
Imah dan Dadan pulang tengah hari. Diaz sudah tertidur di kasur lantainya. Begitu pula mas Aziz yang sudah tertidur pulas di dalam kamar.
Aku meminta teh Neng untuk istirahat juga karena ia pasti capek dari pagi mengurus Diaz dan juga mengurus rumah.
Dari pada bingung mau apa, aku pun berjalan santai menemui mbak Hayu di kios.
"Mbak...!", sapaku. Mba Hayu pun menengok.
"Lho, Di? Kamu ke sini? Mas Aziz, Diaz???"
"Lagi pada tidur mbak habis Imah pulang."
"Kenapa kamu nggak ikut istirahat aja?"
"Nggak ngantuk mba Hayu. Tadi abis solat subuh, aku sempet tidur."
"Kamu udah solat, puasa juga?"
"Insyaallah mba. Masa nifas ku udah beres juga!"
"Owh...ya udah, kamu jangan capek-capek! Ada yang harus di urusin lho....!"
"Iya mbak Hayu...santai aja lah, masih bisa ke pegang kok, semuanya aman terkendali!"
"Ya udah, gimana baiknya kamu deh?!"
Obrolan kami berhenti karena tiba-tiba kios ramai pembeli. Hingga menjelang ashar, pembeli datang silih berganti. Setelah sepi pembeli , aku baru balik ke rumah.
"Lho, kamu udah bangun mas?", tanyaku saat masuk ke kamar dan mas Aziz sudah duduk di kursi roda nya. Dia benar-benar sudah berusaha dan kemajuan yang signifikan.
"Udah dong dek!", jawabnya riang.
Aku senang melihat nya semangat begitu. Tidak ada wajah putus asa seperti tadi pagi. Aku duduk di hadapannya sambil menggenggam kedua tangannya.
"Kamu punya banyak kemajuan mas, nanti malam ku beri hadiah!",kataku pelan. Mas Aziz tersenyum tipis.
Aku tahu apa maksud dari kata hadiah dari mu dek, tapi aku sadar diri. Aku takut tak bisa memberikan mu kepuasan seperti selama ini, batin Aziz.
"Hadiah yang seperti apa?", tanya Aziz.
"Hadiah apa ya? Adalah pokok nya."
"Baiklah, mas tunggu hadiah dari mu dek!"
"Iya, semoga hadiah dari ku ini sangat berkesan untuk mu ya mas!"
"Heummm....emang hadiah nya apaan sih? Mas penasaran deh!"
"Nanti juga tahu! Eh, udah azan ashar. Mandi yuk mas? Abis itu Solat ya!"
Aziz mengangguk patuh.
.
.
Teh neneng sudah pulang sejak jam lima tadi. Sekarang aku dan mas Aziz menemani Diaz bermain di lantai seperti biasanya. Menu makan malam sekaligus buka puasa untuk ku sudah siap di meja makan. Ditengah canda kami bertiga, tiba-tiba ada yang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum!", Fai dan Mika memberi salam lalu masuk dari pintu dapur.
"Walaikumsalam!", jawab kami berdua.
"Sepertinya pintu ruang tamu kita pindah ke Siti aja ya mas. Kebanyakan tamu Dateng masuk dari dapur deh!", sindirku.
"Maap Di, habisnya...kan ada yang bilang katanya ini udah kaya rumah kedua suamiku, ya udah...lebih aman lewat dapur kan?", kata Mika lalu cipika-cipiki dengan ku. Lalu kami terkekeh bersama.
Fai tak ikut menjawab candaan keduanya. Justru pria tampan itu menghampiri Aziz.
"Gimana keadaan Lo sekarang?"
"Alhamdulillah, seperti yang Lo liat!", jawab Aziz santai.
"Syukurlah kalo gitu."
"Perasaan gue nggak enak deh, hawa-hawa nya ada yang mau ikut bukber di sini deh dek!", sindir Aziz dengan suara yang sedikit kencang.
"Tau aja Lo!", Fai menepuk bahu sahabatnya. Dengan lirikan tajam, Aziz menatap mantan rivalnya itu.
"Sakit *ego!", kata Aziz manyun.
