
Aku sedang mengecek laporan dari pak Samsul bersama mas Aziz. Mas Aziz berdiri di belakang kursiku.
"Lihat mas, kenapa harus ada pembelian barang-barang yang nggak penting? Dan harganya lumayan juga. Tapi kenapa giliran yang ini ...nih....justru di abaikan."
Aku menunjuk data di dalam layar laptop ku.
"Ini kesengajaan dek. Nanti kita coba bicarakan dengan pak Sam. Pasti ada staf lain yang ikut menangani proyek ini. Nggak mungkin kan pak Sam bekerja sendiri? Dan...itu, kita cari tahu dulu siapa-siapa yang bersangkutan. Bagian pengadaan barang justru yabg harus kita tanyakan terlebih dulu. Barulah kita desak pak Sam."
"Iya mas. Tapi .. terus terang aku nggak suka kekerasan lho mas."
Mas Aziz tersenyum.
"Mas tahu kamu orang baik. Tapi jangan kelewat baik lah. Ini bisnis, bukan ajang sedekah. Apalagi sedekah dengan orang yang nggak tepat."
Mas Aziz duduk di meja menghadap ku yang duduk di kursi.
"Mas harus selalu bantu dan dampingi aku lho mas. Aku takut, kalau.... kalau aku sampai salah mengambil keputusan."
Dengan lembut nya, tangan mas Aziz mengusap kepalaku.
"Kamu itu selalu berpikir positif. Memikirkan jauh dari jangkauan pemikiran orang pada umumnya. Kenapa kamu harus takut mengambil keputusan?"
"Karena aku manusia. Tempat nya salah dan khilaf tentunya. Bisa saja aku membuat kesalahan. Bagaimana jika keputusan ku justru menyakiti orang lain? Benar bagiku, tapi Salah bagi keadaan orang lain?"
"Kamu takut memecat pak Sam?", tanya Aziz.
"Bahkan aku belum kepikiran ke arah situ mas!"
Mas Aziz memegang kedua bahuku.
"Mas, pak Sam sudah lama bekerja dan mengabdikan diri di perusahaan ini. Apa bentuk penghormatan ku padanya? Dia sudah mendedikasikan hidupnya demi perusahaan kita! Apa kamu tega mas kalau memberhentikan dia? Bisa saja kan dia mau merubahnya biar nggak melakukan kesalahan yang sama? Bagiamana dengan keluarga nya?"
Pak Sam yang dari tadi ingin masuk ke ruang Diandra jadi mengurungkan niatnya.
Ada rasa bersalah dan dosa yang luar biasa di dalam dadanya.
Bagaimana bisa Diandra masih memikirkan nasib keluarga nya? Sedangkan uang perusahaan Dian saja sudah ia keruk dari dulu demi memfasilitasi anak istrinya yang bergaya sok sosialita?
Aku akan mengembalikan uang yang sudah ku curi. Lebih baik aku d pecat, dari pada mengecewakan pemilik perusahaan ini yang sudah menghidupi keluarganya.
"Sayang...kalau memang kamu mau memberikan kesempatan, itu terserah kamu. Asal kamu tahu, korupsi itu penyakit akut. Bisa di sembuhkan, asal ada kemauan. Tapi, hukum harus tetap berjalan. Kalau setiap orang udah korup, terus di maafkan. Gimana ada efek jera coba?"
"Tapi dia kan korup uang perusahaan kita? Bukan uang negara!"
Mas Aziz terkekeh.
"Apa bedanya? Tetap mencuri kan? Sudah tentu si korup menikmati curian nya sendiri, dari pada gitu uang itu bisa kita bagikan kepada karyawan kita demi meningkatkan kesejahteraan karyawan kan?"
"Berapa nominal yang sudah dia dapat selama ini? Andai kata, ini andaikata dek. Dari uang itu, kita berikan untuk bonus karyawan tiap bulan atau tiap tahun, lebih bermanfaat bukan?"
__ADS_1
Mas Aziz benar.
"Bagaimana ada pemikiran seperti itu???", kataku merajuk sambil memeluknya.
"Ada dong. Kan mas juga belajar dari kamu."
"Masa sih? Giman ceritanya?"
"Pokok nya...ada deh.....!"
