Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Hukuman


__ADS_3

" Mbak Di, panggil Imah?", tanya imah usai ia duduk di sofa ruang keluarga.


"Kenapa kamu bersekongkol dengan mas mu Mah?"


"Sekongkol apa sih mbak?", Imah menatap mas nya yang sedang gelisah itu.


"Kamu mau menutupi kebusukan mas mu? Mau merahasiakan semuanya dari ku Mah?"


"Mbak Dian ngomong opo toh?"


"Video mas Aziz dengan Lili!"


Wajah Imah berubah pias.


"Mbak...!"


"Aku kecewa sama kamu mah. Kamu udah aku anggap adikku sendiri. Tapi kamu malah mendukung mas mu yang jelas-jelas sudah berbuat salah."


"Bukan begitu mbak...Imah hanya tidak ingin kalau mbak Di bakal ... seperti ini jika lihat video itu. Tapi mbak, di video itu mas Aziz sedang tertidur dan diciumi oleh Lili. mas Aziz nggak ngapa-ngapain."


"Dengan atau melihat video itu , kamu lihat sekarang seperti apa emosiku?"


Imah mendekati ku. Meraih kedua tanganku.


"Mbak Dian itu sudah seperti kakak kandung Imah sendiri mbak. Imah nggak pengen mbak sakit hati lagi, menangis lagi. Kesedihan mbak Di juga kesedihan Imah. Kebahagiaan Mbak Di juga kebahagiaan Imah. Mbak...ini semua bukan sepenuhnya kesalahan mas Aziz. Mas Aziz hanya korban dari obsesi mbak Lili dan dendam ibuk."


"Kalau dituntut siapa yang paling bertanggung jawab atas semua ini, jawabanya adalah Imah mbak. Imah yang sudah membawa ibuk dalam kehidupan kita. Imah yang membiarkan mas Aziz berbuat baik sama ibuk. Tapi ibuk justru menjebak mas Aziz."


"Mbak...Imah nggak bermaksud apa-apa saat menghapus video itu. Yang ada dalam pikiran imah saat itu bukanlah ... menyelamatkan mas Aziz, bukan gitu mbak. Imah cuma nggak mau mbak Di sakit hati lagi."


Aku mencoba memahami penjelasan Imah. Tapi tetap saja, aku merasa sakit hati atas persengkokolan mereka berdua.


"Imah tahu kok, kalian saling mencintai. Berusaha untuk saling setia."


"Mbak...mas Aziz tuh sayang banget sama mbak."


"Mbak tahu, mas Aziz sampai menangis dan memohon sama Imah saat Imah tahu tentang video itu? Dia takut setengah mati mbak."


"Percayalah mbak, yang mahal tuh sekarang bukan cuma cabai sama kuota. Tapi kepercayaan dan kesetiaan."


Imah berkata seolah-olah bijak, tapi terdengar menggelitik di telingaku.


Pppfffff....aku tak sanggup menahan tawaku.


"Kok malah mbak Di ketawain Imah sih? Bener toh? Kesetiaan dan kepercayaan itu satu paket. Cuma orang-orang terpilih yang mampu membelinya, nah...belinya pakai cinta...."


Kali ini aku sudah tak sanggup untuk tidak tertawa. Imah memang pandai sekali mengambil hatiku.


Mas Aziz pun sudah terlihat lebih rileks karena melihat ku tertawa.


"Baiklah...kali ini aku percaya!"


Imah dan mas Aziz saling berpandangan dan saling melempar senyum.


"Tapi, jangan senang dulu!"


Aziz dan Imah pun kembali saling memandang.


"Karena kalian sudah bersekongkol, kalian harus mendapatkan hukuman dariku!"


"Hukuman apa toh mbak?"


"Beliin mbak soto mi di kang Dadan!"


"Asssiiiappp mbak. Dengan senang hati. Imah langsung jalan sekarang!"


Tanpa ba...bi...bu...Imah melesat tanpa berpamitan.


Sekarang hanya tinggal aku dan mas Aziz berdua di rumah.


"Dek...makasih ya...udah percaya sama mas lagi."

__ADS_1


"Hemm..."


Aziz duduk bersimpuh dihadapanku, meletakkan kepala nya di pangkuan ku.


"Dek, mas cuma cinta sama kamu."


Sedangkan kedua tangannya meraih kaki ku dalam pelukannya.


"Mas juga berharap, cinta kamu cuma buat mas. Meskipun mas tahu laki-laki itu masih sangat mencintai kamu. Mencari celah dalam hubungan kita. Tapi mas mohon sekali...jangan pernah tinggalkan mas ya dek. Karena tak pernah sedikitpun mas berniat mengkhianati kamu."


"Aku tidak bisa berjanji apa-apa mas. Aku hanya berusaha semampuku."


Mas Aziz mendongakan kepalanya menatapku sendu. Setelah itu bangkit, dan duduk di sebelah ku.


