
"Udah dek?", sapa mas Aziz saat aku menuju loby.
"Udah dong. Tadi juga udah nengokin mbak Feby."
"Gimana keadaan nya sekarang, membaik?"
"Ya...kaya gitu. Ada Dadan sama Farhan kok disana."
"Oh, syukurlah. Mas heran, dimana orang tua Feby? Masa anaknya sakit parah begtu di biarin? Jangan-jangan Feby niru orang tuanya tuh, makanya tega sama anaknya sendiri."
"Hush! Jangan mikir yang macem-macem deh mas. Itu bukan urusan kita. Kita kan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Ya wis lah, kita pulang."
Kami berjalan menuju parkiran yang jaraknya lumayan jauh. Sampai akhirnya aku melihat sosok lili yang sedang memperhatikan kami.
"Dek!", panggil mas Aziz saat aku berdiri di depan pintu mobil tapi tak ku buka-buka.
"Hem?Eh, iya."
Aku pun membuka pintu mobil. Setelah aku duduk, mas Aziz memberikan Diaz padaku. Mobil pun keluar dari area rumah sakit.
"Emm...mas!"
"apa?"
"Tadi, mbak Feby sempet bilang. Minta maaf ke aku."
"Kamu maafin ?"
"Iya lah, kenapa enggak. Bukan itu yang mau aku bilang."
"Apaan dong?"
"Mbak Feby nggak mau nikah sama kang Dadan. Dia bilang ,suruh Imah jangan batalin pernikahan mereka."
"Nah, tu ulet bulu ngerti."
"Jangan panggil ulet bulu lagi mas, kasian. Dia udah gak pernah ganggu kita lagi lho!"
"Iya...iya sayang!"
"Tadi...pas keluar, aku ketemu lili!"
"Lili?", tanya mas Aziz terkejut.
"Ya... aku sempat di dorong sih mas, untung jatuhnya ke tembok."
"Kok kamu nggak bilang sama mas dari tadi? Tapi kamu nggak apa-apa?", mas Aziz panik.
__ADS_1
"Enggak lah mas, santai aja!"
"Gimana bisa santai, kemaren dia sempat mau celakain kamu. Sekarang mau coba lagi?"
"Yang penting aku nggak apa-apa kan?"
"Tahu ada dia, mas mau bikin perhitungan sama ulet bulu itu. Dia harus bertanggung jawab dengan yang udah terjadi sama kamu dek!"
"Aku sempat mengancamnya mas, aku bilang kita punya bukti atas kejahatannya."
"Apa reaksinya?"
"Ya..dia cuma melotot. Aku bilang, kalau masih gangguin suamiku siap-siap aja mendekam di penjara!"
"wooow....istri ku bisa seberani itu?"
"Iyalah, dia bisa saja mau mencelakai ku, tapi jangan harap bisa merusak rumah tanggaku."
Aku bicara secara diplomatis, seolah-olah sedang ada di depan tersangka.
"Hahahah gayamu dek. Tapi, mas suka kamu kaya gitu dek. Kuat!"
"Kamu baru tahu mas?"
"Iya nggak juga sih!"
*********
"Bisa-bisanya dia cuma kaya gitu doang! gue cuma pengen si Dian itu cacat. Biar Aziz ninggalin dia. Tapi kenapa lukanya tak seberapa! Dan... Dan kenapa mantan kekasih nya itu terlibat di sini. Dia punya bukti kejahatan ku! Kamu selalu beruntung Dian. Kamu di cintai dua pria yang sama-sama ingin melindungimu."
Lili masih terus emosi di dalam mobilnya.
****
Mobil kami sudah sampai di halaman rumah. Aku dan mas Aziz pun turun, masuk lewat pintu samping penghubung kios dengan rumah.
"Gimana kondisi kaki mbak Di?"
"Alhamdulillah baik mah!"
"Wah....senengnya...ntar ada yang bisa tancap gas dong???!!!", ledek Imah.
"Tancap gas ? Apa maksud nya?", tanyaku.
"Tanya aja sama suamimu mbak! Hahahaha!", sahut Imah.
"Dasar Jawir! Lo udah waras Mah, nggak galau kaya kemaren lagi?", kata aziz.
"Waras lah, mosok edyan!"
__ADS_1
"Mah, tadi mbak ketemu mbak Feby."
"Mbak Di jenguk mba Feby?"
"Iya. Dia bilang, kalian nggak perlu batalin pernikahan kalian demi dia. Dia menolak permintaan Farhan mah."
"Terus, Imah harus apa mbak? Kasian Farhan dong mbak!"
"Kasian Farhan tapi nggak kasian sama kang Dadan?"
"Iya, nanti Imah pikir lagi deh kedepan nya gimana."
"Oke...!"
"Tapi mbak, aku nggak janji deh. Soalnya...."
"Terserah kamu Mah, kamu yang mau jalani. Ayok dek masuk, biarin si jomblo ini sendiri."
"Mas Aziz mah....Imah jomblo berkualitas kok. Cuma gagal kawin aja. Padahal mah mau berguru sama mbak Dian!"
"Hah? Sama aku? Berguru apaan?"
"Cara memuaskan suami!", kata Imah santai.
"Astagfirullah Imah, itu otak udah terkontaminasi dari mana?"
"Dari kalian lah, lebih tepatnya mas Aziz!"
"Aku? Ngarang banget. emang kapan aku ngomong yang vulgar-vulgar ke kamu?"
"Enggak ngomong sih, tapi kadang Imah dengar waktu kalian praktek!"
"Imahhhhh!", teriakku dengan mas Aziz bersamaan.
*****
"Fai!"
"Apalagi bah! Belum jelas yang tadi?", Fai kesal dengan ulah abahnya tadi.
"Berhubung Diandra sudah menjadi istrinya Aziz, apa Abah perlu melamar adiknya Aziz untuk mu? Dia nggak kalah cantik sama Dian!"
"Astagfirullah Abah...!"
"Emang kenapa Fai! Mau sampai kapan kamu sendiri begini!"
"Ini juga kan gara-gara Abah minta Fai buat mutusin pacar Fai. Nyesel kan sekarang, Dian udah jadi istri sahabat Fai sendiri."
"ya...kalian emang bukan jodohnya!"
__ADS_1
"Tau ah...bah!"
Fai pun meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya di lantai atas.