
"Maaf ya mas, kita sarapan menjelang makan siang."
"Nggak apa-apa lah dek!"
Mas Aziz meneruskan sarapan sekaligus makan siangnya. Diaz berada dalam gendongan ku.
"Oh iya mas, kita belum ngasih kado buat Imah lho!"
"Iya dek. Kado apaan ya?"
"Sesuatu yang Imah belum punya mungkin?"
"Apa? Dadan sudah memiliki semuanya??!", seru Aziz. Sekarang mas Aziz menghadap ku yang sedang menimang Diaz.
"Kalau bulan madu gimana. Maksudnya tiket bulan madu?", tanyaku.
"Mahal dek!"
"Mas....??!!"
"Bukannya mas mau pelit dek. Kamu kan tahu, usaha kita gimana?"
"Aku masih punya tabungan kok!"
"Jangan dek. Itu uang kamu."
"Mas...ini buat adikmu sendiri lho."
"Iya mas tahu...tapi...."
Tok....tok...tok...
"Ada tamu dek! Mas buka pintu dulu!"
Mas Aziz pun meninggalkan ruang makan.
Ceklek......
"Permisi, selamat siang?", sapa seseorang.
"Selamat siang! Maaf, cari siapa ya?", tanya Aziz.
"Saya Julian pak Aziz, orangnya almarhum Pak Kendra."
"Owh...iya, maaf saya lupa. Silahkan masuk!!", Aziz mempersilahkan Julian masuk.
"Silahkan duduk, saya panggil istri saya sebentar." Julian pun mengangguk. Sedangkan Aziz menuju kamar kami.
"Dek, di luar ada Julian. Orangnya om kendra."
"Oh..mau apa dia ya mas?", tanyaku. Mas Aziz mengangkat kedua bahunya.
"Ya dah, kita temui aja sama-sama."
Kami pun ke ruang tamu bersama-sama. Disana Julian masih terlihat duduk dengan tenang.
"Selamat siang nyonya Diandra!", kata Julian sambil berdiri di depan sofanya.
"Jangan panggil nyonya, kaya pasien di rumah sakit aja mas Julian. Panggil saja Diandra."
"Maaf nyonya, tapi itu tidak sopan."
Aku menatap suamiku. Mas Aziz malah tersenyum.
"oh...ya udah, ibu aja. Bu Dian. Lebih enak di dengar kan?", aku memberikan penawaran. Julian pun akhirnya mengiyakan atasan nya tersebut.
"Baik Bu...Dian. Tujuan saya kemari sebenarnya ingin menyampaikan jika lusa, akan di adakan pertemuan dengan dewan direksi serta pemilik saham di DWP group ,Bu Dian!"
"Lalu?"
__ADS_1
"Anda sebagai Dirut dari DWP group di harapkan kehadirannya di rapat tersebut Bu dian."
Aku menghela nafas. Kaya Cinderella aja sih , mendadak jadi orang kaya.
"Saya harus datang? Bukankah ada kamu mas Julian yang bisa mewakili seperti almarhum om Kendra?"
"Maaf Bu. Saya tidak punya wewenang. Hanya anda dan tuan Kendra yang berkah atas wewenang tersebut."
Aku harus apa? Aku memang pernah bekerja di sana, sebagi staf setelah magang. Tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk mengurusi perusahaan warisan orang tuaku itu.
"Bu dian, saya akan menjadi asisten Bu Dian. Semua yang berhubungan dengan perusahaan, bisa anda tanyakan ke saya", jelas Julian.
"Saya cuma ibu rumah tangga mas Jul, saya tidak tahu apa-apa tentang perusahaan itu!"
Julian pun mengulas senyumnya.
"Saya akan membantu anda Bu Dian. Dan sepertinya, suami ibu pun bisa membantu anda. Saya rasa, pengalaman magang di kantor ayah anda sudah cukup menjelaskan apa yang harus anda lakukan Bu Dian."
Ah, aku lupa. Pasti dia sudah menyelidiki segala sesuatunya.
"Gimana mas?", tanyaku pada mas Aziz.
"Mas mendukung apa pun keputusan mu dek."
Mas Aziz mengusap bahuku.
"Bisakah saya berunding dengan suami saya dulu Jul? Saya harap, jangan menentukan hari nya untuk dua hari ke depan. Beri saya waktu, bisa?"
Julian sempat berpikir agak lama. Tapi, gimana pun juga nyonya Dian kan bosnya?? So... harusnya para bawahan yang nurut ke dia, kenapa jadi dia yang harus ngikutin jadwal para bawahan nya? Batin Julian.
"Baiklah Bu. Ini kartu nama saya. Jika ada informasi apa pun, silahkan hubungi saya di nomor ini." Julian menyerahkan kartu namanya.
Aku pun mengambilnya.
