Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Kisah hidup


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Aku bermaksud untuk menutup kios ku.


"Kamu tutup aja Di. Kalian masuk, sudah malam. Kasian Diaz tidur disini."


"Terus kamu?"


"Aku akan berjaga di teras sampai aziz datang."


"Ide yang bagus!"


Fai membantuku menutup kios.


"Makasih ya mas. Aku tinggal ke dalam. Kamu masuk lewat gerbang aja ya."


"Iya, masa lompat pager!"


"Nggak lucu!"


"Biarin!"


Aku mengunci kios dari dalam. Setelah itu aku mendorong stroller diaz. Aku meletakkan Diaz di dalam boxnya. Kasian Diaz , sepertinya tidak nyaman saat tidur di stroller.


Aku bermaksud membuatkan kopi untuk mas Fai. Usai membuatkan kopi, aku mengantar nya ke teras.


"Ini mas, sambil nunggu mas Aziz!", ku sodorkan kopi dan juga biskuit setoples.


"Makasih, kamu baik banget sih Di!"


"Hem!", aku pun bergegas meninggalkan nya di teras. Aku bersiap untuk merebahkan diri setelah memakai dasterku.


Suara klakson mobil membatalkan niatan ku untuk rebahan. Aku menyahut jilbab instan ku di kepala ranjang. Sayangnya, aku sudah memakai daster. Tapi setidaknya, aku bisa menutupi bagian atasku.


Aku membuka pintu ruang tamu. Kulihat mas Aziz sedang mengobrol.


"Mas...!", sapaku. Meskipun aku memakai jilbab, tapi tanganku tak tertutup sempurna. Aku lupa, ada mas Fai di depan ku.


"Dek!", pekik mas Aziz. Dia buru-buru melepaskan jaketnya. Lalu memakai kan padaku.


"Lebay amat sih Ziz. Gue juga pernah liat kali!"


Mas Aziz melotot.


"Tapi sekarang yang berhak liat cuma gue. meskipun itu cuma lengan, tapi itu hak gue. milik gue. Lo nggak boleh liat!"


Cihhh...Fai berdecih.


"Udah ah, iya maap. Aku lupa kalau si jomblo masih di sini mas!"


"Apa Di? Kamu juga ikutan ngatain aku jomblo?"


"Terima kenyataan sih!"


"Eh, mas. Kamu sendiri? Imah mana?"


"Nemenin Farhan dek. Kasian!"


"Owh...iya ya."


"Tadi, sebelum mbak Feby meninggal kalian sempat ketemu?"


"Udah, intinya Feby pengen Dadan dan Imah tetep menikah."


"Owh....!", Fai dan aku kompak ber'OH'.


"Berhubung Lo udah pulang, gue balik deh!"


"Btw, makasih ya. Udah nemenin istri gue!"


"Hem."


"Ya udah sono balik, di cariin Abah aja Lo!"


"Iya bawel. Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!"


"Mas ,kamu kan Nggak jadi makan tadi. Makan dulu yuk!"


"Makan kamu dulu boleh nggak? Mas pengen....! Nanti kalau udah kalah tempur, baru makan nasi!"


"Kamu mas ih....!", aku mencubit perut nya.


"Mas bebersih dulu ya."


"Iya."


Aku kembali mengunci pintu ruang tamu. Sambil menunggu pak suami meminta haknya, aku memainkan ponselku. Rasanya lama sekali aku tak ngobrol dengan teman-teman bengekku.


Ceklek...pintu kamar mandi terbuka. Dengan masih memakai handuk, mas Aziz lewat di depan ku.


"Mas solat dulu ya. Kamu yang sabar nunggunya!"


"Dih...siapa yang nggak sabar sih mas, kamu atau aku?"


Mas Aziz hanya nyengir, setelah itu dia mendirikan empat rakaat nya.


Dengan masih memakai sarung, mas Aziz menghampiri ku.


"Ganti bajumu dulu mas."


"Iya...iya...!"


Mas Aziz pun mengganti pakaian tidurnya.

__ADS_1


"Bisa di mulai kan sayang? Mas kangen....!"


Aku mengangguk saja. Baru saja kami akan menautkan bibir, tiba-tiba Diaz terbangun.


Mas Aziz menatapku kecewa.


"Sebentar mas, Diaz haus!"


Aku pun menyusui Diaz terlebih dulu. Beberapa saat kemudian, aku menghampiri suamiku yang masih ngambek.


"Marah mas?" , tanyaku.


"Enggak. Cuma mas heran, Diaz kok suka bangun di waktu yang nggak tepat. Ngga boleh gitu bapaknya senang-senang sama emak nya!"


