Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 243


__ADS_3

Mika baru saja mandi, kini ia sedang memoles wajahnya. Sedangkan Fai sedang menyesali rokok di balkon sambil menatap ibu kota di terik siang ini. Iya, ini baru pukul dua siang. Resepsi tadi selesai sekitar setengah jam yang lalu. Orang tua dan juga mertuanya pun sudah bertolak ke rumah masing-masing.


Kini, Fai dan Mika hanya berdua di hotel. Fai yang menyadari istrinya sudah mempercantik diri, dia pun menghampiri sang istri.


Mika menatap sekilas suaminya.


"Kenapa liatin aku kaya gitu sih mas?", tanya mika sambil terus memoles wajahnya dengan berbagai macam skincare.


"Emang salah liatin istri sendiri yang cantik?", goda Fai. Mika menurunkan tangannya sesaat.


"Cantik doang, kalau nggak di cintai buat apa?", tanya Mika sambil meneruskan make up nya.


"Mulai lagi kan??? Kan mas bilang sayang kamu, cinta kamu Mikayla ku....!", kata Fai sambil mengusap rambut setengah basah Mika.


Mika merubah posisi duduk menjadi bersila kaki.


"Apa kamu benar-benar ingin pernikahan kita langgeng mas?", tanya Mika.


"Astagfirullah Mika, kenapa kamu tanya seperti itu!? Tentu saja mas ingin pernikahan kita abadi. Dari mudah begini sampai kakek nenek sampai maut memisahkan."


"Masa????!!!".


"Mika sayang.... dengarkan mas. Mas minta maaf selama ini sering mengecewakan mu dengan janji-janji mas. Tapi....kali ini, tolong berikan mas kesempatan untuk memperbaiki nya."


Fai menakupkan kedua tangannya di pipi Mika.


"Aku nggak akan pernah memaksa mu melupakan Diandra lagi mas?! Itu terserah kamu. Semakin aku posesif, justru kamu semakin menunjukan kepedulian mu pada nya. Aku tidak membenci dian, sama sekali tidak. Dia memang sempurna, wajar kalau kamu masih belum bisa move on darinya."


Fai menatap istrinya yang sedang mengungkapkan isi hatinya itu.


"Sekarang,aku kembalikan kalimat itu padamu. Apa kamu sudah sepenuhnya melupakan damar?", tanya Fai sambil memegang kedua tangan istrinya.


"Belum! Tapi setidaknya, aku nggak menunjukkan pada siapa pun. Hanya aku dan Tuhan yang tahu!"


Jleb!!!


Hati Fai terasa di hujam belati. itu artinya, Mika pun sedang berjuang melewati fase sulit ini. Bukan hanya Fai yang merasa dia sedang mencoba menapaki perasaan barunya. Tapi istrinya pun sama. Perasaan memang tak bisa di paksakan meskipun keduanya sudah menunaikan hak dan kewajibannya sebagai pasangan yang sah.


Fai meraih tangan Mika. Lalu menggenggamnya penuh cinta. Matanya menatap sepasang netra istri nya yang sebenarnya tak bisa sedikit pun pandai berbohong.


"Maaf...maafin aku Mika. Kali ini, tolong percaya padaku. Aku janji! Mulai saat ini, hanya kamu satu-satunya yang mengisi hati mas. Tidak ada perempuan lain. Tidak ada Diandra, apalagi perempuan lain. Tidak akan!", Fai memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.


Di dalam pelukan suaminya, Mika tersenyum. Benarkah ini awal perjuangannya yang sebenarnya? Semoga kali ini, kamu tidak akan pernah mengingkari janji mu mas.


Fai melerai pelukannya tapi justru meraih tengkuk sang istri, menyesap sesaat .


"Mas....!", Mika mendorong kepala suaminya.


"Sedikit saja Mika. Tidak lebih dari ini. Kalau aku sampai menyentuh ini ....!", Fai menyentuh bibir Mika dengan jarinya.


"Aku takut kelepasan", bisik Fai.


"Dasar mesum!", kata Mika mencebikkan bibirnya lalu beranjak dari ranjang menuju tempat penyimpanan make up nya.


"Hehehe....biarin! Sama istri sendiri masa di larang!"