"Baiklah Bu Dian ,pak Aziz. Saya permisi kembali ke kantor. Masih ada yang harus saya kerjakan. Permisi, selamat siang!"
Julian pun keluar dari rumah bosnya.
Baru kali ini gue di panggil mas, tampang gue kurang bule kali ya? Batin Julian sambil cengengesan. Dia sadar, saat ini yang benar-benar menjadi bosnya adalah orang yang terlahir kaya hanya saja terbiasa sederhana. Ah, runyam. Julian harus banyak beradaptasi dan mengikuti gaya sang bos barunya.
"Mas....!"
"Bagiamana menurut mu?"
"Apa nya?"
"Jujur...aku nggak suka begini mas. Aku lebih suka kehidupan sehari-hari kita yang biasanya. Aku ...ingin jadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Mengurus anak kita, melayani kebutuhan mu. Aku...aku tidak ingin di Bebani dengan urusan kantor mas."
Mas Aziz merengkuh bahuku.
"Kamu masih bisa melakukannya kan?"
"Mas...aku tahu, di luar sana banyak wanita karir yang juga jadi ibu sekaligus istri tangguh di rumah. Tapi...aku benar-benar ingin mengurus kalian saja."
"Dek. Kamu kenapa mendadak jadi egois seperti ini?"
"Egois?"
"Heem. Kamu tahu, berapa orang yang bekerja di perusahaan mu itu?"
"Tidak mas. Aku tidak tahu."
Mas Aziz mengusap wajahnya. Dia paham, aku memang sama sekali tidak tahu.
"Tapi, kamu bisa mendapatkan perkiraan nya kan? Nggak mungkin kan cuma sepuluh dua puluh orang?"
"Ya...iya...sih, dulu waktu aku bekerja di sana satu divisi saja sudah lebih dari...."
"Nah, itu kamu tahu."
__ADS_1
"Maksud kamu apa mas?"
"Perusahaan mu itu pasti tidak stabil setelah om Kendra meninggal. Makanya, Julian dan dewan direksi ingin mengadakan pertemuan dengan mu. Karena apa? Nasib beberapa karyawan dan keluarganya ada yang bergantung dari perusahaan itu."
Mas Aziz masih mengusap-usap kepala ku. Iya , benar. Mas Aziz benar. Kenapa aku mendadak egois?
"Tapi aku bukan Cinderella mas. Dari gadis biasa tiba-tiba jadi seorang pemimpin di perusahaan itu!"
"Yang bilang kamu Cinderella juga siapa dek. Kamu Diandraku!", mas Aziz menowel hidungku.
"Datanglah ke sana. Kamu ikuti saja prosesnya."
Aku jadi punya ide.
"Oke! Tapi ada syaratnya mas!!"
"Apa?"
"Kamu yang menggantikan aku!"
Mas Aziz terperanjat.
"Mana ada begitu dek!"
"Nggak ada. Makanya aku adain!"
"Sayang....!"
"Pppstttt....kamu tidak boleh menolak nya mas. Kalau tidak....!?"
"Kalau tidak apa?"
"Jangan harap kamu bisa mendapatkan hakmu !", kataku menyeringai.
"Apaan sih, nggak adil. Nggak ada urusan nya lah dek!"
"Ada, kan aku yang ngurusin."
"Dek....!"
"Mas...aku harap kita saling mendukung. Kamu selalu disamping ku. Aku tidak mau terlalu mendominasi dalam hubungan rumah tangga kita. Kita ini partner mas."
"Sayang, dengar mas. Milikku, ada hak mu. Tapi milikmu tetap lah milikmu Dek!"
"Apa mas khawatir kalau...kalau...mas bakal tergoda oleh 'Lili' yang lain saat memegang kendali perusahaan kita?", tanyaku sambil memicingkan mataku.
"Pikiran mu sejauh itu sih dek! Itu perusahaan mu."
"Milik kita mas!"
"Baiklah....baiklah...!", akhirnya Aziz menyerah.
Aku pun memeluk suami ku tersayang. Adegan melow tadi pagi seperti nya tidak berimbas saat ini.
Kenapa aku jadi merasa paling 'susah' di sini, di antara ketiga sahabat ku?
Dadan, punya dua warung soto mie. Fai, pemilik showroom, armada, pewaris yayasan dan perusahaan abahnya. Damar, dokter spesialis. Sedang gue sendiri? Gue kang pulsa 🤔.
Meskipun butik mama nanti nya untuk ku, aku lebih bangga dengan pencapaianku sendiri.
Tapi.... sekarang? Istri ku aja ternyata lebih 'beruang' di banding aku????
Aziz mengusap pelipisnya yang sedikit cenut-cenut.
****
Aziz nggak tahu rasanya kali nggak punya duit???
Cenat cenutnya melebihi cenat cenut mu Ziz 🤔
__ADS_1