Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 200


__ADS_3

"Maaf pak Rifai, anda sudah di tunggu di ruangan beliau, di lantai dua belas pak", kata resepsionis.


"Ah...iya. Terimakasih. Kalau begitu, saya ke atas dulu ya mas... Niko!", Fai menepuk bahu Niko.


"Iya mas, silahkan!"


Fai pun menuju ke lift yang terlihat cukup ramai.


"Pak Niko?", sapa Tari, Resepsionis.


"Ya?", sahut Niko.


"Pak Rifai mantan nya Bu bos?"


"Heem!"


"Emang pak Niko kenal lama sama mereka?"


"Iya lah, Bu bos dulu satu divisi sama saya."


"Owh....tapi...kok nikahnya sama pak Aziz sih? Kan pacarannya sama pak Rifai."


"Masalah nya apa?"


"Heran aja, kok bisa sih mereka keliatan akrab banget ya?"


"Bisalah, Bu bos kan orang nya baik. Siapa yang nggak jatuh hati sama dia. Aku aja pernah nembak dia, tapi ya...jelas ditolak lah. Orang lawannya pak Rifai."


"Hahaha....kasian. Saya tahu...Bu Dian tuh udah baik, cantik pula. Pantas aja, lepas dari pak Rifai dapet pak Aziz yang ganteng minta ampun."


"Pak Aziz sama mas Rifai emang udah temenan dari dulu."


"Masa sih????"


"Udah ah... ngapain kamu kepo."


"kepo sih nggak, kasian aja. Dia jagain jodohnya temen sendiri heheheh....!", kata tari.


"Kalo kamu? Jagain jodoh siapa?", tanya Niko pada tari.


"Belum ada yang di jagain lah pak Niko."


"Ya udah, jagain saya aja ya....!", kata Niko sambil berlalu meninggalkan Tari.


Sedangkan tari hanya melongo....


Fai sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Meskipun dia sudah ijin pada mika kalau dia ke kantor Dian, tapi setidaknya dia juga harus mengabari jika sudah sampai ke kantor DWP.


Puk....!


Sebuah tepukan mengejutkan Fai, begitu juga orang-orang yang sedang mengantri di depan lift.


"Papa!", kata Fai. Orang-orang yang berada di depan Fai turut mendengar sebutan 'Papa' pada pak Umar yang notabene bos kedua di kantor ini karena wira Wiri di kantor ini dari dulu.


"Kamu ngapain?", tanya Papa Umar.


"Ketemu Aziz pa. Katanya ada yang mau di obrolin.Papa sendiri?"


"Papa mau ketemu Dian, ada urusan sebentar."


"Owh... ya udah, kita bareng aja. Papa ketemu dian, Fai ketemu Aziz."

__ADS_1


Papa mengangguk setuju. Lalu mereka pun masuk kedalam lift saat pintunya terbuka.


"Pa...!"


"Hem?"


"Fai udah ijin sama Mika kok Pa!"


Papa tersenyum menanggapi ucapan Fai.


"Apa papa harus tahu?", kata papa sambil tetap menyunggingkan senyumnya.


"Fai cuma nggak mau papa salah sangka aja."


"Papa percaya sama kalian kok!", papa menepuk bahu menantunya.


"Makasih Pa."


Orang yang ada di dalam lift pun menyadari jika ternyata pria tampan itu adalah menantu dari pak Umar.


"Silahkan pa?!", Fai mempersilahkan papa Umar keluar terlebih dulu.


"Papa langsung ke ruang rapat aja Fa. Nah ,itu ruangan mereka."


"Iya pa, makasih, nanti Fai bilang ke dian kalau papa langsung ke ruang rapat ."


"Baiklah, terimakasih!"


Fai pun meninggalkan papa mertua nya menuju ruangan Aziz.


.


.


.


"Iya Mr. Julian? Ada yang bisa saya bantu?", tanya Niko pada atasannya.


Selama ia bekerja di sini, baru kali ini Niko bertegur sapa dengan orang yang berpengaruh di kantor ini. Mr.Julian terkenal kaku dan dingin selama ini. Tapi semenjak Diandra di kantor ini, dia berubah menjadi pria yang lebih ramah. Jangan-jangan...benar rumor yang beredar bahwa Mr. Julian memiliki rasa terhadap Bu bos.


