
"Mas, aku balik rumah sek yo. Mau beresin rumah buat persiapan nyambut Dede Diaz", kata Imah pada Aziz.
"Udah, aku aja yang pulang .Kamu jagain aja mbak mu ini, kalau kamu yang pulang justru kita yang cemas!", ujar Aziz.
"Lha poh peyan kie, Imah kie saudarane peyan. masiyo ga percaya.Imah ga bakal nyolong-nyolong barang kalian kok!", wajah Imah meyakinkan sekali.
Aku dan mas Aziz berpandangan,lalu tertawa bersama.
"Yang mikir kamu mau nyolong itu sapa sih Imah????!!!", mas Aziz kembali geregetan.
"Lha itu, aku ga boleh pulang buat nyiapin kamar Dede Diaz."
"Imah, sini adikku yang cantik." Aku mencoba merayu Imah. Lalu, Imah pun mendekat ranjangku.
"Mas mu itu bukan takut kamu nyuri, seperti yang kamu bilang. Mas Aziz itu, cemas kalau kami pulang sendiri.Emang kamu tau mau naik apa?Alamat rumah kita dimana?", tanyaku sambil menepuk pundaknya.Imah merenges menunjukan gigi rapinya.
"Iyo seh mbak hehehehe", jawab Imah.
"Udah, kalian pulang aja berdua.Aku nggak apa-apa sendiri kok. Bener!", kataku.
"Bener ga apa-apa?",tanya Aziz padaku.
"Iya mas,tenang aja.Kalian pulang aja dulu.Kalai sudah selesai beres-beres terus istirahat baru kesini lagi."
"Ya udah, ayok mah. Ntar beresin nya jangan lelet. biar cepet balik ke sini lagi." Mas Aziz memperingatkan Imah dihadapan ku.
"Iya ...ih mas Aziz mah bawel banget deh ah....!", Imah memanyunkan mulutnya.
"Ya udah, mas tunggu diluar. Kamu beresin yang mah dibawa pulang."
"Iya mas...iya...Imah juga tahu." Aziz pun melangkah kan kaki keluar kamar.
"Maaf ya mah, mas mu suka begitu. Makasih, udah mau direpotkan sama kami."
"Ya nggak repotlah mbak. Kalian kan saudaraku."
"Sekali lagi makasih, oh iya selama dirumah jangan pada berantem."
"Iya mba ... insyaallah, kalau mas Aziz ga bikin ulah ya hahahahah." Tawa Imah memancing ku turut tertawa.
Tak lama kemudian,Imah pun menyusul mas Aziz keluar.
Diluar kamar...
"Hey, ketemu lagi. Lo mau kemana?",tanya Feby pada Aziz.
"Gue mau pulang dulu, mau beresin rumah insya Allah anak istri gue bisa pulang hari ini."
"Owh...okey....!", Feby manggut-manggut.
"Udah selesai urusan Lo disini?", tanya Aziz ke Feby .
"Oh...udah, tadi urusan sama pegawai sinj udah kelar."
"Lo...kesini sama siapa?", tanya Aziz.
"Gue, sendiri lah. sama siapa lagi?", tanyanya balik.
"Ya...mungkin sama siapa gitu?", tanya Aziz.
"Hahah maksud Lo mau nanya status gue kali Ziz? Gue masih single. Btw....Lo banyak perubahan deh Ziz, Lo jadi lebih banyak ngomong deh ga kaya dulu."
__ADS_1
"Masa sih?", tanya Aziz sendiri. Ditengah obrolan tiba-tiba Imah mengahampiri Aziz yang masih berdiri denga Feby.
"Mas, bawain napa? Mentang-mentang bos,mau seenaknya wae nyuruh aku. Aku capek kie mas!", Imah mulai ngomel.
"Lho, mas Iki sopo toh?", Imah memandang perempuannya cantik dengan pakaina khas kantoran berdiri bersama kakak sepupu sekaligus bos nya.
"Oh, ini kak Feby mah. Temen mas waktu SMA dulu."
"Halo...gue Feby, temen Aziz."
Feby mengulurkan tangannya pada Imah, ia pun menyambut nya.
"Imah."
"Dia siapa Ziz?Gue kayanya baru liat, rada mirip sih sama Lo? Bukannya kakak mu itu namanya Imas ya?Mirip sih?", Feby masih banyak bertanya.
"Imah, Ade gue."
Mas Aziz memperkenalkan Imah pada Feby sebagai adiknya bukan karyawannya.
"Owh....baru tahu gue. Dari Jawa timur kamu mah?", tanya Feby lagi.
