
Hari yang dinanti pun tiba. Tidak ada yang spesial di pagi jari ini. Aku masih dengan rutinitas mengurus Diaz dan mengurus rumah. Imah sudah kubebaskan dari tugas mencuci. Aku bisa melakukannya sendiri ,Diaz sudah bisa aku tinggalkan barang sejenak untuk menggiling dan menjemur pakaian. Sedangkan memuaskan untuk sarapan kami bertiga kulakukan saat pagi hari .
"Mas, aku sama Diaz mau jalan-jalan ke kampung belakang ya?"
"Sepagi ini? Tumben?"
"Nggak lah, udah jam tujuh nggak pagi banget buat jalan-jalan mah!"
"Mas temenin ya?"
"Nggak usah mas, orang ke jalan belakang rumah aja kok."
"Ya udah!"
"Kamu sarapan aja dulu, kalau mau bantu beberes rumah aku juga nggak keberatan heheheheh."
"Siap ibu negara! Nanti kalian pulang jalan-jalan rumah udah bersih!"
"Hehehe...makasih ayah....!", candaku sambil mendorong stroller Diaz.
"Mbak...mau kemana? Ikut....!"
"Emoh, kamu belum mandi. Masih bau jigong!"
"Mbak Di sih, aku udah ga di bolehin nyuci. Jadi gabut jam segini mau ngapain."
"Dih ...udah tau istilah gabut, kemajuan!"
"Tau lah mbak...!"
"Udah ya, kita mau jalan-jalan dulu. Dah Tante Imah....!"
Aku pun berjalan meninggalkan rumah. Melewati gang samping rumahku yang ke belakang sana padat penduduk. Dulu, dulu sekali aku beberapa kali jalan-jalan ke sana. Tapi sudah lama sekali.
Aku ingat saat itu ada sebuah rumah yang memproduksi makanan rumahan. Entah itu nasi kuning, makanan pasar dan lainnya. Tapi aku lupa dimana tempatnya.
"Eh, bakul pulsa? Mau kemana teh?"
"Ah, ibu bisa aja. Ini Bu, saya kayanya dulu pernah liat deh di sekitar sini ada yang bisa bikinin kue sama nasi tumpeng ya Bu?"
"Oh, itu Teh Neneng. Tuh rumahnya yang cat ijo."
"Alhamdulillah, makasih ya Bu. Ketemu ibu, saya jad tahu rumahnya teh Neneng."
"Iya sama-sama. Ya udah atuh, saya mau ke pasar dulu. Mari..."
"Sekali lagi makasih ya Bu?!"
Si ibu itu pun meninggalkan ku. Aku berjalan menuju rumah yang ibu tadi maksud.
"Assalamualaikum...!"
"Walaikumsalam...Eh, mbak Dian! Mari masuk mbak!"
"Makasih Teh Neneng!"
"Mimpi apa ya saya teh kedatangan tamu mbak Dian?"
"Ah, si teteh mah lebay. Memangnya teh saya tamu agung?"
"Bukan agung, tapi tamu jauh....!"
"Saking jauhnya ya teh, kita cuma kejeda tembok tapi susah ketemunya heheheh!"
"Iya betul...betul... ngomong-ngomong mbak Dian tumben kesini? Ada perlu apa?"
"Teteh masih bikin kue sama pesanan nasi kan teh?"
"Masih mbak, buat siapa?"
"Buat saya atuh!"
__ADS_1
"Mbak Dian, pesen ke saya?"
"Iya, memang kenapa teh?"
"Ya ,nggak apa-apa sih mbak. Cuma...saya kan usaha kecil-kecilan. Takut ngecewain mbak Dian aja. Padahal mah, mbak Dian bisa aja atuh pesen ke restoran mewah!"
"Teh Neneng mah berlebihan, saya juga sama aja kok teh."
Usai basa basi aku langsung memesan sesuai yang aku rencanakan.
"Bisa teh nanti bada magrib selesai semua?"
"Insyaallah Mbak Dian."
"Alhamdulillah, ini nomor wa saya. Nah ini...buat biayanya!''
Ku serahkan kertas dan uang sejumlah satu juta rupiah.
"Mbak, ini nggak salah?"
"Kenapa teh? Maaf, kurang ya? Kalau kurang ini anggap aja Dp teh, sisanya nanti maka pas di antar ya?"
"Bukan mbak Dian, ini mah kebanyakan."
"Masa sih?"
"Nih mbak, kue tart nya aja cuma tiga ratus lima puluh ribu. Tumpeng nya minta yang kecil, porsi lima sampai enam orang. Sisanya?"
"Ya...kalau keburu bikin snack apa juga terserah teh Neneng."