"Maap....maap....!", kata Fai terkekeh.
Di sisi lain, Mika sedang bercanda dengan Diaz. Diaz terlihat begitu nyaman dengan Mika.
"Ehem! Udah ngasih kode tuh Fa!", kata Aziz.
Mika yang merasa tersindir pun menengok ke Aziz.
"Usaha mah udah getol mas, tinggal nunggu hasilnya aja. Iya nggak mas?", Mika mengerlingkan matanya ke Fai.
"Iya dong sayang....sehari tiga kali udah kaya minum obat malahan!", kata Fai sambil merangkul Mika yang sedang menggendong Diaz. Tapi justru Diaz menyingkirkan tangan Fai dari bahu Mika.
"Awahhhh....!", kata Diaz.
"Awas....katanya mas....!", kata Mika.
"Eh ...enak aja! Diaz yang awas! Papa mau sama mama Mika", kata Fai menggoda Diaz.
"Awaahh!", teriak Diaz sambil mendorong tangan Fai lagi.
__ADS_1
"Hhhhiiiihhh!", Fai mencium gemas bayi itu.
"Mas ,kasian jangan kencang-kencang dong ciumnya!",kata Mika.
"Tau nih, kaya nggak habis di kasih jatah aja semalaman!",kata Aziz.
"Rese banget sih kamu Diaz! Dulu bunda mu di rebut sama ayah, sekarang mama mika mau kamu ambil juga dari papa heum????!", sahut Fai kesal.
Aku melotot seketika.
"Mas!", pekik Mika sambil mencubit pinggang suaminya.
"Awwww ....sakit sayang!", kata Fai.
"Lagian tuh mulut kok gitu amat sih ngomong nya!", aku ikut komen sambil menyiapkan makanan di atas meja untuk berbuka puasa yang sebentar lagi.
"Tau noh...nggak tobat-tobat juga tuh suami mu Mika!", kata Aziz.
"Dih....Lo juga Ziz! Gue kan cuma ngomong fakta!", kata Fai nggak mau kalah.
"Wes....wes....nggak denger tuh, udah azan magrib. Buka puasa dulu, debat nya di lanjutin nanti abis solat magrib!", kataku.
Mereka semua pun duduk di bangku meja makan.
Berhubung mas Aziz nggak puasa, dia memangku Diaz sambil menyuapi makanan yang ada di atas meja.
Mas Aziz menyuapi Diaz ,aku menyuapi mas Aziz dan sesekali menyuap ke mulutku sendiri.
Mika dan Fai tersenyum melihat keromantisan sahabatnya itu.
"Sayang...mau di suapin juga kaya Aziz dong...!", rengek Fai.
"Aawahhhh!", pekik Diaz tiba-tiba ingin minta pindah ke mika dengan sedikit meronta. Mika pun mengambil Diaz dari pangkuan Aziz.
"Sini sayang, mau sama Mama?", tanya Mika.
Lalu Mika telaten menyuapi beberapa cemilan untuk Diaz.
"Diaz ih! Kan papa yang minta di suapin Mama mika. Kenapa kamu reseh sih!", kata Fai pura marah.
"Diaz kenapa Nak, kamu kok sentimen banget sama om Fai?", tanyaku.
"Papa awaahhh!", sahut Diaz.
Aziz terkekeh mendengar ocehan Diaz.
"Anak pinter!", kata Aziz.
Aku, mas Aziz, dan Mika tersenyum tapi tidak dengan mas Fai.
"Udah, lanjutin makan dulu abis itu solat jamaah! Diaz sama bunda yuk, mama mika mau mam dulu!"
Diaz pun menurut padaku. Biar Mika menyelesaikan makanan nya dulu.
"Kapan Lo kontrol Ziz?", tanya Fai yang sedikit menjauh dari ku dan Diaz karena dia merokok. Aku pikir mas Fai sudah tak merokok.
"Kapan dek?", tanya mas Aziz padaku.
"Minggu depan mas!", sahutku yang sedang duduk di bawah dengan Diaz dan Mika.
"Apa harus ke Revan lagi? Nggak kan?", tanya Fai.
