
Alhamdulillah. Semakin hari usaha kami semakin lancar. Kios selalu ramai. Entah itu warga sekitar atau hanya orang yang sekedar lewat. Teman-teman ku dan mas Aziz pun sering kali meminta di transfer pulsa / kuota . Sedikit-sedikit asal lancar. Karena berapapun hasilnya, Allah sudsh mengatur. Imah yang awalnya gadis...eh...maksud nya mantan gadis ,kini berubah semakin enak di pandang. Dia sudah bisa memadupadankan pakaian nya. Tidak seperti saat awal kemari. Baju hija, celana biru, jilbab orenz. Jangan di bayangkan.
Perasaan kasian warga kota asalnya jika membayangkan sosok Imah yang dulu.
"Mbak...nitip transefer lagi boleh toh?",tanyanya .
"Perasaan udah transfer kemarin deh. Kalo kamu transfer terus, kapan kami kumpulkan uangnya buat diri kamu?" tanyaku penasaran. Bukan karena aku tak mau membantunya mentransfer uang untuk keluarganya.
"Emm...iya sih mba. Tapi kan....ibu ku dirumah juga butuh duit mba."
"Iya, saya tahu. Saya juga tidak akan melarang mu berbakti sama orang tuamu ,justru itu bagus sekali. Tapi, suatu saat nanti kamu juga harus mikir buat masa depan kamu lho mah."
Dia menunduk. Mungkin memikirkan omonganku.
"Utang Ibuku banyak mbak. Aku aja di paksa nikah itu gara-gara mbayari utang mereka. Imah sendiri aja ga tau mba, utang mereka buat apa. Lha wong Imah aja, sekolah cuma sampe SMP. Udah gitu, Imah kerja pindah-pindah. Tiap Imah punya uang, Imah harus ngasih ke mereka. Katanya ....sebagai imbalan, balas budi." kata Imah terhenti.
"Balas Budi? Mana ada sih mah, orang tua yang minta anaknya balas Budi begitu? Mintain uang anaknya terus?Kewajiban orang tua kan memang menafkahi anaknya selagi belum bisa mandiri. Masa sekalinya udah besar diminta balas Budi?" cercaku.
"Aku kan cuma anak tiri mbak. Bapakku nikah sama ibu tiriku waktu aku masih kelas 2 SD. Terus...bapak meninggal waktu aku kelas 3 SMP. makanya aku ga lanjutin sekolah. " ceritanya sambil menunduk. Ah...Imah yang ceria, jadi melow gara-gara aku banyak bertanya.
"Maaf ya, mba jadi merasa bersalah udah bikin kamu sedih begini."
"Gapapa lah mbak. Mba Dian itu kaya mbakku sendiri. Baik banget, sabar lagi ngajarin aku. Mas Aziz juga baik. Cuma ngomong nya irit ya mba. Aku suka kikuk kalo mau tanya ini itu... mending tanya mba Dian aja."
Ya...udah mulai kaya ke stelan semula.
"Ngomongin saya kamu Mah?", tanya mas Aziz tiba-tiba di belakang kami.
"Ih...enggak. Sapa yang ngomng, Ojo geer toh mas." katanya salah tingkah. Aku yang menangkap ekspresi wajah malunya pun tak kuat menahan tawa.
"Imah, kamu kenal sama mas Ali?" tanya mas Aziz tiba-tiba.
"Ali sing ndi toh?"
__ADS_1
"Tetanggamu di kampung. Orangnya yang ganteng itu lho."sahut suamiku.
"Sek...sek...peyan kok Yo ngerti mas ali Kuwi tanggaku toh mas?", tanya Imah mengernyitkan alis.
"Saya tanya, kamu kenal ga sama dia?", tanya Aziz lagi.
"Kenal sih ga mas. Cuma tau aja....", kata Imah.
"Ali siapa sih mas?", giliran aku yang bertanya sama mas Aziz.
"Itu lho dek, yang orangnya ganteng ada lesung pipinya. Yang suka bawa brem kemari." jawab mas Aziz. Aku mengingat-ingat sosok yang dimaksud.
"Owh...iya iya mas. Yang ganteng itu. Aku inget."
"Tapi masih tetep ganteng mas mu toh?", ledekknya.
"Dikit...banyakan Ali. Heheheheh"
Mas Aziz meraup mukaku dengan telapak tangannya.
"Lha Yo Ben toh Yo... pasangan halal kok." sahut mas Aziz dengan nada ketus. Mulut si Imah hanya umak umik. Mas Aziz memang ngeselin.
"Tadi bahas Ali, kenapa emangnya mas?" tanya Imah.
"Ciye....." ledek Aziz. Aku yang dari tadi bingung malah melongo liat kelakuan mas Aziz.
"Dih, ga jelas amat sih mas." justru aku yang sewot.
"Dek...dek...kok malah kami yang sewot. iya...iya... mas crita. Ali bilang, kamu itu mantan nya ya? Tapi , ibu tirimu ga setuju gara-gara kamu dijodohin sama embah-embah itu ya?"
Wah...bener nih mas Aziz, bikin Imah bengong.
"Mas ali kandah ngunu Tah mas?" tanya Imah.
__ADS_1
"Bisa nggak sih mah, pake bahasa Jerman aja. Gue tau Lo ngomong apa, tapi pusing kudu translete nya." Bener juga sih mas Aziz. Biarpun kami bergaul dengan banyak orang, tapi tetap tak bisa menguasai penuh bahasa mereka.
Imah hanya cengar-cengir. Menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Ali itu, partner kerja saya dulu. Meskipun dia lebih banyak di lapangan sih." Mulut Imah membulat membentuk huruf 'O'.
"Dulu, waktu kamu masih baru disini mas pernah minta KTP kamu kan? Nah, mas tuh cari tahu sama si Ali. Ga taunya ga cuma sekampung. Tapi malah pernah sehati...."
"Mas Aziz mah....ih....."
Aku dan mas Aziz tertawa bersamaan. Imah memang seolah menjadi penghibur kami.
"Mas crita kamu kerja sama mas disini, besok dia mau ke sini lho...."
"What? O...em...ji.... mas Ali ke sini? Aduh...gimana ya....aduh ,gimana dong mba Dian...aduh..."
"Stop....stop....Imah. Ga usah lebai gitu deh ah. Ya ga usah gimana-gimana. Biarin aja Ali main ke sini." kataku.
"Imah kan malu mba..."
"Ngapain malu sih, lobang hidung kamu masih dua kok ga nambah."
"Mas Aziz.....", pekik Imah. Aku dan mas Aziz kembali tertawa bersamaan.
"Mas, aku anterin Imah ke bank ya. Suruh buka rekening aja. Biar dia bisa nabung. Ga transfer ibune terus."
"Em...boleh sih."
"Ke bank mba?" tanya Imah.
"Iya. Kamu bikin rekening tabungan. Nanti, tiap bulan saya transfer ke rekening kamu. Terus uang makan yang setiap hari kamu dapet bisa dikirim ke ibumu. Jadi, uang untuk masa depan kamu terpisah. Jangan di transfer ke kampung terus." Imah pun manggut-manggut.
"Sekarang mba perginya?"
__ADS_1
"Enggak. Nunggu si utun lahir dulu. Baru ke sana." ujarku. Si Imah pun meringis. Lalu kamu pun pergi berdua menuju bank yang tak jauh dari rumah ku.