
Usai magrib teh Neneng mengantarkan pesanan ku.
"makasih lho teh...!"
"Sama-sama mbak Dian. Saya malah yang makasih, mbak Dian bersedia pesan ke saya."
Akhirnya semua persiapan untuk makan malam bersama pun selesai.
"Masyaallah dek, kamu pesen nasi tumpeng segala?"
"Iya mas!"
Ting tong...bel di depan berbunyi.
"Kayanya mama udah dateng tuh mas. Imah pasti masih mengunci pintu samping deh!"
"Ya udah mas buka aja deh!"
Benar tebakan Dian, mama yang memencet bel.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam. Mama!", Aziz menyambut uluran tangan mamanya.
"Selamat untuk tahun ya sayang...!"
Mama cipika-cipiki dengan anak lanangnya.
"Makasih ya ma....!"
"Eh, itu di garasi ada motor baru ya?"
"Iya, hadiah dari Dian ma."
"Waw... romantis sekali!"
"Iya ma, mana itu tabungan Dian sendiri lagi. Aziz bisa aja beli, tapi kan Aziz pikirin masa depan anak istri dari pada buat kesenangan Aziz sendiri. Eh, ternyata Dian malah inisiatif sendiri."
"Beruntung nya kamu ya Ziz!"
Mama menepuk bahu anaknya itu.
"Ya udah masuk ma, Dian udah siapin makan malam."
"Makan malam juga?"
"Iya ma. Nasi tumpeng malah!"
Mama dan Aziz berjalan beriringan menuju meja makan.
"Dian...kamu bikin nasi tumpeng?"
"Enggak Ma. Pesen ke tetangga kok. Dian mana sempet Ma."
Aku mencium tangan ibu mertuaku. Tak lama kemudian Imah menyusui lewat pintu belakang.
"Eh, mama. Maap. Tadi pintunya Imah kunci ma."
Imah mencium tangan tantenya itu.
"Udah nggak apa-apa. Cucu mama mana?"
"Di kamar ma!", jawabku. Mama pun menuju kamar untuk menemui Diaz.
"Imah, kang Dadan sama Farhan ke sini kan?"
"Iya mbak."
Yang ditunggu pun datang, ternyata Fai pun turut datang ke rumah ini.
"Lho?", tanyaku tapi menggantung.
"Mas yang udah undang Fai kok Dek!"
__ADS_1
Aku menatap suamiku, sedikit kurang yakin. Kenapa bisa tiba-tiba berubah begini? Bukannya ini hari spesialnya mas Aziz ya? Dia nggak apa-apa gitu manggil rival kesayangan nya itu?
Perasaan ku jadi nggak enak nih.
"Tante Di...om Aziz!"
"Hei, Farhan pintar!"
"Om Aziz, selamat ulang tahun ya!"
"Terimakasih Farhan!"
"Om, Dek Diaz dimana? Farhan kangen!"
"Ada di kamar, Oma Farah juga ada lho!"
"Oma Farah disini? Boleh Farhan ke kamar nya Diaz?"
"Boleh dong Han!"
Si kecil Farhan pun berlari menuju kamar menemui Diaz dan Oma Farah.
"Silahkan duduk Kang Dadan, Fai!", kata Aziz mempersilahkan.
Untung teh Neneng berbaik hati, minta bikin buat porsi enam orang di kasihnya malah sebanyak ini. Rejeki emang nggak kemana. Udah ada Snack buat cemilan pula. Lain kali memang sebaik aku pesan saja ke Teh Neneng.
Acara makan malam dimulai, hari ini mas Aziz lempeng. Tidak ada gontok-gontokan kaya yang sudah-sudah tiap bertemu Fai. Alhamdulillah, semoga kedepan selalu baik seperti ini.
Acara pun usai. Mama ku minta menginap disini, tapi beliau tidak mau. Alasannya, dia besok pagi-pagi sekali ada urusan.
Sedangkan Imah, selesai beberes, dia kembali ke kamarnya di depan sana.
Tinggallah kami bertiga dirumah ini sepertinya biasa. Diaz sudah tertidur pulas malam ini.
"Ehem...Dek!"
"Apa mas?"
"Hadiahnya cuma itu?"
"Memangnya kamu mau hadiah apa lagi mas?"
"Hadiah dari kamu sendiri lah!"
Mas Aziz mulai menanggalkan kancing piyamanya satu per satu.
"Mas, tidak ulang tahun pun kamu selalu minta pada ku kan?"
