
"Kang Dadan, eta di harep meuni rame pisan?",tanya neneng.
(itu di depan kok rame banget?)
"Muhun teh Neng. Teh neng ngajak Diaz main di dalam aja. Nggak usah keluar-keluar!",titah Dadan.
"Kenapa atuh kang? Karunya atuh den Diaz", kata teh neng.
"Nggak apa-apa. Udah nurut aja. Perintah dari bos nya teteh!"
"Owh...nya nggeus atuh!"
Neneng kembali mengajak Diaz ke dalam. Neneng memilih halaman belakang yang terdapat rumput sintetis untuk mengajak Diaz bermain.
Usia Diaz yang menginjak sembilan bulan semakin lincah saja dan tentu saja memerlukan tenaga ekstra dalam mengawasinya.
Dadan sejak pagi menemani Imah dan Hayu di kios. Tapi tadi bertemu Neneng setelah Dadan solat dhuhur.
Dadan menghampiri salah satu pengawal yang bertugas.
"Kang...!", sapa Dadan.
"Siap pak!", kata pengawal itu.
"Kalau mau solat, mau makan gantian aja. Toh kalian banyak. Kewajiban sama bos emang kudu di laksanakan, tapi kewajibannya sama yang kuasa jangan sampai terbengkalai!", Dadan menasehati pengawal itu.
Si pengawal itu hanya cengengesan.
"Iya pak. Nanti saya tanya teman-teman saya."
"Saya mau pulang sebentar, tolong di jaga baik-baik ya. Nanti saya balik lagi ke sini."
"Siap pak?!"
Dadan pun meninggalkan rumah Aziz.
Di kios pun, Julian menempatkan seorang pengawal yang duduk agak jauh dari kios.
Imah dan hayu jadi merasa ada yang melindungi.Sejak pagi pun , kios selalu ramai. Sampai akhirnya ada suara seseorang yang mengejutkan Hayu.
"Assalamualaikum!", sapa Ustaz Zaki.
"Walaikumsalam!", jawab Imah dan Hayu kompak. Tapi jantung hayu tiba-tiba berdetak lebih cepat. Apakah dia jatuh cinta? Oh...bukan begitu Bambang! Dia hanya khawatir jika Ustaz Zaki bertanya soal damar sedangkan Imah belum menerima training darinya.
"Pak ustadz Zaki. Mau beli apa pak?", sapa Imah ramah.
"Nggak. Saya cuma mau ketemu hayu."
Imah mengernyitkan keningnya.
"Owh, mau bicara berdua? Ya udah, Imah ting.....", belum selesai Imah berkata, Hayu menarik tangan Imah.
"Ada mbak Imah malah lebih baik kok!", ustad Zaki tersenyum tipis.
"Hem... baiklah! Imah temenin mbak Hayu."
"Ada apa ya Ustaz Zaki menemui saya?", tanya hayu was-was.
"Saya masih penasaran dengan yang kemarin Hayu!"
Kemarin apa? Batin Imah.
__ADS_1
"Bukannya pak ustadz sudah tahu jawabannya?"
Imah menjadi pendengar sejauh ini, belum mulai mengoceh.
"Kalau dokter itu memang suami siri kamu, kenapa dia tidak datang ke rumah mu?", tanya Zaki.
Hah? Dokter? Suami siri? Batin Imah.
Hayu memasang senyum kecil.
"Apakah setiap mas damar datang, harus lapor anda Ustaz Zaki?", tanya Hayu.
"Nggak sih. Tapi minimal kan aktivitas dokter itu bisa tetangga lihat. Nyatanya mereka nggak pernah tuh, liat dokter itu wara Wiri di kontrakan mu? Masa iya, suami istri nggak pernah tinggal bareng? Jangan-jangan....kamu istri simpanan nya juga ya? Apa bedanya jika jadi istri ke dua saya?", kata ustaz Zaki panjang lebar.
Hem....Imah tahu nih jalan ceritanya.... Baiklah mbak hayu, Imah bantu sebisa Imah! Batin Imah.
"Maaf ya pak ustadz, Imah bantu lurusin boleh nggak?", tanya Imah.
Ustad Zaki pun mengangguk.
"Jadi ceritanya gini....", Imah mulai menjelaskan. Tapi tiba-tiba datang seseorang yang juga mengejutkan Imah dan Hayu.
"Siang Imah, Stev!", sapa Stevan.
Imah dan Hayu pun mendorong kepalanya.
"Om....!", sapa imah.
"Dad...!", sapa Hayu.
Ustadz Zaki menelisik penampilan pria gagah yang sudah berumur disampingnya.
