
Aziz dan kedua pengawalnya menuju ruangan Julian.
"Em...biar saya sendiri saja. Kalian tunggu tolong di sini!", titah Aziz.
Kedua orang itu hanya menurut dengan ucapan bos besar nya.
Aziz mengetuk pintu dan Seseorang membukakan pintu untuk nya.
"Silahkan masuk Pak Aziz!", sapa orang itu. Ternyata di dalam ruangan Julian ada lebih dari tiga orang selain Julian.
"Pak...!", sapa Julian sambil berdiri menghormati bos nya.
"Santai aja kenapa sih Jul. Jangan terlalu formal begini. Saya nggak enak tahu!", kata Aziz.
Julian pun mengangguk.
"Ini pak, silahkan pak Aziz cek sendiri beberapa video dari cctv kita!", Julian memutar laptop untuk menghadap Aziz.
Aziz mulai memperhatikan satu persatu video itu. Tampak orang yang sama melakukan kegiatan merekam kegiatan nya, istrinya, dan juga asistennya.
Aziz terlihat berpikir sebentar.
"Dia siapa? Kalian menemukan pria itu?"
"Dia...anak divisi pemasaran pak", jawab Julian.
"Dia mengaku sudah melakukan pekerjaan itu padamu?", tanya Aziz.
"Iya pak. Hanya saja, dia tak mau buka mulut tentang siapa yang menyuruh nya !"
"Begitu ya???", Aziz mengusap pelipisnya.
"Jul!", panggil Aziz.
"Ya pak?"
"Apakah menurut mu itu tidak terlalu mencurigakan?"
"Maksud pak Aziz?"
Heum, andai aku bisa melibatkan Fai lagi. Pasti dia punya banyak cara untuk membantu ku. Tapi...aku tidak akan melakukan nya. Aku rasa sudah cukup baginya turut membantu ku di setiap masalah ku.
"Logikanya begini Jul!"
Aziz meletakkan kedua tangannya di dagu.
"Semua tahu, tiap sudut ruangan DWP di pasang cctv. Kenapa dengan santainya, dia melakukan pekerjaan ini. Apakah tidak bunuh diri namanya?"
Benar juga ya! Batin Julian.
"Dan.... dengan santainya juga....dia mengakui kalau di suruh orang lain. Aneh bukan?"
"Jadi, bagaimana selanjutnya pak?"
"Memangnya di mana dia sekarang?"
"Ada di gudang sebelum rooftop pak!"
"Kita ke sana!", kata Aziz sambil berdiri.
Julian dan anak buahnya mengikuti Aziz di belakang.
Pemandangan itu membuat karyawan DWP bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.
Belum ada yang tahu jika saat ini Diandra sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Andai saja bocor, sudah pasti orang itu yang melakukan nya. Tapi sepertinya tidak, buktinya DWP masih aman-aman saja.
"Kamu sudah mencari tahu latar belakang orang itu?"
"Sudah pak. Dia tinggal di jalan kenanga. Memiliki istri dan dua orang anak yang masih balita. Dan terakhir informasi yang di dapat, dia baru saja kehilangan aset nya karena terlilit hutang yang cukup banyak. Hanya saja, sejauh ini dia tak berbuat yang merugikan DWP pak."
Apa faktor ekonomi yang memaksa ia melakukan nya? Tapi siapa orang yang menyuruhnya?
Lift berhenti di depan pintu sebuah ruangan yang di jaga oleh beberapa orangnya Julian. Satu lantai lagi, mereka menuju lapangan untuk mendaratkan hellycopter.
"Di mana dia?", tanya Aziz.
"Silahkan pak!", Julian mempersilahkan Aziz masuk.
Pemandangan pertama yang Aziz lihat adalah seseorang yang duduk dengan kedua tangannya terikat di belakang kursi.
__ADS_1
Wajah pria itu tidak lah asing. Tapi siapa?
Dengan sedikit senyum sinis, pria itu menatap Aziz.
"Apa kamu bermasalah dengan ku atau istriku?", tanya Aziz duduk didepan pria itu.
"Tidak!", jawab pria itu singkat.
"Lalu? Kenapa kamu mencoba mencelakai istri saya? Mencoba mengusik kehidupan keluarga saya?", tanya Aziz melipat kedua tangannya.
"Karena saya hanya ingin menjalankan tugas."
"Tugas dari siapa?"
"Seseorang yang sudah menyelamatkan hidup saya."
Aziz terdiam.
"Kamu merasa hutang Budi pada Seseorang karena orang itu sudah menyelamatkan hidup mu! Lalu kenapa kamu malah mau mengancam keselamatan orang lain? Coba, katakan pada ku. Kalimat apa yang tepat kutanyakan padamu?", tanya Aziz dengan nada yang masih pelan.
"Iya. Dia sudah menyelamatkan hidup keluarga ku. Kami masih bisa tinggal di rumah kami yang nyaman. Dia memberikan apa yang kami butuhkan. Tidak seperti DWP, loyalitas saya selama sepuluh tahun di sini tidak ada harganya sama sekali. Saya mengajukan pinjaman dua ratus lima puluh juta saja tidak di aprove! Padahal saya benar-benar membutuhkan nya saat itu!"
Owh....jadi benar, ini berlatar belakang ekonomi.
"Hem... begitu! Apa selama sepuluh tahun disini, dia juga yang sudah memberi kehidupan sehari-hari untuk mu?", tanya Aziz lagi.
"Coba, sedikit saja kamu renungkan!"
Pria itu terdiam.
