Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 242


__ADS_3

Azan magrib berkumandang beberapa saat yang lalu. Mas Aziz masih berada di mushola kompleks. Sejak kami sibuk di kantor, dia sudah jarang jamaah di sana. Harus di akui, kami memang menemukan semua hal baru. Tapi kami juga tidak bisa serta merta melupakan kebiasaan lama kami.


Teh neneng memang ku ijinkan pulang lebih cepat jika aku di rumah. Dia juga butuh istirahat bukan?


Aku libur memasak sejak belum bisa aktivitas di dapur. Jadi untuk makan, aku hanya kesan online. Bisa saja aku meminta teh neng untuk memasak. Tapi aku sadar kalau dia juga lelah menjaga anak ku. Di tambah lagi, dia juga ada suami yang harus diurus bukan?


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam. Ayah udah pulang Yaz!", kata ku pada Diaz yang sedang asyik bermain di kasur lantai. Sekarang tempat ini yang lebih aman dan nyaman untuk anak nya meski harus menyingkirkan meja dan sofa di depan ruang televisi.


Mas Aziz langsung ikut duduk di lantai bersama kami. Mengulurkan tangannya untuk ku cium dengan takzim.


"Diaz mau Salim juga?", tanya Aziz. Karena Diaz bergerak aktif ingin turut memegang tangan ku.


Diaz tertawa riang lalu meminta ku menggedong nya. Senangnya melihat mereka bisa berkumpul bersama seperti ini.


"Dek, udah pesan makanan buat makan malam?"


"Belum mas. Coba tanya sama mas Tino dan mas Agus. Mau makan malam apa? takutnya mereka ingin makan apa gitu. Biar nggak satu selera sama kita terus."


"Ya udah, mas ke depan dulu ya?", pamit Aziz. Aku pun mengangguk. Tapi Diaz tak mau di tinggal ayahnya. Diaz merengek meminta di gendong mas Aziz. Mau tak mau mas Aziz pun membawa Diaz ke depan.


Aziz menghampiri dua penjaga di depan.


"Mas Agus mas Tino, mau makan malam apa kata istri saya? Katanya.... barang kali kalian mau makan apa gitu, jadi nggak harus sama dengan menu kami."


"Kami mah apa aja mau Tuan. Sudah di beri makan saja kami bersyukur, biasanya mah jika kami sedang bertugas seperti ini mana ada yang mau tanya kami ingin apa. Di kasih aja nggak heheh!", kata Agus.


Aziz pun tersenyum tipis.


"Kalau istri ku sehat mungkin kalian tidak akan masalah memakan apapun yang istri ku masak. Sayang nya dia masih belum bisa aktivitas di dapur."


Kedua penjaga itu pun tersenyum dan mengangguk.


"Jadi, intinya kalian mau makan apa pun yang kami pesan?"


"Iya Tuan."


"Ya udah kalo gitu. Saya masuk ya! Istirahat saja gantian ya. Biar nggak terlalu capek."


"Baik tuan!", kata Agus dan Tino bersama-sama.


Mas Aziz pun meninggalkan kedua penjaga nya di depan rumah.


Aku masih memainkan ponselku. Memilah-milah menu makanan di aplikasi gifud yang berwarna hijau itu.


"Gimana mas?", tanya ku setelah menyadari mas Aziz dan Diaz datang.

__ADS_1


"Apa aja mereka mau Dek!"


"Owh, ya udah kalau gitu mah. Kamu mau apa mas?", aku mengulurkan ponselku agar mas Aziz bisa melihat menunya.


"Mas mah terus terang nggak pengen dek. terserah kamu aja. Yang mas pengen, belum boleh sih. Masih dua bulan lagi!", katanya sambil meninggalkan ku dan meletakkan Diaz di kasur lantai lagi.


Ah, manja nya kumat kan. Harus gitu ya aku memanjakan nya lagi? Bukannya dia juga bisa solo karir????


"Mas....!", panggil ku.


"Hem?", katanya tanpa menoleh.


"Iya puasa dua bulan lagi. Tapi nanti aku bantu deh!", kata ku merayu. Dia yang sedang dalam mode sok kiyut itu pun tersenyum puas padaku.


"Bener ya?", tanya nya meyakinkan.


"Iya iya. Buruan, mau makan apa?"


Mas Aziz memilih beberapa menu makan malam kami. Untuk mas Agus dan mas Tino pin kami samakan.


Usai memesan sesuai keinginan kami, kami bertiga kembali bercengkrama.