"Sementara ya ke Revan dulu mas, lihat perkembangan nya gimana. Nanti kalau memang perlu, kita cari rumah sakit dan dokter lain!", kataku. Seperti nya aku tahu kekhawatiran Fai melihat perseteruan nya dengan Revan di rumah sakit beberapa waktu itu.
"Nanti aku cari tahu sama dokter syaraf dan ortopedi deh mas!", kata Mika.
"Iya sayang, coba kamu cariin dokter yang terbaik. Semoga aja nggak harus ketemu sama dokter somplak itu!", kata Fai sedikit kesal.
"Mas...jangan sembarangan dong ah. Istrimu juga dokter lho....!", kataku.
"Ya maap sayang...!", kata Fai memelas.
Kami kembali bercanda saling menceritakan banyak hal. Tak lama kemudian terdengar hujan cukup deras.
"Yah, ujan sayang!", kata Mika sambil mengintip di jendela.
"Alhamdulillah lah dek. Allohuma shoyiban nafi'an!", kata Fai.
"Aamiin....!", sahut ku, Mika dan mas Aziz.
"Ya udah Fa, kalian nginep aja di sini!", kata Aziz. Aku sedikit terkejut dibuat nya. Bukan keberatan, tapi aku kan punya rencana yang sudah ku buat dari subuh tadi.
"Boleh Di, kami nginep?", tanya Fai.
"Ya...ya boleh lah. Lagian hujan deres juga. Eh, udah azan isya tuh solat isya sekalian tarawih yuk!", kataku dengan suara sedikit bergetar.
Fai terlebih dulu bangkit dari duduk nya ,diikuti oleh Mika. Saat aku beranjak mas Aziz meraih tanganku.
"Sayang! Kamu nggak keberatan kan mereka nginep?", tanya mas Aziz.
"Nggak!", kataku sambil berusaha beranjak.
"Sayang....!", panggil nya lirih tanpa melepaskan pergelangan tangan ku.
"Apa? Aku mau solat!", kataku sedikit ketus.
"Kamu marah?"
"Nggak, ngapain marah?"
__ADS_1
"Ya kali aja kamu marah!"
"Nggak mas!", aku melepaskan tangannya dari pergelangan ku.
"Anterin mas wudu!", katanya saat aku sudah memunggungi nya. Aku pun menghela nafas.
"Iya!", aku pun berbalik badan. Lalu mendorong kursi roda nya menuju kamar mandi. Diaz sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu.
Usai berwudhu, aku menyiapkan kain sarung dan songkok untuk mas Aziz. Suamiku masih tetap tampan tak kurang sedikitpun kadar ketampanan nya.
Fai sudah bersiap di posisinya sebagai imam. Mas Aziz duduk di kursi roda nya di belakang sebelah kanan. Sedangkan aku dan mika di belakang sebelah kiri.
Solat isya dan solat tarawih pun selesai sekitar pukul setengah sembilan.
"Mas, minum obat dulu. Habis itu istirahat ya?!", pintaku.
"Minum obat di kamar aja ya!", katanya.
"Iya, obatnya juga di kamar!"
"Fa, Mika kalian juga istirahat aja di kamar. Aku udah beresin kok!", kata ku.
"Ya ,kami ke kamar deh. Mau bikin adik buat Diaz!", kata Fai jail.
"Anggap aja lagi bulan madu, beda kamar doang!", sahutku.
Mika mencubit lengan suaminya.
"Ih, kamu tub sayang seneng banget nyubit deh. Kdrt tuh namanya. Mas laporin sama kak Seto ntar!", kata Fai besungut-sungut.
"Dih, kak Seto? Kenapa nggak sekalian aja Budi Waseso?", tanya Mika.
"Kok buwas sih? Emang mas konsumsi narkoba!"
"Lha emang mas ini anak-anak lapor nya ke kak Seto!"
"Udah....udah...berdua sama konyol nya! Mending kalian masuk kamar aja sana!", kataku sambil mengibaskan tanganku.
"sayang, kita diusir bunda....?", rengek Fai ke Mika. Mika malah cengengesan.
