
Malam pun tiba, kios sudah tutup dan kami bertiga sudah kumpul di rumah. Alhamdulillah, Diaz sudah tak serewel tadi siang. Diaz sudah mulai nyenyak tidur saat masih pukul sembilan malam.
"Dek...!", bisik Aziz.
"Apa?", tanyaku sambil melipat baju Diaz.
"Ayookk...!", kata mas Aziz manja.
"Ayo apa?",tanyaku pura-pura padahal mah nanggung aja lipet bajunya si bayik.
"Jatah mas lah dek. Kelamaan puasa dek. Ayolah, udah waktunya buka puasa kan?"
"Masih sore mas!", kataku pelan.
"Sore apa nya? Ini jam sembilan lewat lho!", Aziz membenarkan posisi duduk nya.
"Iya, sebentar. Dikit lagi selesai ini beresin baju Diaz."
"Lama!"
"Sabar dong mas!"
Aziz menghampiri ku. Membantu ku melipat baju Diaz yang sebenarnya tak terlalu banyak.
"Udah selesai kan?", tanya nya.
"Iya. malas udah bantuin. Tapi aku mau naroh dulu ke lemari Diaz mas."
"Mas aja!", mas Aziz menyimpan baju Diaz di lemari nya.
"Jangan alasan lagi!"
Mas Aziz langsung menindih ku. Aku justru terkekeh geli melihat tingkah nya.
"Kenapa malah ketawa begitu?"
"Kamu lucu!"
"Kok lucu?"
"Iya, lucu aja!"
"Udah ah terserah yang penting buka puasa!"
Kami pun memulai adegan panas kami berdua, semoga Diaz tak melihat kelakuan orang tuamu ya nak.
"Sakit tahu mas!"
"Iya, maaf!"
"Sekali aja ya?"
"Enggak. Dua bulan berati dua kali!"
"Tapi bekas jahitan nya masih sakit mas."
"Nanti mainnya pelan kok dek. Mumpung Diaz belum bangun!"
Aziz kembali memulai aksinya. Dua bulan adalah waktu yang sangat lama baginya untuk melakukan hal ini denga istrinya. Akhirnya waktu buka puasa pun tiba. Rasanya tak berubah meski Diandra sudah melahirkan seorang anak.
"Mas....", bisikku pelan.
__ADS_1
"Hem...!"
"Aku mau bangun!"
"Mau ngapain?", mas Aziz malah melingkarkan tangannya ke perutku.
"Mau bebersih dulu mas, takut Diaz bangun!"
"Aku masih mau lagi dek!"
"Hah? Enggak....enggak!"
"Ayolah dek!"
"Gila kali ya ndro?!"
"Mas, aku mau ke kamar mandi. kebelet pipis."
Akhirnya mas Aziz melepaskan pelukannya.
Aku setengah berlari menuju kamar mandi, bukan hanya karena kebelet pipis tapi karena tak ada sehelai benang pun menutupi tubuhku. Entah kemana mas Aziz membuang pakaian ku tadi. Di tambah lagi Asiku sudah tumpah kemana-mana.
Tumben banget Diaz nggak bangun-bangun sih?
Usai mandi, aku mendekati Diaz. Dia masih anteng dengan posisi nya. Ku usap pipinya yang chubby itu. membuatku tak tahan untuk tidak menciumnya.
Diaz, kamu yang sudah menyatukan bunda dan ayah mu kembali nak. Terimakasih. Kehadiran mu membuat semua jadi lebih baik.
Aku mengangkat nya dari box nya, aku membangunkan Diaz agar mau menyusu. Benar saja, saat ku sodorkan ****** ku diaz langsung melahapnya.
Aku menyusui di ranjangku. Aku melihat wajah suami dan anak ku bergantian. Mereka mirip sekali. Biarlah wajah mereka mirip, karena mereka memiliki darah yang sama asalkan jangan mengikuti kelakuan ayah mu ya nak.
Mas Aziz mengucek matanya. Menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Meraih rambutku yang basah.
"Iya."