"Apa kabar Nak?", tanya Stevan.
Puji Tuhan, Stevi sudah mulai melunak. Dia sudah tidak ketus seperti kemarin,batin Stevan.
"Daddy sendiri, apa kabar? Bagaimana dengan istri Daddy?", tanya Hayu. Setidaknya, kehadiran Daddy nya bisa mengalihkan nya dari ustad Zaki.
"Daddy baik Stev! Imah sendiri? Masih suka bantu Aziz di sini setelah menikah? Om dengar suamimu jualan soto atau apa gitu ya?"
"Iya om. Kang Dadan jualan soto mie Bogor. Alhamdulillah, meski kecil-kecilan tapi udah punya dua kios."
"Oh ya? Bagus dong!"
"Iya om. Biar belum banyak yang penting lancar om."
"Kamu nggak mau nerusin butik almarhum Mama mu?", tanya Stevan lagi.
"Hahaah Imah nggak bisa. Biar mas Aziz aja yang ngurusi. Imah bantu di sini heheh."
Stevan menggeleng kan kepalanya. Lalu dia menengok ke arah pria yang dari tadi menyimak obrolan dengan Imah dan Stevi.
"Kenapa anda melihat saya seperti itu?", tanya Stevan.
Hadehhhh....gawat ini! Batin Hayu.
"Anda siapa? Kenapa memanggil Rahayu dengan nama Stev?", tanya Zaki.
Stevan tersenyum santai.
"Saya Daddy nya Stevia Winata atau Rahayu. Nama Saya Stevanus Winata. Anda sendiri siapa?"
__ADS_1
"Daddy nya Hayu? Ayahnya maksudnya?", tanya Zaki.
"Iya!", jawab Stevan singkat.
"Owh... berati saya bisa tanya ke orang yang tepat bukan?", tanya Zaki.
Ya Allah....kenapa jadi melibatkan Daddy????Batin Hayu.
"Tanya apa?", Stevan penasaran.
"Soal status pernikahan siri Rahayu?", tanya Zaki.
"Nikah siri?", tanya Stevan.
Imah dan Hayu mengedipkan matanya sebagai kode. Dan syukur saja, Stevan paham dengan kode mereka.
"Owh...itu", kata Stevan datar.
"Benarkah dokter damar suami siri hayu?", tanya Zaki to the point.
Damar? Batin Stevan sembari menatap putrinya.
"Iya..tentu saja. Dokter damar, em...menantu saya!", kata Stevan.
Wajah ustad Zaki mendadak merah.
Jadi benar kalau hayu memang sudah bersuami? Dokter pula!
"Iya, menantu saya itu dokter spesialis penyakit dalam. Anda mau konsultasi dengan beliau? Barangkali ada organ dalam anda yang sakit mungkin?", tanya Stevan.
Imah dan Hayu menahan tawa sekuat mungkin.
"Tidak! Terimakasih!", kata Zaki kesal. Pria itu pun meninggalkan kios dengan perasaan dongkol. Pupus sudah harapan nya memperistri wanita secantik hayu.
Masa ustad kek ngene sih? Gawe isin ae! batin Imah.
"Tadinya Imah yang mau jelasin Om, eh...udah keduluan sama om Stevan", kata Imah.
"Oh ya? Coba sekarang kalian yang jelaskan ke Daddy!"
Akhirnya Imah Dan Stevan mendengar cerita hayu awal mula 'nikah siri' dengan damar.
"Ya udah, kenapa hanya sandiwara untuk menghindari ustaz Zaki. Kenapa kalian tidak menikah saja betulan?!", kata Stevan.
"Dad!", kata Hayu.
Stevan tersenyum.
"Makasih Nak. Kamu udah panggil Daddy lagi. Daddy senang kamu melibatkan Daddy di sini."
Hayu terdiam.
"Hayu belajar memaafkan Daddy. Seperti Dian yang memaafkan Daddy juga! Jadi, Daddy tak perlu meminta bantuan Dian agar mempertemukan kita."
Stevan berdiri, lalu memeluk Hayu.
"Makasih Nak! Makasih untuk kesempatan ini."
"Iya Dad!"
Ada suasana haru menyelimuti kios ini. Sampai datang beberapa pelanggan. Imah dan Hayu pun melayani pembeli dengan ramah.
__ADS_1
Stevan memperhatikan sekitar rumah Aziz dengan seksama. Sepertinya rumah Aziz di jaga ketat oleh para pria berpakaian serba hitam itu. Meskipun posisi mereka tak berdekatan, tapi seorang Stevan paham sekali model-model pria macam mereka.
Apa ada sesuatu yang terjadi??? Batin Stevan.