Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 271


__ADS_3

Hampir jam dua malam aku terbangun dari tidur lelapku. Untung saja aku mendengar alarm dari ponsel ku.


Aku beranjak perlahan dari ranjang agar tak mengganggu tidur mas Aziz. Aku takut kalau dia terbangun. Semalam dia tidur sudah cukup malam.


Tapi baru saja aku beranjak, mas Aziz meraih tanganku.


"Eh, udah bangun mas?Butuh sesuatu?", tanyaku.


"Butuh kamu dek! Mau hadiah dari kamu lagi!", katanya.


"Dasar mesum! Kan udah semalam? Kurang?"


"Kurang lah, kan semalam cuma sekali.Kamu bilang boleh minta lagi sebelum sahur. Nggak salah dong mas nagih janji mu dek?"


"Boleh.....! Huum, ya udah aku cuci muka dulu. Bau jigong heheheh!"


"Nggak papa! Ayo....!", katanya merajuk. Aku menghela nafas.


"Iya....iya sayang....!"


Aku pun kembali mengulang kegiatan kami semalam. Sampai akhirnya alarm ku di ponsel kembali berdering nyaring, itu tandanya sudah jam tiga. Hah! Kami bermain sampai satu jam lamanya.Kaya pengantin baru aja ya hihihihi.


"Udah ya mas, aku mandi dulu!"


Tapi mas Aziz masih menahan ku dalam pelukannya.


"Mas masih kangen sayang....!", katanya manja.


"Iya sayang....mau ,tapi nanti malam aja ya?"


"ya udah deh!", jawabnya dengan nada terpaksa.


"Serius deh, nanti malam lagi. Mau gaya apa jiga boleh! Ya mas ya....!", rayuku.


"Janji ya....!", katanya mengerlingkan matanya.


"Janji lah mas....!", ku kecup pipinya.


"Iya udah sana, bebersih deh. Tapi mas mau pipis dulu!"


"Ya udah, aku anterin yuk!"


"Ya!", aku cukup memperhatikan proses pindahnya mas Aziz dari ranjang ke kursi roda.


"Heheheh....pake sarung dulu mas. Malu aku liatnya, gondal gandul gitu!"


"Ngapain malu sih? Kamu aja hobi banget ngurusin nya kok!"


"Mas , ih....!"


Mas Aziz terkekeh melihat ku yang merasa malu.


Akhirnya aku mendorong mas Aziz ke kamar mandi. Setelah mas Aziz rapi kembali, giliran aku mandi.


"Mas, aku ke dapur ya! Mau angetin lauk semalam."


"Iya sayang, kalau mas ketiduran nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa lah sayang!", kuusap pipinya.


"Maaf ya...?!", katanya sedikit memohon.


"Ngga usah minta maaf, nanti kalau udah beres aku juga tiduran kok mas. Tenang aja, ntar aku temenin kamu sama Diaz lagi."


"Oke sayang!"


"Aku keluar ya??"


"Iya...!"


Ceklek..


Aku pun keluar dengan santai ke dapur. Menyiapkan segala sesuatunya untuk makan sahur.


Ku ikat asal rambut panjang ku ini. Yang jelas rambutku sudah kering usai keramas tadi.

__ADS_1


Nasi sudah siap. Sekarang tinggal manasin lauk. Aku pun sudah menyiapkan piring di meja makan.


Aku merasa ada sesuatu,tapi apa gitu. Aku diam beberapa saat di dekat meja dapur.


Apa ada sesuatu yang ku lupakan? Gumamku.


Sampai suara deheman mengagetkan ku.


Ehemm....


"Astagfirullahaladzim!", pekikku sambil bersandar ke meja dapur ku.


"Kok???", tanyaku yang tak jelas entah mau tanya apa.


"Maaf, bikin kamu kaget!"


"I...iya...mas!", aku jadi salah tingkah. Aku lupa ada makhluk asing ini menginap di rumah ku.