"Mas, soal anak buah kita yang di kantor, kamu siapin aja buat jadi saksi"


"Iya dek. Besok kita akan melaporkan om Ronald. Dia harus menerima akibatnya. Semua bukti yang mengarah kepadanya sudah aku dan Julian kumpulkan."


"Tapi mas, kasian kalau anak buah kita juga si ditahan. Bagaimana dengan keluarga nya? Bukannya dia juga melakukan hal itu hanya demi keluarga nya? Terus kalau dia mendekam di penjara, anal istri nya gimana? Kalau om Ronald kan dia banyak duit. Sharen sendiri juga sudah dewasa bisa mencukupi kebutuhan nya sendiri."


Mas Aziz mengusap punggung ku.


"Sudah mas duga kamu pasti bakal seperti ini!",kata mas Aziz pelan.


"Maksud nya?"


"Apa semua kejahatan bisa dimaafkan begitu saja? Lalu apa fungsi nya penjara?"


Aku pun diam. Mas Aziz memang benar. Tapi sebagai seorang istri sekaligus ibu, aku juga menempatkan diri ku andaikan mengalami hal serupa pasti juga akan sedih.


"Kasian anak istri nya mas...."


"Dia yang tidak kasian sama keluarganya dek. Apa yang dia lakukan memang nya ngga berakibat fatal sama kamu? Dia hampir saja menghilangkan nywamu? Dia saja tak memikirkan aku kalau aku sampai kehilangan kamu dek?"


Mas Aziz terlihat sangat emosi.


"Maaf....!",' aku mengusap lengan suamiku.


"Mas nggak bisa bayangin kalau harus jauh sama kamu dek."

__ADS_1


Tiba-tiba wajah tampan nya menjadi sendu.


"Aku nggak akan kemana-mana mas. Aku bersama kalian!", ku raih kepala mas Aziz untuk bersandar ke bahuku. Diaz yang awalnya anteng pun tiba-tiba merangkak ke arah kami lalu berusaha mendorong ayahnya dari bahuku.


Diaz mengoceh khas anak kecil lalu sebisa mungkin mendorong ayahnya agar menjauh dari ku. Bocah kecil itu bersiap untuk segera menyusu. Di singkirkan nya bajuku dan di tarik-tarik.


"Diaz nggak mau berbagi sama ayah?",tanya Aziz sambil menciumi pipi gembul bayi itu.


Tangan Diaz masih saja berusaha menyingkirkan wajah mas Aziz. Aku hanya mampu terkekeh melihat mereka berdua.


"Ya udah, puas-puasin dek. Habis ini ,kalau kamu bobok. Giliran ayah!", bisik mas Aziz di telinga Diaz.


Plakkkk!


Telapak tangan mungil itu mengenai wajah mas Aziz.


"Aw....!", pekik mas Aziz.


"Makanya mas ...jangan ngomong mesum begitu di depan anak mu!"


"Kok kamu belain Diaz sih dek?", kata mas Aziz sambil manyun.


"Udah, solat isya dulu sana. Sambil nunggu makanan dateng."


Belum juga mas Aziz beranjak, mas Agus mengetuk pintu ruang tamu.


"Tuh makanan udah Dateng mas!", kataku.


Mas Aziz pun bangkit dari duduknya lalu mengambil makanan itu dari mas Agus.


"Yang dua ini buat mas Agus dan mas Tino!", kata mas Aziz menyerahakan dua box makanan.


"Terimakasih Tuan!", kata Agus.


Agus pun sumringah mendapatkan makanan yang lezat untuk nya. Kebetulan agus dan Tino adalah perantau. Jadi mereka tidak perlu bolak-balik ke kontrakan karena tidak ada yang menunggu kepulangan mereka. Tapi sewaktu -waktu mereka akan ijin mudik menemui keluarga di kampung halamannya.


"Makan dulu dek!", pinta mas Aziz.


Aku mengangguk saja. Karena Diaz sudah terlelap dalam dekapan ku.


"Iya kita makan sama-sama, Diaz kebetulan ya bobo nya cepet. dasar anak pintar! Tahu aja ibunya harus meluangkan waktu buat ayahnya!", kata mas Aziz iseng.


"Mas...." aku melotot ke arahnya.


Usai makan malam, kami pun beranjak ke kamar. Dan....bayi gede ku pun menagih janjinya 🤗.


******

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa ya gaes . Tetap semangat ya 💪💪💪💪


__ADS_2