
Lili dan om stevan mendekati ku dan mas Aziz. Mimik wajah Lili yang biasa mengejek ku sekarang terlihat lebih ramah, meskipun sedikit.
"Bagaimana kabarmu Di?", sapa om stevan.
"Alhamdulillah sudah lebih baik om".
"Memangnya kamu kenapa Di? Sakit apa sampe pake kursi roda segala?", tanya Lili.
"Cuma insiden kecil kok mbak Lili. Mbak Lili sendiri gimana kabarnya, sehat kan?", aku berusaha ramah pada istri om stevan. Meskipun aku masih ingat jelas bagaimana video antara suamiku dengannya. Astagfirullahaladzim....sabar Dian....sabar....kamu sendiri yang sudah memutuskan untuk memaafkan suamimu.
Wanita itu memang makhluk yang mudah memaafkan tapi tidak bisa melupakan.
"Owh...kirain kenapa gitu", kata Lili santai.
Dia masih bergelayut manja dengan om stevan, iyalah suaminya. Asal jangan manja-manja sama suami orang saja. Apalagi suamiku.
"Dad, kita kedalam aja yuk!", seret lili saat ia menyadari ada hayu dan damar.
"Tunggu Liliana, aku ingin menegur putriku dulu."
Lili mencebikkan bibirnya.
"Dad!", sapa Hayu sambil mencium tangan Stevan. Diikuti juga oleh damar.
"Kenapa ngga bareng aja sama Aziz?"
"Mobil nya nggak muat om !", kata Damar.
"Alasan!", kata Om stevan tersenyum kecil.
"Ayok dad, kita ke dalam saja ah....!", ajak Lili. Persis seperti anak yang sedang menyeret bapak nya.
"Iya...iya. Stev ,damar dan semuanya. Om masuk duluan ya."
Kami semua mengiyakan.
Mas Aziz kembali mendorong kursi roda ku. Disusul Imah dan Dadan yang masih perang dingin. Tapi pemandangan berbeda saat melihat Damar. Wajahnya tak terlepas dari senyuman.
Mereka semua memasuki hotel mewah itu.
"Sayang....!", kata mas Aziz masih dengan mendorong ku menuju lift .
"Hem? Kenapa mas?"
"Kalau kamu memang capek, ntar ngomong aja ya."
"Iya mas. Tenang aja sih."
Mas Aziz mengusap kepalaku. Lalu kami masuk ke dalam lift bersama-sama. Imah yang biasanya cerewet, sekarang diam tanpa suara tentu saja mengundang kecurigaan bagi seorang Damar.
"Kenopo koe nduk???", tanya Damar sambil mencolek Imah.
Imah pun menoleh pada damar.
"Gak popo!", sahut Imah singkat.
Damar gantian mencolek Dadan. Lalu memainkan kedua alisnya sebagai kode. Tapi Dadan hanya mengangkat bahunya dengan lesu. Hilang sudah harapannya untuk menggoda Imah.
Tring....
Kini lift sudah terbuka. Kami semua pun berjalan beriringan ke arah ballroom hotel yang sudah di dekor sangat indah. Bunga yang indah dengan nuansa putih.
__ADS_1
"Masyaallah...bagus ya dekorasinya?!", kataku pada mas Aziz.
"Iya dek", jawab mas Aziz sambil mengusap kepala ku.
"Kamu mau kita bikin resepsi begini?", tanya mas Aziz.
Aku memandang nya sebentar,lalu tertawa.
"Lho....kok ketawa sih dek?"
"Lha iya aku ketawa mas. Kemarin waktu mereka ijab qobul kamu juga udah ngomong hal yang sama. Masa sekarang di tanyain lagi? Hahahah kita ini pengantin lawas mas!"
Mas Aziz mengusap bahu ku.
"Tapi...kalau ulang tahun pernikahan kita,boleh dong di rayakan kaya begini?"
"Hem...nggak ah!", sahutku cepat.
"Kenapa?"
"Dari pada buat di hambur-hamburin begini mending kita bikin tasyakuran ngundang anak yatim."
"Ya....bikin dekor gini sambil undang anak yatim juga bisa kan?", tanya Aziz kekeh.
"Bisa di pikiran nanti!", kataku.
Kami mulai memasuki ruangan inti. Pelaminan yang indah bernuansa putih itu benar-benar memanjakan mata siapapun yang melihatnya.
"Mbak Di, bagus banget Yo dekornya?", kata Imah takjub.
"Iya Mah. Enak gitu liatnya", jawabku.
