Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 161


__ADS_3

"Om Ronald!", panggil Hayu. Ronald pun memutar badannya. Mencari sumber suara yang memanggil namanya tadi.


Ronald menatap dengan seksama seorang wanita berhijab lebar. Matanya memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Stevia?", tanya pria tua sombong itu.


Hayu pun mengangguk.


"Kamu??"


"Iya Om."


Dengan cepat pria itu merengkuh gadisnya itu.


"Kamu kemana saja Nak! Om mencari mu selama ini!", Ronald menakupkan tangannya di pipi hayu.


"Aku....!"


"Apa Daddy mu tahu keberadaan mu sekarang? Kamu tinggal dimana selama ini?"


"Om, berhentilah mencemaskanku."


"Stevan tahu kamu di sini?"


"Aku sudah bertemu Daddy om!"


Kami di sana menonton pertemuan antara hayu dan juga om nya.


"Om tahu, perempuan yang om hina tadi? Dia yang sudah menampung ku. Dia yang sudah dengan tangan terbuka membantu ku saat aku terpuruk om! Berhentilah menghina perempuan sebaik Diandra, jika om memang menyayangi ku!"


Ronald menggeleng pelan.


"Kenapa kamu bisa berubah seperti ini?"


Hayu tersenyum.


"Ini pilihan hidup ku om!"


Ronald kembali menggeleng pelan. Semua sudah berubah. Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya.


"Kita bicara berdua saja om!", ajak Hayu.


Hayu merasa tidak enak dengan ucapan yang tadi ia lontarkan kepada sahabatnya itu.


Di sisi lain....


"Maaf mas Julian, sudah merepotkan mu!"


"Jangan sungkan Bu Dian. Itu sudah menjadi tugas saya."


"Jadi....Miss Sharen???", aku menggantung pertanyaan ku.


Julian mengangguk sedikit seraya tersenyum tipis.


"Owh....!"


"Julian, jika tak keberatan nikmatilah hidangan yang kami sediakan", kata Umar.


"Tidak pak Umar. Terimakasih, saya masih ada tugas yang lain."


Setelah berpamitan, Julian pun meninggalkan kediaman Umar.


Jadi, Stevia sudah kembali? Tanya Julian dalam hati. Senyumnya sedikit mengembang.

__ADS_1


"Dek...itu..?", Aziz bertanya soal amplop yang ku pegang.


"Em....Dadan sama Imah mana? Biar aku jelaskan sekalian!"


Ada pelayan yang memanggil kedua orang itu untuk bergabung bersama kami.


"Mika...Fai!", ucap Selly.


"Iya ma!", sahut mereka kompak.


"Rumah mama yang dekat dengan Rara kalian pakai saja. Biar kalian bertetangga. Nggak usah beli rumah atau bikin rumah lagi", kata Selly.


"Kalau kalian mau, kalian juga bisa tinggal di rumah ini!", ucap Umar.


"Di rumah Abah pun tak masalah, dengan senang hati", sahut Abah.


Inilah resiko jadi anak tunggal di dalam keluarga. Sepasang pengantin baru itu pun saling berpandangan.


"Untuk sementara di sini dulu deh. Tapi nggak tau beberapa hari yang akan datang. Seperti nya...kami harus membicarakannya lebih dulum Bukan begitu mas?", tanya Mika pada Fai.


"Iya. Kami akan bicara berdua nanti."


" Ya sudah, kalian ngobrol aja dulu. Kami kaum uzur juga mau ngobrol'', kata Abah.


Meski Selly dan Umar sudah lama berpisah, hubungan mereka tetap baik.


Sepeninggal kaum 'tua' itu, Imah dan Dadan bergabung sambil membawa Diaz.


Diaz pun di berikan padaku.


"Nah, kalian udah kumpul ....!", kataku memulainya obrolan lagi.


"Aku nggak di bolehin gabung?", ujar Damar tiba-tiba. Kami kompak menatap nya.


"Gue cukup jadi pendengar deh kalo gitu!"


Kak Damar, aku tidak tahu kalau kamu bisa bersikap sesantai ini bersama mereka? Tapi...setiap bersama ku, kenapa kamu begitu dingin mas? Batin Mika.


"Begini. Maaf, bukan maksud ku untuk merendahkan atau apa pun. Tapi ini...", aku menyodorkan dua buah amplop. Satu untuk Imah, satu untuk Dadan.


"Opo Iki mbak?", tanya Imah. Begitu pula dengan Mika, mengambil amplop itu. Dia yang saat ini sudah memakai gamis, terlihat sangat anggun.


"Bali?", gumam Mika.


Bali? Apa maksud nya ini? Batin Fai.


