Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 127


__ADS_3

"Mba Hayu, hari ini pulang cepet aja ya? Dari pagi sendiri pasti capek."


"Capek sih nggak mas. Tapi kalau mas mau kita tutup cepet ya nggak apa-apa."


"Imah belum pulang?"


"Katanya udah jalan pulang mas."


Tak berapa lama, Imah dan Faiz datang di antar kang Dadan.


"Assalamualaikum!", sapa mereka bertiga kompak.


"Walaikumsalam."


"Ya udah mbak Hayu, biar saya aja yang tutup. Itu , Faiz udah datang."


"Iya mas!", jawab Hayu sambil mengambil tasnya, tak lupa Aziz mengambil selembar uang berwarna biru untuk uang makan harian Hayu. Padahal, kalau Hayu mau, Daddy bahkan sanggup membuatkan toko yang jauh lebih besar dari ini. Tapi, hayu memilih hidup yang sederhana.


Imah pun masuk ke dalam kios.


"Mbak Hayu mau pulang? Saya anterin sekalian mau?" tawar Dadan.


"Nggak usah kang, terima kasih. Kami mau mampir-mampir dulu kok!", tolak hayu.


"Nggak apa-apa mbak Hayu, Imah nggak cemburu kok", celetuk Imah yang menangkap rasa tidak enak dari wajah Hayu. Imah selalu merasa jika selama ini, Hayu seperti menaruh hati pada mas Aziz. Bukan sekali dua kali Imah menangkap basah mbak Hayu sedang memperhatikan mas Aziz. Entah itu dari samping atau bahkan sekedar menatap punggungnya. Harus diakui, mas Aziz memang tampan dan berkarisma. Wajah nya juga mirip sekilas jika disandingkan dengan Mas Fa'i.


Aduh...Imah, mikir apa sih kamu???? Batin Imah , berperang dengan hatinya sendiri.


"Maaf Kang dadan...Imah.., bukan maksud hati menolak kebaikan kalian, tapi kami memang mau mampir dulu."


"Ya udah atuh kalau gitu mah. Mas...Imah...saya pulang dulu ya."


"Iya kang!"


"Iya A"


Ucap Imah dan Aziz bersamaan.


"Nutup gasik (cepat) Tah mas?", tanya Imah .


"Iya. Capek mah. Kasian Hayu dari pagi rame terus. Sendiri pula."


"Maaf ya mas, Imah sibuk dewek."


"Ora opo-opo Mah!", sahut Aziz sambil menutup rolling door. Kemudian duduk di kursi kasir.


"Urusan nya udah selesai di rumah Dadan?", tanya mas Aziz sambil menghitung pendapatan hari ini dan stok voucher.


"Alhamdulillah udah mas. Tadi cuma ke rumah Teh Neneng, minta bikinin makanan buat hantaran balasan. Mbak Di rekomendasiin masakan teh Neneng. Yang waktu itu bikin tumpeng ulang tahun kamu mas!"


"Owh....!", Aziz hanya ber'OH' saja.


"Mas....!", Imah duduk di hadapan Aziz.


"Apa??"


"mas ngerasa nggak sih, kalau... kalau...maaf ya...kalau..."


"Kalau...kalau Mulu, apa sih Mah?"

__ADS_1


"Itu...Imah ngerasa kalau mbak Hayu ada hati sama mas Aziz."


"Astagfirullah Mah! Jangan su'udzon mah. Kalau nggak bener jadinya fitnah itu!"


"Kalau bener?", Imah memangku tangannya di atas meja kasir.


"Ya..ya...nggak mungkin lah Mah. Udah ah, jangan berpikir yang bukan-bukan."


"Imah nggak asal nuduh mas. Imah sering kok mergokin mbak Hayu lagi liatin mas. Entah pas liatin muka dari depan ,samping , belakang...."


"udah... omongan mu udah melantur mah. Jangan bikin gosip begitu. Apalagi kalau sampe mbak mu denger, mau bikin masalah lagi?"


"Hehehe iya maap. Tapi...Imah cuma pesan, mas jangan sampe berpaling dari mbak Di lho ya. Meskipun mbak Hayu nggak kalah cantik, tapi tetep mbak ku yang paling cantik!"


"Iya...pokoknya cuma mbak mu Tok Imah, ga ada yang lain!"


"Ya udah, Imah mau mandi. Langsung tidur deh. Capek banget."


"Iya sana!"


******


Aku sedang memainkan ponsel ku saat mas Aziz masuk ke kamar. Dia membuka brankas di dekat meja riasku. Uang hasil penjualan hari ini, selalu ia simpan di sana. Sesaat, mas Aziz melirik ku. Mungkin karena liat berkas dari yg Tante Selly sudah ku letakkan di sana.


Mas Aziz belum bicara apa pun, sampai ia membersihkan diri di kamar mandi. Suara air dari shower dan bau sabun menyeruak di dalam kamar ku.


Mandi air apa mandi sabun sih mas Aziz? Baunya sampe segininya amat! Batinku. Tak lama mas Aziz pun keluar dengan melilitkan handuk di bawah pusar nya. Aku tak sengaja melihat nya saat dia baru saja keluar dari kamar mandi.


