Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Kepergok


__ADS_3

"Diandra belum keluar mbak Hayu?", sapa Aziz.


"Sudah mas, tapi sepertinya dek Diaz mau bobo. Tadi sempet rewel", jawab Hayu.


"Faiz nya mana?", tanya Aziz lagi.


"Nonton televisi di kamar mbak Imah, maaf ya mas kalau saya lancang."


"Nggak apa-apa kok, kalau mau nonton dirumah juga nggak apa-apa. Ya udah, saya masuk dulu mbak Hayu!", Aziz bersiap kembali ke rumah.


"Mas...!", panggil Hayu.


Aziz membalikkan badannya.


"Kenapa mbak Hayu?"


"Mbak Dian belum cerita apa pun sama mas Aziz?"


"Cerita soal apa ya?"


"Oh, ya sudah mas. Nggak jadi."


Hayu pun kembali menundukkan pandangan nya.


"Apa... tentang identitas kamu yang sebelumnya?"


Seketika wajah Hayu terangkat.


"Jadi...mbak Dian...?"


"Iya, Dian sudah menceritakannya. Maaf, saya s tidak mengenali mbak Hayu sama sekali."


"Maaf mas...maaf...atas kelakuan saya saat itu!"


"Sudah mbak Hayu, lupakan. Itu kan cuma masa lalu, lagi pula tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita kan?"


Lagi-lagi Hayu mengangguk pelan.


"Oh iya, sepertinya nanti ada teman saya ke sini. Kalau dia dateng saya di dalam, tolong panggil saya saja ya!"


"Iya mas."


"Saya masuk ya mbak Hayu!"


"Iya mas, silahkan!"


Hayu pun kembali merapikan barang dagangannya di etalase.


****


Aku sedang menjemur baju saat mas Aziz datang lewat dapur. Iya, pintu dapur lebih sering terjamah di bandingkan dengan pintu ruang tamu.


"Sayang!", mas Aziz bergelayut manja di bahuku.


"Assalamualaikum mas....!", sindir ku.


"Walaikumsalam."


Cup, kecupan mesra mendarat di pipiku.

__ADS_1


"Masih pagi kali mas!", kataku berusaha melepas pelukannya.


"Emang kenapa? Mau pagi siang sore malem, sah-sah aja kan?"


"Iya...iya...!", aku memilih mengalah.


"Kamu nggak lanjut sarapan mas. Tadi pagi cuma dikit loh?"


"Nggak ah, eh...tapi dek. Kalau mas pengen mie instan boleh nggak?"


"Hem, mie instan sih? Masakan ku hari ini kurang enak? Apa malah nggak enak?"


"Bukan dek, mas pengen aja makan mie. Udah lama banget kan nggak makan mie, tolong bikinin ya sayang....!", Aziz mulai manja.


"Iya...iya...aku bikinin, tapi bentar ya. Nyelesein jemur dulu."


"Siap nyonya! Kalau udah matang, tolong di panggil!"


"Iya mas, iya....!"


Segera ku bereskan jemuran ku agar secepatnya bisa membuat mie instan sesuatu permintaan kakanda.


Tidak sampai sepuluh menit, mie instan pesanan mas Aziz pun siap.


"Mas, ini mie nya udah Mateng!"


"Iya sebentar."


Mas Aziz berjalan menuju meja makan setelah tadi sempat menengok Diaz yang sebenarnya tertidur di box nya .


"Temenin mas makan dong dek!", kata Aziz.


"Iya mas!", aku pun duduk di bangku sebelah nya. Mas Aziz begitu menikmati mie instan nya itu.


"Oh iya lupa, kemaren-kemaren mama bilang ke Surabaya. Mbak Imah ngidam kerak telor mas."


"Mbak Imas ngidam? Alhamdulillah. Tapi, kenapa pengen nya makanan sini sih? Kan jauh Jakarta Surabaya? Nggak nyari aja gitu di Surabaya?!"


"Mungkin di Surabaya ada yang jualan mas, tapi kan biasanya orang hamil itu unik. Ini mending mas cuma kerak telor Jakarta, coba kalau mintanya nasi kebuli khas Arab, kan mama susah nyari nya!"


"Iya ya hehehe tapi Alhamdulillah ya... waktu kamu hamil Diaz nggak sampai merepotkan begitu ya !"


