
Obrolan kami terus mengalir sampai tiba-tiba Julian datang ke rumah.
"Permisi Bu Dian pak Aziz!", sapa Julian.
"Eh, iya mas Jul."
Julian menundukkan kepalanya dan tersenyum. Lalu wajahnya berpaling sesat mengarah ke Hayu.
"How are you stev?!", sapa Julian.
Hayu hanya tersenyum menanggapi julian.
"Mas Ju ada perlu sama saya?", tanyaku.
"Benar Bu, maaf sebelumnya saya sudah mengganggu waktu anda. Tapi ... seperti nya , pertemuan yang seharusnya berlangsung kemarin harus segeralah di laksanakan Bu Dian Perusahaan benar-benar butuh legalitas anda sebagai CEO baru menggantikan tuan Kendra."
Aku menatap mas Aziz, meminta persetujuan dengannya. Mas Aziz meraih bahuku. Lalu mengangguk, menandakan dia mendukung ku.
"Ya udah,atur aja mas Jul. Kami ikut aja nanti jadwal yang mas Jul berikan!"
"Puji Tuhan, terimakasih Bu Dian! Pak Aziz!", Julian menakupkan kedua tangannya. Dia merasa lega, salah satu tugasnya sudah hampir selesai meski tak sependapat.
"Sana-sama Mas Jul."
"Kalau rapat di adakan besok ,bisa kan bu?", tanya Julian.
"Insyaallah. Bisa kan mas ?", tanyaku pada mas Aziz.
"Insyaallah, mas akan menemani kamu dek!"
"Dan soal kios, saya percaya kan sama Imah dan Hayu ya?!", kata Aziz.
"Siap bos!", sahut Imah dan Hayu kompak.
"Hayu?", tanya Julian.
"Iya Julian. Aku hayu, bukan Stevi yang dulu!", jelas Hayu. Julian menatap perempuan yang pernah ia kagumi di jaman remajanya dulu. Andai dia boleh memilih, dia lebih memilih Hayu yang di jodohkan dengan nya di banding dengan sharen. Makanya, hingga saat ini Julian masih belum setuju untuk menikah dengan Sharen.
"Umi...!", tiba-tiba Faiz memeluk Hayu.
"Eh, kenapa Nak?", hayu mengusap kepala anaknya.
Nak? Batin Julian.
"Faiz laper Mi....!", rengek Faiz.
"Owh, Faiz laper, ayok makan sama Tante", ajakku pada Faiz.
"Nggak mau, Faiz maunya sama Umi."
"Ya udah Mbak Hayu, kita makan aja yuk. Biar mas Jul dan mbak Di ngobrol dulu!", ajak Imah.
Akhirnya mereka pun meninggalkan kios. Tersisa aku , mas Aziz dan Julian. Aziz menangkap sesuatu dari cara pandang Julian kepada Hayu. Jangan-jangan....
"Maaf Bu Dian, apa Stevi...maksud saya...apa dia putra nya Stevi? Stevi sudah menikah?", tanya Julian.
"Iya." Aku menjawab pertanyaan itu dengan satu kata saja. Bagiamana aku akan menjelaskan, aku sendiri tidak tahu ada hubungan apa antara pertanyaan itu dengan keingintahuan Julian.
__ADS_1
Tiba-tiba raut wajah julian berubah.
"Kamu kecewa mas Jul, kalau Hayu sudah memiliki putra?", tanya Aziz. Maksud mas Aziz ngomong kaya gitu kenapa sih?
"Ah, tidak pak Aziz."
"Jangan bohong. Iya, dia memang putranya. Hayu sudah pernikah menikah. Tapi... suaminya sudah meninggal!", kata Aziz menjelaskan.
"Owh...!", Julian mulai mengerti.
Aku mencubit lengan suamiku. Tujuannya apa memberitahu Julian tentang Hayu ?
"Tapi...aku rasa...kamu harus siap bersaing deh Jul!", kata Aziz.
"Mas!", lagi-lagi aku mencubit lengannya.
"Apa sih dek. Sakit!", kata Aziz. Aku mengisyaratkan untuk diam dengan melotot ke mata nya.
"Maksud pak Aziz bersaing? Bersaing Dengan siapa ya? Dan bersaing untuk apa ya?"
"Bersaing untuk mendapatkan perhatian Hayu lah. Kamu harus bersaing dengan dokter Damar!", kata Aziz.
"Kamu tuh ya mas, kalau ngomong asal ngejeplak aja deh. Nggak di ayak dulu! Kebiasaan!"
"Dek, mas kan cuma ngasih tahu aja. Kalau dia harus berani bersaing. Mas kan juga laki Dek, mas tahu gimana tatapan seorang laki-laki kepada wanita yang diinginkannya!", kata Aziz diplomatis.