"Masih mau ngoceh, apa mau lanjut? Keburu Diaz bangu lho!'


"Lanjut dong....!"


Kami pun kembali melakukan hak dan kewajiban kami. Maaf Feby, bukan maksud kami tak menghargai kepergian mu. Tapi aktivitas kami ini juga sebuah kebutuhan 😉.


*******


Pukul delapan pagi Imah sudah ada di rumah. Dia sedang berganti pakaian sebelum kembali menemani Farhan untuk menuju pemakaman Feby.


"Imah, kamu sarapan dulu!", pintaku.


"Udah mbak!"


"Ya udah, kita berangkat ya dek. Kamu di rumah aja!"


"Iyaa mas. Kalian hati-hati ya!"


"Iya mbak."


Mereka berdua pun berlalu.


Aku dan Diaz menjaga kios berdua kali ini. Baru saja aku membuka kios, seorang perempuan muda menghampiri kami. Wajah nya yang terlihat lembut, dan berbalut jilbab yang lebar berwarna tua.


"Assalamualaikum mbak!", sapanya.


"Walaikumsalam."


"Umi...nanti Faiz mau jajan ya Mi...!", kata seorang anak mungkin usianya tiga tahunan.


"Iya nak!", sapa wanita itu lembut.


"Mbak, em...apa disini membutuhkan karyawan lagi mbak?", tanya nya ragu-ragu.


"Em, belum sih mbak. Kenapa ya?"


"Saya...mau melamar bekerja disini, jika memang ada lowongan."


Kata wanita itu tertunduk malu.


"Jangan nak, umi belum punya uang." Bisik wanita itu pelan, tapi masih sempat ku dengar.


Aku pun mengambil kan untuk anak itu.


"Minumlah anak manis!", aku menyodorkan di depan anak itu. Anak itu menatap ibunya untuk meminta persetujuan. Wanita itu mengangguk pelan.


"Tapi, ini nggak bayar kan Tante. Umi nggak punya uang!", kata anak itu menunduk.


"Gratis buat kamu anak manis, siapa namanya?"


"Faiz Tante. Ibnu Faizal." Anak itu pandai sekali menyebutkan namanya.


"Nama yang bagus." Aku memuji keberanian anak itu.


"Boleh Faiz minum sekarang Tante?", anak itu bertanya kembali padaku.


"Ya boleh atuh nak!"


Dengan perlahan ia meminta ibunya untuk membukakan tutup botol itu. Seperti nya anak itu benar-benar haus. Terlihat betapa ia terburu-buru meminumnya.


"Pelan-pelan Faiz!", ibunya mengingat kan.


"Alhamdulillah."


Faiz mengucapkan hamdalah usai menenggak minuman itu. Wanita ini hebat sekali ya, ia mengajari anak nya yang masih kecil hal-hal yang di anggap sepele tapi justru hal yang sangat luar biasa bagiku.


"Oh iya, kita belum kenalan. Nama saya Diandra!" aku menyodorkan tanganku. Wanita itupun menyambut uluran tanganku.


"Saya Rahayu. Panggil saja Hayu."


"Em...maaf, mbak mau kerja memang nya suami mbak...?"


"Sudah almarhum mbak!", jawab Hayu singkat.


"Oh, maaf!", kataku pelan. Jadi, dia seorang janda? Batinku.


"Suami saya sudah meninggal empat bulan yang lalu mbak. Selama ini, saya hanya mengandalkan santunan dari yayasan tempat suami saya mengajar kemarin. Tapi, santunan itu hanya sampai enam bulan. Itu pun kebijakan yang amat sangat membantu saya. Dan...dua bulan lagi, santunan itu akan di hentikan. Maka dari itu, saya harus bekerja mbak!"


"Owh... sebelumnya, suami mbak ngajar di mana?"


"Di sebuah SMA xx mba, suami saya honorer di sana. Sebenarnya saat beliau masih ada, gajinya lebih dari cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan kami sekeluarga. Tapi, semenjak beliau tidak ada ya...saya harus berusaha sendiri."


"Maaf ya mbak, saya jadi ngungkit-ngungkit kisah hidup mbak Hayu."


"Nggak apa-apa mbak."


"Gini mbak, untuk hari ini...mbak temenin saya disini saja. Soal diterima enggaknya mbak kerja disini, saya harus tanya suami saya dulu. Nggak apa-apa kan mbak?"


"Iya mbak Dian. Nggak apa-apa."

__ADS_1


"Ya udah, sini masuk!"


Aku mendorong salah satu etalase untuk menyuruh Hayu masuk ke dalam kios.


