
Usai makan malam, kami bertiga menghabiskan waktu dengan bercanda. Sampai akhirnya Diaz kelelahan dan tertidur lagi meski baru jam delapan malam.
Hayu pun memasuki ruangan lewat dapur.
"Mas, saya permisi mau pulang. Ini omset hari ini."
Hayu menyerahkan dompet dan kunci pada Aziz.
"Iya. makasih mbak. Oh iya, Faiz mana!? Berapa hari ngga liat Faiz?"
"Tadi ke sini mas, tapi udah pulang lagi. Ikut sama ustad Zaki."
Siapa ustadz Zaki? Batin AziZ.
"Owh."
"Itu makan malam buat Faiz mbak, jangan lupa di bawa ya!"
"Di, lain kali nggak usah begini. Saya ngerepotin kalian terus."
"Siapa yang repot sih mbak Hayu? Enggak lah!"
Kami pun saling melempar senyum.
"Saya pulang ya. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Mas Aziz menyimpan omset hari ini di kamar. Imah yang biasa mengecek pembukuan nya besok pagi.
"Mas mau kunci gerbang dulu ya."
Sekarang aku memindahkan Diaz ke dalam box tidurnya yang sekarang kurubah posisinya. Bagian samping box ku buka, lalu ku Pepet kan ke ranjangku.
Mas Aziz pun menyusul ku ke kamar.
Wajahnya menunjukkan senyum sumringah. Dengan langkah pasti, mas Aziz menghampiri ku.
"Anak ayah pinter ya bund!", kata mas Aziz sambil mengecup pipiku.
"Iya....Diaz tahu, ayahnya mau bikin ulah!", sindirku.
"Kok ulah sih?? Bikin enak dong...?!", rayunya lagi sambil memelukku erat dari belakang.
"Whatever lah naon arana!", kataku.
(Apa ajalah apa namanya)
Mas Aziz mengusel-uselkan kepalanya di tengkukku.
"Sayang, masih sore!",kataku sambil mencoba menghindari serangannya.
"Siapa bilang sore? Ini udah mendekati angka sembilan! Cukup lah buat tiga kali hukuman, nggak sampe pagi."
"Hobi banget sih tiga kali? Udah sekali aja, kalau nggak mau mending nggak usah sekalian", ancamku.
"Uuuh....mas takut sama ancaman mu dek! Sayangnya...itu boong!", kata mas Aziz sambil mengangkat badan ku ke sofa.
"Mas...apaan sih? Turunin!", pintaku.
"Mas nggak mau nurunin, maunya naikin kamu!"
"Ishhh....mas....!", mas Aziz menurunkan ku ke sofa.
Dia berjongkok di depanku setelah berhasil menurunkan ku ke sofa.
"Dek...mas minta maaf. Kalau selama mas jadi suamimu, mas sering membuat mu sedih, membuat mu menangis. Tapi , asal kamu tahu dek. Nggak pernah sedikitpun terlintas di pikiran mas buat selingkuh dari kamu. Jadi tolong....jangan pernah berhenti percaya sama mas!", mas Aziz mengusap kepalaku yang sudah tak berjilbab.
__ADS_1
Aku pun mengangguk dan menakupkan kedua tanganku di pipinya.
"Insyaallah mas...!"
Setelah itu, mas Aziz duduk di sebelahku. Merengkuh ku dalam pelukannya yang hangat. Dada bidang yang selalu lapang memelukku erat selama ini.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku andaikata saat itu memutuskan untuk berpisah dengan nya. Pelajaran hidup! Iya, yang bisa ku ambil dari pengalaman tersebut adalah belajar ikhlas untuk memaafkan dia yang sudah mengkhianati kepercayaan mu. Memaafkan menang tak mengubah masa lalu, tapi dengan memaafkan insyaallah mengubah masa yang akan datang dengan hal yang lebih baik.
Mas Aziz mengecup keningku, kedua mataku bergantian, kedua pipi ku dan terakhir.... mendaratkan bibirnya.
Untuk beberapa saat kami saling menikmati lu*atan.
Aktivitas kami terhenti saat aku merasakan sesuatu yang mengganjal di belakang ku.
Aku mendorong pelan wajah mas Aziz dariku.
"Kenapa?", tanya Aziz heran, mungkin dia kecewa.
Aku meraba sesuatu di belakang ku,lalu mengambilnya.
"Ini?", tanyaku.
"Oh...iya, itu hp baru buat kamu dek. Buat menunjang pekerjaan kamu kan?"
Aku membuat paper bag itu, lalu mengambil isinya.
"Mas....hp ini kan...."
"Mahal?", tanya mas Aziz. Aku menatap matanya yang sepertinya akan kembali emosi.
"Bukan... maksud aku bukan gitu sayang....!", aku meraih pipi nya yang mulai chuby.
"Apa ? Tadi kan kamu udah bilang begitu."
"Iya, makasih...!", aku mengecup pipinya. Lalu kubenamkan kepalaku di dadanya. Mas Aziz pun mengusap kepalaku.
"Unboxing sekarang ya?", tanyaku yang masih betah di pelukannya.
"Ya hp dong mas....!", kataku sambil memundurkan tubuhku. Tapi, mas Aziz meraih pinggang ku.