"Iya. Kami nggak tahu mau ngasih hadiah apa buat kalian. Jadi, aku harap kalian menerima hadiah ini dari kami."


"Hadiah mbak? Mas? Maksudnya ini...bulan madu ke Bali mbak?", tanya Imah.


Aku mengangguk pelan, sambil menatap suamiku. Mas Aziz pun mau gak mau setuju dengan ide Dian yang sebelumnya pernah ia katakan. Toh, Dian memang sudah meminta ijin padanya waktu itu.


Fai terdiam. Matanya menatap wajahku dengan mimik wajah seperti tadi pagi.


Kamu ingat semuanya Di? Semakin kamu seperti ini, hatiku semakin sakit Dian. Sungguh sakit! Batin Fai.


"Mas...kita bulan madu ke Bali?", tanya Mika pada suaminya yang saat ini sedang melamun.


"hah?! Ah...iya. Terimakasih Aziz...Dian... harusnya kalian tidak perlu repot begini!", ujar Fai memecah lamunannya.


"Sama-sama. Tapi.. aku nggak tahu kapan kalian ada waktu, jadi kalian tinggal mengisi saja tanggal keberangkatan kalian. Mas Jul sudah mengurus nya."


Kenapa Dian memilih Bali? Bukan tempat lain? Dian memikirkan bulan madu untuk adik dan juga sahabat nya, tapi dia tidak memikirkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa harus Bali?", tanya Imah.


"Neng, orang di kasih kok bukan nya terimalah malah nanya begitu?", ujar Dadan menegur istrinya.


"bukan gitu A, bali kan jauh...pasti mahal. Apalagi nih lihat... reservasi buat seminggu lho A. Lumayan kan???", kata Imah. Benar juga sjh., batin Dadan.


"Nggak apa lah,buat adik dan juga sahabat ku. Kenapa nggak???"


"Kalau kita di suruh bulan madu, kalian sendiri gimana? Kapan?"


Aku tersenyum menanggapi Imah.


"Kami juga mau bulan madu, tapi setelah kalian pulang dari sana. Kalo nggak, nanti Farhan sama siapa? Jadi, selama kalian pergi Farhan tinggal bersama kami."


"Ahh... mbak Di baik banget....!", Imah memelukku.


"Makasih ya Dian....!", kini Mika yang memelukku.


Semoga impian mu ke sana bersama pasangan mu segera terwujud ya Mas Fa'i, meskipun bukan bersamaku.


Mas Fai kembali menatap ku. Aku tahu, dia memikirkan hal yang sama denganku.


"Mbak Dian sama mas Aziz mau bulan madu ke mana?", tanya Imah.


Aziz mengangkat kedua bahunya.


"Mas mah terserah nyonya besar saja!", kata Aziz pasrah.


"Capadocia , its my dream!", jawabku.


"Lho...lho...koyo seng Nang pilem iku Yo mbak? Opo? Layangan pedot?"


(Kaya yanh di film itu ya mbak? Apa? Layangan putus?)


"Nggak lah Mah. Mbak maunya yang deket-deket aja. Bukan begitu mas?", tanyaku pada mas Aziz. Dan mas Aziz pun hanya mampu mengangguk pasrah.


"Ayahku punya villa di Ciater, kamu mau kita ke sana mas?", tanyaku.


"Ciater?", tanya Aziz. Dan aku pun mengangguk.


"Tentu saja mas mau dek, bukan bulan madu...tapi...liburan keluarga saja. Kita bawa Diaz juga!", seru aziz. Aku pun menggamit pinggang suamiku.


"Yakin, ngajak diaz? Nggak takut keganggu?"


Mas Aziz menowel hidung ku.


"Nggak lah, bagi mas...tiap hari bersama mu itu bulan madu!"


"Masoook pak Eko....!", seru Imah dan Dadan kompak. Kami semua pun tertawa. Fai pun terpaksa mengikuti kami yang tertawa.


"Sayang kita pulang yuk!", kataku.


"Kita naik taksi saja kerumah Abah. Setelah ambil mobil, baru kita pulang."


"Oke lah, aku mah setuju aja mas."


Akhirnya kami pun berpamitan kepada pengantin dan juga keluarga yang lain. Kami minta ijin terlebih dulu kepada Abah karena kami mendahului mereka.


"Kang Dadan ,Imah sama Farhan naik taksi aja langsung ke rumah ya. Kami ambil mobil dulu ke rumah Abah!", kata Aziz.


"Kami juga mas...", kata Hayu.


"Damar yang akan mengantarkan mu mbak Hayu!", kata Aziz.

__ADS_1


Hayu pun pasrah, dia harus kembali berada di mobil yang sama dengan Damar meskipun ada Faiz di antara mereka.


__ADS_2