
Rombongan kami di sambut meriah oleh perwakilan keluarga Mika. Entah kenapa dari tadi aku jadi bersin-bersin terus.
"Kamu flu dek?", tanya mas Aziz. Aku menggeleng pelan.
"Mungkin AC nya terlalu dingin tadi", jawabku.
"Tapi kamu punya masker kan yang sekali pakai?", tanya Aziz lagi.
"Ada mas!", aku mengeluarkan masker ku dari dalam tas kecil ku.
Prokes nya jagan lupa ya gaes....!!!
Fai berjalan di tengah-tengah antara umi dan abahnya. Wajah tampannya terlihat muram, tidak seperti pengantin pada umumnya.
Aku dan mas Aziz berjalan di belakang Dadan dan Imah yang membawa Diaz. Sedangkan Hayu menjaga dua bocah aktif itu, Faiz dan Farhan. Dibelakangnya masih ada beberapa kerabat Abah dan umi.
Di dekat pintu masuk, Om Stevan dan Damar berdiri berdampingan. Mereka menjadi perwakilan keluarga Mika. Saat melewati mereka, Hayu memasang wajah seolah-olah tak mengenal mereka.
Dekorasi acara akad nikah ini malah jauh lebih sederhana di bandingkan dengan acara lamaran kemarin. Dekorasi pelaminan yang kecil dan minimalis tapi terlihat elegan, berdiri kokoh di dekat teras rumah mika. Konsep outdoor ala-ala Sunda terlihat begitu indah dan memanjakan mata meskipun terlihat sederhana.
Di sana, om Umar sudah menunggu kedatangan keluarga Rifai. Usai berbasa-basi dan memberikan seserahan dan acara sambutan, kini tiba saatnya peristiwa yang ditunggu-tunggu.
Mas Fai melihat ke arahku seolah meminta ku untuk meyakinkan nya bahwa hal ini harus terjadi. Wajahku yang berada di balik masker tak membuat nya lupa jika itu adalah aku.
Tangan kanan mas Fai bersalaman dengan om Umar di dampingi pak penghulu.
"Bismillahirrahmanirrahim, sebelum kita memulai acara akad ini marilah kita bacakan sholawat kepada junjungan kita nabi Muhammad Saw bersama-sama."
Setelah itu, keduanya membaca dua kalimat syahadat.
"Ananda Ahmad Rifai Sulaiman Al Munawar Bin Sulaiman Al Munawar, saya nikahkan dan kawinkan putri saya Mikayla Hanum Al Umar Abdullah binti Umar Abdullah dengan mahar seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat seratus lima puluh gram di bayar tunai."
Mas Fai terlihat menarik nafas dalam-dalam dan terlihat ia mengeratkan genggaman tangan nya di tangan om Umar.
"Saya terima nikah dan kawinnya...." ucapannya terhenti.
Mas Fai tampak menghela nafasnya. Abah yang berada di samping Fai berusaha menguatkan Fai sambil menepuk bahunya.
"Ayo nak, bismillah! Kamu pasti bisa. Kita coba sekali lagi."
Sedangkan di kamar lantai dua, Mika yang di dampingi selly, mamanya terlihat gelisah. Gadis itu merasa deg-degan tidak menentu.
Selly mengusap bahu putrinya. Meyakinkan Mika bahwa semuanya akan berjalan lancar. Menunggu seseorang yang meminta mereka turun.
Kembali lagi ke lantai bawah....
"Fai, bisa kita ulangi sekali lagi?", Umar menanyakan hal itu kepada Fai. Fai terlihat sangat gugup.
Mas Aziz berbisik pelan padaku.
"Dek, boleh mas mendekati Fai? Mas mau semangatin dia. Biar bisa semangat melafalkan ijab kabul nya!"
Aku pun mengangguk saja.
Dengan langkah percaya diri, Aziz mendekati Rifai.
"Kamu pasti bisa Fai, perjuangan akan di mulai setelah ini!", bisik Aziz. Fai menatap sahabatnya itu yang tak lain adalah suami dari orang yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Aku grogi Ziz!", bisik Fai.
"Ingat, apa yang udah gue bisikin ke Lo kemaren!", Aziz menegaskan.
Emang Aziz bisikin apa sih?????Jadi penasaran!
Aziz bermaksud undur diri dari tempat ia duduk tadi. Tapi Abah mencegahnya, meminta nya untuk duduk di samping Abah. Akhirnya, Aziz pun menurut dengan perintah Abah.
"Kita ulangi ya mas Rifai?", tanya pak penghulu.
Fai pun mengangguk.
Bismilah....batin Fai.
"Ananda Ahmad Rifai Sulaiman Al Munawar Bin Sulaiman Al Munawar saya nikahkan dan kawinkan putri saya Mikayla Hanum Al Umar Abdullah binti Umar Abdullah dengan mahar seperangkat alat sholat dan emas seberat seratus lima puluh gram di bayar tunai!"
Rifai menghirup nafas dalam-dalam. Dan kali ini, dengan satu tarikan nafas Rifai melafalakan kalimat sakral itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mikayla Hanum Al Umar Abdullah binti Umar Abdullah dengan mahar tersebut di bayar tunai."
