Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Perubahan mendadak mas Aziz


__ADS_3

Hampir jam 5 kami sampai di supermarket. Setelah turun dari mobil, aku dan mas Aziz jalan beriringan. Tak lupa mas Aziz menggandeng tanganku. Awalnya aku menolak. Tapi ia tetap memaksaku.


Sampai disupermarket , rak berisi bahan minuman langsung ku satroni. Ku ambil beberapa kotak teh, gula pasir, kopi dan beberapa bahan lainnya.


Sedangkan bkas Aziz setia mengikuti sambil mendongakkan troli yang sudah berisi beberapa stok kebutuhan kami.


Mas Aziz tiba-tiba berhenti di stand buah. Terpaksa aku kembali ke tempatnya berdiri.


"Kamu ngapain sih mas?" tanyaku


"Itu dek. Kayanya makan manisan kedondong enak deh. Beli ya?" tanya nya padaku.


Sejak kapan dia suka manisan? Kedondong pula.


"Dek, beli ya !" katanya merajuk. Dih, aku yang hamil ngapa dia yang manja gitu sih. Bukan dia banget deh.


"Iya ..iya...", jawabku sambil memasukan manisan itu ke dalam plastik.


"Segini cukup?" tanyaku.


" Boleh deh!" sahut nya cepat.


Mas Aziz kembali mendorongnya troli. Kini aku beralih ke tempat jajanan pasar. Aku mencari-cari makanan yang kiranya tidak terlalu manis tapi cukup awet untuk disimpan dikulkas. Saat ku menengok kebelakang, mas Aziz sudah menghilang. Kemana dia pergi. Akhirnya ku dorong lagi troli ku. Aku terkejut saat melihat mas Aziz tengah menikmati es krim. Ya ampun, ga masuk akal banget. Belanjaannya saja belum dibayar, dia sudah nongkrong makan es krim. keterlaluan sekali dia. Hari ini dia aneh. Bener aneh banget.


Aku menuju kasir dengan membawa troliku. Untung saja aku membawa dompet. Bagaimana kalau sampai lupa. Menunggu mas Aziz menghabiskan es krim nya dulu?


Antrian tidak terlalu panjang , jadi aku tidak terlalu lama menunggu didepan kasir.


"Semuanya 473.500 rupiah ibu...",kata mba kasir. Aku keluarkan lima lembar uang warna merah dari dompet ku.


Ku sodorkan ke kasir. Lalu kumasukkan kembali ke troli. Bagaimana bisa aku membawa barang sebanyak ini sendiri.


Tiba-tiba mas Aziz sudah dibelakang ku.


"Dek, maaf ya tadi mas pengen banget makan es krim. Tapi, kamu ga mas beliin. Gapapa ya?", tanyanya.


"kamu kenapa sih mas, ketiban apa gitu kepalanya? Dari tadi kamu aneh...kaya bukan kamu!" jawabku.


Dia menggaruk kepalanya yang kurasa tak gatal.


"Ya sudah z bawa ke mobil belanjaan nya nih. keburu magrib sampe rumah."


"Siap nyonya ratu. " candanya.


Mas Aziz memasukkan belanjanya di bagasi.


Saat akan masuk ke mobil seseorang menghampiri kami.


"Hai Dian, apa kabar?" katanya menyapa ku.


"Alhamdulillah baik." ternyata Lili. Tapi dia tidak sendirian,dia bersama seorang laki-laki yang ku taksir usianya sudah diatas 50 tahun.


Mas Aziz sudah bersiap akan menerkamnya dengan luapan emosi. Tapi untungnya daku bisa menahannya.


"Hem...sudah akur ceritanya?" ledek Lili.


Aku tersenyum simpul.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat, kami baik-baik saja!", jawabku santai. Padahal aku ingin sekali menjambak rambut pirang nya itu.


"Owh ...so sweet...ga nyangka aja sih." katanya lagi.


"Beb, mas tunggu di mobil ya!", kata pria tua itu meninggalkan kami.


Batinku tertawa mendengar panggilan Beb kepada Lili. Beb apa nih? Bebek maksudnya?


"Kami mau pulang, ada kepentingan dengan kami?" tanyaku.


" Ga sih sebenarnya. cuma penasaran aja,kok bisa ?"


"Bukan urusan mu deh kayanya mbak!" kataku dengan notasi yang cukup tinggi.


"Atau jangan-jangan....kamu itu ga sanggup ya kalo keperkasaannya dinikmati orang lain jika kalian sampai berpisah?" katanya setengah berbisik.


Nafasku mulai memburu. Sebisa mungkin masih bisa ku tahan.


"Jaga mulut mu Lili. Kamu sadar diri donk, lihat dirimu apaan. Kamu menjajakan diri ke pria itu?" kata Aziz.


"Bukan urusan mu!" katanya marah.


"Kamu yang selalu mencampuri urusan kami, kenapa kamu yang marah sih?" kata mas Aziz. Aku heran, sejak kapan dia begini. Perasaan tadi pagi oke-oke saja.


"Apa beda nya sama kamu mas kalo masih nanggepin omongannya. udah lah kita pulang. Sebentar lagi magrib." ajakku pada mas Aziz.


Mas Aziz membukakan pintu untuk ku. meninggalkan si Lili yang pasti sedang marah.


"Dek, mas harap kamu sudah memaafkan mas."