"Aduh ...baru kali ini saya dibikin bingung sama kustomer."
"Kenapa bingung teh?"
"Dimana-mana mah ya mbak Dian, kustomer minta ini itu tapi duitnya cekak. Lha ini, sampai bingung mau di apain sisanya?"
"Mungkin udah rejekinya teh Neneng kali."
"Ya udah Teh, saya pamit pulang dulu ya. Makasih lho ya udah bersedia bantu saya."
"Justru saya yang trimaksih mbak Dian."
Aku pun pamit meninggalkan rumah teh Neneng. Semoga nanti malam semua lancar. Tidak ada pesta meriah, hanya aku ,mas Aziz, mama dan Imah serta Diaz tentunya!
*****
Azan ashar berkumandang. Cuaca cerah menjadikan hari ini terasa panas. Ponselku berdering nyaring.
[ Selamat sore mbak Dian?]
[Iya saya, siapa]
[Saya dari dealer motor mbak, mau anterin motor pesanan Mbak. Mbak Dian dirumah?]
[ Oh, iya. Ditunggu mas!]
Aku pun bergegas menuju kios, menghampiri Imah dan mas Aziz.
"Sayang ayah udah mandi?", mas Aziz meraih Diaz dari gendongan ku.
"Udah dong yah!", aku bantu menjawabnya.
"Kamu juga udah mandi sayang?", tanya mas Aziz padaku.
"Udah dong cinta....!", tanpa ku sadari ada seseorang yang tengah memandang kami dengan tatapan tak suka.
Iya, Mas Fa'i sedang menatap keromantisan kami berdua. Selang beberapa lama, mobil yang membawa motor pesanan ku pun datang.
"Selamat sore, dengan mbak Dian?"
"Iya ,saya!"
__ADS_1
"Lho dek, kamu beli motor?", tanya mas Aziz.
"Iya mas!", jawabku singkat.
Si pengantar motor pun menurunkan motorku dari mobil.
"Wah...motor anyar gaes...!", kata Imah.
Mas Aziz masih bingung dengan aku yang tiba-tiba membeli motor. Padahal motor matic ku pun nganggur di garasi.
"Lho, pak bos ada disini?", sapa salah seorang yang menurunkan motor kepada Fai. Mas Fai hanya melirik!
"Jadi, showroom motor itu punya mu mas?", tanyaku pada Fai.
"Bukan, punya om ku!"
Si pengantar pun sudah kembali ke mobilnya.
"Dek, bisa kamu jelaskan?",tanya mas Aziz.
"Tunggu mas, aku mau tanya mas Fai dulu!"
"Kenapa mas Fai nggak bilang itu showroom milikmu?"
"Kamu ngga nanya? Memang kenapa? Kamu nyesel beli di aku?"
"Bukan nyesel, tau gitu aku beli ditempat lain",jawabku.
"Tenang aja Di, harganya umum kok. Nggak aku spesialin. Apalagi tujuan kamu beli kan buat Aziz, beda kalau buat kamu sendiri. Kalau perlu ,aku gratisin!"
"Dih, sombong bener jadi orang kaya!", sahutku.
"Dek, udah nggak usah ngomong sama Fai! Kamu cukup jelasin aja ,ngapain kamu beli motor lagi?"
"Buat hadiah ulang tahun kamu mas!"
"Ulang tahun? Mas ulang tahun?", tanya mas Aziz.
"Iya lah."
"Ya Allah, sayang...kamu masih inget aja sih?", mas Aziz memelukku erat.
"Mas, lebay deh! Banyak orang ih....!"
"Kok kamu kepikiran beliin mas motor itu?"
"Kamu pengen kan?"
"Kamu tahu dari mana?Mas nggak pernah ngomong kok!"
"Liat di laptop kamu!"
"Kamu buka-buka laptop mas?"
"Heeuh!"
"Tapi kan mahal dek! Eh, tapi nggak ada notif dari m-banking soal pembelian motor itu?"
"Pakai tabungan aku lah mas...!"
"Dek, mas bisa aja beli sendiri tapi kan mas pikirin kamu! Pikirin Diaz!"
"Udah deh.... romantis nya entar aja di kamar. Ini banyak yang liatin lho!", kata Imah kesal. Ternyata Diaz ada didalam gendongan Imah. Aku dan mas Aziz tertawa bersama.
"Selamat ulang tahun ya suamiku....!"
"Terimakasih istri shalihah ku...!", tak lupa kecupan hangat di kening istriku yang mengkilap terkena lampu.
Imah, Dadan dan Fai hanya sebagai penonton.
Sengaja banget sih Aziz ,gumam Fai.
__ADS_1