
Akhirnya, kesepakatan kerja sama dengan PT Xxxx pun hanya tinggal tanda tangan kontrak. Aku memang tak pandai melobi, tapi berkat bantuan dari Julian, semua berjalan lancar.
"Kita langsung ke kantor Bu, agar anda bisa solat dan istirahat sekalian di kantor?", tanya Julian saat mobil kami keluar dari restoran.
"Boleh deh mas!", kataku sambil mengusap wajah ku dengan kedua tangan ku.
Hari ini terasa begitu melelahkan, padahal baru setengah jalan. Belum nanti ke butik mas Aziz meski hanya yang ada di Sunter. Mana mungkin aku ke butik yang di Tangerang dan Bogor dalam waktu dekat ini.
Julian melirik bosnya dari spion.
Itu... pergelangan tangan Dian kenapa? Mau tanya tapi nanti di kira lancang. Kalau salah satu mungkin wajar, tapi itu keduanya??? Batin Julian .
Tak ada obrolan apa pun di antara kami berdua saat menuju kantor DWP. Sampai akhirnya mobil berhenti.
"Silahkan Bu!", Julian mempersilahkan aku turun. Entah kenapa aku merasa Julian memperhatikan ku begitu seksama membuatku risih.
"Kenapa mas Jul liat saya begitu?", tanyaku penuh selidik.
"Maaf Bu, jika saya lancang!", Julian meraih kedua lenganku tanpa menyentuh kulitku. Aku terperanjat beberapa saat.
"Sejak kapan ada luka memar di pergelangan tangan anda?", tanya Julian padaku.
"Luka?", tanyaku.
"Ini!", dia mengangkat tangan ku. Sontak kami menjadi perhatian orang di sekitar loby.
Aku melepaskan cengkeraman tangan Julian, tepatnya....Julian memegang lengan ku tapi tak terlalu kencang.
"Tolong jaga batasan mu ya mas Julian!"
"Maaf, saya sudah lancang bu. Tapi...pak Aziz sudah berpesan kepada saya untuk menjaga anda. Bagaimana bisa saya membiarkan Anda terluka seperti ini?!"
"Sa... saya nggak apa-apa kok mas Jul. Maaf!", aku segera melangkah menuju pintu loby.
"Apa ini ulah Revan Bu?", tanya Julian. Aku tak menjawab pertanyaan Julian, selain gak enak menjadi tontonan anak-anak DWP aku juga takut Julian akan memperpanjang masalah ini dengan Revan.
"Jika anda tak ingin jujur kepada saya, baiklah! Saya akan kembali ke rumah sakit menemui dokter Revan!"
Aku pun memutar badan ku.
"Mas Jul, tunggu!"
Julian pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobilnya.
"Kamu mau ke mana mas Jul? Setelah ini kamu masih akan mendampingi semua pekerjaan ku bukan?", aku berusaha mencegah Julian pergi ke rumah sakit hanya untuk menemui Revan.
__ADS_1
"Tapi Bu....!"
"Masuk lah ke ruanganku?! Jangan lupa berkas dan laporan lainnya yang harus saya cek dan tanda tangani!", dengan suara yang cukup tinggi dan tegas.
Tanpa sengaja kulihat karyawan-karyawanku menatapku dengan wajah sedikit terkejut.
Aura kepemimpinan ku terpancar kah? 🤭🤭🤭🤭😎😎
Dengan terpaksa Julian mengikuti ku menuju lift khusus petinggi DWP. Beberapa kali aku berpapasan dengan karyawan ku, mereka hanya menyungginggkan senyum sambil menganggukkan kepalanya.
Apa aku begitu menakutkan????
Julian masih berada di belakang ku. Tak lupa ia membawakan tas laptop dan beberapa berkas yang akan ku cek hari ini.
Usai meletakkan barang bawaan ku, Julian berpamitan untuk pergi ke ruang kerjanya.
"Maaf!", kataku. Sontak, Julian menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arahku.
"Ada apa Bu?", tanya Julian.
"Maaf jika tadi saya berbicara keras sama mas Jul!"
Julian tersenyum tipis.
"Kenapa anda harus minta maaf bu? Anda benar, tak seharusnya saya bersikap ceroboh. Seharusnya saya mengikuti perintah anda, bukan ego saya!"
