Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Mas Sunda


__ADS_3

Acara saling berpelukan pun usai. Mas Aziz sudah kembali dari agen voucher.


"Perasaan pelukan Mulu deh!", kata mas Aziz tiba-tiba menghampiriku.


"Masalah buat elo?", canda Imah.


"Yo Ndak masalah to Yo....",sahut mas Aziz. Kami berempat tertawa bersama.


"Ya sudah,mama pulang ya."


Mama pun beranjak dari kursinya.


"Mama tuh aneh,anaknya datang malah mama pulang." Mas Aziz pura-pura merajuk.


"Iya... besok-besok kalau mama sempat ke sini lagi."


Lalu mama pun berpamitan padaku dan Imah.Mas Aziz mengantarkan mama sampai ke pintu gerbang.


"Jaga baik-baik anak-anak perempuan mama ya. Terutama tuh...calon cucu mama.Awas kalau kamu bikin ulah lagi.Mama bejek-bejek anumu sampe modyar." Mama mengancamku dengan meniru dialek Imah. Dasar Imah,besar sekali pengaruhnya dikeluargaku.


"Iya ma."


"Ya sudah, assalamualaikum." Mama mulai melajukan mobilnya.


"Walaikumsalam."


Aziz pun kembali ke kios menemui Dian dan Imah yang sedang mengecek belanjaan Aziz.


"Mas, mau solat asar dulu ya."


"Iya mas!", jawabku sambil tetap membereskan barang belanjaan mas Aziz.


"Oh iya mah,katanya kamu mau ketemu sama teman pesbuk kamu. Ga jadi kesini-sini?", aku membuka obrolan dengan Imah sambil tetap merapikan belanjaan.


"Wis lah mbak,aku ga mu pusing ngurusi cowok.Kalau emang Imah ada jodohnya,nanti juga ketemu kok."Imah pun santai menanggapi ku.


"Hemm...kenapa bisa gitu? Bukannya kemarin kamu bilang mau ketemu?Kok berubah pikiran?", tanyaku lagi.


"Iya lah mbak.Ternyata dia sudah beristri mbak. Istrinya inbok ke Imah. Maki-maki Imah. Dih...Imah aja belum pernah ketemu dia."


Imah bergidik sambil mengangkat bahunya.


"Owh....ya sudah,lain kali kamu hati-hati.Selektif pilih teman,mana yang kira-kira baik untuk diajak berteman mana yang tidak. Ini kota besar mah, mba takut kalau kami nggak bisa jagain kamu terus."


"Jangan ngomong gitu ah mbak.Insyaallah Imah bisa jaga diri kok. Tenang saja."


Kami pun mulai bercanda ala ciwi-ciwi.


"Permisi...beli kuota teh."Ada pelanggan yang sudah berdiri dibalik etalase.


"Iya mas sebentar." Imah lun bangkit dari duduknya.


"Pulsa apa ya mas?", tanya Imah.


"T*****sel teh. Yang 75ribu."


"Mau voucher apa yang elektrik aja? Harganya sama mas." Imah menawarkan produknya. Pantas diakui lah keliahaian seorang Imah dalam mempromosikan dagangannya.


"Voucher aja teh."

__ADS_1


Imah pun mengambilkan voucher yang pembeli minta.


"Ini mas. 75 ribu ya."


Si pembeli pun memberikan uang selembar seratus ribuan.


"Udah...kembalinya buat teteh aja!", kata si mas nya.


"Buat saya mas?Nggak usah...!", tolak Imah.


"Nggak apa-apa atuh,saya mah ikhlas."mas itu keuekeh pengen ngasih kembalian ke Imah.


"Tapi mas....", Imah berusaha menolak.


"Terima saja Imah, rejeki jangn ditolak." Mas Aziz muncul tiba-tiba di belakangnya. Aku pun tersenyum jika mas Aziz mulai berulah pada Imah.


"Iya teh, saya ikhlas kok. Tapi....boleh nggak kalo saya minta wa teteh?", kata si mas Sunda itu.


"Yah... ujung-ujungnya modus kan?", kata mas Aziz.


"Biarin sih mas namanya juga usaha!", aku tak mau kalah.


Imah dan si mas nya terlihat malu-malu.


"Kayanya saya nggak asing deh sama mas?", kata mas Aziz.


"Iya mas. Saya yang jualan soto mie Bogor di gang depan", jawab masnya.


"Owh...iya mas,aku juga baru ngeh deh sama si Aa", kataku ke mas Aziz.Si mas Sunda masih senyam senyum.Jangan ditanya seperti apa wajah si Imah,merah merona.


"Gimana mah, mau dikasih nggak nomor wa nya?", tanya mas Aziz.


"Lho kok aku?", tanya mas Aziz.


"Kan mas Aziz masku?", Imah memasang wajah sok kiyut.


