Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 193


__ADS_3

Usai mengobrol dengan Emaknya yang usianya mendekati tujuh puluh tahun itu, Dadan memasuki kamarnya.


Sayangnya, dia tak mendapati istrinya di sana. Dadan pun keluar lagi dari kamarnya untuk mencari keberadaan Imah. Langkahnya langsung menuju ke kamar putra kesayangannya, Farhan.


Dadan membuka pintu nya perlahan. Dia melihat Imah tengah mengusap kepala Farhan dengan penuh kasih sayang. Tangannya terus bergerak, tapi matanya menatap ke arah tak jelas.


"Neng....!," panggil Dadan pelan. Dan Imah pun menoleh pada sang suami.


"Iya A."


Imah pun tak kalah lirih menyahut oanggikan suaminya.


Dadan mendekati dipan dimana Farhan sudah tertidur pulas.


"Tumben? Kenapa?", tanya Dadan.


"Farhan tadi nggak bisa tidur A, makanya imah temenin."


Imah pun bangkit perlahan dari dipan. Dadan menyusul istrinya yang hendak keluar dari kamar anak nya itu.


Imah menuju kamar mereka.


"Neng, ada apa?", tanya Dadan saat mereka sama-sama sudah ada di dalam kamarnya.


"Nggak ada apa-apa A. Udah, istirahat saja."


Imah membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk itu.


"Neng, AA tahu. Pasti ada yang neng sembunyikan dari AA. Iya kan?", tanya Dadan lagi.


Tapi Imah menjawab dengan gelengan nya meski ia memiringkan tubuhnya membelakangi Dadan.


Dadan yang tak pernah melihat istri nya seperti itu pun merasa kecewa. Dengan sedikit kasar, Dadan menarik Imah agar berbaring lalu menatap wajahnya .


Imah pun tersentak dengan apa yang Dadan lakukan barusan, meskipun tak kasar. Tapi tarikan Dadan sukses membuat Imah berbaring.


"Katakan Neng? Ada apa? Jangan bikin AA bingung begini?"


Bukannya menjawabnya, Imah justru meneteskan air matanya. Sontak, Dadan meraih Imah dalam pelukannya.


"Ada apa sayang? Istri Aa ngga pernah seperti ini. Tadi baik-baik saja kan?"


"A.... Emak begitu menginginkan cucu ya?", tanya Imah lirih.


Jadi, Imah mendengar obrolan nya dengan Mak tadi? Makanya dia merasa sedih begini? Batin Dadan.


"Sayang, dengerin Aa. Kita ini baru menikah. Apalagi, proses pacaran kita aja nggak lama. Kenapa kita tak menikmati waktu berdua kita dulu? Anak itu rejeki dari Allah, kita tidak dapat mengatur nya kan? Yang penting kita tetapi usaha dan berdoa. Kita baru sebulanan lho menikahnya Neng."


"Tapi...tadi imah denger sendiri, emak pengen cucu dari AA."


Dadan mengeratkan pelukan pada Imah.


"Neng, wajar jika Mak pengen punya cucu kandung. Mak udah tua. Usianya udah hampir tujuh puluh tahun, lebih pantas jadi nenek mu malah kan?"


Imah mengangguk.


"Dengerin Aa. Anak itu titipan. Diberi secepatnya, alhamdulilah. Nanti pun gak apa-apa, yang penting kita jangan sampai lelah berusaha dan berdoa neng."


"Iya A."

__ADS_1


"Kalau Fai dan Mika sudah melaksanakan resepsi pernikahan mereka, kita bulan madu. Kita fokus kan untuk bikin dd buat Farhan."


Wajah Imah pun berbinar.


"Jangan sedih lagi, AA nggak sih istri cantik AA cemberut!"


"Iya A." Imah pun mengerat kan pelukan nya.


"A....!"


"Hem?"


"Imah pengen tidur nya di kelonin begini. Boleh?"


