
"Gue harap, kali ini ide Lo berhasil Fai!", kata Aziz masih lesu.
"Pokoknya, sebelum teman gue 'ok' Lo tahan dulu deh buat mengiyakan keinginan Rasyid."
"Iya. Gue percaya sama Lo!"
"Udah, Jangan di pikirin. Kakak ipar Lo kaya pemeran itu ya. Apa nama nya ? Sinetron. Iya. Sinetron yang di Chanel ikan terbang itu lho Ziz!"
"Kaya emak-emak komplek aja sih Lo ,tau sinetron begituan!"
"Tau aja lah!"
"Gue lupa, kalo Lo kan pengangguran makanya sempat nonton kaya gituan."
"Pengangguran pale Lo! Pemainnya ada yang temen gue!"
"Hem....serah Lo!", kata Aziz sambil tak sengaja melirik kemeja Fai.
Melihat sahabatnya memperhatikan noda di bajunya, Fai pun menyentuh noda itu.
"Nggak usah negatif thinking. Tadi, waktu buka pintu itu ngga sengaja tabrakan sama bini Lo!", kata Fai santai.
Aziz menggeser posisi kepalanya yang tadinya bersandar.
"Jadi, itu bekas lipstik bini gue????!", pekik Aziz.
"Dibilang nggak sengaja Ziz. Nggak percaya amat sih!", kata Fai mendengus kesal.
"Kenapa harus disitu?"
"Pertanyaan nggak penting amat sih?", ujar Fai.
"Iya...kenapa harus di dada Lo? Terus... bini gue...bini gue nyium dada Lo dong???Njir.....!!!?", Aziz melempar bantal sofa ke arah Fai.
"Lo tau ndiri, tinggi bini lo seberapa. Masih mending kena dada gue. Kalo tinggian dikit kaya bini gue? Nih.... mendarat langsung di sini!", kata Fai sambil menunjuk bibirnya sendiri.
"Sialan Lo! Itu mah Lo nya aja yang ngarep. Gue bilangin sama bini Lo! Nyari kesempatan aja sih Lo!"
"Nah...ini nih. Omongan yang sama keluar dari mulut bini Lo. Nyari kesempatan! Su'udzon aja Lo berdua sama gue. Kalo emang gue mau nyari kesempatan, gue lanjutin aja sekalian tadi ngapain gue cerita ke Lo!"
"Lo, udah punya pawang. Gue pikir Lo udah berubah! Awas aja Lo kalo masih ngehaluin binj gue. Gue sambit!", ancam Aziz.
"Ngapain gue haluin bini ,Lo. Secara, bini gue juga ngga kalah cantik. Seksi....hot....!" belum selesai Fai bicara sebuah tepukan keras mendarat di lengannya.
"Awewww!!!", pekik Fai sambil mengusap lengannya. Dia pun menengok ke arah ku.
"Sakit Di. Kamu hobi banget mukulin aku. Untung aja bukan istri ku, kalo nggak mah ...kdrt tiap hari begini Mulu!", kata Fai kesal.
"Lagian jadi cowok, punya mulut gak di saring dulu omongan nya. Ngapain cerita istrimu yang seksi itu ke suami ku? Mau bikin otak suami ku Travelling bayangin Mika. Gitu????", kata ku melotot.
Mas Aziz meraih ku untuk duduk di samping nya.
"Mana ada sih sayang, otak mas ga traveling. Kan ada kamu dek, mas bisa holiday tiap waktu!", mas Aziz mencolek daguku.
Ishhh....tingkah duo sahabat ini bener-bener menguras kesabaranku.
Wajah Fai mendengus, kesal dengan pemandangan mesra di hadapan nya. Cemburu? Bisa jadi begitu!
"Gimana obrolan kalian? Udah dapat idenya?", tanyaku pada mas Aziz.
"Heemm. Udah dek. Mas akan serahkan butik.....".
__ADS_1
"Apa? Jangan dong mas! Coba kamu tanya aja dulu sama Rasyid, dia mau uang berapa? Tapi nggak usah lah ngambil alih butik kamu!", kataku.
"Sayang... dengerin?!", mas Aziz meraih pinggang ku yang duduk di samping nya.
"Kami berencana menyerah kan butik, tapi menukar dengan dealer motor mas Rasyid dek!"
"Maksudnya?"
"Jadi gini dek. Temen Fai yang ada di Surabaya, akan mengambil alih dealer itu buat kita tanpa Rasyid sadari. Nah....baru mas kasih butik itu."
"Aku nggak setuju mas!", kataku berdiri.
Mas Aziz meraih pergelangan tangan ku. Ku lihat, mas Fai sedang sibuk menelepon orang dengan ponsel yang masih tertancap di charger.
"Sayang.... dengerin mas dulu.....!", kata Aziz. Akhirnya aku kembali duduk.
"Itu hanya tak tik dek, mas nggak mungkin nyerahin gitu aja butik peninggalan papa apalagi sama orang yang tidak tepat."
"Tapi mas ...apa mas Rasyid sebodoh itu? Bagiamana nanti kalau....kalau mas Rasyid nekat? Kalau dia tahu, dia dikerjai doang gimana?", tanyaku.