Aku diam saat dia memulai membahasnya. Bosan! Gimana enggak, cuma maaf...maaf...dan maaf. Dia pikir dengan maaf bisa mengubah semuanya yang sudah terjadi.


Aku masih menatap keluar jendela. Tak bisa ku pungkiri, memiliki usaha adalah impian kami berdua.


"Hey...kamu dengerin mas kan?" tanyanya sambil mengusap pipiku.


"Heem...", sahutku.


Tiba-tiba dia menepikan mobilnya.


"Ngapain berhenti disini sih?" tanyaku. Mana jalanan sudah mulai sepi, bentar lagi masuk magrib.


Secepat kilat mas Aziz mendaratkan bibirnya di bibir ku. Aku yang merasa tak siap dengan spontan menepuk kepalanya.


"Auw....sakit dek!" pekiknya. Dengan begitu, ia melepaskan ciumannya.


"Kamu keterlaluan tau mas! Kamu lupa ini dimana? Ga sabaran amat sih, emang ga bisa dirumah? Harus gitu di jalanan seperti ini? Kalo diliat orang lain gimana? Dikira kita pasangan mesum lagi. Bener-bener kelewatan kamu mas!" cerocos ku tanpa henti.


Mas Aziz malah tertawa melihat ku yang sedang ngomel.


"Udah belom ngomelnya? Lagian mas ajak bicara diem aja. sekalinya dicium ngoceh kaya burung!" sahutnya mengacak puncak kepalaku.


"gimana ga marah, ini jalan umum. banyak orang lewat. Malu kenapa sih. Meskipun kita pasangan sah, tapi tau norma yang berlaku...."


"Ssstttt...udah ngomelnya, kita pulang. Nanti, sampe rumah baru mas lanjutkan lagi."


"Lanjutkan apa maksudnya ini?"

__ADS_1


"Kan kamu bilang dek, 'ga sabaran amat sih emang ga bisa dirumah?' . tadi bilang gitu, ya udah ntar sampe rumah dilanjutin lagi lah."


Aku menggeleng kan kepalaku. Mas Aziz mendadak aneh. Dari kelakuan nya, sekarang tiba-tiba asal nyosor pula. Ihhh....aku bergidik ngeri membayangkan mas Aziz yang bukan-bukan. Apa dia lupa kalo tadi siang saja kita sudah melakukannya. Maksa pula. Ini lagi, dipinggir jalan.


Mobil pun melesat menuju rumah. Tepat azan magrib saat mobil memasuki garasi.


Alhamdulillah...desis ku.


Aku pun turun dari mobil. Mas Aziz menurunkan barang belanjaan ku. Biarlah dia mengangkut nya sendiri. Lebih baik aku mandi, solat setelah itu baru menyiapkan makan malam.


Tak lama kemudian ku lihat mas Aziz pun selesai mengangkut nya. Aku seselai solat, mas Aziz mandi.


Aku gegas menuju dapur. menyiapkan makan malam. Badanku sudah mulai fit, dan amarahku mungkin sudah mulai mereda.


Aku memotong satu papan tempe. Lalu menumis bayam dengan kecambah. Tak lupa aku menggoreng ikan peda dan membuat sambel terasi. Malam ini makan enak, enak perasaan ku enak juga menu makan malam ku.


Mas Aziz merapikan kertasnya yang berserakan dimeja makan. Barulah ku letakkan masakan ku di sana. Wajah mas Aziz berbinar.


" Mas kangen masakan mu dek?"


Lalu dia menyendok nasi beserta lauknya. Dia makan dengan begitu lahap. Aku yang melihatnya saja merasa kenyang.


Azan isya berkumandang, saat aku merapikan bekas makan malam.


" Mas bantu y dek!", katanya sambil mengangkat piring ke bak cuci.


Aku mulai mengguyur dan mencuci perkakas ku.


Ku lihat, mas Aziz berjalan menuju ruang tamu. mengunci pintu utama. Padahal ini masih sore, tak biasanya dia mengunci jam segini.


"Solat dek!" titahnya.


"Iya!", jawabku.


Kami pun solat isya berjamaah. Romantisme yang sebenarnya ya seperti ini, sayangnya dulu jarang sekali aku memperoleh nya.


Aku melepaskan mukenaku lalu menukar bajuku dengan daster. iya, sekarang aku nyaman memakai daster.


Kulihat mas Aziz memperhatikan ku. Dia masih memakai kopiah dan sarung nya. Berjalan mendekati ku yang baru keluar dari kamar mandi.


" Ngapain kamu senyam senyum begitu mas?"


"Emang ga boleh?"


Aku melengos meletakkan bajuku yang tadi digantungan.


Tiba-tiba mas Aziz sudah melingkarkan tangan di perutku. Aduh. ... ngalamat ini mah.


"Dek, mau...." katanya manja.


"Mau apa?" pancingku.


"Mau lanjutin tadi yang dimobil."


"Ga ah. tadi pagi aja udah maksain kok. Ga mau ah! Lagian mas, kamu lihat jam berapa? Belom genap jam delapan mas."


"Dek, emang harus pake jam gitu? Pokoknya mas maksa. Titik!"

__ADS_1


Apa boleh buat, hanya pasrah yang bisa kulakukan. Melawan? Mana sanggup!


__ADS_2