"Ya udah boleh." Mas Aziz pun memilih duduk di dekat kursiku.


Kulihat Imah dan mas Sunda saling bertukar nomor wa. Sepertinya mas Sunda tertarik sama Imah. Lalu mas Sunda pun meninggalkan kios kami.


"Siapa namanya mah?", tanyaku.


"Mas Dadan Ramdani mbak", jawab Imah semangat.


"Owh....", sahutku dan mas Aziz berasamaan.


"Kenapa sih?", Imah mulai merajuk.


"Jangan mas dong. Kan dia orang Sunda. Biasanya mah di panggil Aa mah", kataku menjelaskan.


"Owh....ngono toh?", Imah bertanya padaku.


"Iyo ngunu kuwi mah", sedikit-sedikit aku sudah mulai ngerti bahasanya Imah.


"Hahaha...mbakku...mbakku.... pokoke aku makin padamu mbak lah. I lope yu pul", Imah memelukku.


Kami bertiga tertawa bersama. Tiba-tiba ada sesuatu yang berbunyi tapi entah apa itu.


"Mas...mah, dengar nggak barusan bunyi apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Bunyi apa sih?Mas nggak denger apa-apa.Kamu dengar mah?", tanya mas Aziz pada Imah.


"Nggak mas."jawabannya singkat.


"Owh...mungkin perasaan ku aja kali ya.Ya sudah, aku mau mandi sekalian solat asar deh."


Aku berdiri dari kursiku. Tiba-tiba ada air yang meluncur dari jalan lahirku. Tidak terasa sakit apa-apa,tapi aku nggak bisa menahannya sepertinya menanahan air seni.


"Ya Allah mas ...ini....", kataku tersendat.


"Dek,kamu kenapa begini?Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?"tanya mas Aziz panik.


"Mungkin juga mas,ini namanya air ketuban." Imah sepertinya lebih paham.


"Ini... tanda-tanda mau lahiran mah?", tanya mas Aziz lagi.


"Iya mas. Ya udah mas bawa mbak Di kerumah sakit sekarang!", pinta Imah. Mas Aziz yang panik pun hanya mondar-mandir.


"Mas! Malah bolak balik gitu. Ini baru tanda-tanda mas. Masih lama prosesnya. Mending sekarang, mas siapkan pakaian Dede bayi sama punya mbak Di.Sudah di paking kan?", tanya Imah pada mas Aziz.


"Iya mas. Daripada kamu mondar-mandir begitu,ambil di lemari deh. Sudah ku siapkan mas. Baju buatku lahiran dan baju Dede bayi."


Justru aku yang tenang menghadapi salah satu proses kelahiran anak pertama kami.


"Iya.Mas ambil sekarang.Oh iya mah. Tutup kios, simpan semua yang penting di brankas ya. Simpan kuncinya ditempat yang aman!", perintah mas Aziz.


"Iya mas!",Imah pun sibuk menutup rolingdoor.Membereskan barang dagangan kami ke dalam brankas yang tersimpan rapi di belakang kasir.


"Mbak, kuncinya biar disimpan mas Aziz aja ya.Aku juga mau siapin bajuku barang satu setel. Bentar ya mbak."Dia berlari ke kamarnya yang berada persis dibelakang kios.


"Imah mana?", mas Aziz mengahampiri ku dengan membawa sebuah tas yang sudah kupersiapkan dan tas gendong kecil miliknya.


"Ini, kamu simpan dulu kunci brankas kios di dompet mu.Bawa uang cash juga kan?Sama dokumen-dokumen penting?", tanyaku beruntun.


"Sudah sayang."


Imah tergopoh-gopoh mendekati ku.


"Kamu mau kemana Imah?", tanya mas Aziz.


"Mau ikut kalian lah. Kalau ternyata mau lahiran kan, Imah udah bawa baju ganti biar bisa jaganin mbak Di sama Dede bayi." Imah berasalan pada mas Aziz.


"Yang mau lahiran kan Dian, kamu ikutan ribut?", mas Aziz menatap heran dengan tas gendong Imah.


"Apa bedanya sama mas Aziz?", giliran Imah yang bertanya pada mas Aziz.


"Udah-udah nggak usah debat. Jadi anterin aku kerumah sakit nggak?", tanyaku pada mereka berdua.


"Jadi...", jawab Imah dan mas Aziz kompak.


"Ayuk dek, mas gendong aja ke mobil ya?", kata mas Aziz.


"Aku masih bisa jalan kali mas."


"Mah, tolong gelarin selimut di jok belakang.Takut air ketubannya ngalir kemana-mana."Imah pun cekatan mengurusku.


Mas Aziz mengunci kios dan rumah. Mengecek listrik dan semua pintu. Memastikan bahwa semua sudah aman.


Mobil kami melaju cepat ke rumah sakit yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal kami.

__ADS_1


__ADS_2