
Melipir ke Mika dikit ✌️
*****
[Sibuk Kak?]
Mika baru saja mengirim chat kepada damar.
[Ga. Knp mika?]
Damar membalas pesan mika yang belum dikirim lebih dari lima menit itu.
[Bisa minta waktu nya bentar?]
Damar yang baru saja merebahkan diri di kasur pun duduk bersandar di kepala ranjang.
[Mau telpon?]
[Nggak kak, chat aja]
[Ok, kakak santai. Ada apa?]
[Mika mau nikah Kak]
Damar menyunggingkan senyum nya.
[Iya ,kakak tahu. Kan kemarin aku juga hadir di acara lamaran kamu. Lupa?]
[Aku akan nikah lusa kak]
Damar membenarkan posisi duduknya. Lusa? Batin Damar.
[Mendadak sekali?]
[Iya kak. Papa dan Abah yang minta secepatnya]
[Ya Alhamdulillah dong Mika]
[Kamu senang kak?]
[Iya dong, masa temen sendiri nikah nggak seneng?]
[Begitu ya]
[Ya. Kamu sama Fai kan temen aku mika!]
[Hahaha 😆😆😆😆aku lupa kak, kita 'cuma" teman]
Maksudmu apa mika? Bukannya kemarin kita sudah sepakat???
[Mika...kamu pasti bisa bahagia dengan Fai ]
[Insyaallah kak]
[Ya sudah, kamu istirahat saja!]
[Apa kak damar sama sekali tidak ada rasa padaku? Hanya ada nama Stevi di hatimu Kak?]
[Mika, kita sudah membicarakannya waktu itu.]
[Bagaimana kalau ternyata aku belum bisa sepenuhnya melupakan mu?]
__ADS_1
[Kamu nggak bakal lupa sama aku mika. Aku rekan kerjamu di rumah sakit, aku sahabat calon suami mu]
Kak damar benar. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya jika kami saja masih intens bertemu.
[Apa aku salah kalau aku masih punya perasaan padamu kak?]
[Salah. Perasaan mu , seharusnya buat Fai. Calon imammu]
[Ya sudahlah kak. Seperti nya m
emang kak damar sama sekali gak punya rasa apa-apa sama mika dari dulu]
[Siapa bilang]
????? Apa maksud nya ini? Jangan kau tarik ulir hatiku Kak Damar.
[Maksudnya?]
[Kamu sudah kak damar anggap adik sendiri. Percaya lah, semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Coba, belajar dari Diandra Mika]
Usai membaca chat nya yang terakhir, aku jadi berpikir. Jika mas Aziz dan mas Fai bisa tetap bersahabat, kenapa aku tidak?
Ayolah hati, bisa kah kamu membuka pintu mu untuk orang lain?
Tapi.... kejadian tadi sungguh di luar kendali. Kami hampir saja berciuman.
Ya Allah.....andai tadi tidak ada Papa pasti udah terjadi tuh.
Mika menakupkan telapak tangannya di wajahnya. Usai batal berciuman dengan Fai, dia malah mengecup pipi sang calon suami.
Apa benar aku sudah jatuh cinta sama mas Fai ya? Lalu, perasaan ku ke kak Damar? Tapi masa iya sih?
Ditengah lamunan ku....
"Mika, boleh papa masuk?"
"Masuk aja Pa."
Papa pun masuk ke kamarku.
"Bagaimana, kamu setuju kan keputusan Papa?"
Aku menghela nafasku .
"Memangnya mika bisa nolak Pa?"
"Sayangnya nggak bisa Mika."
"Terus, kenapa papa nanya?"
"Iseng aja!", sahut papa.
"Ih... papa, serius. Nikah itu nggak main-main lho pa."
"Harusnya papa yang bilang kaya begitu ke kamu."
"owh ...iya ya Pa."
"Insyaallah...Rifai lelaki yang tepat buat kamu Nak!" papa mengusap kepalaku.
"Insyaallah Pa."
__ADS_1
"Lekas berikan cucu buat papa ya Mika!", kata papa sambil berdiri hendak keluar kamarku. Kirain mau ngobrol penting apa.
"Nikah aja belum Pa, jangan ngomongin cucu dong!", teriakku. Papa hanya mengacungkan ibu jarinya.
Cucu? Hahah bisa aja Papa. Tapi... sepertinya bukan ide yang buruk. Kalau sudah sah kan boleh-boleh aja lah ya....
Mas Fai...gimana? Emang dia mau secepatnya ngasih cucu buat Abah sama Papa?
Apa kata dia nanti? Aku di bilang cewe agresif lagi dong?
Ah ... bayanginnya aja udah malu, gimana mau ituhhhh....
Mika menutup wajahnya dengan bantal.
*****
[Hallo???]
[Iya hallo?]
[Mas Julian?]
Mas Julian? Ah, hanya Bu bos yang memanggil ku seperti itu.
[Iya Bu Dian, ada yang bisa saya bantu?]
[Mas Jul, bisa kan ya pertemuan nya di reschedlue? Saya ada acara keluarga mas?]
[Jadi, ibu sudah buat keputusan untuk menghadiri pertemuan Bu?]
[Insyaallah mas Jul]
Aduh, kenapa Bu bos manggil gue gitu sih, batin Julian.
[Baiklah Bu, nanti saya akan menginformasikan lagi kapan rapat dewan akan diselenggarakan]
[Em... kira-kira apa ada yang harus saya pelajari sebelum saya ke sana mas Jul?]
[Banyak Bu, nanti saya antar lagi dokumen yang ibu perlu kan.]
[Eh, nggak usah. Besok aja saya ke kantor]
[Benar Bu?]
[Iya, besok saya dan suami ke sana.]
[Baik, Bu.]
[Ya udah mas Jul, makasihi ya]
[Sama-sama Bu Dian]
Julian kembali menjatuhkan bobot nya di kursi.
Beneran bos nya kaya begini? Biasanya juga pak Kendra yang sebenarnya baik hati terlihat berwibawa di depan bawahannya. Sedang Bu Dian? Aku seperti sedang bicara dengan teman sendiri, terlalu santai.
Semoga perusahaan ini berkembang pesat oleh orang yang tepat, seperti Bu Dian. Tingkah lakunya perlu diperhitungkan. Segala sesuatunya di pikir kan secara matang, tidak terburu-buru.
Meskipun harta keluarga nya melimpah, tapi dia tetap sederhana bersama keluarga kecilnya.
Selamat datang di DWP Group Bu Diandra Saputri.
__ADS_1
Julian merasa akan ada gebrakan baru di perusahaan ini.