Lo mendadak oon sih Ziz , gara-gara ketularan adik sepupu Lo itu?"


"Dih ...apaan sih Fai. Lo kalau mau ngomong yang jelas!"


"Feby, damar bilang penyakitnya udah kronis. Lo...nggak mau bantuin dia?"

__ADS_1


"Gue? Bantuin dia? Nggak ah, takut gue!"


"Iiih...Lo jadi laki gitu banget sih Ziz. Gue tau, Lo takut gegara dia terobsesi sama Lo. Tapi, kali ini demi kemanusiaan Ziz!"


"Kemanusiaan gimana sih Fai? enggak ah...gue nggak mau terlibat sama urusan dia?"


"Ini menyangkut masa depan adik mu juga Aziz!"


"Kok? Kenapa jadi ke Imah?"


"Lo tau kan Farhan anaknya Feby, calon anak tirinya Imah. Calon keponakan tiri Lo?"


"Terus?"


"Lo nggak kasian apa sama Farhan? Seperti apa pun kelakuan ibunya, Feby tetep ibu kandung Farhan."


"Terus, gue suruh ngapain?"


"Lo...bantu bujukin Farhan, gue cuma takut aja kalau...kalau Feby nggak lama!"


"Astagfirullah Fai, Lo doain orang lain berunjuk pendek?"


"Ya bukan gitu Ziz, tapi gue liat sendiri keadaan Feby. Sebenci-bencinya Lo ke Feby, Lo ga bakal tega liat dia sekarang!"


Aziz merenung sebentar. Apa yang bisa dia bantu?


"Terus gue suruh ngapain? Gue bantu gimana?"


"Lo, bilang sama Imah. Biar Farhan mau nemuin ibu kandung nya. Dan Lo...Lo juga harus berperan disini!"


"Kalau soal ngomong ke Imah, gue nggak masalah. Yang jadi masalah, gue harus berperan yang kaya gimana? Jadi pahlawan kesiangan buat mereka?"


"Lo kan tahu....Feby kecintaan sama Lo, ya...Lo....!"


"Ogah! Gue tau banget jalan pikiran Lo!"


"Demi kemanusiaan Ziz!"


"Masa seorang Aziz takut sama cewek!"


"Tau ah, udah sana Lo pulang! Gue mau tidur!"


"Gue mau nginep disini, masih ada kamar kosong kan?"


"Gue tonjok nih muka Lo!", kata Aziz.


"Iya gue pulang, Assalamu'alaikum!"


"Walaikumsalam!"


Sepeninggal Fai, Aziz pun kembali masuk ke kamar.


Menjatuhkan bobotnya ke sofa. Memikirkan kembali ucapan Fai tadi. Apa yang harus dia lakukan untuk Farhan dan Feby? Apa Imah bakal berhasil membujuk Farhan?


Kenapa dia jadi ikutan pusing sih? Ini kan urusan pribadi Feby? Gue siapa?


*****


Keesokan paginya, Aziz menceritakan tentang Feby kepada Imah. Dan Imah sepertinya setuju untuk mempertemukan Farhan dan Feby. Tapi, tentu saja dengan ijin dari kang Dadan.


"Ya udah, Imah ke rumah A Dadan dulu ya mas!"


"Iya, hati-hati. Pelan aja bawa motor nya!"


"Iya mas!"


Sesampainya di rumah Dadan, warung terlihat ramai. Dadan pun tampak membantu Karyawannya melayani pelanggan. Tanpa di minta, Imah pun turut membantu Dadan yang kewalahan melayani pembeli.


"Neng, udah nggak usah biar AA aja. Kamu ke rumah aja!"


"Nggak apa-apa A, Imah bantu sebisa Imah kok!"

__ADS_1


Dan perlahan, semua pelanggan bisa di tangani. Dadan menggandeng tangan Imah menuju rumahnya yang tepat berada di samping warung.


"Kunaon kadinya neng?Ada yang penting?", tanya Imah saat ia mendudukan Imah di sofa.


"Iya A. Em...Farhan mana toh?"


Bisa dibayangkan yang satu Jawir banget, yang satu Sunda pisan?


"Ada, di kamar. Kamu teh mau nemuin saya apa Farhan Mah?"


"Kalian berdua A!"


"Ya udah, AA panggil Farhan dulu sebentar!"


A Dadan pun meninggalkan ku untuk memanggil Farhan yang berada di kamarnya.


"Kak Imah!",panggil Farhan.


"Iya , sayang....!"


Farhan pun duduk disebelah Imah.


"Kata ayah, kak Imah nyariin Farhan?"


"Nggak cuma Farhan, ayah juga kok!"


"Owh...kenapa emangnya kak?"


"Em... Farhan, A Dadan. Imah mau kasih tahu kalau...kalau mbak Feby ...sakit parah A, Han!"


"Mama Feby sakit kak? Kak Imah tahu dari siapa?"


"Dari Om Aziz Han!"


"Dari mas Aziz? Emang Feby sakit apa? Separah apa?"


"Imah juga kurang tahu A, tapi mas Aziz bilang...mbak Feby menjalani kemoterapi, artinya...nggak jauh-jauh dari kanker A!"


"Astagfirullahaladzim", desis Dadan.


"Mama Feby sakit apa ayah?"


"Em...ayah belum tahu nak!"


"Terus, tujuan kamu kesini apa Mah?", tanya Dadan.


"Em...Imah pengen ngajak Farhan jenguk mbak Feby A? Boleh?"


"AA mah ngijinin, tinggal Farhan nya mau apa nggak?"


Farhan tertunduk. Dia bingung harus bagaiamana. Disatu sisi, mama Feby adalah salah seorang yang dia benci karena sudah menyia-nyiakan Farhan dari kecil. Disisi lain, seperti apa pun mama Feby, surga Farhan ada di telapak kakinya.


"Nak...!", panggil Dadan.


"Apa mama Feby akan sembuh?", tanya Farhan sendu. Dadan menatap Imah, Imah pun paham dengan maksud Dadan.


"Semoga mama Feby cepat sembuh ya Han. Em...Farhan mau kan ketemu sama mama Feby? Biar mamanya semangat cepet sembuh kalau liat Farhan?"


"Tapi..."


"Sini, peluk kak Imah."


Farhan pun mendekati Imah dan memeluknya.


"Farhan, anak Soleh ....anak pintar...kak Imah tahu, di sini...di hati Farhan, Farhan sayang sama mama Feby!"


"Tapi kak, bukannya mama nggak mau ketemu Farhan?"


"Itu kan kemarin, sekarang pasti mama seneng ketemu Farhan!"


"Tapi, kak Imah nemenin Farhan lho! Sama ayah juga!"

__ADS_1


Imah pun mengangguk, menyetujui syarat Farhan.


__ADS_2