"Mas pengen peluk kamu dek!"


"Nggak. Nggak ada peluk-peluk, cium-cium apalagi jatah-jatahan sampai waktu yang tidak bisa di tentukan!"


"Astagfirullah dek...kan semua udah clear?!"


"Tapi, masih nyisa di sini." Aku menunjuk dadaku sendiri.


"Dek....!"


"Enggak...!"


"Ya udah, mas maksa! Di kamar ada Diaz ,mas bisa bawa ke kamar satunya!"


"Hei, apaan sih mas? nggak...nggak!"


"Kamu nggak bisa nolak!"


Aziz membopong ku begitu saja. Iya lah, badanku yang masih langsing ini terasa begitu ringan dalam gendongan nya. Benar saja, mas Aziz membawaku ke kamar sebelah. Menurunkan ku lalu mengunci pintunya.


"Kamu mau apa mas?"


"Mau makan kamu! Kalau kamu berteriak, nanti Diaz bangun lho!"


*******


Imah berjalan menuju warung kang Dadan. Terlihat ramai sekali, pasti bakal lama ngantrinya nih. Eh, itu...itu bukannya pak ustadz ya? Ngapain jam segini udah ada disini?


"Assalamualaikum...."


"Walaikumsalam, lho neng Imah?", sapa Fai.


"Iya pak ustadz, A Dadan nya lagi sibuk ya?"


Imah mencari sosok kekasihnya yang tak nampak batang hidungnya.


"A Dadan lagi ke bank neng Imah."


"Owh, ya udah Imah mau pesen soto mie dulu ya."


Fai pun mengangguk pelan.


Terlihat Imah yang sedang memesan tiga porsi soto mie Bogor made in kekasihnya.


Imah keluar dari warung dan diwaktu yang bersamaan Dadan pun turun dari motornya.


"Lho, Mah kamu teh ke sini? Kenapa nggak wa wae atuh kos biasana?"


"Lagi pengen ke sini aja, toh kios juga nutup."


Kini Imah, Dadan dan Fai duduk bertigaan diteras rumah.


"Pak ustadz kok siang-siang udah ada disini? Farhan ngajinya gasik tah?"


"Jangan panggil saya ustadz, panggil saja Fai , Mah!"


"Owh...oke...mas Fai!"

__ADS_1


"Saya lagi libur ngajar ,Mah. Kemana lagi kalau nggak ke tempat ini."


Dadan menyunggingkan senyumnya.


"Mah, kok tumben jam segini kios tutup?", tanya Dadan.


"Biasalah mas, enek masalah!"


"Masalah apa ?",tanya Dadan.


Fai memandang Imah penuh tanya.


"Ya...gitu lah pokoknya A."


"Apa... gara-gara Lili?", tanya Fai.


Dadan dan Imah saling berpandangan.


"Saya tadi berada di sana."


"Mas Fai, di kios?",tanya Imah meyakinkan.


"Iya, saya mendengar obrolan mereka. Dan saya...tidak akan membiarkan Diandra tersakiti Mah!"


"Mas Fai...?"


"Iya mah, saya masih cinta sama mbak iparmu."


"Jangan salah sangka mas Fai, mereka baik-baik saja kok." Suara Imah terdengar bergetar.


"Tapi tidak dengan perasaan Diandra!"


"Tapi saat ini, semua sudah clear mas. Mereka baik-baik saja!"


"Fai... udahlah...kamu kan harus belajar ikhlas. Ikhlaskan Diandra buat Aziz. Dian pasti bahagia dengan kehidupan nya sekarang."


"Tapi Aziz sudah mengkhianati Dian , Dadan!"


"Kita tidak pernah tahu yang sebenarnya Fai. Mereka yang tahu!"


Imah bingung dengan obrolan mereka berdua.


Di waktu yang bersamaan, orang nya Dadan menyerahkan tiga bungkus soto mie pesanannya.


"Ini teh, soto mie nya!"


"Eh , iya. Makasih!", Imah menyerahkan uang itu pada karyawan Dadan. Dadan memberikan kode agar tak menerima nya.


"Kenapa nggak di terima?"


"Nggak boleh sama Kang Dadan ,teh! Saya permisi."


"Heh?",Imah cengok.


"Udah bawa aja sana! Eh, AA anterin aja ya?"


"Nggak usah , Imah pulang sendiri aja. AA temenin aja mas Fai."


"Anterin aja Dan, saya juga mau pulang."


"Baiklah. Ayok ,Mah!"


Dadan menggandeng tangan Imah menuju motor nya.


Di dalam perjalanan...


"Mas Fai masih cinta banget ya sama Mbak Dian?"


"Iya. Pacar pertamanya Fai."


"Owh...pantesan...."

__ADS_1


Imah mengeratkan pelukannya ke perut Dadan.


__ADS_2