"Emang nggak dingin?"
"Enggak lah, kan pakai air anget."
"Eihh...anak ayah lagi ***** ya sayang ya....sekarang jatah ***** udah sama kamu Diaz , ayah nggak kebagian!"
"Hush! Kamu tuh ya mas, kalau ngomong suka sembarangan!"
Melihat kedua orang tuanya bertengkar seperti itu membuat bayi yang belum genap dua bulan itu menyunggingkan senyum meski masih dengan posisi menyusu.
"Tuh kan, diketawain sama Diaz?"
"Hehehe iya sayangnya ayah....", Aziz mengusap rambut anak laki-laki nya.
"Dek...!"
"Heum..!"
"Diaz setahun, kita bikinin adek yuk?"
"Hah? Enggak ah. Kasihan lah mas!"
"Kenapa sih? Kan biar repot sekalian kaya yang orang suka pada bilang."
"Aku cuma takut, nanti Diaz kurang perhatian mas. Itu saja."
__ADS_1
"Jadi, kapan?"
"Mungkin, pas Diaz udah TK."
"Lama dong dek...!"
"Ya nggak apa-apa lah mas, setidaknya Diaz kan udah mandiri."
"Owh...begitu ya."
"Udah sana bebersih dulu mas. Udah mau jam dua belas lho!"
"Iya sayang....!"
Mas Aziz pun meninggalkan kami berdua di atas ranjang. Diaz sudah kembali tertidur usai kenyang menyusu. Aku letakan kembali Diaz di box nya. Bersamaan dengan mas Aziz yang keluar dari kamar mandi.
Mas Aziz kembali menghampiri ku.
"Dek, kita tidur yuk!"
"Iya."
Kami berdua beranjak ke pembaringan kami. Mas Aziz memelukku erat kali ini. Dia sudah tak khawatir jika adiknya sewaktu-waktu bangun, aku sudah siap pakai. Tidak seperti kemarin-kemarin.
******
Di rumah sakit saat itu...
"Iya Bah, Fai udah ambil hasil Rontgen umi. Ini mau pulang."
Fai pun menutup sambungan telepon nya. Dia berjalan menuju loby. Tak sengaja ia menangkap wajah seseorang yang sangat di cintai nya, Diandra. Dia sedang menggendong bayinya.Kenapa Dian hanya berdua dengan Diaz? Dimana Aziz atau Imah mungkin?
Karena penasaran, aku pun ingin menghampiri nya. Sayangnya aku kalah cepat. seorang perempuan cantik berdiri di hadapan diandra. Aku yang memakai masker dan duduk di bangku tunggu pun menguping obrolan mereka. Ampuni aku ya Allah? Bisik Fai.
"Hai calon madu!", sapa lili.
Apa katanya, calon madu? Gumam Fai.
"Percaya diri sekali kamu mbak lili?"
Oh..namanya lili.
"Aku heran aja sama kamu Di, bisa-bisanya kamu masih mau sama laki-laki yang udah pernah tidur sama aku!"
"Saya lebih heran sama kamu mbak, udah tahu mas Aziz itu pria beristri masih saja mengharapkan mas Aziz."
Apa katanya tadi? Pernah tidur dengannya? Tanya batin Fai lagi.
"Lili!", tiba-tiba Aziz mengahampiri mereka.
"Jangan ganggu keluarga saya lagi. Belum cukup kamu pernah mengacaukan keluarga kami?"
"Mas...jangan marah-marah begitu ah....", kata lili bergelayut manja. Spontan Aziz melepaskan tangannya dari lili.
"Ayo dek kita pulang!"
Aziz dan Diandra berjalan beriringan.
"Bahkan kamu lupa dengan peristiwa kemarin ?mas?", teriak lili lagi.
"Peristiwa apa mas?", tanya Diandra yang berjalan di hadapanku.
__ADS_1
"Nggak usah dengerin ocehannya yang nggak penting!"
Owh...aku tahu sekarang, Aziz pernah mengkhianati Diandra. Bersiap lah Aziz! Gumam Fai.