Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 135


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Siti Khotimah binti Adi Setiawan Nugraha dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!", ucap Dadan lantang.


"Bagaimana para saksi ,SAH?", tanya pak penghulu.


"Sah!!!", kata itu menggema di salah satu sujud masjid. Ucapan hamdalah pun bersahutan setelah nya.


Imah yang duduk di samping Dadan pun tak kuasa membendung air matanya. Ini untuk kedua kalinya bagi seorang Imah menikah, eh ..kang Dadan juga kedua kalinya. Tapi kali ini, pernikahan mereka benar-benar murni karena cinta. Mereka saling mencintai satu sama lain.


Imah menyalami dan mencium punggung tangan suami nya itu. Di ciumnya dengan takzim. Kini, tanggung jawab berada pada kang Dadan. Lelaki yang sah dan bersedia menjadi imamnya.


Dadan pun tak lupa mencium kening gadis yang hitam manis ini. Hitam sing nggak, hanya tak seputih Aziz, sang kakak sepupunya yang seorang laki-laki.


Tapi tak masalah, mau hitam mau putih sama saja. Dadan tetap jatuh cinta padanya.


Sebagian saling menyalami kedua mempelai itu. Meski sempat menangis, Imah kini terlihat tersenyum bahagia. Bahagia karena sudah menjadi seorang istri dari Dadan mulai hari ini, bahagia pula menjadi ibu dari Farhan.


Tiba saatnya mereka bersalaman dengan sepasang suami istri yang tidak lain adalah orang tu almarhum Feby.


"Selamat ya Dadan...Imah, semoga bahagia dan secepatnya di beri keturunan."


Papa nya Feby menyalami Dadan dan Imah bergantian.


"Terimakasih doanya, tuan...nyonya...sudah berkenan datang kemari", ucap Dadan. Imah hanya menyunggingkan senyuman.


"Farhan mana?" tanya Papa Feby.


"Sama kakak saya tuan!", jawab Imah.


"Boleh saya bertemu dengan Farhan kan Dan?", tanya mama Feby. A Dadan menatap Imah, mungkin meminta persetujuan darinya. Sekarang kan, imah juga ibunya Farhan. Imah pun mengangguk.


"Silahkan, tuan...nyonya", Dadan pun mempersilahkan kakek dan neneknya Farhan untuk menemui Farhan yang sedang bersama Aziz.


"AA, mereka kan mantan mertua mu, kenapa manggil nya nyonya dan tuan. Kenapa nggak bapak atau ibu gitu? Kesannya kok kita kaya levelnya jauh banget di bawahnya dia. Padahal status kita kan...."


"Emang di bawah hahahaha....!", sahut Dadan.


"AA mah ....!", Imah mencubit perut Dadan.


Di sisi lain....


"Farhan!", panggil mama Feby.


"Nenek?", Farhan pun mendekat pada mama Feby .


"Nak, apa kabar?", tanya Mama Feby .


"Alhamdulillah, baik. Nenek dan kakek sendiri?", tanya Farhan balik.

__ADS_1


"kami juga baik!", jawab mereka berdua.


"Farhan, em... karena ayah sudah menikah...mau nggak kalau Farhan tinggal aj sama Nenek dan kakek. Kami kesepian...!", ujr sang nenek.


"Memang kenapa kalau ayah sama kak Imah sudah menikah?"


Sepasang suami istri itu saling berpandangan. Aziz yang sedari tadi menemani Farhan ,Faiz dan Diaz hanya mendengarkan obrolan mereka.


"Han, kalau mereka menikah...itu artinya... mereka juga akan punya anak. Nanti kalau mereka punya anak, pasti kamu nggak bakal di perhatikan lagi sama mereka. Mereka akan lebih sayang sama anaknya sendiri dari pada ke Farhan!", ucap papa Feby.


Aziz hanya mampu beristighfar dalam hatinya. Dia tidak ingin mencampuri urusan pribadi keluarga iparnya.


Bukannya percaya, Farhan malah tersenyum.


"Bagus dong kalau mereka punya anak, jadi Farhan nggak kesepian. Kakek sama nenek kan nggak kenal gimana kak Imah dan ayah sayang..... banget sama Farhan. Nggak mungkin mereka cuekin Farhan."


Bagus, anak pintar! Batin Aziz.


Sepasang suami istri itu heran dengan kalimat yang terlontar dari mulut cucunya itu.


