
"Gue pulang deh. Eh iya Di, motor mu gue bawa pulang ke rumah aja ya."
"Iya!", jawabku singkat.
Fai pun meninggalkan ruangan ku.
"Mas, kok perasaan ku nggak enak kamu ke Surabaya ya mas?"
"Ssssttt ngomong apa sih sayang?", mas Aziz memelukku erat.
"Emang berapa hari di sana?"
"Belum tahu, mungkin satu atau dua hari aja. Kenapa? Nggak bisa jauh-jauh dari mas? Hem???", tanya mas mencolek daguku lalu mengecup singkat bibir ku.
Aku pun menenggelamkan kepalaku di dadanya. Entah perasaan apa yang ku alami. Aku merasa tak ingin jauh-jauh dari mas Aziz.
"Iya mas."
"Kalau posisi kamu cuma ibu rumah tangga kaya kemarin, mas pasti bawa kamu. Tapi sekarang kan udah beda, kamu juga harus mengurusi banyak hal. Diaz dan juga DWP, harus kamu urus bukan?"
"Iya mas, aku tahu!", kali ini aku yang memulai untuk mencium nya. Untuk beberapa saat kami bertukar Saliva.
"Sayang...kamu lagi kenapa sih? Kaya manja banget? Mas cuma ke Surabaya dek."
"Iya aku tahu mas. Tapi...."
"Dengerin mas dek, mas nggak akan mengulangi kesalahan mas seperti kemarin."
"Iya, aku percaya mas. Tapi bukan itu yang aku cemaskan. Nggak tahu apa mas....!"
Lagi-lagi mas Aziz merengkuh bahuku.
"Doakan mas pulang pergi dengan selamat."
Aku mengangguk dalam dekapan nya.
"Kapan rencana mas mau berangkat?",aku mendongakkan kepalaku.
"Nanti malam."
Cup...mas Aziz mengecup kening ku.
"Aku akan meminta Julian menyiapkan tiket penerbangan untuk nanti malam."
Aku bangkit dari sofaku. Tapi mas Aziz meraihku lagi.
"Nggak usah sayang, mas bisa melakukan nya sendiri. Temani mas saja dulu ya?!"
Mas Aziz kembali menciumi ku. Hanya sekedar itu, karena kami sadar berada di mana.
Aktivitas kami berhenti saat seseorang mengetuk pintu. Kami pun melepaskan tautan kami.
"Masuk!", titah ku saat aku dan mas Aziz sama-sama sudah merapikan diri.
Ternyata pak Sam, manager keuangan yang kemarin sempat ku tegur.
"Silahkan pak!",kataku sambil mempersilahkan pak Sam duduk.
Pak Sam pun duduk di depan ku.
"Bu Dian....saya...mau mengundurkan diri. Dan...semua yang sudah saya ambil diam-diam akan saya kembalikan kepada anda."
__ADS_1
Ku lihat mas Aziz melipat kedua tangannya di dada sambil menyenderkan punggungnya ke sofa.
"Benarkah? Apa pak Sam sudah mengakui dan menyadari kesalahan pak Sam selama ini?"
Dia mengangguk. Usianya ku taksir lebih tua dari papa Umar. Tapi dia masih bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga nya, eh...bukan tepatnya memenuhi kegengsian istri dan anak-anaknya. Julian sudah menyelidiki tentang keluarga pak Sam.
"Saya pun pasrah, jika anda menyerahkan saya ke polisi Bu Dian."
Aku mengetuk-ngetukan jariku ke meja. Apa yang akan ku lakukan? Apa aku benar-benar akan memenjarakan nya?
"Berapa yang akan pak Sam kembalikan padaku?"
"Semua yang saya curi dari DWP Bu."
Masyaallah...ada orang seperti ini? Kalau koruptor negara ini model pak Sam mah.... di jamin..... mustahil!!!!
"Kalau ternyata kurang? Bagaimana pak Sam mau melunasi nya?", sekarang aku menyilang kan tanganku di dada.
"Saya akan mencari pinjaman Bu!"
Bagiamana bisa dia mau mencari pinjaman? Dia saja sudah setua ini, mau ngasih jaminan apa?
"Berapa tahun pak Sam mengabdi di DWP?"
"Hampir dua puluh tahun Bu."
"Dua puluh tahun????", tanyaku meyakinkan diri. Pak Sam hanya mengangguk.
"Jadi, mentang-mentang pak Sam sudah mengabdi selama dua puluh tahun, pak Sam merasa berhak atas apa yang bukan hak anda?", tanyaku datar
Pak Sam menunduk.
Apa yang ada dalam rencana mu sih Dek?, batin Aziz.
Pak sam mendongak tiba-tiba. Dalam hatinya, ia pasrah jika akan di penjara. Toh ...selama ini dia sudah menikmati uang DWP cukup banyak.
