Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 175


__ADS_3

Jam lima lewat mobil kami sampai ke rumah. Mas Fai turun dari mobil, membuka gerbang sendiri. Setelah itu, mobil kami pun mendarat di depan garasi dengan selamat.


Fai membukakan pintu untuk istrinya. So sweeeetttt banget sih....


Dan ternyata, dia juga membukakan pintu untukku. Hadehhh....🙄. Aku hanya tidak ingin Mika berpikir yang bukan-bukan.


Tapi kenyataannya, Mika santai-santai saja. Ah, iya lah. Cuma bukain pintu mobil doang di bahas! Ntar ada yang protes lagi 🙈.


"Dian, aku kebelet pipis nih!", teriak Mika yang sedikit berlari ke arah kamar mandi di dekat kamar Imah .


Mas Fai membawakan tas Diaz yang tadi aku tenteng.


"Udah mas, aku bisa bawanya kok!"


"Nggak apa-apa."


Dia tetap membawakan tas Diaz. Tiba-tiba Imah menghampiri ku.


"Mbak....lama amat sih perginya....!", kata Imah sambil meraih Diaz dariku.


"Iya kan emang urusannya banyak Mah!"


"Em...kok mba bisa sama mas Fai?", tanya Imah penuh selidik.


"Mas Aziz mana?", tanyanya lagi.


"Mas Aziz masih dibutik Mah!"


"Hai ,Imah cantik!", Mika merangkul Imah dari belakang.


"Lho ..ada mbak mika juga???", tanya Imah.


Fai dari tadi malas merespon ocehan si Jawir. Pelan tapi pasti, mereka bertiga bakal heboh sendiri.


"Iya Mah. Tadi kita dari butik mas mu, nah ...mas mu kan lama. Ya udah, kita pulang aja duluan. Ya Di?!", tanya mika.


Aku pun hanya mengangguk.


"Aduh...tayangna Tante pasti capek ya?!!!", Imah menimang-nimang keponakannya itu.


"Oh iya, ini titipan mu!", Fai menyerahkan makanan yang Imah pesan.


"Owh ...iya, makasih mas ustadz kawe yang ganteng....!", kata Imah meledek.


"Nggak usah ngeledek Lo Jawir!", kata Fai.


"Iya Mah, harusnya kamu berterima kasih lho sama mas Fai. Dia yang udah beliin titipan mu, bukan mbak lho!"


"Oh ya....aduh...jadi enak nih. Makasih ya suaminya mbak Mika!", canda Imah lagi.


Kami bertiga cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar ocehan si Jawir.


"Ya udah sana di makan dulu, itu ada punya Faiz juga."


"Iya mbak. Tapi, Diaz sama aku aja dulu ya."


"Diaz mau mbak mandiin Mah. Kasian, udah sore begini."

__ADS_1


"Ya udah deh. Dek, ikut bunda dulu ya. Nanti kalau udah ganteng ikut sama Tante Imah yang cantik....!"


"Cantik tapi jawirnya nggak nahan!", kata Fai melewati Imah menuju ke arah rumah induk.


"Dih....berasa kaya yang punya kawasan!", kataku. Mika malah terkekeh sendiri melihat tingkah suaminya itu.


"Maaf ya Di, mas Fai pasti bikin kamu kesel."


Mika mengusap bahuku.


"Tenang aja Mika, aku udah kelewat kebal kok sama ulah suamimu!"


"Hehehe iya iya ...ya udah masuk aja ya. Kamu mau mandiin Diaz kan? Aku boleh dong bikin teh anget buat kita bertiga?"


"Iya silahkan. Paling suami mu udah nangkring di meja makan. Liat aja!", aku berjalan beriringan dengan mika.


Benar dugaan ku, Fai sudah nyantai di meja makan.


"Tebakan mu benar Di!", kata Mika. Lalu mika menghampiri Fai.


"Mas, mau bikin teh nggak? Aku udah ijin sama Dian kok."


"Boleh juga tuh!", kata Fai.


"Ya udah ....para tamu yang agung...aku tinggal dulu ya. Mandiin Diaz dulu!"


"Oke....maaf sebelumnya ya Di. Kalau kami bikin kamu risih", ujar Mika.


"Udah santai aja sih Mika, contoh aja tuh suamimu. Dia aja biasa aja kan???", sindir ku.


