Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Saling terbuka


__ADS_3

Di kios....


"Imah, aku dengar kamu mau mudik ya?", tanya Hayu.


"Iya mbak. Kan mau ngurusin surat-surat buat keperluan menikah di sini. Wali ku tinggal mas Aziz mbak."


"Owh, emang ke mana mudiknya?"


"Malang mbak."


"Jauh ya...?"


"Lumayan."


"Jangan kelamaan ya mudiknya Mah. Aku nggak ada temennya kalo kamu mudik."


"Hehehe mbak Hayu. Kan ada mbak Dian sama mas Aziz mbak....!"


"Iya, tapi kan mbak Dian sibuk sama Diaz Imah. Kasian lah kalo mbak Dian ikut bantuin di sini."


"Mbak hayu tenang aja. paling tiga atau empat hari bolak balik. Lagian di sana Imah udah nggak punya siapa-siapa mbak."


"Maksud nya? Bukannya kamu adiknya mas Aziz ya? "


"Hehehe aku adik sepupunya mas Aziz mbak. Papa kami kakak adik."


"Owh...ku pikir kalian adik kandung."


"Banyak yang mikir begitu, katanya kami mirip. Entah mirip dari sisi mananya."


"Tapi emang iya mah, kalau di lihat-lihat...kalian memang mirip."


"Masa? heuuuu....jangan bilang mba hayu suka liatin mas Aziz ku ya...?", canda Imah.


Wajah Hayu mendadak bersemu merah. Dan Imah menyadari hal itu.


"Imah cuma bercanda mbak....!", kata Imah cengengesan. Semoga...mbak Hayu memang tak menaruh hati sama masku.


"Iya mah...!"


*******


"Om bilang besok kita menikah, ini sudah hampir siang kenapa kita tidak menyiapkan apa pun om?", tanya Lili kepada Stevan.


"Aku berubah pikiran!", jawab Stevan sambil menyesap rokoknya.


"Maksud om apa? Om mau mempermainkan aku?", lili terbangun dari duduknya. Tapi Stevan tak terpancing dengan kelakuan Lili.


"Kau pikir aku seperti mu?", Stevan balik bertanya.


"Tapi Kenapa om???!", lili mulai kesal.


"Katakan dulu dimana Stevia!"


"Aku akan mengatakan nya jika kita sudah resmi menikah!"


"Begitu ya? Baiklah, tapi...kau harus ikut dengan caraku."


"Cara om, cara apa?"


"Kita hanya pemberkatan, oke...pernikahan kita akan tercatat di departemen agama. Jangan harap, aku akan membuat pesta untuk pernikahan ini."


"Apa? Pemberkatan?"


"Iya! Kenapa? Kamu sudah tahu dari awal bukan?!"


"Aku...aku...harus apa?"


"Ikuti proses nya. Setelah itu kita baru menikah. Itu pun jika kami setuju, kalau tidak setuju pun itu lebih baik."


Lili terdiam.


"Baiklah om, aku setuju!", kata lili pelan.


Stevanus menyunggingkan senyum nya. Dia sendiri tak menginginkan pernikahan itu, apalagi dengan Lili yang seusia dengan putrinya sendiri. Tapi mengingat ini adalah ketiga kalinya lili mengandung benihnya, naluri seorang ayah nya merasa terpanggil.


Stevan menelpon Wawan, meminta agar ia menyiapkan segala sesuatunya untuk Lili.


"Ini! Ambilah!", Stevan memberikan kartu yang berwarna hitam itu pada Lili.


Mata lili berbinar seketika.

__ADS_1


"Ini...buat ku om?", tanya lili girang.


"Tidak, aku hanya meminjam kan nya untuk mu. Belanja dan belilah apa pun yang kamu butuhkan untuk pernikahan kita. Nanti Wawan akan menjemput mu, mengantarkan mu pada pendeta!"


"Terimakasih om!", lili menghambur ke pelukan Stevan. Laki-laki tua tak membalas pelukan lili.


Aku yakin, setelah melakukan itu Lili pasti akan pergi ke suatu tempat, dia pasti akan menemui Stevi.


*******


"Sayang....!", panggil Aziz saat mereka tengah berbaring di ranjang.


"Kenapa mas?", tanyaku.


"Apa kamu masih mengingatnya?"


"Mengingat apa?"


"Kenangan mu bersama Fai?"


Aku menarik nafas ku dalam-dalam. Tapi, pertanyaan mas Aziz juga tak salah.


"Mas tidak tahu kalau kalian punya kenangan itu!"


"Karena aku memang tak ingin mengingat nya mas. Karena aku sudah memilihmu."


"Tapi...lagu tadi....? Apa kah itu....?", Aziz menggantung kalimatnya.


"Iya. Lagu itu pernah hits di jamannya mas!", aku berdiri meninggalkan nya.


"Bukan itu dek!", Mas Aziz meraih tanganku lali mendudukkan ku di samping nya.


"Apa dong mas?"


"Aku cemburu!", sahut Aziz.


"Cemburu sama siapa? Kamu tahu kan kalau mas Fai juga akan segera menikah? Jadi, apa masih pantes kamu cemburu sama dia?"


"Bukan itu...dia memang konyol, suka ngeselin. Tapi...mas tak pernah tahu kalau kamu bisa memainkan gitar dan menyanyi dengan baik. Sedangkan Fai seperti nya tahu tentang mu!"


