Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 258


__ADS_3

Sebelumnya mamak minta maaf. Di sini, pengetahuan mamak tentang dunia medis itu amat sangat tipis sekali. Di novel ini, murni kehaluan mamak yang emang awam sama dunia kesehatan. Harap maklum, mamak cuma berkutat antara dapur ,sumur, kasur 😆😆🙏.


Tapi semoga kalian2 paham maksud mamak ya. Oke deh, cuzzz....


Happy reading.


*****


Aku baru selesai membersihkan diri dari toilet yang lumayan jauh dari ruang ICU. Kaki ku berhenti spontan saat aku mendengar obrolan antara damar dengan seseorang, sepertinya Revan.


"Apa yang ingin anda sampaikan?", tanya Damar.


"Dari pemeriksaan tadi, Aziz sudah melewati masa kritis nya."


"Alhamdulillah.....!", ucap mika, damar dan Fai bersamaan. Meskipun mika dan damar sama-sama dokter, tapi cukup lega mendengarnya.


Alhamdulillah, batinku. Aku pun akan melanjutkan langkahku.


"Tapi.....", ucapan Revan terhenti. Seketika itu pula aku urungkan langkahku.


"Saya tahu, mungkin saya melanggar kode etik kedokteran. Menyampaikan keadaan pasien bukan pada keluarga nya. Tapi pada kalian."


"Hubungan kami dengan Aziz sudah lebih dari saudara dokter Revan", sahut Fai.


Revan melirik ke arah Fai yang baru saja mengucap kalimat itu.


"Jadi, apa yang ingin anda sampai kan dok?," mika buka suara.


"Ada luka yang cukup parah di saraf bagian bawah tubuh Aziz. Kemungkinan kecil....dia bisa berjalan seperti sedia kala. Entah, mungkin karena benturan hebat di tubuhnya. Tapi sejauh ini, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Semoga saja ada keajaiban Tuhan!", kata Revan panjang lebar.


"Saya tidak sanggup mengatakan ini pada Diandra, maka dari itu...saya menyampaikan pada kalian."


"Tidak bisakah anda profesional Dok?", sindir Fai.


"Cukup Fa!", kata Damar tegas.


Revan tersenyum tipis.


"Saya pikir, setelah belasan tahun mencari keberadaan Dian....dia sudah bersama anda. Tidak tahu nya, Dian justru menikah dengan orang lain. Dan anda dokter Mika...saya pikir anda sudah bersama dokter Damar."


"Jangan mencampur adukkan urusan pribadi kita Dok!", kata Damar.


"Saya sudah berusaha mencari tahu dimana keberadaan Dian kepada papa tirinya dokter Mika, tapi apa? Beliau juga menyembunyikan Dian dari ku."


Mika mendongak. Dia sendiri tak tahu menahu akan hal itu. Harus dia akui, hubungan nya dengan om kendra memang kurang dekat.


"Apa tujuan anda berbicara seperti itu dokter Revan? Dan seperti nya, benar yang Fai bilang. Anda mencampur adukkan urusan pribadi kita."


"Saya hanya peduli saja dengan Diandra!", jawab Revan tanpa dosa.


Aku menghela nafasku. Kusandarkan tubuh ku ke dinding. Kenapa semua ini harus terjadi bersamaan?? Aku kembali mendengar obrolan mereka.


"Diandra masih terlalu muda jika harus merawat suaminya yang mungkin tidak akan lagi bisa berjalan. Jikapun bisa, kemungkinannya sangat kecil", Revan melipat tangannya di dada.


"Anda seorang dokter, kenapa bicara seperti itu dokter Revan!", Mika berdiri dari duduknya.


"Kenyataan nya seperti itu Dokter Mika!", sahut Revan.


"Terserah bagaimana cara kalian menyampaikannya kepada Diandra. Yang jelas, saya tidak ingin melihat air mata Diandra", kata Revan sambil menggenggam tangan nya sendiri.


Dengan langkah pelan, aku mendekati mereka.

__ADS_1


"Aku sudah mendengar nya dokter. Jadi, anda tidak perlu mencemaskan saya!", aku berusia tegar. Aku tidak ingin di kasihani.


"Di....!", mika memelukku. Sedangkan Revan dan Fai menatap ku iba. Sungguh, aku tak suka tatapan mengasihani ku seperti ini.


"Apa pun keadaan mas Aziz, aku akan selalu bersamanya. Karena dia satu-satunya yang tidak meninggalkan ku disaat aku terpuruk. Karena dia suamiku. Karena dia ayah dari anakku. Jadi, berhentilah mengasihani ku."


Deg!


Fai dan Revan merasa tersindir. Fai sudah meninggalkan Diandra, dan Revan....dia menghilang begitu saja. Bahkan berpura-pura mati, yang membuat depresi Dian kembali terjadi.


"Mas damar, mas Fai, Mika....kalian pulang dan istirahat lah. Biar aku sendiri yang menjaga mas Aziz."


"Nggak Di, bagiamana mungkin kami membiarkan mu sendiri?",Mika menolak.


"Percaya lah, aku baik-baik saja di sini. Yang penting, aku bisa menemani mas Aziz."


