
"Apa kabar pelakor?", pertanyaan menohok ditunjukkan kepada Tati.
"Mbak Farah..."
"Sejak kapan saya punya adik seperti kamu?", mama menatap tajam ke arah ibu tiri Imah.
"Tapi saya istri sah dari almarhum mas Setiawan mbak Farah, adik ipar mbak Farah!"
"Adik ipar saya, almarhum Ismaya."
"Iya, saya tau mbak. Ismaya memang ibu kandung Imah. Saya tidak pernah merahasiakan siapa perempuan yang sudah melahirkan Imah."
"Tapi kamu sudah merebut kebahagiaan Ismaya, Hartati!"
"Mbak Farah jangan menutup mata mbak. Justru Ismaya yang sudah merebut mas Setiawan dari saya."
"Jaga bicara mu Tati, jelas-jelas kamu salah. Sudah menjadi duri di dalam rumah tangga adik saya."
"Mbak, mas Setiawan memilih saya karena saya memang lebih baik dari Ismaya. Mas Setiawan mau menikahi mamanya Imah karena desakan orang tua kalian. Bukan karena keinginannya sendiri. Saya tahu mbak, saat itu saya cuma pembantu di rumah megah kalian. Tapi tidak setelah mas Setiawan menikahi saya!"
"Tapi kamu merebut Setiawan dari Ismaya ,Tati! Kamu yang membuat Maya menderita. Sudah membawa anak dan suaminya."
"Itu pantas Maya dapatkan mbak! Mbak tahu, karena ulah Maya selamanya saya tidak bisa memberikan anak untuk mas Setiawan. Maya yang sudah menghancurkan masa depan saya. Jadi sebagai gantinya, saya berhak atas Imah dan suaminya!''
"Kamu tahu dan kamu sadar, itu semua murni kecelakaan Tati. Jangan membuat alasan yang mengada-ada!"
"Kecelakaan yang membuat saya kehilangan rahim saya!"
Aku, mas Aziz dan Imah hanya bisa memperhatikan perdebatan dua orang wanita dewasa itu.
"Kalian semua tutup mata mbak! Mbak Maya yang sudah sengaja mendorong saya karena saya sudah mengandung anak mas Setiawan terlebih dahulu meski mbak Maya istri pertama mas Setiawan."
Hartati mengusap air matanya.
"Saya...saya memang sudah mengambil harta kalian yang tak seberapa itu, tapi saya berhasil membawa Imah dan mas Setiawan dari istana neraka kalian."
"Kalau saya mau jahat, bisa saja saya membunuh Imah saat itu juga. Tapi saya masih punya hati mbak, masih mau merawat Imah. Merawat mas Setiawan yang sakit-sakitan sampai ajal menjemput nya."
__ADS_1
"Saya sudah jual semua harta benda peninggalan keluarga saya, demi kesembuhan mas Setiawan. Lalu, pendidikan Imah? Iya, saya akui. Saya hanya mampu menyekolahkan Imah cuma SMP saja. Biaya hidup dan biaya berobat Mas Setiawan saja sudah susah. Bahkan kami makan pun seadanya."
"Imah saya nikahkan dengan juragan Hasyim, dia sudah melunasi hutang-hutang pengobatan mas Setiawan. Tapi ,dasar Imah tak tahu diri. Dia malah kabur usai ijab qobul. Suaminya terkena serangan jantung. Yang ada malah hutang semakin menumpuk."
"Jangan pikir Imah yang paling menderita, saya pun sama mbak!"
Imah tertunduk lesu. Mama Farah pun hanya diam mendengarkan penjelasan Tati.
"Cukup kamu mengatai saya sebagai pelakor mbak. Saya istri sah mas Setiawan."
Setelah Tati diam, mama membuka suaranya.
"Berapa hutang Setiawan?"
"Untuk apa kamu bertanya seperti itu mbak Farah? Kamu mau membayarnya? Mau memamerkan betapa kaya nya keluarga kalian?"
"Saya hanya tidak ingin jika Imah menanggung beban nya sendirian", ucap mama.
"Tujuh puluh tujuh juta yang belum dibayarkan! Setiap Minggu Imah transfer lima ratus ribu, bukan untuk saya pribadi mbak. Tapi benar-benar untuk membayar hutang papanya Imah. Saya juga kerja mbak, buat menghidupi saya sendiri. Saya tidak mau menjadi beban orang lain, apalagi anak tiri saya sendiri."
"Lalu, apa tujuan kamu ke sini?"
"Ibuk....maafin Imah buk...!", Imah memeluk Bu Tati.
"Ibu nggak butuh maaf kamu nduk. Ibuk cuma capek dituduh memeras tenaga mu terus-menerus!"
"Ibuk!", Imah tergugu dalam pelukan ibu tirinya.
"Sekarang kamu sudah bertemu dengan keluarga kandungmu. Jadi, setelah ibu menyerahkan tanggung jawab melunasi hutang papa mu ibuk artinya ibuk sudah tidak ada sangkut pautnya dengan semua yang berhutang dengan utang papamu."
Tati menyerahkan sebuah buku notes kepada Imah. Dia menunjukkan hutang itu kepada siapa saja, tepat ditanggal meminjam dan tanggal mulai mencicil.
Artinya...hutang itu terus berjalan, diakumulasi hingga berpuluh-puluh juta. Ternyata ibuk menyimpan bebannya sendiri! Ada rasa bersalah begitu besar menyeruak di dalam relung hati Imah.
"Ibuk...maafin Imah ya buk. Imah sudah salah sangka selama ini. Tapi, Imah berusaha tetap menurut sama ibuk."
"Iya, kamu memang anak yang baik Mah!"
__ADS_1
"Mbak Farah, kalau memang kamu mau membantu Imah membayar hutang papanya, silahkan. Saya sudah nggak ada urusan. Saya titip Imah!"
"Iya, kami akan membayarnya."
"Kenapa ibuk bilang nitip Imah ke mama Farah buk?"
"Mereka keluargamu!"
"Tapi ibuk juga ibuk Imah kan?"
"Terserah kowe nduk!"
Aku dan mas Aziz tak bisa komentar apa pun.
"Ya sudah, terimakasih buat tumpangan dan makan gratisan nya mbak Farah. Saya pamit. Assalamualaikum!" Tati berjalan meninggalkan dapur.
"Walaikumsalam." Jawab kami semua.
"Ibuk nggak mau melihat anak ibuk menikah?"
Seketika langkah Tati terhenti. Dia berbalik badan.
"Ibuk nggak peduli Mah!"
Tati tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan dapur. Dia kembali ke kamar Imah.
Imah berlari menyusul ibunya.
"Ibuk, ibuk sudah Ndak peduli Karo Imah Tah?"
"Kamu sudah bukan tanggungjawab ibuk. Terserah kamu mau menikah atau apa pun terserah!"
"Ibuk!",Imah memeluk Tati dari belakang. Tati menatap ke atas. Dalam lubuk hatinya, dia sulit untuk memberikan Imah pada keluarga Farah. Tapi, sakit hati yang keluarga mereka torehkan begitu dalam.
"Ibuk pergi Mah! Jaga dirimu baik-baik. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam. Ibuk....!"
__ADS_1
Tati pun melangkah kan kakinya keluar dari pekarangan rumah Aziz. Mula hari ini ,dia sudah tidak perlu lagi memikirkan cicilan hutang almarhum suaminya lagi.
Tati akan membuka lembaran baru. Meskipun sudah berumur, Tati tidak ingin bergantung pada orang lain apalagi pada anak tirinya sendiri.