"Seenggaknya ya di tahan lah. Paling cuma empat atau lima hari lagi", ucap Mika santai.


"What????? Lama amat sih????", kata Fai merajuk.


"Halah! Dulu aja bisa kenapa sekarang nggak?", ledek Mika.


"Ya beda lah, dulu nggak ada pawangnya!", kata Fai merebahkan diri di ranjang sambil memperhatikan gerakan sang istri yang masih berkutat merapikan alat tempur nya.


"Dan ternyata???? Meskipun sudah ada pawangnya juga masih mikirin yang lain kok!", kata Mika santai.


"Nih anak bener-bener mancing Mulu dari tadi!", Fai bangkit dari ranjang nya bersiap menangkap Mika. Tapi ternyata Mika juga siap menghindar. So.... terjadi lah aksi kejar-kejaran yang akhirnya membuat mika bertekuk lutut karena tak tahan dengan gelitikan sang suami di pinggangnya.

__ADS_1


"Hahahah ampun mas ...!", kata Mika yang masih di peluk dari belakang oleh Fai.


"Janji, nggak akan mancing-mancing lagi heum????", tanya Fai sambil menggigit kecil leher istrinya.


"Iya mas iya ....!", kata Mika sambil terus tertawa.


Kini keduanya saling berhadapan.


"Aku mencintaimu Mika. Aku sadar itu. Aku nggak bisa kamu terus-menerus mendiamkan aku. Aku sudah terbiasa sama kamu. Aku ...."


"Stop....aku...aku ...Mulu! Bosen dengernya mas!", pekik Mika sambil menutup telinga nya.


"Terus???",tanya Fai dengan masih memeluk pinggang istrinya.


"Ini....disini yang tahu!", Mika menunjuk dada bidang suaminya.


"Kamu nggak perlu koar-koar ke semua orang sampai orang itu mendengar nya.Kamu cukup menunjukkan sikap yang mencerminkan ucapanmu tadi. Perempuan nggak bisa menggantungkan harapan kepada lelaki nya hanya dengan modal janji! Kamu ingat seperti apa janjimu ke Dian? Dan sekarang apa kamu bisa menepati nya? Nggak kan mas! Aku mau... suamiku melakukan hal yang seharusnya. Tidak perlu berjanji bahkan mengucap kata sumpah di depan semua orang. Mika nggak butuh itu!", kata Mika sambil menatap mata Fai.


Fai mengecup kening istrinya itu.


"Maaf sayang....maaf....mas cuma bisa mengatakan itu saja!", kata Fai masih memeluk sang istri.


"Kali ini kumaafkan, dan ku berikan satu kesempatan! Tapi tidak di waktu yang akan datang! Jangan harap aku akan memaafkan, justru kamu tidak akan pernah melihat ku lagi mas!", ancam Mika.


"Kenapa kamu selalu bicara mengarah ke situ. Aku udah bilang, mas nggak mau kamu jauh-jauh dari mas lagi!", rengek Fai .


"Dasar manja! Harusnya aku yang bersikap begitu mas!", kata Mika kesal.


"Kan kamu yang udah bikin mas bucin!"


"Dih....kaya ABG aja pake bucin-bucinan!", kata Mika sengit.


"Huffftttt....untung aja masih libur, kalau nggak udah habis kamu mika!" kata Fai geregetan.


"Berarti Allah masih melindungi ku dari kezaliman suamiku yang berniat menghabisiku!"


Di lain tempat.....


"Mi...apa kita akan tinggal di tempat opa terus?", tanya Faiz yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Hem... mudah-mudahan kita bisa secepatnya pulang ke rumah ya nak!", kata Hayu sambil mengusap kepala putranya.


"Nggak Umi. Faiz mau di sini. Rumah opa bagus. Tempat tidur nya empuk. Faiz suka!", Faiz pun lompat-lompatan di atas ranjang.


"Hati-hati Nak. Nanti jatuh!", nasehat Hayu.


Faiz pun menghentikan aktivitas lompatan nya di atas ranjang. Menatap ke sekeliling kamarnya. Melihat foto-foto uminya saat masih muda yang tak berhijab. Di apit oleh seorang perempuan dan opa Stevan.


"Umi....!", panggil Faiz.


"Kenapa sayang?"


"Dulu....Umi tinggal di sini?", tanya Faiz.