Ya Allah, aku nggak pake jilbab. Aku buru-buru berlari ke kamarku.


"Nggak usah lari Di, pelan aja. Toh aku sudah terlanjur melihat nya, bahkan menyentuhnya!", ledek Fai. Aku berbalik badan lalu menatap nya dengan sengit.


"Heran aku tuh, orang kaya kamu kok di panggil Ustaz!", kataku langsung berbalik dan masuk ke kamar ku untuk mengambil jilbab.


Pantas saja aku merasa ada sesuatu yang lain, ternyata aku bisa sampai sebegitu lupanya ada Fai dan Mika.


Saat aku masuk ke kamar, ku lihat mas Aziz sudah kembali tidur. Meskipun aku yang mengambil kendali, nyatanya dia masih kelelahan juga.


Aku menata ritme jantung ku yang sedikit lebih cepat berdetak gara-gara kehadiran Fai di dapur tadi.


Aku mengambil jilbabku lalu memakai nya.


Di meja makan, Fai duduk sambil memandangi menu masakan buatan Diandra.


Ya Allah, aku tahu aku salah. Tapi... melihat Diandra tanpa hijab, ingatan ku kembali ke masa-masa itu. Dia masih terlihat cantik, tak berubah meski sudah berbeda usia. Astagfirullah....aku mikir apa sih?? Mata oh mata...bisa nggak sih di jaga dan di sinkronkan sama otak dan hati? Fai berperang dengan otak dan hatinya sendiri.


Aku dan Mika keluar kamar bersamaan.


"Eh, udah bangun Di?", sapa Mika.


"Oh ya? Maaf ya? Harusnya aku yang bantu deh. Soalnya aku kebiasaan sih, mas Fai yang nyiapin sahur ku hehehhe!"


"Nggak apa-apa Mika. Santai saja. Timbang angetin lauk aja mah gampang Mik!"


Aku berjalan beriringan dengan mika menuju meja makan.


"Pantes aja aku cariin nggak ada, ternyata malah udah ngopi di sini mas!", tanya Mika sambil mendudukan bokongnya ke kursi.


"Iya, habisnya mas kan biasa ngopi dulu sebelum sahur sayang!", kata Fai mengusap kepala istrinya.


Aku tersenyum getir melihat kemesraan mereka, bukan karena cemburu mas Fai bermesraan dengan Mika tapi...aku iri, aku ingin seperti itu lagi dengan Mas Aziz.


"Maaf ya Di, kalau aku lancang bikin kopi tanpa ijin kamu!", kata Fai.


''Nggak apa-apa mas, anggap aja rumah sendiri!", sindirku sambil mengambil nasi.


"Heheheh maaf ya Di, pasti ngeselin ya punya mantan kaya suamiku ini!", kata Mika.


"Dih...hari gini bahas mantan? Nggak lah Mik. Biasa saja, kan ada istilah buanglah mantan pada tempatnya. Nah , tempat nya tuh kamu hehehe!"


"Bisa aja kamu Di!", kataku menimpalinya.


"Ehem...kamu mau lauk apa sayang?", tanya Fai pada mika.


"Yang kaya Dian lah, adanya kan itu?", kata Mika.


"ya maap, terus terang aku lupa kalau ada kalian nginep di sini makanya tadi pas manasin lauk aku sempet...."


"Aku sempet apa Di?", tanya Mika penasaran. Lain halnya dengan Fai, dia terlihat gelisah. Fai hanya takut istrinya akan salah sangka jika ia tadi bertemu dengan Dian di dapur tanpa mengenakan hijab.


"Sempet...lupa gitu lah. Kaya ada sesuatu gitu Mik, tapi entah apa. Sampe aku 'ngeh' ,kok lampu kamar Mama menyala. Terus aku ambil jilbab deh ke kamar, keluar dari kamar kamu keluar juga!"


"Heum... segitunya lupain aku!", kata Mika.


"Maaf Mik... bener deh, tadi nggak inget."

