Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 212


__ADS_3

Part 212, tapi bukan wiro sableng ya ☺️☺️☺️☺️✌️


*****


Pasti pak Aziz salah paham dengan video ini? Tapi bagaimana aku mau menjelaskan nya? Dia saja tak bisa di hubungi? Batin Julian. Hayu masih sibuk dengan pelanggan nya.


Di sisi lain, Aziz masih berada di dalam kamar mandi pribadi nya. Dia tak mendengar panggilan di ponsel nya yang ia letakkan di atas nakas.


Aku masuk ke dalam rumah seperti biasa, lewat pintu dapur. Ku lepaskan hijabku, lalu kumasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor.


Aku mencuci wajah ku di wastafel. Bercermin sebentar, ku perhatikan wajahku.


Iya. Aku memang pucat. Pantas saja Julian mencemaskan ku.


Usai mengelap wajahku, aku menuju kamarku.


Aku mendengar ada yang berada di dalam kamar mandiku.


Mas Aziz sudah pulang? Tanyaku pada diri sendiri.


Iya, kamar mandi ini hanya aku dan mas Aziz yang memakai nya.


Baru saja ku tutup pintu kamar ku, mas Aziz benar-benar keluar dari kamar mandi. Dia menatap ku dengan pandangan yang gak bisa aku tafsirkan. Badannya yang tegap itu, terlihat sedikit basah karena hanya melilitkan handuk nya sebatas pinggang. Laki-laki yang sangat ku rindukan sudah ada di depan ku. Aku ingin mencurahkan semua yang sedang aku alami saat ini.


"Mas...kamu sudah pulang? Kenapa ngga kabarin aku mas?", tanyaku, sambil mendekati nya.


Dia tak menjawab apa pun, bahkan dia menghindar dari ku. Meninggalkan ku di begitu saja, lalu ia beralih ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.


Aku berusaha berpikir positif. Apa mungkin urusan di Surabaya sudah membuat nya emosi sampai ia bawa ke rumah?


Aku membiarkan dia menyelesaikan berpakaiannya.


"Mas....!", aku memeluknya dari belakang. Tapi dia melepaskan pelukan ku.


"Mas....kamu Kenapa? Kamu nggak kangen sama aku?",ku cium bahu bidangnya. Bahu tempat ku bersandar selama ini.


Mas Aziz berjalan ke arah nakas. Ia mengambil ponselnya. Ada beberapa kali panggilan dari Julian. Tapi Aziz tak ingin menganggapinya.


Dia lebih memilih untuk mencari tahu dari istri nya langsung.


Aku kembali mendekati suamiku.


"Mas, kamu kenapa sayang?", ku takupkan kedua tanganku di pipinya. Tapi lagi-lagi ia melepaskan nya, meski perlahan tapi entah kenapa aku merasa nyeri di dadaku.


"Ada apa mas???", ku ulangi lagi pertanyaan ku.


Mas Aziz tak menjawab tapi menyerahakan ponselnya padaku.


Aku menerimanya, ku buka video pertma.


Video aku dan mas Fai yang tak sengaja bertabrakan di depan ruangan ku.


"Mas....?", aku menatap matanya. Tapi dia kembali meraih ponselnya dari ku. Setelah mengutak-atik sebentar, dia serahkan lagi ponselnya.


Aku kembali melihat video dimana aku dan kak Ben akan masuk ke dalam salah satu kamar hotel. Aku yakin, dia pasti marah karena hal ini.

__ADS_1


Dengan sedikit kasar, ia mengambil posisi dari tangan ku. Lalu dia melangkah menuju sofa. Menjatuhkan bobotnya di sofa kamarku.


Aku pun mendekati nya.


"Mas....kamu percaya sama aku kan?", aku turut duduk di sebelah nya.


Kulihat matanya sembab. Pasti dia habis menangis di kamar mandi tadi.


"Mas, aku dan mas Fai sudah mengatakannya kejadian itu kemarin sama kamu. Nggak ada yang kami tutup-tutupi kan mas?"


Mas Aziz masih bergeming.


"Tapi kamu nggak bilang, dia cium kepalamu kan?", tanya nya pelan.


Aku pun menggeleng.