"Kamu dan Fai sebaiknya pulang saja. Biar aku di sini bersama Dian", ucap damar.


"Kamu juga capek mas....!", ku menolak niat baik Damar.


"Nggak Di. Toh, Stevia di rumah mu. Untuk apa aku pulang?"


Aku menghela nafas.


"Ya udah kalau begitu. Sebentar lagi buka puasa, lebih baik kalian bersiap saja. Dan mika.... sebaiknya kamu pulang. Besok baru ke sini lagi ya?", aku memegang bahu mika yang tingginya lebih beberapa centimeter dari ku.


Mika menengok Fai, meminta persetujuan nya.


"Di...Aziz sempat berpesan padaku, jika terjadi sesuatu padanya....aku harus menjaga mu dan Diaz", kata Fai lirih. Sedangkan tangannya memeluk sang istri.


"Terimakasih mas. Tapi sepertinya mas Aziz salah jika menitip kan kami padamu."


"Sudah lah, kita bersiap berbuka puasa?!", kata Damar. Kami pun bersiap. Tapi tidak dengan dokter Revan.


"Kalau begitu, saya permisi!", ucap Revan undur diri.


.


.


.


Kini hanya ada damar dan aku di ruang tunggu icu. Aku hanya bisa memandangi lelakiku dari balik dinding kaca. Entah seperti apa yang dia rasakan saat ini. Pasti sakit luar biasa.


Aku terngiang ucapannya kemarin. Apa pun yang terjadi, ku akan selalu bersama mu mas. Sepertinya hal nya kamu yang menerimanya segala kekurangan ku, aku pun sama. Aku akan merawat mu semampuku. Jika perlu, kita akan berobat ke luar negeri. Kita akan mengusahakan agar kamu sehat lagi mas.


Kamu dengar aku kan mas? Hati kita saling bertaut. Pasti kamu dengar aku bicara seperti ini kan mas?


"Di....!", Damar menepuk bahu ku.


"Iya mas!"


"Istirahat lah. Minimal, duduklah!", ujar Damar.


Aku pun menuruti nya.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi Di. Tapi ,besok aku akan melaporkan kasus Aziz berbekal pesan suara yang Aziz kirim ke Fai."


Ah, iya. Aku terlalu kalut memikirkan meninggalnya mama dan kecelakaan mas Aziz. Sampai tidak memikirkan hal itu.


"Iya mas. Silahkan. Tapi sebelumnya... makasih ya."

__ADS_1


"Heum! Tapi ngomong-ngomong, Julian kemana?; bukannya dia aspri mu? Kenapa ada kejadian ini, dia tak kemari?"


Astagfirullah...iya. Aku lupa gak ngasih tahu Julian.


"Iya mas. aku lupa nggak ngabarin Julian. Dia sedang pulang ke Singapura."


Damar menggut-manggut.


"Di, sejak kecil aku mengenal Aziz. Sepertinya Aziz bukan tipe orang yang suka mencari musuh. Tapi di dengar dari percakapan di pesan suara itu, sepertinya mereka memang mengincar Aziz."


Aku membeku.


"Di, apa ada yang terjadi sebelum nya? Mungkin....ada orang yang sakit hati pada aziz? Takutnya...ada orang yang berusaha menyakiti mu lewat Aziz?"


Kenapa damar bisa berpikir seperti itu ya?


"Aku nggak tahu mas. Tapi...mas Aziz memang dari beberapa hari yang lalu selalu saja berpesan macam-macam. Seolah, dia akan pergi beberapa waktu yang lama."


Aku mendengar Damar menghela nafasnya.


"Ada baiknya kamu menghubungi Julian. Bagiamana juga, dia berhak tahu Di."


"Iya mas."


.


.


.


Di Singapura....


Sepasang kekasih baru saja selesai melakukan kegiatan bercinta. Ponsel Julian berdering beberapa saat, tapi langsung mati saat akan di angkat.


Ada pesan masuk dari bosnya. Dia membaca dengan seksama. Matanya membulat seketika.


"Ada apa Jul?", tanya Sharen.


"Ada yang menyerang pak Aziz,Shar! Saat ini pak Aziz kritis."


"Ya Tuhan....!", Sharen menakupkan kedua tangannya. Keduanya terdiam.


"Apa kau sepemikiran dengan ku sayang?", tanya Sharen.


"Apa?", tanya Julian.


"Daddy?!", sahut mereka bersamaan.


"Tapi...Daddy kan di penjara shar! Sepertinya bukan Daddy!"


"Orang nya Daddy banyak sayang. Bisa saja kan mereka Mecari celah dimana kamu sedang lengah, tidak berada di sekitar pak Aziz?", kata Sharen meyakinkan.


"Kenapa kamu bisa berpikir kalau itu ulah Daddy?"


"Karena aku tahu , seperti apa daddyku!", sahut Sharen.


"Kita pesan tiket sekarang. Kita berangkat dengan penerbangan paling pagi!", ucap Julian. Sharen pun menyetujuinya.


******


Yang masih puasa, tetap semangat jalani harinya ya 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2