Aku alihkan pandangan ku ke ponsel ku lagi. Dari ekor mataku, aku melihat mas Aziz bersiap untuk solat isya. Tumben nggak nanya aku udah solat apa belum?


Membaca novel online sudah seperti bagian dari hari-hari ku. Tentu saja aku membacanya saat sedang senggang begini. Kalau tidak, aku pasti di sibukan dengan kegiatan merawat Diaz dan kerjaan rumah tangga lainnya.


"Kenapa ponsel ku di ambil? Siniin!"


Bukannya menyerahkan, mas Aziz malah menyimpan nya di atas meja.


"Udah, baca novel nya besok lagi aja!", katanya sambil duduk di hadapan ku.


Aku menarik nafas panjang.


"Sudah mau cerita sama mas?", tanya mas Aziz sambil mengangkat dagu ku dengan telunjuknya.


"Aku belum siap mas!", aku bermaksud untuk turun dari ranjang ku.


"Sayang....!", mas Aziz meraih tanganku sampai aku kembali duduk.


"Mas....!", suara ku sedikit kupelankan. Takut mengganggu Diaz yang tertidur pulas.


"Baiklah, kalau kamu belum mau bicara soal yang tadi."


Mas Aziz menggenggam tanganku di atas pahaku.


"Mas tahu, mas belum bisa membahagiakan kamu dek. Bahkan...sering menyakiti kamu tanpa mas sadari. Tapi...asal kamu tahu, mas cuma ingin...istri shalihah mas ini...bisa ceritakan semua keluhannya sama mas. Bukan orang lain."


Aku masih diam, tidak ingin menimpalinya.


Mas Aziz meraihku dalam pelukannya. Membiarkan kepala ku bersandar di dadanya. Ku rasa kan detak jantungnya , membuatku merasa nyaman.


"Maaf...maaf...kan mas ,dek. Mas belum bisa membuatmu percaya sepenuhnya sama mas."

__ADS_1


Tak terasa air mataku meleleh. Aku terisak pelan di pelukan suamiku. Menyadari aku yang menangis di pelukannya, mas Aziz mendongakan wajahku untuk menatap wajahnya.


"Mas...selalu bersama mu." Aziz menakupkan tangannya di wajahku. Kening ku di kecup dengan lembut. Beralih ke mataku, mencium kelopak mataku yang terpejam. Menciumi hidung ku, lalu menyatukan kening kami.


Jemarinya mengusap air mataku di pipi. Kembali,ia menciumi wajahku. Sampai akhirnya, sentuhan bibirnya membuatku semakin terpejam.


Mas Aziz melakukannya dengan sangat lembut, tidak seperti biasanya. Bermenit-menit telah berlalu, mas Aziz masih berkuasa atas bibirku.


Semakin lama, mas Aziz semakin menuntut. Tanpa melepaskan ciumannya, mas Aziz sudah membaringkan badanku. Aku pun pasrah saja dengan perlakuannya kali ini. Sentuhannya memberiku sensasi nyaman, merasa aku adalah milik seseorang. Aku di inginkan!


Diandra, mungkin...masalah yang kita hadapi tidak akan kamu lupakan. Tapi setidaknya, kamu bisa melupakannya sejenak saat melakukan ini bersamaku. Batin Aziz.


Semakin lama, yang awal nya hanya berciuman kini menjadi aktivitas sepasang suami istri.


Berkali-kali mas membuatku merasakan 'hal' itu. Seolah-olah mas Aziz tak kehabisan tenaga. Sampai pada akhirnya, mas Aziz pun mencapai puncak nya.


"Dek....!", bisiknya di sebelah telingaku. Sedangkan tubuhnya kini terlihat meregang. Panggilan kesayangan darinya membuatku merasa melayang.


Keringat mas Aziz di wajahnya seperti butiran jagung. Lelah sekali kah mas? Hanya untuk membuat ku melupakan sejenak bebanku?


"Makasih dek!", bisik Aziz yang kini berbaring di sebelahku dengan menutupi tubuh kami memakai selimut.


"Mas....!", bisikku lagi.


"Kenapa sayang?", mas Aziz melingkar kan tangannya ke perutku.


"Makasih!"


"Untuk?"


"Usahamu !"


"Usaha apa dek?"


"Aku tahu, kamu hanya ingin membuat ku tidak terlalu memikirkan masalah ku. Benar kan?"


"Hemm...bisa benar, bisa juga nggak!"


"Kok gitu?"


"Iya lah, kan mas kangen dengerin ******* mu!", bisiknya pelan ditelinga ku.


"Dasar mesum!"


"Mesum sama istri sendiri kan nggak apa-apa!"


"Mas....ih...", aku mencubit perut nya yang tertutup di balik selimut.


"Istirahat bentar dek."


"Heum? maksudnya?"


"Sekali lagi!" bisiknya jahil.


"nggak ah."


"Mas mau bikin kamu, besok seharian di kamar terus!"


"Mas....!", aku mencubitnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2