"Maaf mas, aku hanya nggak mau kamu salah paham sama kami. Itu saja!" aku menggenggam erat tangan nya


"Siapa laki-laki yang ke kamar hotel sama kamu?!"


"Mas....aku nggak seperti yang kamu pikirkan mas. Percaya sama aku kan mas?"


"Apa kamu ingin membalas ku dek? Membalas ku yang pernah menyakiti mu dulu?"


"Ya Allah mas....nggak...aku nggak begitu mas....!", aku menitikkan air mata . Meskipun dia tak membentak ku. Tapi sukses membuat air mataku meluncur begitu saja. Terasa menyakitkan memang, tak di percaya oleh suami sendiri.


"Apa kamu belum bisa memaafkan ku dek?", tanya nya sendu.


"Mas, aku memang ke sana mas. Tapi kami tak berdua. Julian juga bersama kami. Pria itu...!"


"Mas! Kamu nggak percaya sama aku mas???", aku tergugu.


Dia bangkit dari sofa. Bersiap meninggalkan ku. Aku pun meraih tangan nya. Tapi aku di tepiskan dengan mudah.


Aku yang hendak menyusulnya justru jatuh terjerembab. Dan tanpa terasa perut bagian bawah ku terasa begitu sakit.


"Awwa...", pekikku.


Tapi seolah-olah mas Aziz tak memperdulikan ku.


"Mas...!", panggilku. Tanpa ku sadari, ada darah segar keluar dari jalan lahir ku.


Mas Aziz keluar begitu saja dari kamar ku, tanpa memperdulikan ku.


Hatiku semakin nyeri melihat perlakuannya padaku.


"Mas....tolong....!", panggil ku lirih. Sedetik, dia detik berlalu. Mas Aziz tak juga menghampiri ku. Sampai akhirnya kesadaran ku mulai hilang.


Tiba-tiba mas Aziz menghambur ke arah ku.


"Diandra!!!!", pekiknya keras di telingaku.


Dia mengusap pipi ku.


"Sayang....kamu kenapa dek???", mas Aziz menangis di sebelah ku.

__ADS_1


"Sakit mas....!", kataku pelan.


"Maaf...maafin mas dek! Kita kerumah sakit!", mas Aziz menyandarkan ku ke sofa. Dia pun mengambil bergo yang ku gantung di dekat pintu.


Mas Aziz meraih ponsel ku juga dalam kantongnya dan tak lupa meraih dompet nya pula.


Mas Aziz memasang jilbab ku, lalu membopong ku.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu harus bertahan sayang!", mas Aziz masih menangis.


Dia setengah berlari menuju kios.


"Hayu! Tolong panggilkan taksi!", teriak Aziz.


Tapi Julian yang masih berdiri di situ langsung menghampiri kami.


''Biar saya antar kan pak?", kata Julian sigap.


Julian langsung membuka kan pintu untuk kami.


"Sayang....mas minta maaf!", Mas Aziz masih menepuk-nepuk pipiku.


Aku tersenyum padanya.


"Kamu percaya sama aku kan mas?", tanyaku lirih.


Dia mengangguk cepat.


"Mas percaya sama kamu dek! Maaf!!!", dia mengecup kening ku berulang-ulang. Air matanya masih saja mengalir.


Dia memeluk ku erat sekali. Dekapan nya membuat ku merasa nyaman.


"Mas...aku lelah....aku boleh tidur kan...?!"


"Nggak! kamu nggak boleh memejamkan matamu dek! Lihat mas dek! Jangan tidur!", ia mengguncang tubuhku.


"Aku....aku....!", setelah itu aku tak sadarkan diri.


Bu Dian kenapa!? Batin Julian. Dia tak bisa banyak bertanya saat ini.


"Cepat Julian!???", bentak Aziz.


"Iya pak!"


Julian mempercepat laju mobilnya. Dia menghubungi rumah sakit Persada agar bersiap saat Diandra sampai ke sana.


"Lebih cepat lagi Julian!", kata Aziz lagi.


"Iya pak." Julian tak ingin ikutan emosi seperti bos nya itu.


Mobil pun memasuki parkiran rumah sakit. Seperti yang sudah di siapkan, perawat datang menyambut Diandra.


*****


Nah, kan....itu akibat dari grasa grusu mu Aziz!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2