"Mbak Hayu! besok kalau nikahan sama mas Damar jangan mau kalah sama resepsi nya mba Mika ya!", kata Imah kepada Hayu yang sedang menggandeng tangan Faiz.
Sedangkan Damar malah cengengesan sendiri. Tidak tahu, di sebelah nya si Dadan sedang galau akut gara-gara di diamkan istrinya.
Kami mencari tempat yang nyaman untuk berkumpul dengan rombongan kami.
Dari jauh, Abah melambaikan tangannya kepada Aziz.
"Dek, kita ke sana. Di panggil Abah!", kata Mas Aziz.
"Oh...iya mas."
Kami pun menuju ke arah sana. Diikuti oleh Dadan dan Imah.
"Om...Faiz mau mam!", kata Faiz pada Damar.
"Nanti kita makannya Faiz. Kita Salim dulu sama Abah ya?!", bujuk Hayu.
"Iya Faiz , kita ke Abah dulu sebentar. Habis itu kita pilih makanan yang Faiz mau", damar pun turut membujuk.
Tapi Faiz nya diam saja.
"Om gendong deh, nanti kita cari makanan yang Faiz pengen di sini setelah salim sama Abah."
Usai di bujuk, Faiz pun menuruti Damar. Lalu damar pun menyusul semuanya yang sudah bersama Abah.
"Dian, gimana keadaan kamu Nak?", tanya Abah perhatian. Abah sedang bersama kerabatnya. Sedangkan Umi dan papa Umar tak nampak.
"Alhamdulillah Bah. Sudah sehat kok bah. Em...umi sama papa Umar nya mana? Kok Abah sendirian?" tanya ku.
__ADS_1
"Umi sama Tante Selly masih di make over Di. Maklum lah ya ...nggak mau kalah sama pengantin nya heheheh", canda Abah.
"Kan emang pengantinnya abah ....", ledekku.
"Iya juga sih hahahaha!", Abah menyahuti ledekan ku.
"Abah curang ah. Yang di tegur cuma Dian. Aziz sama yang lain enggak", kata Aziz manyun.
"Owh. ..anak Abah di sini juga ternyata. Maaf.... nggak keliatan!"
"Ya Allah bah, segini gedenya gak keliatan!", kata Aziz mendengus kesal.
"Damar juga ngga di absen sama Abah!", damar ngekor.
"Oh...ada damar juga. Kirain nggak ada ?!"
"Ih ...Abah mah gitu!", kata Damar merajuk seperti gadis.
"Ishhhh....kalian kok menggelikan tenan!", kata Imah.
"Imah mau di sambut juga sama Abah Hem...?"
Imah menyunggingkan senyuman nya.
"Ga usah gak opo-opo Bah."
"Bisa aja kamu Mah. Ya Udah, sambil nunggu pengantin nya keluar. Kalian nikmati aja dulu suguhan nya. Banyak menu pilihan nya kok!" kata Abah mempersilahkan.
"Iya bah!", kata Aziz. Abah pun melanjutkan obrolan dengan kerabat yang lain.
Damar menepati janjinya. Usai bertemu Abah, damar membawa Faiz ke stand makanan yang umumnya di sukai anak-anak.
Aku pun sama, mas Aziz mendorong kursi rodaku menuju stand minuman terlebih dulu.
"Ada cincau dek, kamu suka kan?", tanya mas Aziz.
"Suka sih mas, tapi lagi ga pengen."
"Masa sih?!Dulu waktu hamil Diaz ,kamu minum sampe bergelas-gelas lho."
"Inget aja mas."
"Jadi, mau nggak mas ambilin?"
"Mau deh!", kataku pada akhirnya. So...mas Aziz pun mengambilkannya untuk ku.
Di sisi lain....
"Neng, AA kudu gimana lagi atuh? Masa Neng marah Mulu. Era gening kos kieu wae?", kata Dadan.
"Emang Imah ngapain A?", kata Imah sambil berjalan memilih menu yang ia inginkan. Dadan pun akhirnya pasrah mengikuti istrinya.
Suara MC mulai menggema. Pertanda si pemilik hajat akan segera naik ke pelaminan.
"Kita mau liat pengantin nya?", tanya Mas Aziz.
"Nggak usah. Ntar aja kalau udah pada duduk di pelaminan mas."
"Ya udah kalau gitu dek!"
Aku dan mas Aziz kembali menikmati kudapan yang mas Aziz ambil.
__ADS_1
Apa kabar hati,udah nggak baper kan???? Ya kali baper, kemarin waktu ijab kabul aja kuat. Apalagi ini cuma pestanya doang?
Bagaimana perasaan mu dek??? Batin Aziz.