Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 268


__ADS_3

Mika dan Fai baru saja selesai 'buka' puasa. Saat ini keduanya sedang bersantai di balkon kamar mereka. Meskipun jam sudah hampir menunjukkan setengah sepuluh malam, mereka berdua masih asik bersantai di sana menatap hitamnya langit yang bertabur bintang.


"Mas ..."


"Heum?"


"Katanya mas Aziz udah pulang, besok jenguk yuk?! Aku kan off!"


"Boleh!", kata Fai setuju.


"Semoga mas Fai cepet sembuh ya mas. Kasian liat dia kaya gitu!"


Fai menghela nafasnya.


"Iya. semoga Aziz segera pulih, kalau nggak...entahlah apa yang akan Revan lakukan!"


Mika mengernyitkan keningnya.


"Kenapa sama dokter revan? Iya, mika tahu mas kalau dokter revan dan Dian pernah ada hubungan. Tapi memang apa hubungannya dengan kesehatan mas Aziz? Hubungan keduanya hanya sebatas pasien dan dokternya kan?"


"Revan terobsesi ingin Dian kembali padanya. Mas juga tak terlalu paham, sayang. Tapi...entah kenapa mas lihat ada ketakutan di mata Aziz. Mas akui, Aziz sering kesal sama mas. Sering cemburu ke mas. Tapi...nggak pernah sekalipun Aziz merasa takut kalau mas bakal merebut Dian darinya. Maaf....Mika....bukan maksud mas men.....!"


"Mika paham mas ...udah nggak usah bahas perasaan kamu ke Dian. Yang aku tanya, untuk apa mas Aziz merasa takut berlebihan dengan dokter revan? Toh....dia itu hanya masa lalu Dian, apa lagi cinta monyet jamannya masih remaja!" kata mika.


"Seberapa jauh kamu kenal sama Revan ,sayang?", Fai meraih pinggir istrinya.


"Tidak terlalu kenal sih mas. Hanya sering bertemu di seminar-seminar."


"Tapi... dia tahu kisah mu dengan damar?", tanya Fai.


Mika tersenyum tipis.


"Apa dulu aku terlalu kentara mengejar mas damar ya mas?", tanya Mika nyengir.


"Kamu tuh...mas tanya serius malah nyengir!", kata Fai mencolek pipi istrinya.


"Heheh....yang aku tahu, Revan dokter yang sangat berbakat. Dia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan waktu yang cukup singkat. Entah lah ... bagiamana dia bisa begitu!"


"Tapi....mas pikir dia punya kepribadian ganda deh Sayang. Di saat-saat tertentu dia profesional menjalankan profesinya, tapi tak berapa lama dia bisa seperti orang....yang bisa dibilang 'somplak' dalam bahasa Imah!"


"Somplak itu apa mas?", tanya Mika bingung.


"Entah apa namanya kalo di translate dalam bahasa Indonesia heheheh!"


"Dih.... nggak jelas!", Mika mencebikkan bibirnya.


"Jangan gitu dong bibirnya, jadi gemes!", Fai menyomot bibir mika dengan jemarinya.


"Mas....ih....sakit tahu!", kata mika merajuk.


"Giniin doang sakit, tadi di gigit malah kesenengan!", ujar Fai.


"Kan beda konsep nya mas'eh.....!", kata mika sambil mencubit pinggang suaminya.


"Aw...aw...sakit sayang!", keluh Fai.


"Wah...makin tebal aja nih perut, udah nggak kaya triplek!", sindir Mika.


"Tapi mas belum segendut Aziz kali mika....!", kata Fai.


"Belum sih....entah dalam proses menuju ke sana mungkin!", ledek Mika.


"Owh...jadi kamu pengen mas gendut gitu?", Fai menghadap ke istrinya.


"Biasa aja sih, mau gendut mau sixpack bagi aku nggak masalah. Toh rasanya sama aja!", kata Mika berdiri.

__ADS_1


"Rasa apa?", tanya Fai.


"Rasa anu...hahahah!", Mika beranjak ke kamar nya.


"Sayang! Kamu nggak bisa gitu dong!", kata Fai mengejar Mika.


******


Imah terbaring lemas di atas ranjang nya. Dia memuntahkan segala apa pun yang ia makan. Tapi ia tetap berusaha memasukkan makanan agar anaknya nanti tak kekurangan gizi.


"Sayang...rasanya pasti nggak nyaman banget ya?", tanya Dadan mengusap kepala Imah.


"Iya A. Imah pusing, mual!", jawab Imah sambil memejamkan matanya.


Ya Allah...kasian sekali istriku, batin Dadan.


"Oh iya A, mas Aziz pulang ya? Aku belum bisa ke sana lagi A!", kata Imah.


"Nggak usah pikirin Neng, mas Aziz dan mbak Dian juga pasti maklum kok. Besok-besok kalo neng udah mendingan, kita ke sana!", Dadan mengusap kepala istrinya.


"Heem. iya, A!".


"Ya udah atuh neng bobo aja lagi. Jadi badan kamu yeh bisa istirahat. Nanti kalau kira-kira udah lapar, bilang aa aja. Jangan sampe perut kamu kosong ya?"


"Iya A. AA juga istirahat deh. Jangan gara-gara Imah, AA malah ikutan ngedrop!"


"Iya Neng. Kalo neng udah tidur, AA ikut tidur kok!"


Tak lama kemudian,Imah pun benar-benar tertidur pulas.


