Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 177


__ADS_3

"Mas ...!", aku mengangkat kepalanya dari pangkuan ku.


Mas Aziz pun mendongak seraya menatap ku.


"Dek...demi Allah demi Rasulullah ,mas nggak mengkhianati kamu dek. Iya, mas pernah berbuat salah tapi mas tidak mungkin mengulanginya lagi. Percaya sama mas ,dek!", mas Aziz masih menghiba padaku.


"Keluar lah mas. Aku ingin bersama Diaz saja sekarang!"


Mas Aziz mengerjap kan matanya.


"Dek...!", panggil nya lirih.


"Kamu atau aku yang keluar dari kamar ini?", tanyaku sambil menatap tajam ke mata nya.


Dengan lesu ,Aziz pun mengiyakannya.


"Baiklah...iyaa...mas yang keluar."


Terserah kamu mau tidur di mana mas. Yang aku butuhkan saat ini adalah berpikir jernih. Mungkin kamu sudah berkata jujur mas, tapi tidak serta merta aku memaafkan mu. Kamu mau aja sih mas di pegang-pegang oleh perempuan lain!


Aku lihat lagi video yang di kirimkan oleh orang misterius itu. Mas Aziz terlihat tidak suka dengan perempuan yang sok-sokan bermanja ke dirinya. Siapa pengirimnya dan apa tujuannya?


Andaikata mas Aziz memang ingin berkhianat, kenapa harus di butik. Bukankah itu tindakan yang amat sangat bodoh? Disana kan ada orang-orang yang bisa saja melaporkannya pada ku? Apa mas Aziz kembali di jebak? Sebenarnya, apa tujuan si pengirim?


Apakah ini ada hubungannya dengan aku yang mengambil alih DWP? Di dunia bisnis segala kemungkinan itu ada. Tapi kenapa mas Aziz yang menjadi sasaran nya?


Aduh ....otakku menebak-nebak tidak jelas. Aku akan ke butik besok pagi sebelum ke kantor.


Ponsel ku berbunyi, ada pesan masuk lagi dari nomor yang sama.


[Bagaimana? Itu lelaki kebanggaan mu?]


Aku baca lagi pesan itu, ku klik profil nya. Tidak ada informasi apa pun.


Aku hanya membacanya, tidak ada niat untuk membalas nya .


Beberapa saat kemudian, ada pesan masuk lagi. Tapi kali ini dari Julian.


[Selamat malam Bu Dian, maaf mengganggu. Besok pagi ada rapat bulanan bu.]


[Jam berapa?]


[Sepuluh bu Dian]


Jam sepuluh ya. Seperti nya aku masih punya waktu untuk ke butik terlebih dulu. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi di sana tadi sore.


[Insyaallah mas Jul]


Julian tersenyum membaca balasan dari Bu bos nya. Entah kenapa, segala sesuatu tentang Bu Dian begitu menarik bagi seorang Julian. Perempuan yang terlahir kaya ,tapi dia memilih hidup sederhana dan terlihat apa adanya, berbaur dengan semua kalangan.


'


'


'


Aku mencoba berbaring di sebelah Diaz. Aku sengaja memindahkan Diaz dari boxnya. Bagiku, Diaz lah satu-satunya yang bisa membuatku tenang saat ini.

__ADS_1


Dari luar kamar, terdengar suara televisi masih menyala. Jadi, mas Aziz sengaja tidur di depan ruang televisi.


Aku memijat pelipisku yang terasa pening. Kenapa ada saja masalah yang harus ku hadapi. Perlahan, aku pun memejamkan mataku. Mencoba melupakan sejenak masalah yang sangat menggangguku.


Di lain tempat beberapa waktu sebelumnya...


[Sudah selesai bos]


Ucap seorang perempuan.


[Yupz. Aku sudah mentransfer nya kerekeningmu]


[Bos, andai kata bos mengatur pertemuan ku dengan nya lagi, aku akan melakukan dengan senang hati bos. Meskipun tidak ada bayaran dari mu. Asalkan....aku bisa tidur bersama nya. Dia terlalu mempesona bos!]


[Dasar wanita ja*ang]


Lelaki itu tertawa mendengar ucapan anak buahnya.


[Ayolah bos...pria itu sangat tampan, tubuh atletisnya beuh.... membangkitkan gairah ku!]