"Bagaimana para saksi, SAH????!!!", tanya penghulu.
SAH!!!!!
Satu kata itu menggema di seluruh ruangan. Entah kenapa justru tanpa aku sadari air mataku menetes. Begitu pula dengan mas Fai. Fai memeluk suamiku. Dia menangis? Mas Fai menangis bahagia atau....??
Cepat-cepat ku hapus air mataku. Aku takut jika nanti mas Aziz melihat ku menangis,dia akan berpikir yang tidak-tidak. Tapi ternyata aku salah.
Hayu merengkuh bahuku yang sedikit terguncang. Perasaan apa sebenarnya ini?
Di sudut sana, seorang perempuan cantik dan anggun baru saja turun dari kamarnya menuju meja di mana suaminya berada. Iya, suaminya Mika!
Mika terlihat sangat cantik, sesekali wajahnya tersenyum. Setelah Mika duduk dengan mas Fai, Aziz pun kembali menghampiri ku.
Mbak Hayu masih merengkuh bahuku.
"Semua sudah tertulis Dian...! Kita hanya perlu menjalankan nya saja! Semua kesulitan yang pernah kita lalui buktinya menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan kita yang akan datang."
Aku menatap mata teduh milik hayu. Wajah sedikit indo itu terlihat sangat keibuan. Memberi nasehat di saat yang lain terpuruk, menerima nasehat jika sebaliknya.
"Iya mbak! Insyaallah aku ikhlas!"
Mbak Hayu memilih sedikit mundur saat mas Aziz menghampiri ku.
Setelah kami sama-sama duduk, aku melihat Mika menyalami tangan mas Fai dengan takzim. Lalu, Fai pun mencium kening Mika, istrinya. Setelah itu, mereka menandatangani buku nikah dan berkas yang lain.
Aku menunduk kan kepalaku saat Julian baru saja mengirimkan pesan.
"Mas perhatikan, kamu sibuk dengan ponselmu dek?" bisik Aziz pelan.
Aku menunjukkan isi percakapan ku dengan Julian tanpa menjawab sepatah apa pun. Aku hanya takut jika suara ku terdengar habis menahan tangis.
"Oh, ya sudah. Mas ke Diaz nggak apa-apa kan? Nanti kalau mereka sudah selesai, kita foto-foto ya?!", kata Aziz. Apa katanya? Foto-foto? Aku harus berpose bersama pengantin itu?
"Dek...!"
"Eh, iya mas. Iya."
__ADS_1
Mas Aziz pun menyingkir dari tempat aku duduk. Bergabung dengan Dadan dan Imah.
"Mbak Dian sibuk banget sama ponsel nya mas?", tanya Imah.
"Lagi ada urusan sama asistennya di kantor."
Imah hanya mengangguk.
Kembali ku layangkan pandangan ku kepada sepasang pengantin itu. Mulutku bisa saja dengan mudah mengatakan bahwa aku tidak memiliki perasaan apapun lagi kepada suami mika. Tapi kenyataannya, hatiku seperti tertusuk duri saat kalimat sakral itu di ucapakan oleh mas Fai.
Kamu munafik sekali Dian! Batinku sendiri.
Pikiran ku kembali melayang dengan kenangan kami kala itu. Kenangan antara aku dan Mas Fai.
"Di, andaikata kita sudah menikah nanti, tempat atau daerah mana yang pengen kamu kunjungi bersama ku?", tanya Fai sambil memelukku dari belakang. Kami sama-sama sedang duduk di pijakan teras kosan ku.
"Nggak tahu mas?!"
"Masa nggak tahu?"
"Iya, kemanapun asal bersama mu aku pasti bahagia mas!"
Mas Fai memencet hidung ku.
"Belajar gombal dari mana itu?"
"Dari kamu lah mas!"
"Coba kita diam dan pejamkan mata. Setelah siap, kita sebutkan nama daerah yang akan kita kunjungi bersama!!"
"Oke!" sahutku singkat.
Kami sama-sama terdiam untuk beberapa menit. Sampai akhirnya kami sama-sama mengatakan tempat itu.
"Bali!!!", kata kami kompak.
Aku pun memutar badan ku agar bisa melihat wajah mas Fai.
"Kok sama sih mas?",tanyaku.
"Mana mas tahu sayang. Em...mungkin ini yang namanya sehati ya Di!"
Mas Fai menakupkan tangannya di wajahku.
"Kita akan ke sana bersama!" ,kata Fai lirih.
Mata kami saling beradu, dan setelah itu ci*man lembut pun terjadi.
Ahhh!!! Aku mengusap kasar wajahku. Kenapa aku harus mengingat hal kecil seperti itu! Kejadian itu sudah sangat lama. Dan...dan...hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi.
*****
Nah Lo????? Bisa gitu kan????
Dalam nya laut bisa di ukur kan? Dalamnya hati???
Ayolah, semua move on! Jodoh kalian di tangan othor 😆😆😆😆 rajin kasih saran buat mamak biar mamak dapat mengembangkan ide dari kalian-kalian 🙏🙏🙏
__ADS_1