"Ya, kita berusaha main bersih dek. Kalau kita diamkan, dia makin ngelunjak."
"Mas, kita coba nego saja sama mas Rasyid. Dia mau uang berapapun akan kita kasih, asal jangan butik peninggalan papa."
Mas Aziz merengkuh ku dalam pelukannya.
"Sayang, percaya sama mas dan Fai. Semuanya akan baik-baik saja!", sesekali mas Aziz mengecup keningku.
Berada di dekapan mas Aziz, aku merasa sangat nyaman. Seolah -olah tak rela aku melepaskannya.
"Ehem...udah kali pelukan nya! Ada gue! Lo mau bikin gue cemburu!", kata Fai sambil menjatuhkan bobotnya di sofa lagi.
"Temen ngga ada akhlak Lo!", kata Fai mendengus.
Mas Aziz tertawa jahat.
"Gimana hasilnya?", tanya Aziz usai tawanya mereda.
"Seperti yang gue bilang, temen gue oke aja. Dia langsung bertindak. Dan... ternyata....kakak ipar Lo terlilit banyak tagihan sama temen gue!", ucap Fai.
"Lha....terus? Masa gue yang nanggung tagihan Rasyid? Ogah ah!", kata Aziz lantang.
"Siapa juga yang nyuruh Lo bayar tagihan dia? Temen gue mau gertak aja. Lo terima beres aja.Kalo Lo mau, Lo langsung otw Surabaya sekarang pun bisa!"
"Beneran?", tanya Aziz.
"Iya....!", kata Fai santai.
"Boleh dek mas ke Surabaya?", tanya Aziz. Aku yang masih ada di pelukan nya pun meregangkan tubuhku.
"Boleh. Tapi apa harus hari ini?", tanyaku.
"Ya... lebih cepat lebih baik kan?", tanya Aziz.
"Temen gue udah beresin kok Di. Kalo kamu cemas Aziz ke Surabaya, gue deh yang nemenin."
"Eh, nggak. Nggak usah?! Mas Aziz sendiri aja!" sahutku cepat.
"Kenapa?", tanya Aziz dan Fai bersamaan.
"Mas, mas Fai sama Mika kan mau melangsungkan resepsi pernikahan mas."
__ADS_1
"Tapi masih empat hari lagi Di....!", rengek Fai.
"Nggak. Aku bilang enggak ya enggak?! Kamu mau bikin kecewa Mika? Bukannya kalian baru pindahan ke rumah Tante Selly? Tega mau ninggalin Mika sendirian?"
Fai bergeming.
"Jadi, Lo pindah ke rumah Tante Selly? " tanya Aziz.
"Iya, kata Mika biar deket sama Dian, Imah dan Hayu!"
Aziz manggut-manggut.
"Kamu sendiri aja mas!",aku bergelayut manja di lengan suamiku.
"Iya, mas paham maksud kamu dek!", kata Aziz.
Sedangkan Fai masih menunjukkan muka masamnya.
"Lo harus paham sama pemikiran bini gue Fai. Lo kan juga harus mikirin perasaan Mika."
"Hem....!", jawaban singkat seorang Fai .
Aku bergeser dari posisi ku.
"Jadi, kamu nggak setuju sama omongan ku barusan mas?", tanyaku lirih di depan wajah Fai. Sontak Fai, tak berkedip.
Jangan begini Di, tolong?!
"Se...setuju Di. Mas setuju!", jawab Fai gugup.
"Nah, gitu kan pinter!", kataku kembali ke posisi semula, dekat dengan mas Aziz.
"Hobi banget deh mukul, melotot sambil ngancem!", kata Fai kesal.
"Suruh siapa mau!?" tanya ku lagi sambil menatap Fai tajam.
"Ah...iya Di...iya....!", kata Fai.
Aziz hanya menggeleng melihat interaksi keduanya. Dalam hati Aziz, dia meyakini jika cinta itu memang masih ada di antara keduanya.
"Dek,mas lihat kamu pucet banget deh. Sakit?", tanya Aziz.
"Capek aja mas. Apalagi, besok dua hari berturut-turut ada pertemuan penting sama klien."
"Bukan Ziz, tapi lipstik Diandra luntur kena baju gue!Nih...,", Fai mencoba memancing reaksi Diandra. Aziz yang pura-pura tidak tahu pun ikutan mengerjai istrinya. Apakah istrinya akan berkata jujur atau mau menutupi nya.
"Nggak usah ngarang. Tadi nggak sengaja juga. Lagian aku juga udah minta maaf kok mas!", kata ku membela diri di hadapan mas Aziz.
Aziz justru tersenyum mendengar kejujuran istrinya.
"Iya, tadi Fai udah cerita."
"Jadi ...mas Aziz sama mas Fai sekongkol mau ngerjain aku gitu???", tanyaku sambil berdiri dari sofa.
Bukannya menjawab, mereka berdua malah kompak menertawakan ku.
Papa Umar....apa aku bisa menjauh dari mas Fai? Sedangkan dia....dia selalu siap menjadi tameng di setiap masalah ku???? Batinku.
******
Akur-akur lah kalian..... sebelum ada kejutan yang akan membuat kalian berjauhan!
__ADS_1