"Hp bisa besok pagi. Sekalian mas pindahin data-data nya."
"Tapi mas....kalau ganti hp aku nggak bisa baca novel online dari Noveltoon dong?"
"Bisa, tenang aja. Mas bakal pindahin semuanya." Dengan menjawab seperti itu, mas Aziz masih usaha meraih tengkuk ku. Dan dia pun berhasil membuat tato alami di leherku.
"Bisa kita mulai?", bisiknya di telinga ku.
"Iya, tapi mas harus janji!"
"Apa hemmmm!???"
"Sekali aja!", kataku bernegosiasi.
"Iya janji!"
"Awas kalau bohong!", kataku sambil mendorong kepalanya.
"Nggak!", jawabnya dengan masih menghisap kulit leher ku.
"Mas....ih....janji dulu!", pintaku.
"Iya, mas janji. Sekali doang. Sekali mas di atas kamu di bawah, sekali kamu di bawah mas di atas, sekali kamu berdiri. Udah!!!!", kata mas Aziz tanpa menghiraukan ocehan ku lagi.
Dan kenyataan nya, aku tak bisa melawan apa yang jadi keinginan nya.
Semakin ia berumur, semakin mahir menyenangkan ku. Janji 'sekali' memang ia tepati, tapi 'sekali' dalam versi nya mas Aziz bukan 'sekali' dalam realita.
__ADS_1
Hampir jam sebelas malam, kami mengakhiri aktivitas itu.
"Capek ya sayang??", tanya mas Aziz padaku yang sudah telentang diatas sofa tertutup selimut.
"Nggak. Hayati lelah bang....!", sahutku. Ingin sekali aku tertidur, tapi keinginan untuk membersihkan diri lebih besar. Mas Aziz pun terkekeh dengan jawabanku tadi.
Aku pun bangkit dari sofa ku menuju kamar mandi. Mas Aziz tersenyum puas mengerjai ku kali ini.
Usai membersihkan diri, aku berbaring di sebelah Diaz. Tak lama kemudian, mas Aziz pun menyusul ku. Memelukku dari belakang, sampai kami lupa tertidur dengan sendirinya.
*****
"Dan, kumaha? Emak iraha bogah incu?", tanya Mak.
(Dan, gimana? Emak kapan punya cucu?)
"Mak, pan Aya Farhan. incu emak Oge."
(Mak, kan ada Farhan. Cucu emak juga)
"Pan beda atuh lamun incu kandung mah."
(Kan beda dong kalau cucu kandung mah)
"Yang sabar aja atuh Mak. Lagipula, Dadan ge baru sebulanan menikah nya. Masih baru atuh Mak, Mak yang sabar aja ya!", kata Dadan sambil mengusap lengan enaknya.
Dadan tahu, Emak memang dari dulu menginginkan cucu darinya. Beliau takut, andaikata Dadan juga mengalami hal yang sama dengan almarhum bapaknya. Almarhum bapak agak sulit memberikan keturunan. Butuh dua belas tahun hingga akhirnya Dadan lahir ke dunia. Usaha untuk berobat pun tidak kurang-kurang.
Di saat usia Dadan yang baru lima tahun justru ditinggalkan bapaknya yang sudah mulai menua saat itu. Sampai akhirnya, Mak bekerja di keluarga almarhumah Feby. Dan... pernikahan yang tidak diinginkan pun terjadi.
Mereka tak menyadari, ada seorang wanita yang bersandar di balik dinding mendengar percakapan mereka.
Hanya ucapan seperti itu, nyatanya mampu meloloskan air mata seorang Imah.
"Ibu ,jangan nangis!", peluk Farhan tiba-tiba.
Ya Allah, Farhan mendengar obrolan mereka? Bagaimana perasaan Farhan?
Imah pun memeluk Farhan.
"Nggak. Ibu nggak nangis. Kok Farhan belum bobo?"
Farhan menggelengkan kepalanya.
"Farhan nggak bisa bobo."
"Kalau ibu temenin Farhan mau nggak?", tawar Imah.
"Memang boleh?", tanya Farhan.
"Boleh dong. Tapi ....nanti kalau Farhan udah bobo, ibu keluar ya."
"Iya bu. Makasih!", Farhan kembali memeluk pinggang ramping imah.
Imah pun menggandeng tangan anak tirinya itu.
"Bu, janji ya jangan nangis lagi. Buat Farhan, ibu adalah ibu yang sempurna buat Farhan."
Imah tak sanggup menahan perasaannya.
"Iya sayang, Farhan adalah anak ibu yang sangat ibu sayangi. Ibu nggak akan nangis lagi."
Imah mengecup kening Farhan, lalu mengusap kepalanya sampai Farhan benar-benar tertidur pulas.
*****
Ternyata.... kehidupan rumah tangga Imah nggak lempeng-lempeng amat kok. Ya....emang sih, kisah cinta Dadan dan Imah nggak serumit yang lain. Tapi....apa yang Imah rasakan, banyak juga di rasakan oleh kaum hawa lainnya, para istri khususnya.
__ADS_1
Selamat berjuang ya para pejuang 'garis dua'. Jangan lupa usaha dan doanya juga ya ✌️☺️♥️🥰🤗
Usaha tanpa doa, sombong. Doa tanpa usaha????? Apa dong???