Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 176


__ADS_3

Usai menerima video itu, perasaan ku tidak enak. Aku ingin bertanya langsung pada mas Aziz. Sayang nya, biar itu harus kuurungkan karena di rumah ada Fai dan Mika. aku tidak mungkin menunjukkan kalau kami bermasalah di hadapan mereka.


Mas Aziz kembali mengambil Diaz dariku. Aku pun melanjutkan aktivitas memasak di bantu Mika.


Mungkin mika menyadari perubahan sikapku setelah selesai solat tadi.


"kamu kenapa Di?" tanya mika pelan. Lalu memutar kepalanya melihat ke arah Fai dan Aziz yang sedang mengobrol.


"Nggak apa-apa Mika." Aku menjawab setenang mungkin.


"Apa ada masalah?", tanya Mika lagi.


"Nggak kok. Udah, tenang aja."


Aku berusaha tersenyum ke arah mika.


"Apa kehadiran kami mengganggumu?", tanya Mika ragu. Aku menghentikan aktivitas memotong bawang.


"Nggak mika. Jangan salah sangka. Aku senang kok kalian di sini."


"lalu?", sepertinya mika masih penasaran.


"Nggak apa-apa Mika. Serius!", aku berusaha meyakinkan Mika.


Apa Dian merasa cemburu dengan kedekatan ku bersama mas Fai ya? Tapi, sepertinya Dian tidak seperti itu. Apa dia ada masalah? Kenapa dia nggak cerita? Perasaan tadi baik-baik saja.Batin Mika.


"Mika....!" panggil ku.


"Ah....iya! Maaf!" , kata mika terkejut.


"Kamu duduk aja sama mereka. Ini bentar lagi juga selesai kok."


"Jangan lah, aku kan juga mau belajar masak Di."


Aku pun tersenyum sambil terus mengaduk masakanku.


Setelah tiga puluh menit berlalu, masakanku pun sudah siap. Aku dan mika menyiapkan makanan di atas meja makan.


Diaz sudah di letakkan di stroller nya.


"Maaf ya, aku tinggal kedepan dulu. Mau bilang sama imah dan mba Hayu!", aku meninggalkan meja makan.


Mas, apa kamu berulah lagi di belakang ku ? Tapi kenapa aku tak yakin. Apa aku harus menyelidikinya terlebih dulu?


Kaki ku sudah sampai di kios.


"Lho...mbak Hayu, Imah mana?"


"Oh...Imah di jemput kang Dadan Di. Katanya Mak sakit, jadi Imah buru-buru pulang. Nggak sempat pamit", jelas Hayu.


"Owh...ya sudah. Nanti, kalau mbak hayu mau pulang, biasa ya! Jangan lupa ambil Makanan di Belakang. Udah aku siapin!"


"Makasih lho Di, aku ngerepotin kamu terus."


"Aku yang harus berterima kasih. Mbak Hayu masih mau bantu aku di kios ini."


"Sama-sama Di!"


"Ya udah, aku ke dalam lagi ya mbak!"


"Iya, silahkan!"

__ADS_1


Aku pun kembali ke meja makan. Ternyata mereka masih menunggu ku.


"Ayo, silahkan di makan!", aku mempersilahkan Fai dan Mika untuk makan malam. Mas Aziz seperti menyadari perubahan sikap ku.


"Dek, mas mau lauk itu!", Aziz menunjuk lauk yang di maksud. Aku pun memberi kan apa yang dia minta.


Aku hanya diam saat mereka bertiga saling mengobrol satu sama lain. Aku mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi konsentrasi ku buyar entah kemana.


Acara makan malam pun selesai. Aku dan mika merapikan meja makan.


"Dek, bikinin mas Telor ayam sama madu ya!", pinta Aziz.


Fai yang ingat hal itu pun jadi ikut meminta Dian membuatkannya.


"Sekalian buat aku juga boleh Di!" ujar Fai.


Mereka berdua benar-benar!!!! Aku jadi geregetan sendiri.


Apa mas mau meminta haknya malam ini? Aku saja sedang kesal, lihat saja nanti malam mas. Apa kamu akan jujur atau ....!!!???


Kalau Fai wajar, mereka pengantin baru. Lha kami?


"Iya, aku buat kan sekalian?!"


Aku pun menuju dapur kembali untuk membuat kan minuman itu.


"Silahkan!" aku menyodorkan dua gelas itu kepada mas Aziz dan Fai.


Kedua lelaki itu menyeringai.


Dih . . .apaan sih! Batinku.