"Dih...mendingan, mas siapin aja bahan pidato buat besok pagi. Dari pada ngerjain mas Jul!"
"Eh .. siapa yang ngerjain sih dek?!"
"Maaf ya mas Jul. Suami saya emang suka gitu."
"Jangan di dengarkan lah mas Jul!"
'' Tidak apa-apa Bu Dian. Kalau begitu, saya permisi ya Bu. Nanti saya atur pertemuan nya jam berapa."
"Siap mas Jul!"
Julian pun undur diri dari kios kami. Aku kembali menginterogasi mas Aziz.
"Kamu tuh ya mas....!"
"Dek, Julian keliatan banget kok kalau dia punya rasa sama Hayu."
"Jangan asal nebak. Julian udah bertunangan dengan kakak sepupunya Hayu. Jangan bikin ulah dong mas."
"Eh...kamu mah dek, di bilangin nggak percaya. Liat aja tadi kan jawaban mas Jul soal 'bersaing' dia seperti apa nanggepin nya?"
"Tapi itu bukan urusan kita mas. Kita sama Julian kan sebatas partner kerja. Jangan campuri urusan pribadinya."
"Justru itu dek, dia kerja sama kita. Hayu juga dekat sama kita, lalu damar? Damar kan juga sahabat kita. Jadi semua erat kaitannya kan?"
"Aku makin nggak paham sama arah omongan mu mas!"
"Dek, mas hanya ingin Julian profesional aja. Dia bisa aja kan emang menaruh hati sama Hayu? Dan...kita juga tahu seperti apa Damar selama ini ke Hayu? Mas bukan bermaksud untuk berat sebelah. Mereka kan sama-sama memiliki hak buat mendekati Hayu.,"
"Mboh...mas..mas...peyan makin ngawur!", aku menimpuk kepalanya dengan kertas yang ada di hadapanku.
__ADS_1
"Wes ..wes... ketularan Imah Iki....!", kata Aziz. Kami berdua tertawa bersama-sama.
"Mas, besok beneran temenin aku lho ya. Ajarin aku harus ngomong apa. Terus terang, aku bingung kalau menghadapi orang banyak."
"Iya, mas selalu menemani kamu dek. Tapi , masa menghadapi rekan bisnis aja bingung sih, ngadepin pedesnya mulut netijen aja kamu nyantai kok!"
"Aihs...atuh beda babang tamvan! Ini kan yang di hadapin orang-orang yang berpengalaman semua. Sedangkan aku? Aku cuma ibu rumah tangga yang biasa berkutat dengan dapur sumur kasur."
"Emang kita punya sumur?", ledek Aziz.
"Mas...ih...nggak lucu deh!"
"Hahaha iya...iya... denger sayang, kamu itu pinter. Kamu pasti bisa kok. Kalau sudah terbiasa, mungkin kamu bakal lebih banyak bicara di depan semua orang. Mas akan selalu mendukung mu!"
"Owh...so suuuuiiiiitttt...suamikuhhh!"
"Kesambet apa ya kamu dek!?"
"Ora lucu blas mas!", kataku ketus.
Ditengah candaan kami, ponsel mas Aziz berdering.
"Siapa mas?"
"Mbak Rani, dari butik Sunter."
Mas Aziz pun mengangkat nya. Aku mendengar saja apa yang mas Aziz obrolkan dengan mbak Rani, orang kepercayaan Mama Farah.
"Ada masalah mas?"
"Ah, iya. Sepertinya jadwalnya bentrok deh sama rapat di kantor kamu."
"Kantor kita mas!!!", kataku geregetan.
"Iya, kantor kita sayang!", mas Aziz mengusap kepalaku.
"Emang butik Sunter kenapa?", tanyaku penasaran.
"Kan mama masih di Surabaya, mas di suruh ngecek aja sih. Butik yang di Bogor, di tanah Abang sama di Serpong udah ngumpulin laporannya di Sunter semua."
"Owh...butuh bantuan ku nggak mas?"
"Ya...boleh deh."
"Kita tukeran tugas aja mas. Aku yang ngurusin butik, kamu yang ngurus DWP , gimana?", tanya ku girang.
"Kita ngurusin sama-sama!", kata Aziz tegas. Lalu dia mengecup kening ku.
"Kamu partner mas Dek!"
Kami berdua saling berpelukan. Memberi dukungan satu sama lain demi masa depan keluarga kami.
*****
Bismillah.
Mohon doa dan dukungannya pemirsah, mamak mau mencoba hal baru. Insyaallah, karya mamak yang ini ikutan Crazy up. mohon dukungannya ya !!! ✌️✌️🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Terimakasih sebelumnya 🤗🤗🤗🤗🤗 meskipun tulisan mamak masih receh begini, tapi kalian bikin mamak semangat biar selalu update. 😁😁😁😁✌️✌️