"Iya, pergelangan tangan ku memar karena....Revan yang mencengkramnya dengan erat!"
Wajah Julian memerah. Ia tak menyangka jika saudara tirinya bisa berbuat sekasar itu.
"Dia sudah melecehkan anda, saya akan membuat laporan tentang apa yang sudah Revan lakukan terhadap anda."
"Nggak mas. Nggak usah! Saya tidak ingin nantinya akan berakibat buruk pada kesehatan mas Aziz apalagi terhadap rumah tangga saya."
Julian nampak bingung.
"Maksud anda apa Bu? Anda ingin menutupi lagi dari pak Aziz? Apa anda lupa dengan kejadian-kejadian sebelumnya karena anda tidak jujur terhadap pak Aziz? Maaf jika saya lancang bu, saya memang hanya bawahan anda. Tapi bagi saya, pekerjaan saya adalah tanggung jawab saya. Termasuk anda!"
"Saya paham mas Jul! Saya hanya ingin memikirkan ke depannya saja. Saya tidak ingin menambah beban pikiran mas Aziz, itu saja!"
"Tapi Bu.....?!"
"Mas Jul, terimakasih atas perhatian dan kepedulian kamu sama saya. Tapi, untuk kali ini tolong pahami situasi dan kondisi nya ya. Kamu tahu betapa posesif nya mas Aziz saat ini, saya nggak mau kalau nantinya dia akan...."
"Tapi Bu, apa nggak sebaiknya anda jujur dengan apa yang Revan lakukan kepada anda?"
__ADS_1
"Saya juga tidak ingin bohong mas Jul. Tapi saya rasa untuk saat ini, membiarkan mas Aziz tidak tahu adalah pilihan yang terbaik."
Julian tampak menghela nafas.
Dian memang keras kepala! Batin Julian.
"Apa Revan mengancam anda?"
"Kalimat ancaman seperti yang sudah-sudah. Revan bilang masih cinta sama saya dan begitu lah."
"Lalu kenapa tangan anda bisa memar seperti itu!?"
Aku pun menceritakan sedetail mungkin kepada Julian, selain agar dia tak gegabah dalam mengambil keputusan apalagi mengenai Revan, saudara Julian sendiri. Meskipun hanya
saudara tiri.
Julian mengusap kasar wajahnya.
"Tolong mas Jul, saya ceritakan semuanya sama mas Jul biar mas Jul paham. Tidak ada gunanya kita bertindak keras kepada Revan, saya yakin semakin kita keras justru ia semakin tak terkendali. Saya harap, hari ini terakhir kalinya saya bertemu Revan. Jadwal kontrol mas Aziz tetap seperti biasa, tapi aku tidak akan mendampingi mas Aziz bertemu Revan lagi."
"Saya yang akan menemani pak Aziz. Dan...jika diijinkan, ajak dokter Mika."
"Mika? Kenapa melibatkan Mika?"
"Ya.... antara dokter Mika atau dokter Damar Bu, maaf jika saya negatif thinking. Bagiamana jika Revan memberikan obat yang justru memperparah kondisi pak Aziz?"
"Ya Allah, kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu Mas Jul?"
"Karena saya melihat Revan berpotensi melakukannya. Apalagi dia sudah berbuat kasar kepada anda bu!"
"Mas, Revan pasti tidak akan menyalahi sumpahnya saat ia di nobatkan menjadi dokter!"
Kenapa kamu kelewat baik sih Diandra! Batin Julian.
"Ya udah mas, berikan berkas apa saja yang harus saya tanda tangani. Tapi saya mau solat dhuhur dulu!", kataku bangkit dari kursi kebesaran ku.
"Baik Bu, setelah anda solat saya pastikan berkas itu sudah ada di meja anda."
"Makasih mas Jul!"
******
Diandra itu memang tokoh protagonis, tapi dia nggak harus 'sempurna' dong. Dia juga punya sisi buruk, cengeng misalnya gitu.
Jadi, sejauh ini mamak masih berpikir bagaimana Ending nya. Soalnya episode nya udah puanjjjjjaanngggg banget, takut pada bosen 🙏🙏🙏✌️✌️✌️
__ADS_1
So.... Makasih yang berkenan baca tulisan mamak yang masih harus banyak diperbaiki ini. ✌️✌️✌️✌️🙏🙏🙏🙏