"Iya sayang. Ini kamar umi."


"Wah....kamar umi bagus begini, kok mau sih tinggal di rumah kita. Rumah kita kan jelek Mi."


Hayu hanya tersenyum menanggapi celoteh bocah empat tahun itu.


"Itu....foto umi sama ibunya umi?",tanya Faiz sambil menunjuk salah satu foto di dinding.


"Iya. itu Oma. Oma Margaretha, mommy nya umi."


Faiz manggut-manggut. Lalu tiba-tiba Faiz memeluk Hayu.


"Eh... kenapa sayang?",hayu terkejut karena sikap Faiz yang mendadak memeluk nya.

__ADS_1


"Mi, apa setelah umi tinggal sama opa Faiz di tinggalin?", tanya Faiz.


"Ya nggak lah sayang. Faiz selalu sama umi. Faiz kan anak umi!"


"Tapi....Faiz kan bukan siapa-siapa nya umi!", kata Faiz menangis di pelukan hayu.


Hayu menakupkan kedua tangannya di pipi bocah tampan itu.


"Dengarkan umi, sampai kapan pun umi tetap umi nya Faiz. Umi nggak akan ninggalin Faiz."


"Kalau umi nikah sama papa damar, Faiz masih ikut umi juga kan?", tanya Faiz menatap nanar mata Hayu.


Menikah dengan damar? Apakah mungkin? Saat sudah berusaha membuka hati saja, sudah mendapat penolakan dari kedua orangtuanya. Bagaimana bisa akan menikahi mas Damar?


"Jawab umi, kenapa diam?", tanya Faiz.


"Dengerin sayang, pokoknya umi akan selalu bersama Faiz. Sampai Faiz dewasa dan bisa melindungi diri Faiz sendiri."


"Faiz juga akan melindungi Umi!", kata Faiz sambil mengeratkan pelukannya.


Di depan pintu Stevan memandang putrinya yang kini sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang bisa mengayomi anaknya meski tak lahir dari rahimnya sendiri.


Ehem....


Suara deheman Stevan membuat Faiz melepaskan pelukan dari uminya. Dengan langkah pelan , Stevan mendekati keduanya.


"Faiz , opa bawa baju ganti buat Faiz. Sekarang mandi, ganti baju habis itu kita makan", kata stevan sambil mengusap kepala sang bocah dan memberikan paper bag berisi pakaian anak-anak.


Faiz memandang uminya, lalu hayu pun mengiyakan dengan anggukan.


"Faiz mandi, bilang makasih sama opa."


"Makasih opa...!", kata Faiz.


"Iya sayang!", Faiz pun menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


"Kamu juga mandi Stev! Ini Daddy bawakan Beberapa pakaian. Di lemari mu sebenarnya masih Daddy simpan pakaian mu. Tapi ... sepertinya sudah tidak muat heheh..."


"Daddy....aku pergi dari sini saat aku remaja. Tentu saja pakaian ku sudah tidak ada yang muat dad!" rengek Hayu.


"Maafin Daddy ya nak."


Hayu mengangguk. Benar kata Dian, dendam tidak akan menyelesaikan masalah di masa lalunya.


'Daddddd!', teriak Lili dari arah luar kamar.


"Dad, istrimu manggil tuh!", kata Hayu.


"Sayang, bagaimana pun saat ini dia adalah ibu mu. jadi Daddy harap, kamu dan Liliana bisa bersikap biasa saja."


"Bukan aku yang harus Daddy nasehati, tapi istri Daddy!", kata Hayu sambil memangku paper bag nya.


'Daddy.....', teriak Lili lagi.


"Pergilah Dad! Istrimu lebih membutuhkan mu. Setelah bebersih, kami akan turun dan makan bersama kalian."


"Ya sudah, daddy tunggu ya!", kata Stevan meninggalkan kamar Hayu.


Tiba-tiba ponsel Hayu berdering.


mas Damar calling.....


Mas damar? Tumben telpon? Biasanya juga chat? Hayu ragu-ragu untuk mengangkat nya.


*****


Selamat menjalankan ibadah puasa ya gaes 🤗, semoga selalu di limpahkan kesehatan dan rejeki yang tak pernah putus buat kalian yang bersedia membaca karya receh mamak 😘🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2