Dadan yang belum solat isya pun segera melakukan kewajiban nya.


Selesai solat, Dadan membaca Alquran di sisi istri nya sembari mengusap perut istrinya yang masih rata itu. Dadan berharap kelak anak nya menjadi pribadi yang Soleh/Soleha.


****


"Faiz nya belum mau Pa. Masih betah sama Oma muda nya kali!", sahut Hayu.


"Heummmm...tapi ngga apa-apa sih, jadi umi sama papa punya banyak waktu berdua heheheh!", kata damar. Dia sudah mulai membiasakan diri menyebutkan dirinya papa dan istrinya Umi.


"Maunya.....!", kata Hayu.


"Sayang...!"


"Kenapa Pa?"


"Lusa ke rumah mama ya?"


"Kamu udah siap mas?", tanya hayu.


"Iya, mas pengen kita segera meresmikan pernikahan kita Mi....!" kata Damar sambil berjalan mengiringi Hayu menuju kontrakan nya.


"Sabar aja dulu pa, toh ini juga bulan puasa kan?Kita tunggu sampai papa dan mama membuka hati buat kita mas....!", Hayu menggandeng lengan suaminya.


"Iya... sebenarnya dengan atau tanpa restu mereka pun ,aku sudah memiliki mu Mi....!"


"Mas, restu Allah ada pada restu orang tua mas. Kalau orang tua saja gak merestui, gimana Allah akan merestui kita?"


"Tapi kan tergantung orang tuanya kaya gimana sayang....!"


Hayu bingung harus menjelaskannya seperti apa.


"Ya udah, kita istirahat aja deh!", kata Hayu setelah mereka sampai di kontrakan lama Hayu.


"Iya...iya....", sahut Damar.

__ADS_1


*****


Jam dua malam aku ingin sekali ke kamar mandi, kulihat mas Aziz masih tertidur pulas. Begitu pula dengan Diaz . Diaz sempat menyusu tadi tengah malam.


Aku pun beranjak ke kamar mandi. Setelah ku cek dan ku ingat-ingat ternyata masa nifas ku usai.


Jadi ku putuskan untuk mandi wajib sekalian saja. Biar aku bisa solat dan sahur nanti.


Lebih dari lima belas menit aku selesai mandi. Ternyata selesai mandi, ku lihat mas Aziz sudah duduk bersandar di headboard ranjang.


"Lho mas? Kamu udah bangun? Butuh sesuatu?", tanyaku menghampiri nya. Bahkan aku belum memakai baju, hanya kimono mandi.


"Mas pikir kamu ke mana dek?", tanya nya padaku dengan nada manjanya .


"Emang kamu pikir aku ke mana mas?", kuusap bahunya.


"Jam segini mandi dek?", dia tak menjawab malah memberi pertanyaan lagi.


"Iya... ternyata aku udah bersih, jadi sekalian mandi mas!"


"Oh....!", sahut nya datar. Aku rasa aku tahu apa yang dia pikirkan. Dulu, kalau tahu aku sudah selesai berhalangan, dia akan sangat antusias secepatnya ingin 'memakan' ku. Tapi tidak kali ini. Mungkin dia merasa minder jika dia tak bisa lagi melayani ku seperti sebelumnya.


Padahal aku sendiri tau, alat vitalnya masih berfungsi normal. Hanya dari lutut ke bawah saja yang bermasalah.


"Mas butuh minum?", tanyaku mencoba memecah keheningan.


"Nggak dek!"


"Ya udah,aku ganti baju dulu ya!"


"Heum!", sahut Aziz. Tek berapa lama aku pun sudah selesai memakai daster rumahan seperti biasa. Aku pun memilih duduk di depan mas Aziz.


"Dek ...maafin mas?"


"Untuk?"


"Mas sudah tidak bisa memenuhi nafkah batin mu lagi seperti kemarin!", katanya lesu.


"Siapa bilang?"


Dia mendongak.


"Kamu tahu sendiri kalau mas begini....", kalimat nya terputus karena aku membungkam nya.


"Mas, jangan pikirin kan itu. Fokuslah, kamu akan segera pulih. Demi aku dan Diaz, juga Imah. Adik mu satu-satunya yang juga harus kamu lindungi!"


"Tapi....!", aku Kemabli membungkam nya.


"Cukup mas, urusan nafkah batin bisa kita pikirkan nanti. Jadi tolong....tolong sekali,jangan jadikan ini beban yang berlebihan?! Karena aku tahu, kamu masih bisa melakukannya!"


Ku buat ia merasa bangga dengan dirinya sendiri terlebih dulu. Meski alat vitalnya masih berfungsi dengan baik,tapi mungkin kepercayaan dirinya yang luntur.


"Aku solat dulu ya mas?!"


"Iya!", sahut nya singkat. Aku pun kembali mengambil wudu. Sebenarnya tadi sudah wudu, tapi gara-gara membungkam mas Aziz jadi batal lagi deh.


*****


Maafkeun mamak telat uplot. Ya...kali ada yang nyariin 🤭🤭🤭🤭.


Mamak baru otw mudik, ada yang kena macet juga nggak....?????!!!


Btw ... kalau tulisan mamak ini kurang 'sreg' harap maklum ya, namanya ge di jalan 🤗.


Makasih yang udah sempetin baca tulisan receh mamak.

__ADS_1


Selamat berakhir pekan, selamat mudik bagi yang mudik semoga selamat sampai tujuan.


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2