"Merepotkan?"


"Eh, bukan maksud mas tuh... permintaanmu nggak aneh-aneh."


"Iya lah, bisa melewati masa-masa sulit saja sudah cukup menguras energi mas."


Mas Aziz mengehentikan aktivitas makannya karena memang sudah selesai.


Aku mengambil mengkok dan gelas bekas mas Aziz makan. Segera ku cuci agar aku tidak memiliki tanggungan cucian.


Dari belakang mas Aziz memelukku.


"Sayang...mas minta maaf!", mas Aziz mengecup bahuku.


Aku diam. Memilih terus mencuci bekas makan mas Aziz.


Sekali lagi, mas Aziz mengeratkan pelukannya dari belakang.

__ADS_1


"Mas tahu, Kamu sudah berhasil melewati semuanya. Demi anak kita, demi keutuhan rumah tangga kita. Ribuan maaf, nggak bakal bisa bikin hati kamu utuh seperti dulu dek!"


Ih, kenapa jadi melow begini sih?


"Udah ah mas, aku mau lanjutin kerjaan lain."


"Kerjaan apa lagi?"


"Nyetrika baju mas. mumpung Diaz belum bangun."


"Dek, kita cari saja art ya. biar kamu nggak repot".


''Aku masih bisa mengerjakannya mas."


"Dian...ku...sayangku!", lagi-lagi mas mengecup pipiku.


"Mas, awas ah...!", kataku yang mulai tak nyaman karena jemari mas Aziz sudah traveling.


"Sebentar aja lah dek, nggak sampe begituan kok!",mas Aziz membalikkan badanku. Dengan cekatan ia meraih bibirku. Menikmati nya penuh kelembutan.


Sejak aku membuka hatiku kembali pada nya waktu itu, entah kenapa mas Aziz seolah-olah hadir dengan jiwa baru. Dia selalu saja menginginkan 'hal' itu denganku. Kalau ingat waktu itu, dia bahkan sering menolak ku secara halus saat aku meminta hakku.


Mas Aziz seakan tak puas ******* nya, dia kini meraih pinggang ku agar tubuh kami semakin erat. Mas Aziz tak ingin memberi ku jeda barang sedetik sampai akhirnya suara cempreng itu menghentikan aktivitas kami.


"Astagfirullah !!!!", pekik Imah yang tiba-tiba datang lewat pintu dapur.


Otomatis, Aziz melepaskan pagutannya. Aku di buat malu ,seolah kami kegep karena beradegan mesum.


"Kamu udah pulang Mah?", tanya ku gugup. Beda dengan mas Aziz yang terlihat santai. Bahkan dia mengelap bibirku karena ada sisa basahan dari Saliva kami.


"Udah dari tadi sih, maap ya ..ganggu pas lagi jeru-jerune!", kata Imah cengengesan.


"Jeruk opo mah?", tanyaku.


"Udu jeruk Mbak Di. Jeru! Jeru itu dalem!", jelas Imah. Seketika wajah ku memerah.


"Ganggu aja orang senang sih mah!",kata mas Aziz ketus.


"Ya maap, lagian kalian sih...kaya ngga ada kamar aja, ciuman di dapur!"


"Terserah gue dong, ini rumah gue. Mau ciuman di dapur, di kamar ,di loteng kek , bebas-bebas aja kan?"


"Huh! Iya...iya...!", sungut imah.


"Gimana keadaan Farhan?", tanyaku .


"Alhamdulillah baik mbak, Farhan ikut kami pulang. Ini mbak , lapis Bogor nya buat kita ngopi bareng ntar ya!"


"Kebetulan, nanti ada teman mas ke sini. "


"Teman mu siapa mas?"


"Dokter damar."


"Oh...kirain siapa."


"Ya ws ya, Imah ke depan dulu ya."


"Iya sana." Usai Imah keluar, mas Aziz menyuruh ku duduk di sofa ruang televisi.

__ADS_1


"Oh iya mas, kamu belum cerita kenapa mas Fai bisa sampai nginep kesini?"


Aziz pun menceritakan semuanya dari awal Fai bersama Abah dan damar termasuk dirinya yang mengobrol kemarin. Cerita soal damar pun tak luput dari obrolan kami.


__ADS_2