"Boleh saya tanya sesuatu?", tanya Julian.


"Tanya apa ya?", Niko sedikit bingung. Karena, pekerjaan nya memang tak berhubungan langsung dengan Mr. Julian.


"Kamu, sudah lama mengenal Bu Dian?", tanya Julian. Tuh...kan... bener, mau kepoin Bu bos!


"Lumayan mister. Dulu waktu Bu Dian masih magang dan bekerja di sini, kami satu divisi."


"Lalu, soal pak Rifai? Kamu kenal juga?"


"Kenal aja sih, nggak akrab. Kan...dulu mas Fai sering anter jemput Bu Dian. Kalau yang seangkatan sama saya pasti kenal Bu Dian dan mas Fai."


"Mereka...lama pacarannya?", tanya Julian lagi.


"Kenapa Mr Julian nanya sedetail itu?", tanya Niko.


"Hanya ingin tahu saja. Kamu mau ngasih tau saya apa nggak nih intinya?"


"I...iya... mister.... Mereka pacaran hampir empat tahun kayanya. Soalnya, Bu Dian keluar dari kantor ini tanpa kejelasan. Tau-tau kemarin waktu beliau baru ke sini, beliau sudah bersama pak Aziz."


Julian manggut-manggut tanda mengerti.

__ADS_1


"Jangan berpikir yang bukan-bukan Niko. Saya kan asistennya Bu bos. Saya hanya sekedar ingin tahu, tapi nggak mungkin kan saya tanya sama yang bersangkutan langsung."


Niko mengangguk saja.


"Ya udah, terima kasih!", Julian pun meninggalkan Niko.


Ah... alasan...gue tahu, Lo pasti suka sama Bu bos kan? Keliatan banget tahu nggak! Sok-sokan bawa-bawa jabatan asisten segala. Udah tahu, Bu bos ada yang punya. Lo ganteng Mr. Julian, tapi Lo masih kalah pamor sama mas Rifai apalagi sama pak Aziz. Niko membatin sendiri. Setelah itu, ia kembali ke meja kerjanya.


.


.


.


Aku membuka pintu ruangan ku, dan di saat yang bersamaan Mas Fa'i pun akan mengetuk pintu. Otomatis, kami bertabrakan.


Tanpa sengaja.....


Fai mengecup ubun-ubun ku , aku menabrak dada Fai. Dan meninggalkan bekas noda lipstik ku.


"Maaf!", satu kata itu keluar bersamaan dari mulut kami.


Untuk sepersekian detik, kami sedikit terpaku. Aku tahu, mas Fai tak sengaja menyentuh puncak kepalaku. Dan aku pun tak sengaja mendaratkan wajahku di dadanya.


Dia masih memakai parfum yang sama. Parfum yang pernah ku pilihkan saat aku bersama nya dulu. Ah....mikir apa aku ini???!!!!


Sejalan dengan pemikiran Diandra...


Setelah puluhan purnama, aku baru menyentuh ubun-ubun Diandra lagi, meski ini tanpa kesengajaan. Tapi... perasaan ini sungguh tak bisa di gambarkan. Ya Allah, salah! Ini salah! ini tidak boleh di lanjutkan.


"Em...maaf Di, papa udah nunggu di ruang rapat", kata Fai memecah kecanggungan.


"Ah, iya. Makasih. Mas Aziz juga udah nunggu di dalam."


Aku pun melangkah kan kaki ku. Tapi Mas Fa'i meraih pergelangan tangan ku.


"Di, mas minta maaf. Mas nggak sengaja!", kata nya lirih.


Aku menarik nafas dalam-dalam.


"Aku tahu tadi nggak sengaja. Tapi...maaf juga, jangan cari kesempatan pegang-pegang tanganku!", kataku.


"Hahahah....iya. Mumpung Aziz nggak liat!"


"Ish....apaan sih?!!"


"Iya maaf....serius maaf!", Fai melepaskan tanganku.


"Hem!'', aku meninggalkannya Fai di depan ruangan ku sampai aku dengar suara pintu di tutup.


Aku pun memasuki ruang rapat, di sana om umar sudah menunggu ku.


Tanpa di sadari, ada sepasang mata yang mengawasi.


'Sedekat apa hubungan mereka??'


*****


Tebak!


Siapa coba yang liat kejadian di depan ruangan Diandra????!!!! 🤔🤔🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2