Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Lihat, dengar, percaya!


__ADS_3

"Ya udah dek, kita solat dhuhur dulu!"


"Iya mas!", kami berjalan melaksanakan empat rakaat kami.


"Oh iya mas, Karin mau ke sini."


"Karin, temen kantor kamu?"


"Iya mas. Dia kan emang tinggal di Singapura ikut suaminya."


"Em...ya silahkan aja dek. Masa mas mau melarang kalian ketemu!"


"Makasih mas!"


"Kamu istirahat dulu deh, mas ke depan. Mau lihat kerjaan Imah udah beres apa belum."


"Iya mas."


Mas Aziz pun memalingkan badan nya, tapi aku meraih tangan suamiku.


"Mas, aku percaya. Kamu tidak akan pernah lagi mengecewakanku. Dan... insyaallah, mbak Hayu juga perempuan yang baik."


"Terimakasih."


"Aku tidak akan melarang mas jika kebetulan kalian hanya berdua di kios, aku percaya mas tidak akan bertindak bodoh."


"Kamu cepat sekali berubah pikiran dek!"


"Iya, tentu saja. Kalau sampai hal-hal yang sebelumnya aku takutkan terjadi, jangan harap aku akan memaafkan mas lagi."


"Iya sayang...iya. Bagaimana bisa mas mau mengulang kesalahan, kalau ibu negara saja sudah mendikte seperti ini!"


"Jadi, mas menganggap aku diktator Hem???"


"Nggak...cuma pawang mas yang bisa naklukin mas. Udah ya...udah...mas nggak mau kalau kamu marah lagi, nanti mas ga bakal dikasih jatah lagi."


Aziz buru-buru lari keluar kamar.


"Mas....!"


Karena teriakan ku, Diaz pun bangun.


"Aduh sayang, maafin bunda. Bunda bikin Diaz kaget ya?"


Diaz pun langsung terdiam dari tangisan nya. Aku menggedong Diaz lalu menyusuinya.


Diazku semakin besar, wajahnya semakin mirip dengan ayahnya.


Aku tidak pernah menyangka berada di titik ini. Setelah puas menyusu, ternyata Diaz kembali terlelap. Dia masih ngantuk ternyata, gara-gara aku meneriaki mas Aziz diaz jadi terbangun.


.


.


.


''Mah, udah beres semua?"


"Udah mas!", sahut Imah.


"Ya udah kamu solat aja dulu!"


"Lagi halangan mas."


"Owh. Ya udah, mbak Hayu aja sana."


"Sudah mas!", jawab Hayu sambil menunduk.


Semoga prasangka Dian salah, Hayu saja tidak berani menatap ku. Bagiamana mungkin dia akan macam-macam padaku. Jangan berburuk sangka Aziz, gumamnya.


"Assalamualaikum!", sapa Dadan.


"Walaikumsalam. Eh, kang Dadan!"


"Mas..., neng Imah!", sapa Dadan.


"Iya A. Udah sotonya?"


"Ini neng."


"Kang, banyak amat?"


"Iya, kan penghuni nya lagi banyak."


"Lima bungkus lho ini?", tanya Aziz lagi.


"Iya, kata Imah ada mbak Hayu sama Faiz. Jadi Dadan bawain sekalian."


Hayu yang merasa disebut pun bangun.


"Kenapa saya juga di kasih mas Dadan, nggak usah repot-repot."

__ADS_1


"Tenang aja mbak Hayu, nggak repot kok. Mas Aziz yang bayar heheheheh."


Aziz mendengus, yang pesan siapa uang bayar siapa.


"Nggak usah mas Aziz, Imah cuma bercanda kok!"kata Dadan.


"Jangan kang, ntar kang Dadan rugi."


"Ya enggak lah mas, buat keluarga sendiri masa rugi."


"Oh, ya udah lain kali jangan gratisan Mulu ya Mah. Mas malu!"


"Iya mas...iya!"


"Em...mbak Hayu, apa kabar?"


"Alhamdulillah baik mas."


"Kang Dadan kenal sama mbak Hayu?", tanya Aziz.


"Tau atuh, almarhum suaminya kan temen saya di majelis taklim."


"Owh....!", Aziz dan Imah ber'OH' ria bersama-sama.


"Turut berdukacita ya mbak Hayu", kata Dadan tulus.


"Iya mas Dadan terimakasih."


"Saya ngga nyangka lho, mbak Hayu kerja disini."


"Iya mas Dadan, Alhamdulillah saya dipertemukan dengan mbak Dian dan mas Aziz yang sangat baik."


"Jangan berlebihan memuji saya Mbak Hayu, kami tak sebaik itu."


Ehem.....! Imah berdehem, dia merasa di cueki. oleh sang kekasih.


"Tenggorokan gatel ya mah?", ledek Aziz.


"Nggak, panas dalem aja!", sahut Imah. Dadan menunjukkan gigi putih nya, Dadan tahu kalau kekasih nya itu sedang cemburu.


"Mas, ijin ajak Imah keluar boleh?", kata Dadan.


"Imah nya mau nggak?", Aziz melirik adiknya.


"Mau atuh....!", sahut Imah riang.


"Kalau sekarang boleh mas?"


"Mau beli buat seserahan Mas!"


"Alhamdulillah, kalian jadi kawinnya?", tanya Aziz semangat.


"Nikah dulu mas...nikah...udu kawin mas. Hadehhhhh!", seru Imah.


"Whatever lah mah, sama aja!"


"Ya wis sana, hati-hati!"


"Imah, pamit mbak Di dulu ya!"


"Kenapa emangnya, kan mas udah ijinin."


"Iya....tapi kan Imah kudu ngomong sit toh mas. Kali aja mbak Dian mau nitip opo ngunu lho!"