"Satu kesalahan besar yang orang DWP perbuat, membuat mu tutup mata dengan kebaikannya selama sepuluh tahun terakhir? Apakah hidup mu hanya tentang uang dan uang....??"
"Anda orang berada pak. Tidak akan mungkin memahami kebutuhan orang kecil seperti saya!", katanya sinis.
"Oh... begitu?"
"Apa orang yang memberikan 'kehidupan' mu senilai dua ratus lima puluh juta itu juga menjamin keselamatan anak istri mu di rumah?"
"Maksud anda apa?!", tanya pria itu dengan suara bergetar.
"Anak istri mu, kedua orang tuamu? Apa yang mereka lakukan setelah melihat mu masuk ke hotel prodeo? Bagaimana kelangsungan hidup mereka? Apa orang yang menyuruh mu juga akan menjamin kehidupan mereka?"
Pria itu menatap Aziz tajam.
"Kalau kamu memang tak mau memberi tahu tentang siapa yang menyuruh mu, tidak masalah! Julian akan mengerahkan anak buahnya untuk mencari tahu. Seperti dia yang sudah menemukan keberadaan keluarga mu!"
Wajah pria itu mendadak pias. Terlihat jika ia merasa takut.
"Jangan sakiti mereka!", katanya pelan.
"Kenapa? Kamu saja membuat kekacauan dalam kehidupan keluarga ku? Hampir mencelakai istri ku, bos mu sendiri. Kenapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama terhadap keluarga mu? Tidak adil bukan????"
"Tolong jangan sakiti keluarga ku!"
"Kamu memohon padaku?", tanya Aziz sinis.
"Aku menyembunyikan mereka juga untuk melindungi mereka!"
"Owh... sayang nya...mereka sudah berada di bawah kendali kami."
Sekarang Aziz berdiri di hadapan pria itu. Julian memang sudah memindahkan keluarga pria itu ke tempat yang lebih aman.
"Jangan sakiti mereka!", bentak pria itu .
Plak!!!
Sebuah tamparan keras menghantam pipi sang pria.
"Kami bisa saja melakukan hal yang sama seperti mu! Tapi kami bukan kamu!"
"Kamu tahu ...istriku hampir meregang nyawa karena ulahmu?!"
Suasana ruangan ini hening.
"Julian! Lepas kan dia!", titah Aziz.
Julian dan anak buahnya terkejut. Begitu pun dengan pria itu.
"Tapi pak...dia...!"
"Biarkan saja! Lepaskan juga keluarganya!"
__ADS_1
Aziz memilih menyingkir dari sana, lalu menatap langit yang mulai senja.
Anak buah Julian pun melepaskan pria itu. Setelah berhasil berdiri, pria itu justru mendekati Aziz. Dengan sigap, anak buah Julian menangkap nya. Aziz berbalik badan.
"Lepaskan dia. Biarkan dia pergi!", kata Aziz.
Anak buat Julian pun melepaskan pria itu.
"Tuan Ronald yang menyuruh ku!" kata pria itu lantang.
Aziz dan Julian tersenyum. Ternyata tarik ulur dari pak Aziz membuahkan hasil.
"Tapi, keluarga ku berada di tempat yang aman bukan?"
"Dia berada dalam pengawasan kami!", kata Julian.
Tiba-tiba pria itu berlutut di kaki Aziz.
"Maafkan saya pak....maafkan saya!!!", kata si pria itu.
"Bangunlah! Aku bukan ibumu apalagi tuhan yang mengharuskan mu berlutut padaku!"
Akhirnya pria itu pun bangkit.
"Menurut mu, apa hukuman yang pantas kamu terima setelah melakukan kejahatan ini?", tanya Aziz.
"Saya pasrahkan pada anda pak! Yang penting keselamatan keluarga saya!"
"Kembalilah bekerja! Saya akan pikirkan hukuman apa yang pantas untuk mu! Apakah penjara adalah tempat yang tepat untuk mu???"
Pria itupun menunduk pasrah! Lalu anak buah Julian membawa pria itu pergi dari ruangan itu.
Kini tinggal Aziz dan Julian di dalam gudang itu .
"Om Ronald yang berada di balik ini semua? Apa motif nya?"
"Maaf pak, saya tidak tahu motif beliau apa."
"Nanti kita cari tahu! Yang penting, kita sudah tahu siapa pelaku sebenarnya!"
"Baiklah pak!", kata Julian.
Tak beberapa lama kemudian, ponsel Aziz berdering.
Om Stevan?
[Iya om?]
[Ziz,om sudah tahu pelakunya.Dia mengakui di hadapan ku]
Aziz menatap Julian.
[Siapa om?]
Aziz pura-pura tidak tahu.
[Calon mertua Aspri mu!]
Aziz melirik Julian lagi. Julian pun seperti nya paham.
[Baiklah om, terimakasih atas bantuannya. Saya ke kantor om?]
[Tidak perlu, kamu temani saja Dian! Ronald biara jadi tanggung jawab om]
[Sekali lagi terimakasih om!]
[Sama-sama Ziz]
Panggilan pun di akhiri.
"Om Ronald ada di tangan om Stevan Jul!"
"Bagaimanapun jika Sharen tahu kelakuan Daddy nya?", Julian bergumam.
"Kita pikirkan nanti! Lebih baik kamu istirahat Julian. Kamu pasti lelah. Apalagi kejadian ini melibatkan calon mertua mu!"
Julian pun mengangguk! Mereka berdua keluar dari gudang itu.
*****
Wes....ngerti kan sopo dalang'e?????
__ADS_1
Nah ...abis ini kita cari tahu apa penyebabnya. Oke gaes?????