Pak Samsul benar-benar mengurungkan niatnya masuk ke ruang Dirut. Dia lebih memilih kembali ke ruangan nya. Obrolan bos nya seperti sebuah teguran dari Tuhan yang tak sengaja dia dengar.
Sepeninggal pak Sam, Sharen mencoba untuk menemui Dian.
Tok...tok...tok...
"Ya...masuk!", pintaku.
Sharen pun masuk ke dalam ruangan ku. Penampilan nya masih sama. Dia masih terlihat seksi , hanya saja ada kemajuan. Dia memakai celana kulot dan kemeja yang menonjolkan sesuatu di dadanya.
Mas Aziz terlihat tak nyaman dengan kehadiran Sharen yang seksi begitu.
"Dek, mas keluar dulu ya. Kalau ada apa-apa, telpon mas aja. Paling mas ke kantin."
"Iya mas."
Aziz pun keluar dari ruangan kami.
"Ya, ada Miss Sharen? Silahkan duduk."
Sharen pun duduk di hadapan ku. Tumben dia menemuiku.
"Ada apa Miss Sharen menemui saya?"
"Saya ingin bicara di luar pekerjaan, bisa Bu? Ini sudah jam istirahat bukan? Maaf menggangu waktu istirahat Anda."
"Tentu saja bisa Miss. Ada apa?"
"Soal Julian Bu Dian."
"Kenapa dengan mas Julian?"
"Bisakah anda jangan terlalu dekat dengannya?"
"Maksudnya apa ya Miss?"
"Saya sudah belasan tahun mengenal Julian. Saya tahu sekali dia seperti apa. Dingin, kaku, dan terlalu cuek. Tapi, sejak kehadiran Bu Dian, Julian berubah."
"Saya nggak paham deh Miss."
__ADS_1
Sharen tersenyum mengejek.
"Ibu tidak menyadari jika Julian berlebihan memperlakukan Anda?"
Berlebihan? Apa yang berlebihan? Bahkan aku saja kemana-mana dengan mas Aziz. Beberapa waktu memang berdua dengan Julian, tapi tidak ada sikap yang aneh di antara kami.
"Berlebih bagaimana Miss? Saya perempuan bersuami lho Miss. Bahkan selama saya di kantor, suami saya selalu mendampingi saya. Jadi, kalau maksud Miss Sharen sedang cemburu ke saya , sepertinya itu tidak masuk akal."
Aku menyandarkan punggungku ke kursi kebesaran ku.
"Julian tidak pernah mengagumi siapa pun selama ini. Tapi dia begitu memuji anda. Bahkan di hadapan saya."
Oh....ayolah....apa ini?
"Miss Sharen, alangkah baik nya kalian bicara dari hati ke hati. Jangan melibatkan orang lain. Apalagi saya? Saya seorang istri."
"Saya tahu. Dan saya paham dengan keromantisan yang anda dan suami anda perlihatkan kepada kami."
"Lalu?"
"Tapi perasaan Julian apakah anda tahu?"
"Omong kosong apa ini Miss Sharen. Kami berusaha bekerja secara profesional. Hubungan kami hanya antara atasan dan asistennya. Itu saja."
"Tapi Julian menangkap nya berbeda Bu Dian. "
"Sepertinya bukan Julian yang salah di sini, tapi cara berpikir dan berkomunikasi anda Miss Sharen."
"Kenapa anda malah berbicara seperti itu?"
"Miss Sharen, coba anda instrospeksi diri. Apa yang salah dengan diri anda Miss. Saya tahu, anda sudah bertunangan dengan Julian. Tapi harus kah anda seposesif ini? Anda tidak percaya dengan calon pasangan sendiri?"
"Betul kan, Julian begitu terbuka dengan anda. Dia saja bisa mengatakan hal pribadi nya. Soal saya tunangannya."
"Miss Sharen, saya tahu kamu bertunangan dengan Julian dari sahabat saya. Stevi. Saudara sepupu mu kan?"
"Stevia?"
"Iya."
"Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa. Dia sahabatku."
Sharen menggeleng kan kepalanya. Jadi, perubahan Julian itu karena Diandra atau Stevi?
"Julian bertemu Stevi lagi?"
"Iya. Stevi tinggal bersama ku."
__ADS_1
Stevi lagi? Aku pikir dia benar-benar sudah menyingkir dari kehidupan ku! Batin Sharen.