"Terserah!"


Imah pun berlari menuju rumah.


"Eh, mas...AA...Imah makan mie nya bentar ya? Bentar aja! Ayuk mbak Hayu, kita ajak Faiz makan mi nya!"


"Iya ,Mah!", Hayu pun berlalu mengikuti Imah.


" Faiz anaknya mbak Hayu nggak ikut?"


"Ada di kamar Imah kang Dadan", sahut Aziz.


"Owh...!"


Imah keluar dengan membawa helm dan tas gemblok nya.


"Ayuk atuh A!", kata Imah semangat.


"Yang mau di ajak belanja, senengnya ga ketulungan."


"Sirik aja kamu mas!"


"Ya udah mas, kami berangkat ya. Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam." Hayu pun kembali ke kios.


Kini hanya ada Aziz dan Hayu di kios. Beberapa kali ada pelanggan yang beli, tapi setelah itu sepi lagi. Aziz hanya mengutak Atik ponselnya. Sedangkan Hayu, membawa sebuah buku kecil. Mungkin, kumpulan hadis atau bacaan apa entah lah.

__ADS_1


*****


"Sudah selesai pak Ahmad!", kata seorang perempuan cantik dan muda yang tak lain adalah dokter.


"Terima kasih dokter!", sahut Fai.


"Sebaiknya, anda jangan membawa kendaraan dulu ya pak. Takutnya, nanti berpengaruh dengan jahitan di tangan anda."


"Iya dok! Kalau begitu, saya permisi. Terima kasih!"


"Sama-sama pak Ahmad!"


Fai pun keluar dari ruangan dokter yang baru saja mengobati lukanya. Ya, Fai baru saja mengalami kecelakaan. Pikirannya tidak konsentrasi gara-gara Abah memaksa ingin mengkhitbah Imah sejak semalam. Dia masih berdiri didepan pintu ruangan dokter tadi.


Bugghhh....


"Ah ....!", pekik Fai.


"Maaf, saya pikir pak Ahmad sudah tidak ada disini dari tadi!", dokter muda itu terlihat canggung.


"Maaf, dok. Saya yang salah."


Tiba-tiba tepukan keras di bahu Fai pun kembali ia rasakan.


"Aw...!", lagi-lagi Fai terpekik.


"Owh...sorry pak ustadz, gue pikir Lo kenapa? Tangan Lo? Bahu Lo sakit?", tanya si pemukul, yang tak lain adalah Damar.


"Menurut Lo????", kata Fai kesal.


"Weish....maap....maap...serius gue minta maaf. Mika, dia kenapa?", tanya Damar pada dokter yang baru saja memeriksa nya.


"Ngapa nanya ke dokter, gue victim nya!" sahut Fai kesal.


"Ya...gue kan mau tahu detail nya mas ustadz. Gimana lukanya mika?"


"Lengannya di jahit, mungkin lukanya terjadi karena gesekan dengan aspal. Bukan begitu pak Ahmad?"


Fai tak mengiyakan atau pun menggeleng.


"Apa? Seorang rider bisa jatoh dari motor? Ya salam....!"


"Ini kan musibah damar, siapapun bisa jatoh. Dan musibah gue bertambah, karena ketemu sama Lo lagi."


"Ih...pak ustadz marah-marah mulu. Btw , Lo kesini dianter siapa? Nggak gantian di anterin Dian kan?"


"Apaan sih Lo ah, nggak jelas. Gue sama Dian Aziz itu berteman. Udah ,titik!"


"Keren banget ya, bisa temenan Ama mantan!"


"Udah ah, gue balik!", kata Fai.


"Balik? Naik motor lagi?", tanya Damar.


"Gak, motor gue udah di ambil sama anak buah gue tadi."


"Ciye....yang jadi guru sekaligus pengusaha!"


"Berisik aja Lo!"


"Mika, bukannya Lo udah selesai praktek ya? Kenapa kalian nggak bareng aja?"


"Damar!", bentak Fai.


"Woles boy... woles! Gue rasa Mika nggak keberatan ya Mik. Lagian Lo searah!"


"Gue mau mampir ke rumah Aziz dulu."


"Ngapa Lo, mau ngadu sama istrinya Aziz? Mantan Lo itu?", sindir Damar sadis.


"Lo sama Aziz tuh sama aja ya!", kata Fai kesal.


"Ya...saya mah, nggak masalah", kata mika.


"Tuh, kan Mika aja nggak masalah!"


"saya bisa kok naik taksi Dok!", kata Fai.


"Dokter Damar, memang tempat Aziz ...Aziz tadi alamat nya dimana?"


"Nggak jauh dari sini Mik, Lo tahu kan pengkolan yang ada bengkel nya itu? Lo masuk aja, ada konter Hp. Itu rumahnya Aziz? Eh, Deket dong sama rumah nyokap Lo?"


Fai terbelalak, tidak paham dengan maksud dan tujuan Damar.


"Berati kita searah pak Ahmad. Kalau anda tidak mau yang gratis, anda bisa membayar saya sesuai argo", dokter Mika tersenyum menunjuk gigi nya yang rapi.


Masyaallah.... cantiknya, batin Fai. Eh????


"Saya tidak ingin merepotkan dokter!", sanggah Fai lagi.


"Tenang saja bro, dokter Mika nggak galak kok. Di jamin, dia akan mengantarkan mu sampai kerumah Aziz atau kalau perlu sampai kerumah Abahmu!"

__ADS_1


"Damar!", bentak Fai. Sedangkan dokter Mika tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Dia tidak menyangka, dokter Damar yang selama ini ia kenal serius bisa bercanda akrab dengan sahabatnya.


__ADS_2