"Ya Allah mas...hanya karena itu kamu cemburu mas? Sayangku...apa yang harus kamu cemburui sih????"


"Kita kan sama-sama tahu, aku lebih dulu mengenal nya di banding aku mengenalmu mas."


"Iya...tapi kamu benar kan udah nggak ada rasa sama Fai?"


"Rasa yang gimana nih? Kalau rasa cinta, aku cuma cinta sama kamu. Kalau aku nggak cinta sama kamu mas, aku nggak bakal bertahan sampai detik ini! Udah ah... ngapain sih ngomong begituan. Kita udah tua!"


Aziz memelukku erat.


"Maafin mas ya dek. Dulu mas sering tak punya waktu buat kamu. Sikap mas dingin, tidak romantis. Hanya uang yang mas pikir akan membuat kamu bahagia."


"Iya, yang penting sekarang kita kan selalu sama-sama seperti ini. Meskipun sekarang aku tidak menerima transferan bonus mu tapi aku masih menerima nafkah yang lebih dari cukup. Nafkah lahir batin!"


Mas Aziz semakin erat memelukku.


"Makasih sayang....!"


"Iya, ya udah aku mau ke kamar mandi dulu mas!"


"Iya....!"


*****"


Di perjanjian pulang dari rumah aziZ.....


"Tumben nggak ngoceh Mik?", Fai mencoba mengajak ngobrol calon istrinya itu.


"Heum...!", dia hanya memalingkan wajahnya padaku.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Diandra!"


"Kenapa dengan Dian?"


"Kamu kelihatan masih sangat mencintai nya mas. Beruntung sekali ya Dian....!"


"Kamu kan memang sudah tahu itu. Kemarin kita sudah membicarakan nya."


"Iya, tapi aku baru melihat nya secara langsung."

__ADS_1


"Cukup mengagumi dalam hati saja Mika, tidak akan mengharapkan apa lagi merubah apa pun."


"Kenapa kalian bisa putus? siapa yang meninggal kan?"


"Aku yang sudah meninggalkan nya begitu saja, bahkan tanpa kata putus."


"Benarkah?"


"Iya. Waktu itu....Abah memintaku untuk belajar ke ponpes teman abah. Abah memintaku agar tidak berhubungan dengan siapa pun dulu sebelum aku keluar dari ponpes. Dan aku....aku meninggalkan Dian begitu saja tanpa kepastian. Karena aku memang tak tahu, kapan aku selesai belajar di ponpes."


"Kalian sudah lama pacaran?", tanya Mika antusias.


"Tiga tahunan lah."


"Lumayan lama ya?"


"Iya, cukup lama."


"Terus, kok Dian bisa sama mas Aziz? Dia temanmu kan?"


"Aku sempat tak akur dengan Aziz. Aku merasa kalau temanku itu sudah menikung ku. Tapi Dian menyadarkan ku kalau, aku lah yang sudah benar-benar meninggalkan Dian."


"Kasian Dian ya....!"


"Sudah lah lupakan saja. Kamu bilang, kita akan sama-sama belajar kan?", tanya Fai.


"Iya. Insyaallah mas!", wajah mika kembali sendu.


"Apa ada sesuatu yang aku tak tahu?", tanya Fai intens.


"Tadi...kak damar menemui Hayu!"


Fai langsung terdiam. Damar pasti sedang membujuk perempuan bermata teduh itu untuk memaafkan nya.


"Kamu tahu mas, sejauh apa hubungan mereka?"


Fai diam mematung.


"Mereka pernah memiliki anak?", tanya Mika pada Fai.


"Iya!"


Mika kembali meneteskan air matanya.


"Apa mereka pernah menikah sebelumnya?"


Fai menggeleng pelan. Iya ,ini adalah jawaban dari keraguan ku yang awalnya merasa kalau aku sudah mengagumi Hayu. Masa lalu mereka tidak akan pernah terhapus.


"Astagfirullah....!", desis Mika.


"Mika...itu... kesalahan mereka di masa lalu saat mereka benar-benar belum dewasa."


"Tapi kenapa?"


"Jangan bertanya padaku mika. Aku tak berhak bertanya kenapa mereka begitu kalau mereka tak mengatakan nya langsung padaku."


Mika terdiam dan masih fokus menyetir mobilnya.


"Kita akan secepatnya menikah Mika!", sahut Fai mantap.


"Benarkah?"


"Iya. Seperti yang kamu bilang tadi, aku akan meminta Abah untuk segera melamar mu dan kita akan secepatnya menikah!"


"Apa kamu yakin dengan keputusan ini?"


"Gadis agresif! Bukannya kita ini sama-sama berada di posisi mencintai orang yang mencintai kita? Kenapa kita tidak mencoba untuk...bisa saling melengkapi karena kita merasakan nasib yang sama?"


Wajah sendu mika kini berubah menjadi senyum yang lebar.


"Baiklah. Aku anggap kami sudah melamar ku mas. Besok, kita hanya akan meresmikannya di depan orang tua kita."


"Iya."


"Terimakasih mas!"


"Untuk?"


"Untuk kesempatan kita ini. Semoga, ini memang takdir kita!"


"Sama-sama!", Fai mengusap puncak kepala Mika. Dan mika semakin mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2