__ADS_1


"Nggak apa lah Di. Jadi, tadi mas Fai bikin kopi beneran nggak ijin kamu dong?"


"Ngapain ijin sih? Kalo ada mah tinggal bikin aja!", sahutku sambil mengunyah makanan ku.


Mas Fai curi-curi menatap ku. Aku yakin, dia pasti berpikir kalau aku akan jujur mengatakan yang barusan terjadi. Tapi sayang, aku tak mau gegabah menceritakan sejujurnya. Bukan pula bermaksud bohong, toh...aku memang tak berniat untuk membohongi nya kan.


"Makasih lho Di. Sekali lagi, maaf kalau kami bikin kamu repot."


"Jangan bilang kaya gitu lah Mik. Kita ini kan bersaudara, papa Umar kan papa ku juga heheheh....!"


"Iya...iya... Makasih ya udah jadi saudara ku!", kaya Mika mengusap punggung tangan ku.


Ku tanggapi dengan senyuman tipis.


Hampir jam empat, kami selesai sahur. Aku dan mika membereskan sisa makan sahur kami. Di sela-sela mencuci piring,aku dan Mika saling bercanda.


Sedangkan Fai, memilih menyesap rokok di halaman belakang tempat ku mencuci pakaian sambil menunggu waktu imsyak.


Beberapa menit kemudian suara dari masjid menandakan imsyak pun terdengar. Aku dan mika bersiap untuk berwudhu.


Sambil menunggu azan, aku tadarus sebentar. Setelah azan berkumandang, kami bertiga solat subuh berjamaah.


Usai solat subuh, kami kembali ke kamar masing-masing.


Ceklek....


"Lho mas, kamu udah bangun? Mau solat subuh?"


"Udah solat tadi dek! Kan mas udah bisa ke kamar mandi buat wudu. Kecuali ada kamu, mas mau manja ke kamu!", katanya menjawil lenganku.


"Dih....dih... ganjen nya kumat deh!", kataku membalas Jawilan nya.


"Biarin, ganjen sama istri sendiri ini!", sahutnya.


"Hehehe tapi aku seneng di ganjenin sama kamu kok mas!"


"Tuh kan...mancing!!! Baru imsyak tadi lho dek!"


"Mulai deh fiktor nya. Fikiran kotor ke arah sana Mulu sih mas??!!!"


Tapi mas Aziz justru tertawa.


"Ya wes...ya wes...!"


"Kenapa mas nggak ikut gabung solat tadi di depan kalo udah bangun?"


"Nggak apa-apa, mas pengen munfarid aja sih!"


"Owh...gitu!"


"Ya udah, kamu kelonin Diaz aja dek. Kasian dari semalam kan bunda ngelonin ayah nya Mulu."


"Serius? Boleh?"


"Boleh lah dek! Masa rebutan sama anak sendiri!"


"Hahaha suamiku...! Alhamdulillah, akhirnya Gusti Allah memberinya hidayah!",candaku.


"Hidayah!", kata Aziz mencebikkan bibirnya.


"Hehehe maaf sayang! Ya udah, mas boboan lagi. Aku sama Diaz ya?"


"Iya!", jawab Aziz singkat lalu berusaha pindah ke ranjang lagi. Setelah memastikan mas Aziz nyaman di ranjang, aku merebahkan diri di kasur lantai Diaz.


Seperti punya ikatan batin, Diaz mencium keberadaan ku. Akhirnya, Diaz meminta hak nya padaku setelah semalaman bunda nya justru memanjakan sang ayah.


****


Maaf ya kalau masih gini-gini aja, mungkin ngebosenin. Mamak belum dapat inspirasi nih, masih di gunung belom balik ke kota lagi 🤭🤭🙏🙏🤗🤗


Btw.... mamak nggak akan pernah bosan bilang makasih buat teman-teman reader yang bersedia baca tulisan receh mamak.


See U....


Semoga besok mamak dapat inspirasi ya, biar cerita nya ngga monoton.

__ADS_1


__ADS_2