Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Buka-bukaan


__ADS_3

Fai tengah merapikan mejanya. Ia memasukkan barang-barangnya sisa mengajar tadi. Kini pikiran nya terfokus pada benda pipih di atas mejanya. Ada keraguan di dalam hatinya, apakah dia akan benar-benar menghubungi dokter Mika? Lalu, dokter Mika ingin bicara apa?


"Pak Fai!", sapa salah seorang office boy.


"Iya mas, kenapa?", tany Fai.


"Di tunggu sama calon istrinya di depan pak!", jawab si office boy itu.


"Calon istri?", tanya Fai.


"Iya pak. Saya permisi pak Fai!", si office boy pun meninggalkan ruang guru.


"Wah, pak Fai diam-diam sudah punya calon ya pak!", ledek salah seorang guru.


"Pak Marno bisa saja ngeledek saya , emangnya ada yang mau sama saya pak?", kata Fai merendah.


"Kalau saya punya anak gadis, saya udah jodohin sama Pak Fai. Sayangnya anak saya laki-laki semua hahahaha!"


"Pak Mar, bisa saja! Ya udah, saya duluan ya pak Mar."


"Silahkan pak Fai!"


Fai pun menggendong tasnya di bahu yang tidak sakit. Benar, mika sudah ada sini. Tapi, kenapa dia harus bilang kalau dia itu calon istrinya pada office boy itu?


"Mas Fai!", mika berdiri meraih tas Fai.


"Eh, nggak usah. Nggak apa-apa kok. Kan yang sakit sebelah sini."


"Udah, nggak apa-apa. Mika bawain ya!"


Fai hanya pasrah dengan perlakuan Mika. Mereka berdua menuju ke mobil.


"Mau makan di mana mas? Biar kita bisa ngobrol santai?", tanya Mika.


"Sebenarnya aku baru makan tadi siang, Dian memberi ku bekal."


Fai menunjukkan Tupperware berwarna biru itu.


"Oh...!", hanya ucapan itu yang keluar dari mulut dokter cantik itu.


"Baik banget ya mbak Dian!", puji Mika. Fai hanya menyunggingkan senyumnya.


Mobil kini sudah merambat di jalan protokol. Melewati beberapa restoran dan kafe. Tapi, sepertinya Mika belum ada niatan untuk berhenti.


"Memangnya kamu mau makan apa Mika?", tanya Fai dengan terpaksa.


"Nggak tahu mas. Bingung!", jawab mika sambil terus menyetir.


Kini mobil sudah memasuki daerah yang sering Fai dan Dian kunjungi saat masih berpacaran. Bahkan, di tempat itu pula Fai memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan hubungan nya dengan Dian.


"Mika, kamu lihat kedai itu? Tempat itu cukup cozy untuk berbicara santai." Fai menunjuk tempat itu.


"Oke, kita ke sana!"


Mika memarkirkan mobilnya tak jauh dari tempat mereka ingin duduk.


Fai keluar terlebih dulu, menuju bangku favoritnya bersama Dian. Mika pun menyusul dengan membawa kotak p3K nya.


"Sini mas, perban nya di ganti dulu!", kata mika.


"Nggak usah Mika!", kata Fai. Tapi mika kekeh mengambil lengan Fai. Membuka kemeja lengan panjangnya.


Mika melepaskan bekas perbannya kemarin. Yang seharusnya sudah sejak tadi pagi di ganti.


"Sudah selesai kan?!", kata Mika sambil mengakhiri balutannya.

__ADS_1


"Makasih mika. Seharusnya kamu nggak perlu sebaik ini."


"Berbuat baik masa nggak boleh? Apalagi sama calon suami sendiri!", Mika melirik ke manik mata Fai yang membulat. Gadis ini? Kenapa dia bisa seagresif ini? Bahkan hari ini adalah hari ketiganya bertemu dengan dokter cantik ini.


"Mika...!", panggil Fai.


"Kita pesan makanan dan minuman saja dulu ya?", kata mika.


"Iya!", jawab Fai singkat.


"Mas...mas...!", mika melambaikan tangannya memanggil pelayan.


Seorang pelayan pun mengahampiri meja mereka.


"Iya mbak, pesan apa?", tanya si pelayan.


"Saya lemon tea dan kentang goreng saja. Kamu apa mas?", tanya Mika.


Kebetulan apa yang ingin Fai pesan sama dengan yang Mika pesan.


"Samain aja!", kata Fai.


"Baiklah, mohon ditunggu!", pelayan pun meninggalkan bangku mereka.


"Apa yang ingin kamu sampein Mika?", tanya Fai.


"Em...soal perjodohan kita!", kata Mika penuh percaya diri.


"Perjodohan?", tanya Fai. Mengulangi kata yang selama ini ia takuti.


"Iya, semalam papa sudah menjelaskan semuanya sama mika. Tinggal...bagaimana dengan mas Fai dan keluarga Abah!"


"Kamu... menerima perjodohan ini, meski kita baru kenal tiga hari ini?", tanya Fai gemetar.


"Iya. Kenapa tidak. Keluarga kita saling mengenal. Jauh sebelum kita bertemu kemarin."


"Silahkan mbak, mas!", kata pelayan itu ramah.


"Terimakasih!", sahut Mika.


"Hah! Kak Damar! Lima tahun aku mengejar nya. Tapi heheheheh dia sama sekali tak menggubris ku."


Mika menyeruput minumannya. Mengaduk-aduk sedotannya.


"Apa itu artinya kamu menyerah sekarang?", tanya Fai lagi.


