Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 249


__ADS_3

Mak baru saja keluar dari kamar nya. Di tangan kanannya ia menenteng tas yang cukup besar berisi baju. Dadan yang baru keluar kamar pun menghampiri Mak.


"Mak, eta tas isi naon?", tanya Dadan kepada Mak nya.


"Mak mau di Bogor aja dan!", sahut Mak tanpa menjawab pertanyaan yang Dadan ajukan tadi.


Buru-buru Dadan meraih tas yang Mak nya pegang.?


"Kunaon Mak? Ini teh rumah Mak Oge?", tanya Dadan sambil memegang tangan Mak.


"Dan, Mak salah. Imah bener ,Mak nggak berhak ngatur-ngatur kapan kalian harus punya anak. Mak belum tua banget yang harus diurus segala sesuatunya. Kalian berdua puas-puasin saja dulu waktu berdua."


Disaat yang bersamaan, Imah keluar dari kamarnya. Imah menatap heran mertuanya yang berada di depan pintu kamar sambil membawa tas yang cukup besar.


"Mak mau kemana?", Imah menghampiri suami dan mertua nya.


"Mak mau balik ke Bogor aja Neng. Mak minta maaf ya, kalau udah bikin neng kesel."


Mak memeluk menantu nya.


"Mak, kenapa harus pulang ke Bogor?"


"Mak nggak mau bikin kalian bertengkar tiap hari."


"Imah yang harusnya minta maaf sama Mak. Nggak bisa ngertiin Mak", ucap Imah.


"Nggak neng. Mak juga pernah di posisi neng. Harusnya Mak yang ngertiin Neng.Maafin Mak ya neng!"


Keduanya saling berpelukan dan meminta maaf.


"Ya udah kalau itu udah keputusan Mak. Dadan anterin ke Bogor ya Mak?", tawar Dadan.


"Iya", sahut Mak singkat.


"Dadan siap-siap dulu!", kata Dadan kembali ke kamar untuk mengambil kunci mobil.


"Imah ikut ya Mak?", kata Imah .


"Nggak usah. Kalau neng ikut, nanti Farhan pulang sekolah nggak ada yang di rumah gimana?"


Imah terdiam. Benar juga sih, kalau anak lelakinya pulang nanti nggak ada yang urusin.


"Ya udah Mak. Tapi Mak hati-hati ya. Kabarin kami terus. Insyallah, kami sering-sering balik ke Bogor."


"Iya. Mak di sana juga ada temen ngobrol kok. Ada Salamah yang bakal nemenin Mak tinggal di rumah bapak nya Dadan."


Tak lama setelah itu, Dadan keluar dengan pakaian yang rapi.


Tiba-tiba saja Imah merasa mual mencium bau parfum Dadan.


Hoek....Hoek....


Imah buru-buru lari ke bak cuci piring yang tak jauh dari tempat mereka bertiga berdiri. Dadan dan Mak menyusul Imah karena cemas.


"Kenapa neng? Kamu sakit?", tanya Dadan. Imah justru mendorong tubuh Dadan.


"Jauh-jauh A, parfum AA bikin Imah mual!", kata Imah. Ia pun kembali memuntahkan sarapan nya.


"Ya udah atuh, Mak naik taksi onlen aja kalo gitu mah. Karunya pamajikan maneh Dan!", kata Mak.


"Nggak usah Mak. A Dadan anterin Mak aja. Imah paling cuma masuk angin."

__ADS_1


"Benar Neng? Kamu nggak apa-apa AA tinggal?", kata Dadan memastikan.


"Iya. Imah nggak apa-apa. AA nggak nginep kan?", tanya Imah.


"Nggak. AA cuma nganterin Mak aja kok Neng!"


"Ya udah sana berangkat, tapi nanti pulang nya beli parfum yang baru. Imah nggak suka bau parfum AA. "


"Neng, dari dulu AA pake parfum ini kamu nggak apa-apa kok?", kata Dadan meyakinkan istrinya.


"Udah dan, nurut aja!", pinta Mak.


"Iya Neng. Nanti aja beli yang Neng mau."


Imah menyunggingkan senyumnya. Ibu dan anak itu pun berpamitan. Di dalam mobil Mak tak henti-hentinya mengumbar senyum.


"Mak seneng banget ya pulang ke Bogor?", tanya Dadan.


"Kayanya si neng teh hamil Dan!", kata Mak.


"Hah? Hamil? emang Kalau muntah-muntah itu pasti hamil Mak? Paling cuma masuk angin aja kali Mak."


"Barangkali aja Dan. Coba deh, nanti kamu pulang anterin Mak, beliin tuh alat tes kehamilan."


"Heum...iya deh Mak." Mereka berdua pun meluncur ke kota Bogor.


.