"Apa Bu Dian mau menjebloskan saya ke penjara? Kalau pun iya, saya pasrah Bu!", kata pak Sam lesu.
"Berapa gaji staf biasa di sini pak Sam?", tanyaku.
"Sekitar enam sampai tujuh juta Bu."
"Saya mau anda mengundurkan diri jadi manager di sini. menyerahkan semua aset DWP dan....anda tetap bekerja di sini,tapi... sebagai staf biasa bagaimana?", tanyaku.
Pak Sam pun menatap ku tak berkedip. Mas Aziz pun memajukan dirinya dari sofa tempat dia duduk.
"Apa? Staf biasa?", ulang pak Sam.
"Dek...?!", panggil mas Aziz. Tapi aku hanya menunjukkan telapak tangan ku ke arah mas Aziz, untuk melarang nya bicara tentunya. Mas Aziz pun menuruti ku.
"Bagiamana pak Sam? Anda bersedia?" Atau...anda merasa terbebani karena hanya jadi staf biasa?"
Pak Sam menggeleng pelan. Tak ku duga, ia meneteskan air matanya.
"Saya hanya punya dua pilihan pak Sam. Di penjara, atau... bekerja di sini sebagai staf biasa seperti karyawanku yang lain."
"Terimakasih.... terimakasih Bu Dian. Saya tidak menyangka anda akan memberikan kesempatan itu pada saya. Saya bersedia menjadi staf biasa. Jangankan staf biasa bu, jadi ob pun saya mau."
Pak Samsul tergugu di tempat duduknya.
Apa-apaan sih Diandra? Batin Aziz.
__ADS_1
"Saya hanya memposisikan anda sebagai kepala keluarga pak Sam. Saya tahu, anda masih menanggung anak anda yang masih kuliah bukan?"
Pak Sam kembali tergugu. Tiba-tiba dia bangkit dan berlutut di hadapan ku.
Aku pun bergerak mundur.
"Terimakasih Bu Dian .. terimakasih....!", pak Sam mengusap air matanya.
"Bangun pak Sam. Saya juga orang biasa. Apalagi saya lebih muda dari anda."
Pak Sam pun bangun. Dia masih tidak percaya dengan keputusan Diandra, bos barunya. Padahal dia sudah pasrah jika ia harus mendekam di penjara bertahun-tahun.
"Mulai besok. Anda akan berhenti dari jabatan menejer keuangan. Julian akan menempatkan Anda pada posisi yang tepat untuk anda. Silahkan anda kembali ke ruangan anda untuk berkemas. Jadi, saat ada yang sudah menggantikan anda ruangan anda sudah bersih dari barang-barang Anda."
"Terimakasih sekali lagi Bu Dian, saya permisi!"
Pak Sam pun meninggalkan ruangan ku.
"Dek... kenapa kamu kasih kesempatan dia sih?"
"Dia kan punya keluarga mas. Kasian kan? Lagi pula, dia juga akan menyerahkan aset DWP."
"Kalo pejabat KPK kaya kamu, nggak ada koruptor yang ketangkep apalagi kena ott."
"Untungnya aku bukan pejabat KPK ya mas hehehe."
*******
[Assalamualaikum Bah, kenapa?]
[Walaikumsalam]
Terdengar suara Abah begitu lantang, Fai pun menjauhkan dari telinganya.
[Kamu tanya kenapa?]
Ah, pasti Paijo udah laporan sama Abah nih! Batin Fai.
[Iya, Fai kan nggak tahu bah?]
[Jonathan bilang.....]
[Iya, Fai tahu. Fai jelaskan di rumah ya Bah. Sekarang Fai lagi sama papa Umar, di kantor Dian]
[Jadi... ini semua ada hubungannya dengan Dian?]
[Lebih tepatnya Aziz bah! Udah ya bah, nanti lagi Fai jelaskan. Assalamualaikum]
Fai langsung menutup panggilan telepon nya.
Papa Umar yang tak sengaja satu lift lagi dengan Fai pun bertanya.
"Ada masalah apa si Aziz Fa?"
"Nggak pa,masalah kecil aja kok. Udah di beres kan. Abah cuma nanya aja kantor kami yang di Surabaya."
"Owh....", kata papa Umar singkat.
*****
Semoga bantuan Lo ga sia-sia ya Fai. Dan....nantinya gak bikin kesalahpahaman di antara Lo-Lo pada.
__ADS_1
Btw...mamak ucapakan banyak terimakasih sama kalian yang sudah bersedia baca tulisan mamak ini. Mamak dengan senang hati menerima kritik saran dan semua komentar biar mamak bisa nulis lebih giat dan lebih baik lagi.
Hatur nuhun! Makasih! Matursuwun! Tengkyu.....🤗♥️♥️♥️