"Kayanya kita mendingan ke kamar beneran mas. Kamu udah mulai manja. Keliatan maunya!", kata Mika menggandeng tangan suaminya.
Aku menggeleng melihat kekompakan mereka berdua. Sedangkan aku sendiri mendorong kursi roda ke kamar kami.
Diaz ku letakan di kasur busa yang cukup tebal. Dia sudah tidak bisa ku tidur kan di box. Tidurnya sudah seperti kipas angin, muter-muter ke segala arah.
Aku mengambil obat untuk mas Aziz. Ada beberapa yang langsung di minum mas Aziz, tapi ada yang di tak mau meminumnya.
"Satu lagi mas?!", pintaku. Mas Aziz menggeleng.
"Yang itu bikin mas ngantuk. Mas kan mau menagih hadiah dari kamu dek!", jawabnya memelas.
"Kirain nggak jadi, kan ada Mas Fa'i sama mika".
"Jadilah sayang...!", mas Aziz menggelayut manja ke lengan ku.
"Ya udah, sebentar. Aku ganti baju dulu!", kataku meninggalkan mas Aziz ke kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, mas Aziz sudah pindah ke ranjangnya sambil bersandar ke headboard ranjang.
Aku keluar dari kamar mandi memakai daster tanpa lengan dengan tali kecil dan panjang diatas lutut.
Aziz menelan salivanya melihat sang istri memakai pakaian seminim itu. Pantas saja dia bilang 'hadiah', ternyata pemandangan ini yang di maksud.
Aku mendekati mas Aziz lalu duduk di pangkuan nya. Mas tersenyum tipis, tanpa aba-aba dia mendaratkan kecupannya di bibir. Dari kecupan berakhir Lum*Tan yang menggebu. Aku dan mas Aziz sama-sama sangat merindukan momen ini.
Usai puas saling menyesap, mas Aziz menatap ku sendu.
"Apa aku bisa mem**skan mu lagi dek?", tanya nya ragu-ragu.
"Bisa!", kataku meyakinkan. Aku pun memulai memberikan stimulasi ke area sensitif nya. Dan benar saja. Everything is can be okay!
Entah saking rindunya ,entah saking cintanya kami begitu menggebu melakukan nya meskipun aku yang mengambil kendali. Setidaknya dia tidak lagi merasa rendah diri, dia masih bisa melakukannya meski tak segarang dulu. Cukup satu sesi malam ini.
Aku merebahkan diri sambil memeluk tubuh polosnya yang tertutup selimut.
"Makasih sayang!", mas Aziz mengecup puncak kepalaku berulang.
"Masih mau lagi nggak?", tanyaku mendongakkan kepala ku ke wajahnya hampir menyentuh lehernya lagi.
"Mau, tapi bentar lagi ya?", dia memandang ku dengan penuh cinta.
"Heheheh nggak mas, becanda kok. Besok lagi kan bisa?"
"Nggak, mas mau lagi nanti sebelum sahur. Mas suka cara kamu barusan. Mas nggak nyangka kamu sepintar ini dek. Selama ini mas nggak tahu sih, tahu gini mah dari dulu mas juga mau!",katanya mengusap kepalaku.
"Hehehe baru belajar mas!"
"Ya udah, kamu istirahat deh!"
"Iya, aku ke kamar mandi dulu ya?"
Mas Aziz mengangguk pelan.
Aku pun beranjak ke kamar mandi. Membersihkan diri dari sisa pertempuran kami barusan. Aku tersenyum di balik pintu kamar mandi, aku sendiri tak menyangka aku bisa seperti ini. Seperti seorang ja*ang, yang mahir merayu korbannya. Tapi aku kan halal bagi mas Aziz, begitu sebaliknya.
Hampir tengah malam, aku pun kembali ke tempat tidur ku. Aku tidur di pelukan mas Aziz, kami bisa tidur dengan tenang setelah sama-sama merasakan hangat nya cinta kami beberapa menit yang lalu.
****
__ADS_1
Udah nggak puasa ngga apa-apa kan? nggak terlalu vulgar juga kan? Boleh dikit lah ya....semoga di acc sama Mpok Mimin.
Makasih ya ....