[Tunggu saja, aku akan memberikan pekerjaan berikut nya]


[Siap bos, senang bekerja sama dengan mu bos tampan]


Seorang pria itu tersenyum sinis. Dalam otaknya ia berpikir, pasti sepasang suami istri itu tengah bertengkar.


"Ini baru di mulai Ziz, belum ada seujung kukunya dengan kejutan yang akan kamu terima", ujar lelaki itu bermonolog.


******


"mas....!", panggil Mika pelan.


"Kenapa sayang?" ,tanya Aziz sambil mengusap kepala istrinya.


"Udah kan? Aku capek, boleh tidur nggak?", tanya mika.


Fai terkekeh sendiri.


"Iya, tidur aja. Tapi kamu udah puas kan?", bisik Fai pelan.


Mika hanya mengangguk lalu menelusup ke pelukan suaminya.


Tak berapa lama, mika pun tertidur pulas dalam dekapan Fai. Setelah yakin istrinya tidur pulas, Fai pun bangkit menuju balkon. Setelah itu, ia menyalakan sebatang rokok.


Sepertinya ia harus berterima kasih pada sahabat gesrek nya itu. Dan juga kepada Dian tentunya. Fai meraih ponsel di atas nakas, lalu mengetik pesan kepada Aziz.


[Thx bro. Ramuan Lo beneran Joss. Berapa ronde Lo?]


Beberapa detik kemudian, Aziz pun membalas pesan sahabat nya itu.


[Ye sma2. Sayangnya, boro2 seronde. Setengah aja gak!]


[Kok bisa? Puasa Lo?]


[Dian lagi marah.]


[Knp?Apa gara2 gue sama mika di situ? Gue bikin salah?]

__ADS_1


[Gak. ga ada hubungan nya sama lo berdua]


[Terus kenapa emangnya?]


[Lo liat kan pas kita makan malam, Dian diem aja. Padahal sebelumnya dia biasa aja?]


[Iya, emang dia kenapa?]


[Ada yang kirim video ke Dian, video gue lagi berdua sama cewek di butik. Di video itu, tuh cewek ngelendot sama gue. Gue aja ngga kenal sumpah. Setahu gue, dia bilang mau pesan baju. Gitu doang]


[kok tiba-tiba ada yang rekam Lo berdua? Udah gitu, kok niat banget kirim ke Dian?]


[Nah, itu yang gue pikirin bro. Gue ga tahu siapa pelakunya, dan tujuannya tuh apa.]


[Dian ga mau denger penjelasan Lo?]


[Boro2 di dengar, gue aja di suruh keluar kamar.]


[Buset, garang amat bini lo. Untung kagak jadi sama gue!]


[Sialan Lo!]


[Wait... jangan marah dong. Ntar gue cari tahu deh. Di butik ada cctv kan? Kita liat aja siapa yang udah rekam Lo!]


[Ada lah! Ya udah, gue liat cctv besok deh.]


[Gue bantu deh, kasian temen gue gagal dapat jatah 😆😆😆😆]


[Sialan Lo Fai, Lo utang Budi sama gue juga]


[Wkwkwk iye maap. Udah tenang aja Lo, walaupun Lo suka ngeselin, tapi sebagai sahabat gue prihatin kok. Gue nggak mau kalau Dian sampe sakit hati kaya dulu lagi waktu Lo sama Lili]


[Ga usah bahas dosa gue juga kali]


[Biar Lo ingat, macem2 sama Dian urusan nya Ama gue]


[Gue bilang ke Mika deh sumpah!]


[Bilang aja sono!]


[Dah ah, gue mau tidur. Kali aja besok pagi bjnj gue udah balik ke mode semua]


[Hem! Moga aja gitu. ya udah ,gue mau tancap gas lagi. Bikin adik buat Diaz]


[Serah Lo]


Obrolan mereka berakhir. Meskipun sering bertengkar, nyatanya mereka masih saling peduli.


Ide Fai ada benarnya juga, kenapa gue ga cek aja cctv. Siapa yang rekam gue. Terus kenapa dia kirim ke Dian?! Niat banget kan tuh orang! Batin Aziz.


*****


Ayo Ziz, buktiin kalo Lo nggak salah. Dian harus tahu kebenaran nya, biar dia nggak menyesal memberikan kesempatan kedua buat Lo .


👏👏👏👏👏👏


Ngopi ☕☕☕☕ heula atuh....

__ADS_1


__ADS_2