"Tante, dedeknya ganteng. Namanya siapa?", tanya Faiz.


"Namanya Diaz, makasih kak Faiz udah muji Diaz ganteng!"


Faiz pun mendekati Diaz, mengajak nya bermain khas anak-anak.


"Berapa usia Faiz mbak?"


"Tahun ini lima tahun mbak."


"Em...kasian ya mbak."


Hayu hanya tersenyum kecil.


"Sebelumnya, mbak pernah kerja di mana?"


"Saya cuma ibu rumah tangga mbak. Saya sudah menikah selama sepuluh tahun. Dan...selama itu pula... Allah belum menitipkan amanah pada kami mbak."


"Lalu Faiz?", kata ku pelan.


Mbak hayu tersenyum.


"Faiz yatim piatu mbak, saya dan almarhum mas Royan mengasuhnya dari bayi."


"Masyaallah...apakah Faiz tahu?"


"Tahu mbak, kami sering membawa Faiz ke makam orang tua kandungnya."


"Ya Allah mbak, kalian baik sekali."


"Tidak mbak, kami hanya ingin merasakan memiliki anak. Faiz pun berhak mendapatkan kasih sayang."


"Beberapa waktu lalu, saya jualan makanan keliling di komplek ini. Makanya saya mau coba melamar pekerjaan disini."


"Oh, gitu."


Selang beberapa lama, suara mobil mas Aziz memasuki pekarangan. Kulihat dia dan Imah masuk lewat pintu samping.


"Itu suami saya, pulang. Mungkin sebentar lagi keluar, bebersih dulu. Soalnya habis dari pemakaman teman kami mbak!"


"Iya mbak. Nggak apa-apa!"


Ternyata Imah lebih dulu masuk ke kios.


"Mbak Di!'',sapa Imah.


"Gimana Mah, Farhan nggak apa-apa kan?"


"Farhan sama emak mbak, sementara diajak ke Bogor!"


"Owh...lha, Iki sopo mbak?", tanya Imah padaku.


"Ini...namanya mbak Hayu. Dia mau melamar kerja disini, tapi mbak kan gak bisa mutusin. Harus tanya mas mu dulu."


"Oh...iya!", sahut Imah.


"Mbak, ini nyaman Imah. Adil suami saya!"


Imah pun berjabat tangan dengan Hayu.


"Nah, ini ada anak ganteng. Sopo Iki?"


"Faiz Tante!", seru Faiz.


"Wah...namanya cakep, kaya anaknya!"


Imah memang menyukai anak kecil, jadi anak kecil pun banyak yang mudah dekat dengannya.


"Mbak, kok nggak di minum?", minuman yang ku ambilkan tadi masih belum di buka.


"Maaf mbak Dian, saya...puasa!"


"Oh...maaf ya mbak!", aku jadi kikuk sendiri.


"Faiz, udah makan belum?", tanyaku.


"Tadi pagi cuma minum teh hangat sama lontong terus gorengan tante. Sekarang sebenarnya Faiz lapar, tapi nanti sore aja sekalian sama Umi buka puasa."


Faiz menyahut dengan riang.


Ya Allah, kenapa batin ini nyeri sekali. Apa mereka sesusah itu?


"Faiz ,Tante Imah mau makan. Ikut yuk?", ajak Imah. Seperti nya Imah memahami situasi. Karena Imah melirikku beberapa saat.


"Jangan mbak Imah, saya tidak ingin merepotkan." Hayu merasa keberatan.


"Nggak apa-apa ya kan mbak Di?", Imah menimpali.


"Iya, Faiz makan sama Tante Imah ya! Anggap aja hadiah, dari tadi kan Faiz nemenin Diaz main. Sedangkan Tante sama umi malah ngobrol."


"Boleh umi?", tanya Faiz lagi. Uminya pun mengangguk. Akhirnya Imah menggedong Diaz dan mengajak Faiz ke dalam rumah.


Untuk beberapa saat obrolan kami terjeda. Karena banyak pembeli. Mbak Hayu pun membantu ku melayani pembeli. Aku pun jadi berpikir, apa dia diterima saja ya?


Tapi, mengingat status nya seorang janda... apa nantinya nggak apa-apa ya? Takutnya, nanti ada orang yang berprasangka yang bukan-bukan padaku atau mas Aziz atau bahkan mbak Hayu sendiri?


Ah...nanti ku rundingkan dengan mas Aziz.


*******************

__ADS_1


Btw...Hayu ini, salah satu kandidat untuk tokoh pria di sini. Dari latar belakang nya, apakah dia akan di sandingkan dengan Fai atau...kang Dadan? Minta sarannya boleh ? 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2