"Iya, sekarang karena mas yang ulang tahun, mas pengen kamu yang layanin mas!"
"Emang biasanya siapa kalau bukan aku?"
"Udah dek, jangan basa basi gitu? Ayolah...!"
Dasar bayik gede ku kelewat manja!
*****
Pagi pun tiba. Badanku terasa remek semua. Ini gara-gara mas Aziz menagihku sampai tiga kali naik. Beruntung nya Diaz tak terjaga tadi malam.
"Mas, aku mau bangun!"
Tangan mas Aziz masih saja melingkar di perutku.
"Nanti lah, belum juga Azan subuh!"
Mas Aziz kembali menelusup di tengkuk ku.
"Mas, ih...udah ah...kapan aku bangunnya kalau kamu gini terus?"
"Mas masih pengen begini dek!"
"Mas, semalam udah tiga kali lho. Emang nggak capek, emng nggak bosen?"
__ADS_1
"Mana ada bosen sih sayang! Udah, bentar.....lagi ya sayang!"
Akhirnya aku pasrah, sampai azan subuh berkumandang.
Aku benar-benar bangun karena tangis Diaz kelaparan. Beruntung lah, mas Aziz melepas pelukannya.
Aku meraih Diaz ke dalam dekapan ku, dan kubiarkan ia menyusu sekenyang-kenyangnya. Karena semalaman ia tak ku bangunkan untuk menyusu gara-gara ayahnya meminta hak nya berkali-kali.
Setelah Diaz kembali tidur, aku bersiap mandi wajib. Meskipun semalam sudah bebersih, tapi mandi wajibnya belum ku lakukan. Seolah berburu dengan waktu, aku buru-buru mandi setelah itu melaksanakan dua rakaat ku.
"Mas, solat subuh mas!"
Mas Aziz hanya menggeliat.
"Mas! solat subuh, waktunya udah keburu habis. Mana pakai mandi wajib dulu kan?"
"Ntar ah dek, mas capek!"
"Tadi bilangnya ngga capek, nggak bosen? Cepetan bangun ih...!"
"Iya bentar....!"
Sebentar tapi matanya masih merem, badannya masih tengkurap.
"Kalau nggak bangun juga, jangan harap ada jatah nanti malam!"
Seketika badan mas Aziz terduduk di ranjang.
"Oke, mas bangun dek! Mas bangun sekarang. Jangan suka nganacam kaya gitu lah!"
Mas Aziz berjalan gontai menuju kamar mandi.
Dasar omes! Kenapa sih di pikirannya sekarang begituan Mulu?
Tak lama kemudian mas Aziz sudah bersiap dengan baju Koko dan sarungnya. Solat subuh yang kesiangan dan patas membuatnya tak konsentrasi. Menyesal tak bangun dari tadi.
"Nih, jagain Diaz. Aku masak dulu ya?"
"Nggak usah masak dek, beli aja sarapan nya. Nanti siang aja masaknya?!"
"Yakin?"
"Iya lah."
Mas Aziz masih tampak menguap. Nyatanya memanga wanita itu lebih kuat. Meskipun semalaman di gempur hebat,paginya masih bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Salah mu dewek mas....!"
"Hem...ngomong apa dek?"
"Iya, salahmu sendiri. Jadi ngantuk, lemes kan jam segini?"
"Iya... ngga apa-apa lah. Oh iya, testdrive motor baru yuk Dek?!"
"Sepagi ini?"
"Iya, kan jalanan masih sepi. Kita bisa cari sarapan di taman. Nanti Imah tinggal di beliin apa gitu!"
"Boleh juga mas idenya. Oke, aku ganti jilbab dulu!"
Pukul setengah tujuh, kami bertiga berkeliling menggunakan motor baru mas Aziz. Badannya yang memang tinggi besar, terlihat sangat pantas memakai motor tersebut.
"Pilihan kamu memang tepat dek!"
"Soal?"
"Motor yang mas inginkan ini!"
Aku hanya mampus tersenyum. Kamu bahagia, aku pun bahagia mas, batinku.
Motor menepi di dekat tukang bubur ayam. Kami memesan tiga porsi bubu ayam. Dan beberapa jajanan pasar yang ada ditaman pagi ini.
Tugas kemarin malam terasa begitu melelahkan, tapi digantikan dengan keringanan tugas memasak di pagi hari. Senyumku mengembang sedari tadi.
__ADS_1
Kamu pasti lelah dek, semoga dengan sekedar membeli sarapan bisa meringankan tugasmu ya, batin Aziz.