"Iya. Aku menyerah mas. Sekuat apa pun aku berusaha untuk mendapatkan hatinya, aku tetap tidak akan bisa mendapatkan nya. Entah, mungkin...dia punya seseorang di masa lalu yang masih membuat nya sendiri sampai saat ini."


Iya, Damar memang memiliki hati hanya untuk Stevia, mika. Kita senasib. Bedanya, aku pernah menjadi bagian kecil dari masa lalu Dian. Sedangkan kamu, kamu tidak ada di daftar riwayat penghuni hati Damar.


"Kamu tahu mas? Untuk pertama kalinya aku melihat kak damar tertawa lebar saat dia bersama mu kemarin?"


"Benarkah? Dia selalu bersikap menyebalkan saat bersama ku atau Aziz."


"iya, aku hanya orang lain kan mas. Tidak tau apa pun tentang kak damar."


"Lalu, kenapa kamu mau menerima perjodohan ini. Kamu saja tak mengenal ku? Kamu kenal Damar bertahun-tahun, tapi tidak tahu sama sekali tentang dia. Apalagi tentang aku Mika?"


"Tentu saja beda mas. Orang tua kita saling mengenal. Abah bisa mencari tahu tentang aku pada papa. Begitu pula sebaliknya, papa mencari tahu tentang kamu pada Abah."


"Mika....!"


"Memang, untuk saat ini mungkin kita merasa ini terlalu tergesa-gesa. Terburu-buru. Tapi... seiring berjalannya waktu, kita akan saling mengenal satu sama lain . Istilah kerennya, pacaran sesudah menikah!"


"Menikah?", pekik Fai. Apa gadis ini sedang melamar ku? Ya Allah, ampuni aku. Pekik Fai dalam hati.

__ADS_1


"Kamu belum tahu apa pun tentang aku Mika. Aku tak sesempurna yang kamu pikirkan!"


"Benarkah?"


"Iya."


"Aku akan sedikit memperkenalkan diriku. Aku Mikayla Hanum Al Umar Abdullah. Usiaku menginjak dua puluh sembilan tahun. Dan...selama hidup ku, aku tidak pernah punya pacar. Jadi...jika kita menikah nanti, tidak akan ada bayang-bayang masa lalu dari pihakku!", kata Mika dengan santainya.


Masyaallah, gadis ini. Fai masih terus membatin.


"Tapi, aku yang punya masa lalu!", kata Fai.


"Mbak Diandra?", tanya Mika.


"Dia seumuran dengan mu Mika!"


"Owh....!", mika kembali meminum lemon tea nya.


"Apa kamu mau berbagi cerita tentang kisah cinta mu bersama mbak Dian?"


"Sebagian saja!"


"Oke. Aku akan mendengar nya!", mika membenarkan posisi duduknya.


"Aku menjalin hubungan dengan Dian lebih dari tiga tahun. Tapi, saat itu...aku belum siap untuk mengajak nya ke jenjang yang lebih serius. Di saat yang bersamaan, Abah memintaku untuk mondok. Dengan berat hati, aku melepas Dian. Sampai akhirnya aku tahu, kalau Aziz, sahabat ku sendiri yang menikah dengan nya."


"Subhanallah! Jodoh itu misteri ya mas, pacarannya sama kamu nikahnya sama sahabat mu!"


"Ya, kids jaman now bilangnya apa? Jagain jodoh orang!", kata Fai tersenyum.


Mas Fai ganteng juga kok, nggak kalah sama Kak Damar. Malahan...lebih ganteng mas Fai. Oopsss...Mika menutup mulutnya sendiri.


"Kenapa mika?", tanya Fai.


"Nggak mas. Nggak apa-apa!", jawab Mika.


"Aku sempat bersitegang dengan Aziz. Aku masih tidak terima dengan keputusan mereka berdua untuk menikah. Aku...merasa...Aziz sudah menikung ku. Tapi, lagi-lagi Dian mematahkan nya . Aku yang sudah meninggalkan Dian, setahun sejak aku memutuskan Dian , Aziz mulai mendekati Dian. Dan...sampai sekarang aku tahu, sama sekali tidak ada celah buat aku masuk ke hati Dian lagi. Aku melihat sendiri, bagaimana mereka saling mencintai."


"Tapi, sekarang... hubungan kalian bertiga terlihat baik?", tanya Mika penasaran.


"Tentu saja, aku hanya berusaha untuk ikhlas Mika. Lagi pula, apa yang bisa ku harapkan? Bukannya melihat orang yang kita cintai bahagia, adalah kebahagian juga untuk kita?"


"Kamu masih mencintai mbak Dian?", tanya Mika lagi.


"Mungkin iya, mungkin saja tidak."


"Kenapa begitu?", tanya Mika.


"Nggak tahu. Ya udah kamu mau anterin aku pulang ke rumah Abah?", tanya Fai.


"Tentu saja!", mika bersemangat.


"Mas...!", panggil mika.


"Terimakasih, sudah memberikan kesempatan untuk kita saling mengenal!", kata Mika.


"Iya. Kita kan calon suami istri!", Fai berjalan mendahului Mika.


Apa katanya? Kita calon suami istri? Itu artinya.....


"Mas Fai!", mika memanggil Fai dengan riangnya.


*******


Ah...Fai memang hobi meledek, tapi kali ini semoga saja Fai benar-benar move on dari Diandra!

__ADS_1


Selanjutnya.... setelah ini, tentu saja keseruan Imah yang akan merubah status lamanya. Dari kemarin masih fokus ke teman-teman Aziz. Imah terlupakan sementara waktu 😝


__ADS_2