Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 122


__ADS_3

Mas Aziz dan mas Fai menghampiri kami bertiga. Lalu ms Aziz mengulurkan tangannya, sambil berucap ", turut berdukacita cita Tante".


"Iya, terima kasih!"


Setelah itu barulah mas Fai mengikuti jejak Aziz.


"Turut berdukacita cita ya Tante."


"Makasih Fai. Kamu kemana saja Fai?", mika melirik ke arah Fai.


Dari mana Mama mengenal mas Fai? Batin Mika.


"Saya...saya waktu itu ke ponpes Tante, di minta sama Abah saya."


Aku dan mas Aziz saling pandang.


"Owh...kamu putus dari Rara karena itu?"


Fai terlihat kikuk sendiri. Ada rasa tidak enak pada mika.


Jadi, mama mengenal mas Fai dan Dian sejak lama? Mama sampai tahu hubungan mereka berdua? Tanya Mika dalam hati.


"Mama, itu kan masa lalu mereka. Biarin aja. Iya kan mas?", mika berusaha menetralkan rasa penasaran mama nya.


"iya. Maaf! Harusnya Mama nggak perlu nanya-nanya begitu. Dan, suami kamu Ra. Meskipun kita tinggal tak terlalu jauh, tapi kami tidak saling mengenal."


"Maaf tante....!", kataku pelan.


"Ma, om Kendra memang nya sakit apa ya?"


Selly menarik nafasnya , dia sudah tidak menangis sesegukan seperti tadi. Mungkin sudah lelah, atau mungkin juga karena ada orang di dekatnya.


"Om Kendra komplikasi. Selain jadi pengacara, om Kendra kan juga diberi amanah untuk mengurusi perusahaan Rara. Om Kendra itu workaholic Mika."


Deg!


Entah kenapa aku menjadi merasa sangat bersalah. Mas Fai menatapku.


"Dian....!", panggil mas Fai pelan. Fai merasa jika ucapan Tante Selly alias calon mama mertuanya seperti sebuah sindiran.


"Maaf Tante....!", aku pun menunduk.


"Tidak perlu minta maaf Ra. Om Kendra hanya menjalankan tugasnya, sekaligus amanah dari sahabat nya."


"Tapi Tante, saya.....!"


Tante Selly menghembuskan nafas nya dengan berat.


"Kami, sudah lama bersahabat dengan ayahmu Ra. Om Kendra sudah menganggap ayah mu seperti saudara nya sendiri."


"Dian pernah meminta om Kendra mengambil alih perusahaan, tapi kenapa om masih berharap Dian yang akan meneruskannya. Bahkan Dian juga minta kalau perusahaan dan semua aset di hibahkan, tapi om Kendra menolaknya?"


"Ra, tidak semudah itu. Urusan santunan yayasan yatim piatu panti jompo dan lembaga sosial lainnnya , semua sudah ada anggarannya masing-masing. Kalau om Kendra serakah, dia bisa saja mengambilnya dari mu Ra. Tapi, prinsip kami. Kami puas dengan apa yang Tuhan berikan sesuai takarannya. Untuk apa kami mengharapkan yang bukan bagian dan hak kami."


"Kalau kamu memang merasa bersalah Ra, setelah ini kamu urus saja perusahaan mu. Atau... minta tolong suami mu. Maaf, sepertinya Tante sudah tidak bisa turut memantau mu Ra. Tugas kami ke kamu sudah selesai!", Tante Selly terisak.


"Mama....!", mika mengusap punggung mamanya.

__ADS_1


"Maaf Tante...maaf...!" ,aku pun jadi turut terisak.


"Sebentar, Tante ke kamar dulu!", Tante Selly pun meninggalkan kami. Mika pun menyusul nya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?", mas Aziz mengusap lengan ku.


"Aku egois sekali ya mas?", tanyaku.


"jangan bicara seperti itu. Kamu pasti punya alasan nya."


"Benar kata Aziz Di. Jangan merasa bersalah seperti itu, kami nggak mau melihat mu seperti semalam lagi." Fai mencoba mengingat kan ku.


Tante Selly dan mika keluar dari kamar. Dan membawa beberapa berkas.


"Ra, maaf...mungkin ini bukan waktu yang tepat. Ini beberapa sertifikat penting. Dan soal perusahaan, ada orang kepercayaan mas Kendra. Nanti dia dan dewan direksi yang akan mengatur pertemuan dengan mu. Tante sudah tidak bisa lagi membantu mu dalam hal ini. Karena, setelah pemakaman mas Kendra Tante akan menetap di daerah yang tak jauh dari pemakaman. Tante ingin selalu mengunjungi om Kendra!"


Tante selly kembali menangis, Mika pun memeluk erat mamanya.


"Sabar Ma, masih ada Mika. Mama punya Mika. Mama nggak sendirian."