"Iya boleh, lebih dari ini AA juga mau kok."


"Nggak usah ngarep. AA tahu kan Imah lagi datang bulan."


"Hehehehe iya neng. AA tahu. Ya udah sini AA kelonin. Inget, jangan berpikiran yang enggak-enggak ya Neng. Kita jalani saja apa yang ada sekarang."


"Iya A."


Imah pun tidur sambil memeluk suaminya.


Masih jam sepuluh malam, Dadan mengirim pesan pada Fai.


[Bro, aku jadi ambil Avanza yang 200an itu. Bayar cash. Tapi harga di kurangi ya? Kita kan temen!]


Tak berapa lama, Fai pun membalas pesan Dadan.


[Lo mau gue di amuk sama pengusaha yang lain. Harga pasarannya udah segitu. Lo pikir cabe, bisa di kurang-kurangi? Sahabat ya sahabat, bisnis y bisnis!]


[Dih, orang kaya kok gitu. Nggak jadi miskin juga kali Lo potongin sepuluh juta buat gue?]


[Iya besok gue hubungi Lo lagi]


Chat dengan Fai pun menutup aktivitas Dadan malam ini sebelum ia pergi ke alam mimpi.


.


.


.


.


"Kamu pasti capek banget ya sayang?", Fai memijat kaki istrinya.


"Iya mas. Lagi musim sakit begini. Banyak sekali pasien."


"Kamu juga harus jaga kesehatan ya. Jangan terlalu di forsir."


"Iya mas...iya..."


"Apalagi, beberapa hari lagi kita akan melangsungkan resepsi kan? Jadi, jangan sampai sakit. Badanmu harus fit Mika!"


"Insya Allah mas ku....!", mika menepuk pipi suaminya itu.


"Ya udah, tidur gih."

__ADS_1


"Belom ngantuk mas."


Mika merapatkan tubuhnya pada sang suami.


"Ya udah, mau nya apa hemm?"


"Begini saja!", mika memeluk tubuh Suami nya itu.


"Tadi, aku dan telpon mama. Aku bilang, kita mau pakai rumah mama."


"Respon mama?"


"Tentu boleh banget lah."


"Hem... Alhamdulillah. Lalu, kapan kita akan pindah ke sana?"


"Sebelum resepsi kita lah mas. Jadi, usai acara kita bisa langsung pulang ke sana."


"Mas mau aja sayang....ikutin keinginan istriku!"


"Makasih mas. Nanti mika bilang sama Papa."


"Heem!"


"Sayang, kamu capek banget bukan di rumah sakit?"


"Iya, tapi kan itu tugas. Dan...sumpah dokter yang pernah aku ucapkan, akan tetap ku ingat."


"Kenapa kamu nggak buka praktek sendiri saja sayang?"


"Pernah berpikir begitu mas, tapi entah lah ...mungkin suatu saat nanti."


"Apa ijinnya sulit?"


"Ya...mungkin... "


"Kalau kamu buka sendiri, minimal kamu tidak harus pulang pergi rumah sakit."


"Untuk saat ini, mika cuma kasih jawaban. Sudah tanggung jawab Mika, dengan profesi yang mika pilih."


Fai mengecup kening istrinya.


"Tidur ya, sudah malam."


"Iya mas....!"


Mereka pun berbaring, saling berpelukan hingga tertidur dengan perasaan tenang karena memeluk sang kekasih hati.


.


.


.


.


Hayu tak bisa memejamkan matanya, pikirannya menerawang pada kejadian tadi pagi saat Damar berlutut meminta maaf maaf dan memohon kesempatan kedua untuk nya.


Perasaan gamang, galau , dan entah apa menyeruak mengusik hatinya.

__ADS_1


Apa kesempatan itu pantas ia berikan pada lelaki yang pernah merusak masa depannya?


Ya Allah, berilah petunjuk Mu.


__ADS_2