Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Perang dunia ketujuh belas


__ADS_3

Hari yang dinanti tiba. Malam Ahad ini, keluarga dari Dadan akan melamar Imah di rumah Aziz. Dari informasi yang di dapat, Dadan membawa Fai, emaknya, Farhan dan dua kerabatnya dari Bogor. Sedangkan di keluarga Imah sendiri, hanya Aziz ,Dian, mama Farah dan pak RT sebagai perwakilan keluarga besar Imah.


"Persiapan sudah selesai semua kan Di?", tanya mama.


"Sudah ma. Makanan yang Dian pesan juga sudah Dian rapikan."


"Aih....menantu mama cantik sekali....", mama memujiku. Aku hanya memakai gamis berwarna soft pink dengan jilbab senada. Wajahku pun hanya di poles sedikit make up tipis dan natural.


"Mama berlebihan memujian Dian mah. Nanti calon mantennya ngiri lho...mama malah muji Dian." Aku melirik ke arah Imah.


"Ora ngiri keleus. Imah mah mau nganan aja heh....", katanya sambil melengos.


Kami tertawa kompak. Di sudut depan mas Aziz tengah ngobrol dengan pak RT dan salah seorang warga sini. Setelah itu mas Aziz mendekati kami bertiga, kaum hawa.


"Diaz mana dek?"


"Masih bobok manis mas!"


"Dek...yang mau dilamar kamu apa Imah? Kenapa kamu yang mencolok sih?"


Mama dan Imah tertawa kompak. Aku hanya melongo di buatnya.


"Ganti baju sana. Pakai gamis batik pasangan kaya baju mas!"


"Tapi mas, itu kancing nya di belakang. Kalau Diaz tiba-tiba pengen ***** gimana mas? Masa harus di buka semuanya sih?"


"Ya udah, pokoknya ayo cari baju couple!", mas Aziz menyeret ku ke kamar.


Kelakuan mu mas, bikin geregetan aja sih. Timbang baju aja di masalahin. Toh baju ini juga dia yang beliin.


Usai memilah milih baju, akhirnya kami menemukan baju couple seperti yang dia mau.


"Udah mas, nih aku udah pakai. Tapi ini jadul banget mas, tapi nggak apa-apa sih yang penting nggak susah kalau Diaz minta nen."


Sedari tadi ku ngoceh, mas Aziz tak menyahuti ku.


"Mas!", panggilku.


Aku pun mendekati nya.


"Kenapa mas?"


Toeng....toeng....


Pppfffff....aku tak dalam berhenti tertawa meskipun aku sendiri takut Diaz terbangun karena tawaku.


"Bajunya mengecil dek!", kata Aziz manyun.


"Hahahah....bukan bajunya yang mengecil dek. Tapi kamunya yang membengkak!"


"Terus...terus aja gitu....! Iya, mas sekarang gendut gak kaya si Fai yang makin ganteng. Ustadz pula!"


"Lho...kok jadi bawa Fai sih mas?"


"Iya lah, kami dandan cantik kaya tadi karena mau ketemu sama Fai kan?"


"Astagfirullah mas...mas...kaya begini lagi. Masa tiap episode harus dijelaskan sih?"


Mas Aziz masih berdiri di depan cermin. Daripada membuatnya kecewa, akhirnya aku mengambil kemeja dan jas nya bekas ia kerja dulu. Setidaknya, kancing depan tak perlu di kancing. Jadi, tidak perlu menunjukan perutnya yang kini makin maju.

__ADS_1


"Kenapa pakai jas begini sih dek?"


"Udah nurut aja, suamiku yang ganteng. Ini akan menyelamatkan penampilan mu. Kamu makin ganteng dengan stelan jas begini!"


Kataku sambil merapikan pakaiannya. Benar saja, ternyata rayuanku mampu membuat ia luluh.


"Udah kan, ganteng kan ayah Diaz?"


Aziz nampak tersenyum.


"Makasih ya sayang!",ia mengecup ubun-ubun ku.


"Iya...."


"Mulai besok, mas bakal olahraga lagi. Biar nggak gendud!"


"Iya mas, atur aja. Aku mendukungmu. Kamu mau gendut kamu mau kurus aku tetap cinta sama kamu suamiku."


"Gombal mu dek!"


Kami berdua keluar dari kamar. Untung saja Diaz tak mendengar saat ayahnya tadi merajuk jadi dia belum bangun.


"Aihhh... ganteng amat mas ku ya ma?", kata Imah pada mama Farah.


"Ganteng lah, anak mama!"


"Lebay!"


Aziz pun meninggalkan kami lagi. Kami bertiga kembali terkikik geli.


"Gimana cara menjinakkan suami mu Di?"