Tante Selly kembali dalam tangisnya. Aku pun tak tahan turut menangis. Benar Tante Selly bilang, meskipun ini waktu yang tidak tepat. Tapi aku harus menerima keputusan ini. Pengabdian mereka pada keluarga ku begitu besar. Dengan apa aku harus membalas nya?


Aku menghambur ke pelukan Tante Selly yang juga di peluk Mika. Tante Selly pun membalas pelukan ku.


"Papa!",ucap mika pelan. Ternyata papa nya datang, Umar yang tak lain adalan mantan suami Selly.


"Sel, mas turut berdukacita ya. Semoga Allah melapangkan jalan Kendra."


"Terima kasih mas!", jawab Selly kaku.


Ternyata papa tidak ke sini sendiri, om Stevan menyusul di belakangnya.


"Turut berdukacita sel!", kata Stevan.


"Makasih!", jawab Tante Selly datar.


Kenapa sikap mama ketus sekali sama om Stevan ya? Batin Mika. Mungkin begitu juga dengan yang lain.


Stevan membaca cover sebuah map yang ada di meja. Sebuah logo dari perusahaan yang dia kenal, yang di urus oleh almarhum Kendra.


"Sel, kenapa berkas penting seperti ini ada di meja sini. Bagaimana kalau hilang atau ada yang mengambilnya?", seru Stevan.


Selly menatap tajam laki-laki tampan yang sudah mulai terlihat tua itu.


"Bukan urusan mu kan mas?", tanya Tante Selly.


"Iya, aku tahu. Tapi....", ucapan Stevan terhenti.


"Aku sudah menyerahkan kepada yang berhak mas. Dan itu tidak ada hubungannya dengan mu?"


"Maksud mu? Kamu sudah menyerahkannya kepada putri Dirham?", tanya Stevan. Aku yang merasa sebagai putri dari almarhum orang yang Stevan sebut tadi pun turut menatap orang itu.


"Iya."


Wajah Stevan sekarang terlihat pucat. Umar menepuk bahu sahabatnya.


"Stev...!", ujar Umar.

__ADS_1


"Dimana putri Dirham?", tanya Stevan.


"Diandra Saputri, putri dari Dirham Widianto Putra dan Mutiara." Tante Selly mengatakan itu dengan tegas.


Stevan mengalihkan pandangannya ke padaku. Ada apa sebenarnya?


Umar tak kalah terkejutnya. Ternyata, perempuan yang manjadi teman dari putri nya adalah putri dari sahabat nya juga.


"Diandra itu....Rara?", tanya Umar.


"Iya om!", sahutku singkat. Sejauh ini, mas Aziz dan mas Fai menjadi penonton.


(Itu om kendra kapan di makamkan? Kasian....)


Stevan dan Umar sama-sama terdiam.


"Kenapa Pa? Apa papa mengenal almarhum papa nya Dian juga?"


Umar tak menjawab.Dia justru menjawab nya dalam hati.


Tidak hanya kenal Mika, lebih dari sekedar kenal. Batin Umar.


Tiba-tiba ada seseorang yang datang di kerumunan kami. Dialah Julian, asisten Kendra yang kelak akan membantu Dian mengurus perusahaan ayahnya.


"Maaf nyonya Selly, bisakah pemakaman segera di lakukan?" ,tanya julian pada Selly.


"Ah, iya Jul. Lakukan! Dan...Jul!"


"Iya nyonya?"


"Perkenalkan, ini Diandra. Kamu akan mendampingi Dian mengurus perusahaan. Setelah semua selesai, kamu dan dewan direksi harus segera mengurus segala sesuatunya. Karena saya dan suami saya sudah tidak ada sangkut pautnya."


"Baik nyonya!", jawab Julian. Kini mata Julian mengarah ke Dian.


"Salam kenal Nyonya Dian, saya Julian. Saya akan membantu Nyonya Dian dalam melakukan pekerjaan di perusahaan anda Nyonya!"


Aku tak tahu harus apa. Akhirnya aku hanya bisa mengangguk.


Mimpi apa aku semalam. Tiba-tiba dapat warisan. Bukan tiba-tiba, lebih tepatnya...mau menerimanya yang bahkan dari dulu sudah ku tolak.


Aku dan mas Aziz tidak ikut mengantar om Kendra ke pemakaman. Sedangkan Fai dan mika menemani Tante Selly.


Setelah rombongan berangkat, aku pun pulang bersama mas Aziz.


Baru saja kami sampai di gerbang, suara seseorang mengejutkan kami.


"Diandra!"


*******


Siapa kah itu?????


Oh iya othor promo lagi gpp ya. Yang mau mampir ke karya othor yang lain juga boleh lho.


"Cinta kita sama, Iman kita yang berbeda"


Di tunggu kritik dan sarannya, biar othor lebih baik dalam berkarya. 🤗🤗🤗🤗🤗✌️✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2