.


Aku mengirimkan pesan gambar kepada Imah. Semua hasil gambar nya, ku kirimkan. Tapi ada beberapa yang menonjol dan ku sertai caption di bawahnya.


'Yang ini dalam proses pembuatan'


[Assalamualaikum mbk....]


[Walaikumsalam]


[Mbak , nemu di mana itu?]


[Laci kasir. Kamu kok ngga bilang sih punya bakat gambar. Bagus lho ini.....!", aku memuji karya imah.


[Mbak Di bisa aja. Itu Imah cuma iseng Mbak]


[Iseng nya terarah Mah. Mbak udah ngasih salah satu disain kamu ke mbak Rani. Mbak minta di bikinin bajunya. Nanti kalau udah jadi, kamu pakai lho ya!]


[Hah? masa sih mbak? Aduh ...imah malu tahu ...]kata Imah dengan suara pelan.


[Kenapa mesti malu? Ini membuktikan bahwa kamu mampu mengurus butik peninggalan mama Kamu!] kataku memberikan motivasi.


[Belum lah mbak....]


[Heum....ya udah kalo gitu. Eh, gimana masalah kamu sama kang Dadan udah beres]


[Ya gini lah mbak. Mak balik ke Bogor]


[Kenapa]


[Nggak tahu, Mak dan A Dadan nggak bilang apa-apa sama Imah.]


[Tapi Alhamdulillah, kalian sudah berbaikan]

__ADS_1


[Iya mba.]


[Ya udah kalo gitu, mbak mau suapin Diaz dulu.]


Sambungan telepon pun terputus. Imah melanjutkan aktivitas nya, begitu pula aku.


.


.


"Permisi pak, awal bulan ada rapat dengan anggota direksi ",kata Julian mengingat kan.


"Awal bulan ya? Bulan apa ini? April ya? Ah...iya...April!", kata Aziz.


"Ada apa pak?", tanya Julian yang terkejut dengan perubahan ekspresi bosnya.


"Sebentar lagi puasa kan, dan sebentar lagi Diandra ulang tahun Jul!"


"Iya pa.Apa ada yang perlu saya siapkan untuk ulang tahun istri bapak?"


"Heum, sementara belum dulu Jul."Julian pun berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Azi masih memikirkan hadiah apa yang cocok untuk istrinya.


.


.


Damar mengantarkan Hayu dan Faiz ke kontrakan. Gang yang sempit membuat mereka meninggalkan mobil damar di depan gang.


Kalau tinggal di sini, parkiran mobilnya jauh banget ya? Gumam Damar.


Setelah di pikir-pikir, kasian mas Damar di sini. Mobilnya di taruh depan gang. Belum lagi harus jalan dulu. Gimana kalau ada panggilan darurat dari rumah sakit? Batin Hayu.


Faiz menggandeng tangan kedua orang tua nya itu. Senyum merekah di sepanjang jalan menuju rumah nya.


"Eh, mbak Rahayu. Dari mana aja? Berapa hari nggak keliatan?", tanya salah satu tetangga.


"Ada acara keluarga Bu, jadi saya nginep di rumah orang tua saya", jawab Hayu sambil tersenyum.


"Mas ganteng itu siapa?", tanya tetangga lagi.


"Ini....!", kata Hayu tersendat.


"Saya Damar, suami nya Stevi...mmkasud saya hayu!"


"Owh ...mbak Hayu udah nikah? Kok nggak kabar-kabar sih sama warga sini? Syukurlah kalo udah punya suami mah. Kirain ,mbak Hayu mau dijadikan istri kedua Ustaz Zaki hehehhe.....", kata tetangga itu ngomong tanpa di ayak.


"Astagfirullah....,nggak lah Bu."


"Eh, ngomong-ngomong mas Damar kerja di mana? Pakaian nya rapi kaya orang kantoran?", tanya tetangga lainnya.


"Saya dokter di rumah sakit Persada Bu!", jawab Damar.


"Masyaallah....keren amat ya? Hebat ya mbak Hayu. Almarhum suaminya, mas Royan ganteng kerjaan nya guru. Sekarang.... suaminya dokter. Beruntung banget sih?'', salah seorang tetangga mengatakan hal itu dengan nada julidnya.


Seperti nya Damar pun paham.


"Satu lagi Bu, Papanya Hayu itu pengusaha sukses lho....!", kata Damar.


"Mas....!", Hayu menarik baju suaminya. Tapi damar hanya melirik.


"Permisi ibu-ibu kami masuk dulu ya....!"

__ADS_1


Hayu dan damar pun masuk ke dalam rumah kontrakan mereka. Hayu tidak ingin damar mengatakan hal yang aneh-aneh lagi di depan tetangga kontrakan nya .


__ADS_2