"Cukup di rayu ma. Gampang itu!"


Kenapa Fai jadi terlihat ganteng sekarang sih? Batin Aziz.


Usai berbasa-basi akhirnya tiba di inti pertemuan dua keluarga ini.


"Saya, Ahmad Rifai bermaksud untuk melamar Diandra Saputri....mmmaaf...", kata Fai salah bicara.


Tangan mas Aziz mengepal. Aku tarik sedikit agar ia lebih tenang. Duh, Fai bisa bicara begitu.


Imah dan Dadan sama-sama menepuk dahinya. Bingung dengan kelakuan ustadz Ahmad barusan. Mama pun menggelengkan kepala dengan kejadian barusan. Sudah di jamin akan ada perang dunia ketujuh belas nanti usai acara.


"Mmaaf....maksud saya....saya Ahmad Rifai bermaksud untuk melamar Siti Khotimah binti Adi Setiawan untuk Dadan Ramdani untuk dijadikan istrinya. Apakah neng Imah bersedia?"


Fai terlihat begitu gugup. Dia yakin, dia tidak yakin dengan ucapannya barusan.


Imah pun mengangguk tanda setuju untuk menerima pinangan Dadan.


"Bagaimana dengan keluarga Imah?", tanya Fai.


Aziz masih terlihat marah gara-gara ucapan Fai tadi. Mama berinisiatif membisikkan sesuatu ke pak RT setempat untuk mewakili keluarga Imah. Kalau menunggu Aziz, jelas tidak mungkin.


"Kami sebagai perwakilan keluarga Imah, menerima pinangan kang Dadan", ucap pak RT.


"Alhamdulillah."


Suara hamdalah menggema di ruang tamuku. Aku dan mama undur diri untuk mengambil jamuan makanan ringan. Tak lupa aku juga menyiapkan beberapa oleh-oleh untuk di bawa pulang keluarga Dadan.

__ADS_1


Hampir setengah sepuluh , acara lamaran pun usai.


"Udah, nggak usah di beresin. Besok nyuruh orang belakang buat bantu disini." Titah dari Aziz.


"Oh, ya udah. Ayok mah kamu tidur di kamar mama aja."


Aziz melenggang meninggalkan mereka bersiap.


"Mama mau tau gimana cara Dian menjinakkan suaminya lagi heheheh..."


"Iya ma...pasti perjuangannya bakala melewati banyak rintangan heheheh."


"Aziz dengar lho. Mendingan mama aja yang tidur di kamar Imah sana", kata Aziz tegas.


Farah dan Imah terkejut mendengar perkataan Aziz.


"Aziz...kamu ngusir mama nak?", tanya mama memelas.


"Iya!"


Mama dan Imah pun beneran keluar menuju kamar Imah di belakang kios.


"Ma...kamar Imah gak sebagus kamar mama lho!", ucap imah saat berjalan menuju kamarnya.


"Nggak apa-apa lah. Dari pada mama nggak bisa tidur!"


Akhirnya mereka berdua istirahat di kamar Imah yang sempit. Untung aja sekarang sudah berAc minimal tak terlalu engap.


Mas Aziz masuk ke kamarku dengan wajah di tekuk. Aku sudah mengganti gamisku dengan baju dinas malamku, daster.


Diaz pun sudah kembali tertidur dan kuletakkan di boxnya. Bayi kecil ku sudah terkendali, sekarang giliran menjinakkan bayi besar ku.


Mas Aziz melepaskan jasnya. Aku bermaksud membatunya, tapi dia menolak bantuan ku.


"Aku bisa sendiri!"


"Susah mas, sini aku bantu!"


Dia pun pasrah saat aku melepaskan kancing kemeja nya. Hanya celana panjang dan kaos singlet yang masih dia pakai.


Dia pun meninggalkan ku menuju kamar mandi.


Aku berbaring menunggu mas Azizku.


Sekarang mas Aziz sudah memakai kaos oblong dan celana boxer nya. Dia turut berbaring di sebelahku. Tapi posisinya membelakangi ku.


"Mas...", bisik ku kubuat manja. Ih...aku kaya alay banget sih.


"Kamu marah?"


"Hem...", hanya menyahut begitu.


"Itu kan nggak sengaja mas."


"Mau sengaja atau enggak mas tetep nggak suka!"


Aku menarik bahunya sampai badannya terlentang.


"Kalau aku di atas, mas suka?", tanyaku usil. Senyum nya mengembang seketika.

__ADS_1


Emosi nya seolah hilang begitu saja usai kalimat ekstrem yang ku katakan barusan.


Mama, begini cara menjinakkan anak lelakimu ma. Aku berkata dalam hati.


__ADS_2