"Kamu belum tahu saja Han...nanti kalau....!", ucapan sang nenek terhenti saat tiba-tiba Farhan menggelayut manja pada aziz. Di saat yang bersamaan, Fai pun bergabung dengan Aziz. Tangan Farhan pun menggandeng Fai.


"Kakek dan nenek nggak usah khawatir, kalau ayah sama kak Imah besok lebih perhatian sama dedek bayi... Farhan masih punya om Aziz dan om Fai yang sama sayang nya ke Farhan. Benar kan om?", tanya Farhan kepada dua pria tampan itu bergantian.


Aziz mengangguk. Sedangkan Fai yang gak tahu cerita awal mulanya malah bingung. Memberi kode pada Aziz, dan Aziz menjawab dengan kedipan matanya.


"Nah, kakek dan nenek dengar bukan? Mereka nggak bakal boong kok. Lagian ini di masjid kan? Mana mungkin mereka mau boongin Farhan. Mereka beneran sayang sama Farhan dari dulu. Ya kan om?", tanya Farhan kepada dua orang asing yang sudah di anggap om nya sendiri. Lagi-lagi dua pria tampan itu hanya mengangguk.


Tampak nya dua manusia sepuh itu belum menyerah.


" Ya udah, Farhan sementara saja tinggal sama kakek nenek. Setelah itu, balik lagi sama ayah."


"Emang kenapa?"


"Ya...biar...kamu cepet punya adik bayi Han!",jawab kakeknya.


"Bikin Dede bayi maksud nya?", tanya Faiz tiba-tiba. Padahal dari tadi dia diam saja.


"Iya", jawab sang nenek tanpa dosa.


Aziz dan Fai saling berpandangan , bingung!


"Wah...kalau om Dadan sama Tante Imah bikin dedek, kita bantu aja ya Bang Farhan. Biar cepet jadi?!", celetuk Faiz.


Mata Farhan pun berbinar.


"betul Faiz! Nanti kalau kita bantuin kan dedenya cepat jadi tuh, jadi kita bisa secepatnya main sama Dede bayi hahahaha!", jawaban Farhan tak kalah absurb.

__ADS_1


Aziz dan Fai tak sanggup untuk tidak tertawa dengan apa yang ada di hadapannya.


Itu aki-aki sama nini-nini pikirannya dimana???? Anak kecil diajak ngomong begitu. Batin Faiz, mungkin Aziz juga ngebatin gitu.


"Maaf om, Tante... sepertinya usahanya bisa di coba lain kali", kata Fai yang berlalu meninggalkan mereka. Lalu mengajak Aziz menyingkir dari sana.


Sedang Faiz dan Farhan berlarian menuju Dadan dan Imah.


"Kak Imah!!!", panggil Farhan langsung menghambur ke pelukan Imah.


"Ibu....Han, bukan kakak!",kata Dadan.


"Oh, iya. Farhan lupa yah!"


Faiz tak kalah heboh, turut memeluk Dadan. Dadan pun mengusap kepala anak kecil itu. Dadan kenal seperti apa almarhum Abi nya Faiz.


"Han, bukannya tadi ada kakek sama nenek ya?",tanya Dadan ke Farhan.


"Iya. Farhan udah ketemu kok."


"Terus?", tanya Imah.


"Kakek sama nenek mau ngajak Farhan tinggal bareng tapi Farhan nggak mau."


"Iya ,om...Tante...kata Kakek nenek nya bang Farhan, kalau bang Farhan di sini om sama Tante nggak bisa bikin Dede bayi!", kata Faiz lugu.


Dadan dan Imah saling berpandangan, eng...ing...eng.....


"Yang bilang kaya begitu siapa sayang?", tanya Imah pada Farhan.


"Kakek nenek lah!",jawab Farhan. Lagi-lagi Imah dan Dadan saling menatap. Kaya di adegan India, yang saling menatap karena terkejut. Terlalu di dramatisir.


"Kakek nenek bilang gitu?", tanya Dadan.


"Heummmm!!!", jawab Faiz dan Farhan.


"Makanya...kita berdua, Farhan sama Faiz sudah memutuskan untuk....membantu ayah dan ibu membuat dedek bayi, biar cepet jadi!"


Seketika kepala Dadan nyut-nyutan.


Bagiamana cerita nya ini? Di kira bikinnya pake tepung ya Han???? Batin Dadan.


Berbeda dengan Imah, Imah justru cekikan mendengar celoteh dua bocah ganteng itu.


*****


Kegiatan 'anu' Imah dan Dadan di skip aja ya????

__ADS_1


Nggak apa-apa kan? Ya kali....😉✌️


__ADS_2