Dua pria tampan itu tampak tersenyum menanggapi kalimat yang aku lontarkan barusan.


"Siapkan mental? Maksudnya apa Di?", tanya mika dengan raut wajah yang penasaran.


Ku lihat Fai berbisik-bisik dengan mas Aziz. Mencurigakan sekali mereka!!! Dasar teman gesrek! Pasti nggak jauh-jauh tuh dari kemesuman dan selang*angan.


"Kalau udah beberes, kita pulang yuk Mik!", ajak Fai.


"Mas....di bilangin manggilnya jangan Mik aja. Mika gitu kan enak!", kata Mika mengerucut kan bibirnya.


"Iya...iya...maaf.... Mikayla??!", kata Fai.


Mika pun tersenyum, merasa berhasil membuat Fai merayunya.


"Ya udah mas, kita pulang yuk!", kata mika bergelayut manja ke suaminya.


"Makasih ya buat jamuan makan malamnya sama minumannya juga", kata Fai.


"Iya", jawabku singkat.


"Ya udah, kami pulang dulu ya Ziz... Di... Assalamu'alaikum!", Fai berpamitan.


"Walaikumsalam."


Merek berdua meninggalkan rumah ku lewat pintu samping. Tak berapa lama, hayu pun menghampiri kami.


"Mas. ..ini kuncinya, sama omset hari ini."


Hayu menyerahkan kunci kios pada mas Aziz.

__ADS_1


"Makasih mba Hayu!", kata Aziz.


"Oh iya mbak hayu, makanannya jangan lupa!"


"Iya mbak. Makasih ya....!", ucap Hayu.


"Sama-sama Di. Aku pulang ya, assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Kami berdua menjawab dengan kompak.


Sepeninggalan mas Aziz, aku masuk ke kamar ku dan menggedong Diaz. Mas Aziz mungkin ke depan memeriksa pintu kios dan mengunci pintu gerbang.


Aziz mengambil paketan yang di simpan di dalam brankas kios, begitu yang Imah bilang.


Setelah mengambil paper bag itu, Aziz kembali mengunci pintu kios.


Dengan wajah sumringah, Aziz menenteng paper bag itu. Dia merasa bahagia, bisa memberikan hadiah kecil untuk istrinya. Bukan tanpa alasan, ponsel yang akan dia berikan ke istrinya juga sebagai penunjang sebagai CEO DWP. Diandra terlalu loyal, masih setia memakai ponsel lamanya. Meskipun tidak jadul, tapi masih kalah canggih dengan ponsel yang ia bawa saat ini.


Senyum Aziz memudar saat mendapati istrinya memasang wajah sangar dan menyalakan video yang ada di ponselnya.


Aziz perlahan mendekat istrinya yang tanpa bertanya pun pasti Aziz tahu, Diandra marah!


"Dek....!", kata Aziz pelan. Tak lupa ia meletakkan paper bag nya di sofa, samping aku duduk.


"Dia siapa mas?", tanyaku dengan nada datar.


"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan dek!", mas Aziz mencoba meraih tanganku. Tapi buru-buru ku tepiskan.


"Lalu? Memang kamu tahu apa yang aku pikirkan mas?", tanyaku sambil menatap lekat kedua matanya. Aku ingin mencari kejujuran di mata lelaki ku itu.


"Sayang...mas juga nggak tahu, kenapa tiba-tiba perempuan itu bertingkah seperti itu sama mas."


"Benarkah? Ah...iya aku lupa , selain menjadi penanggung jawab di butik itu, kamu juga merangkap jadi....."


"Stop dek. Percaya sama mas!"


"Apa yang harus aku percayai? Ucapan mu atau penglihatan ku?"


"Sumpah demi Allah dek. Mas nggak mungkin main di belakang mu. Sumpah demi apapun, demi kamu, demi anak kita!"


"Berhenti bersumpah mas. Panas telingaku mendengar nya tahu nggak!"


Mas Aziz luruh ,duduk di depan kakiku.


"Tolong...tolong percaya sama mas dek. Mas nggak kaya begitu."


Dia tertunduk, menyandarkan kepalanya di pangkuan ku.


Apalagi ini? Apa aku harus mendengarkan pembelaan nya?


Aku membiarkan mas Aziz menyandarkan kepalanya di pangkuan ku.


Ujian apa lagi di rumah tanggaku ini? Baru saja aku merasa damai dengan keadaan. Tapi kenapa begini lagi????


*****


Sabar Bu....sabar....Bu....sabar....


Bisa aja kan cuma salah paham? 🤔

__ADS_1


__ADS_2