"Iyo mbak. Kok sampeyan tau?", tanya Imah.
"Yo wes mas,ayok muleh." Imah menarik tangan kakak sepupu nya itu.
"Sorry feb, gue balik dulu!", pamit Aziz.
"Okey, hati-hati dijalan!", kata Feby. Aziz dan Imah pun berlalu dari tempat Feby berada.
"Mas, Imah nggak suka ya sampeyan deket-deket sama perempuan lain.Awas aja kalau Imah tahu mas Aziz selingkuhin mbak di, Imah yang bakal bejek-bejek wajahe peyan!".
Imah berapi-api sekali mengungkap kekesalannya.
"Selingkuh apa sih mah, ada-ada saja!", ucap Aziz sambil fokus menjalankan mobilnya.
"kayanya mbak Feby ada rasa sama mas Aziz, keliatan kok dari cara dia ngomong."
"Imah, mas aja baru ketemu dia lagi hari ini lho. Terakhir ketemu aja kapan nggak inget."
Ting...Ting...
Ada sebuah pesan masuk diaplikasi hijau milik Aziz. Imah hanya melirik sesaat.
\[Hati-hati dijalan Ziz. Itu pasti adik iparmu ya, agresif sekali.\]
__ADS_1
Sambil menyetir, tangan Aziz mengetik balasan untuk Feby.
\[Bukan, ini beneran adek gue.\]
\[Masa sih?Ga percaya gue,gue pikir dia adek ipar Lo. Jadi...tebakan gue,kurang lebih istri Lo model begitu\]
\[Feby, Lo tau kan rasanya dibully jangan ngebully adek gue. Apalagi istri gue, Lo kan belom pernah ketemu.Sori gue masih nyetir, ntr lagi kalo sempet\]
Usai mengrimkan pesan itu, tak ada lagi balasan dari Feby. Syukurlah, Imah tak banyak bertanya soal Feby.
Feby, gadis gendut jaman SMA dulu sering kali jadi bulan-bulanan teman-teman ku. Dia sering kali kulihat menangis, dan sebagai teman aku merasa tak tega. Sayangnya, di akhir pendidikan kami dia menyatakan cintanya padaku.
Tentu saja, apa yang dia lakukan justru kembali membuat nya semakin dibully. Aku yang kala itu mantan ketua OSIS, ditaksir perempuan seperti feby. Aku tak pernah menghina fisiknya,tapi aku emang tak menerima Feby.Setelah itu, aku tak tahu kabar beritanya sampai dia berubah seperti sekarang. Namun wajahnya tetap tak berubah meski kini tubuh gempalnya telah hilang.
"Imah, mah....bangun.Sudah sampai!", ku bangunkan Imah.
"Iya mas." Imah mengucek matanya perlahan. Lalu turun dari mobilku.
"Mas, Imah mandi dulu ya. Ntar baru beresin dalem sama nyuci."
"iya." Aku menyahut asal. Kubawa pakaian kotor Dian dan Diaz ke belakang.
Ku masukkan baju kotor itu langsung kedalam mesin cuci.Biarlah nanti minta tolong Imah menyelesaikan cuciannya .
Lewat dari setengah jam Imah masuk lewat pintu samping.
"Mas, biar Imah yang beresin tempat tidur. Peyan ambilin ae sprei sama teman-teman nya."
"Temannya sprei apa mah?", tanyaku.
"Ya salam....ya sarung bantal guling selain atuh!",kata Imah .
Aziz hanya menggelengkan kepalanya. Rasanya sia-sia saja kalau harus berdebat dengan adik sepupu yang baru ia temui ini.
Aziz memberikan satu set sprei seperti yang Imah minta .Tak lupa Imah membereskan boks bayi bernuansa biru itu.
"Wes beres mas, balik rumah sakit?", tanya Imah. Saat menemui Aziz yang sedang duduk manis meminum kopi. Meski Imah adalah saudara nya sendiri, rasanya tak pantas berduaan didalam kamar. apalagi tak ada siapapun disini. Toh,Imah juga perempuan dewasa yang sudah pernah berumah tangga pula.
"Iya,ya udah sana siap-siap,sama bilangin Aa mas sundamu jangan ngajakin chat mulu. Kalo ngajak nikah, baru mau."
"Ah...nikah opo toh Yo,urung kepikiran mas. Ya udah ah, Imah ganti baju sek yo. Imah tinggi di depan sekalian."
Setelah semua siap, kami berangkat menuju rumah sakit lagi untuk menjembatani Dian&Diaz.
__ADS_1