Tapi tak ku gubris. Lebih baik aku memandikan Diaz , setelah itu baru aku mandi.


Selesai mandi, Diaz malah tertidur pulas. Padahal dia belum selesai memakai bajunya. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak dalam dadaku. Diaz pasti lelah seharian mengikuti aktivitas ku.


Andai aku bisa memilih untuk tetap dua puluh empat jam mengurus Diaz seperti sebelumnya. Pasti Diaz tidak akan kelelahan seperti sekarang.


Karena Diaz sudah tidur, aku pun bergegas mandi. Aku gunakan pakaian dinas ku. Hanya saja, aku memakai bergo yang sedikit lebih besar. Ya... karena ada Fai. Andaikan dia tidak sedang ada di sini, mungkin sudah ku urai rambut panjang ku ini.


Aku mendengar suara mas Aziz sudah bersama mereka.


"Mas, udah pulang?", tanyaku sambil mendekati nya .


"Iya. Capek banget dek!", kata mas Aziz sambil duduk bersandar di kursi.


"Ya udah, aku bikinin kopi dulu ya mas."


"Jangan...!", kata Aziz.


Aku, Mika, dan Fai kompak menoleh ke mas Aziz.


"Kenapa?" tanyaku pelan.


"Mas udah ngopi tadi."


"Ngopi dimana?", tanyaku.


"Di butik sayang. Tadi ada kustomer, jadi mas nemenin sekalian."

__ADS_1


"Owh. ...!", aku hanya ber'OH' saja.


"Spesial amat lho pake nemenin ngopi. Gue aja nggak Lo temenin", ujar Fai.


"Apaan sih Lo, nggak usah ngomporin deh!", kata Aziz ketus.


Mulai deh tuh duwo Tom and Jerry! Batin Mika.


"Yang ngomporin siapa sih? gue cuma bilang, gue aja yang sohib Lo kagak di temenin."


"Lah...Lo kan temen gue. Lo mau jungkir bbalik di butik gue juga ngga masalah kan? Lha dia...dia kan pelanggan baru."


"Udah....udah .. ngga usah di bahas. Terus, kamu mau minum apa mas?", tanyaku.


"Nanti aja, agak maleman."


Aku mengernyitkan dahi ku.


"Ya udah deh. Ntar bilang aja. aku mau nyiapin buat kita makan malam."


"Ya udah, aku mandi dulu deh."


Aziz beranjak dari ruang makan menuju kamar.


"Di, aku bantu siapin masakan ya!", ujar mika mendekati meja dapurku.


"Dengan senang hati!", kataku. Kami berdua berinteraksi seperti sahabat yang lama saling mengenal. Padahal, kami benar-benar baru mengenal hampir satu bulan belakangan ini. Entah, entah apa ini yang di namakan persahabatan!


Fai memperhatikan dua perempuan yang sedang berkutat di dapur. Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki tampan itu.


Tak berapa lama, azan magrib berkumandang. Aziz menggendong Diaz yang masih tertidur, lalu duduk di sebelah Fai.


"Dek, masaknya ntar lagi. Solat aja dulu!", pinta mas Aziz.


"Iya mas! Ini udah kok. Nanti tinggal Cemplung-cemplungin doang."


Aku dan mika mencuci tangan, lalu menghampiri suami kami masing-masing.


"Kamu mau solat dulu nggak apa-apa dek. Gantian!", titah Aziz.


"Iya Mas!", aku pun solat sendiri di kamar. Aku tidak melanjutkan tilawah ku saat ini, mungkin nanti saat solat isya.


Selesai solat, aku meminta Diaz dari pangkuan mas Aziz.


Mereka bertiga solat berjamaah. Mas Fai yang menjadi imam nya.


Hatiku trenyuh melihat kebersamaan mereka. Semoga saja persahabatan kami bisa terjalin dengan baik.


Tiba-tiba ada notifikasi diponselku. Ada pesan dari nomor yang tidak ku kenal.


Sebuah video yang memperlihatkan mas Aziz dengan seorang perempuan ngopi di butik, tiba-tiba perempuan itu terlihat bergelayut manja di lengan suamiku. Siapa perempuan itu?


Tapi wajah mas Aziz terlihat tidak suka dengan kehadiran perempuan itu. Apa mas Aziz....???


******


Hayo...siapa sih perempuan itu???? 🙈🙈🙈🙈🙈🤔🤔🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2