
Mobil mas Aziz melaju cepat.Beruntung jalanan tak terlalu macet.Jadi kami tak butuh waktu terlalu lama untuk sampai dirumah sakit.
"Sus...suster, seperti nya istri saya mau lahiran . Tolong sus." Mas Aziz menggandengku untuk duduk dikursi roda.
"Aku ngga apa-apa kok mas, jangan berlebihan begitu.Aku belum merasakan apapun."Aku mencoba menenangkan diriku sendiri dengan berkata seperti itu pada mas Aziz. Imah hanya menjadi penonton saat ini.
"Silahkan bapak dan ibu tunggu diluar ya.Kami akan periksa istri bapak terlebih dahulu." Suster pun membawa ku masuk ke sebuah ruangan.
"Maaf ya Bu, saya periksa sebentar."Ucap salah seorang perawat atau bidan, entahlah aku tak terlalu mempermasalahkan.
Dia membuka pakaian dalam ku. Lalu memasukkan jarinya ke jalan lahir ku. Setelah itu dia menutup kembali selimut yang tadi menutup perut dan badan bagian bawah ku.
"Sejak kapan pecah ketuban Bu?", tanya nya.
"Sekitar setengah jam yang lalu dok!", jawbaku. Aku tak tahu apa dia suster,bidan atau dokter.
"Usia kandungan ibu seperti nya belum mendekat perkiraan lahir ya Bu?Ibu bawa buku rekam medis nya?",tanya dokter lagi.
"Iya Bu, usianya 29minggu dok," jawabku.
"Oh...tapi, sudah pembukaan satu Bu."
"Sudah pembuka dok?",tanyaku.
"Iya,tapi ibu rileks saja ya bu. Usahakan tetap tenang.Baru pembuka satu, proses menuju ke pembukaan akhir masih lama. Apalagi ini anak pertama ya Bu?" tanya dokter lagi.
"Iya Bu, saya santai.Justru suami dan adik saya yang cemas.Ini memang kehamilan pertama saya dok."
"Baiklah,jika butuh bantuan silakan panggil suster jaga ya bu.Kalau nanti sudah terasa mulas sepuluh menit sekali, ibu bisa panggil saya",ucap Bu dokter.
"Iya dok."Lalu dokter meninggalkan ku. Suster bersiap memindahkan ku ke ruang rawat. Pintu ruangan terbuka saat mas Aziz terlihat panik mondar-mandir.
"Dok...dok...istri saya sudah melahirkan?", tanya mas Aziz cemas.
"Bapak ,istri bapak baru pembukaan satu.Masih panjang proses nya.Silahkan bapak pilih ruang rawat yang bapak mau, nanti suster yang akan mengurusnya.Saya permisi pak!", dokter meninggalkan mas Aziz. Dia menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Sus,saya mau istri saya diruang VIP ya!",pinta mas Aziz saat memasuki ruangan.
"Baik pak. Kami segera menyiapkan." suster pun pergi keluar.
"Kamu beneran nggak apa-apa saya g?", tanya mas Aziz.
"Belum berasa apa pun kok mas."
"Mas pikir kamu langsung melahirkan," katanya cemas.
"Ya kali kaya ayam bertelur mas."
Aku dan mas Aziz masih bercanda sampai suster datang.
"Ruangan sudah siap pak. Mari saya antar!",dua orang suster mendorong tempat ku berbaring ke ruang yang mas Aziz pesan.
Kulihat Imah bangkit dari duduknya saat aku melewati tempat dia duduk.
"Mbak di!", panggilnya.
"Tenang Imah. Mbak belum mau lahiran kok."
Seketika wajah cemas Imah berubah menjadi lebih santai.
__ADS_1
Aku berada diruang VIP pesanan mas Aziz.Ruangan yang dilengkapi dengan segala fasilitas.
"Maaf Bu, ketuban ibu masih rembes, ibu mau pakai diaper?",suster menawarkan.
"Boleh deh sus.Saya masih bisa pakai sendiri kok."
Lalu suster menyerahkan diaper itu padaku.
"Bisa dek?", tanya mas Aziz padaku. Aku cukup mengangguk untuk mewakilinya jawaban ku.
"Mah, makan aja dulu sana.Sudah mau magrib ini."kata mas Aziz.
"Mas dulu deh,Imah entar sekalian solat dimushola rumah sakit."
"Ohw....ya sudah."
Ku lihat Imah dan mas Aziz tertidur pulas disofa.Sepertinya mereka kelelahan. Perutku mulai mulas. Tapi belum terlalu sering.Aku masih bisa terpejam sesekali waktu. Tapi semakin ke sini, rasa mulas itu semakin terasa sakit.
"Mas...Imah....!"",aku memanggil mereka.
Mereka berdua terbangun bersamaan.
"Maaf dek, mas ketiduran.Ada yang sakit?Mas panggil dokter?", tanya mas Aziz panik. Aku mengangguk. Lalu mas menekan tombol memanggil suster. Beberapa waktu kemudian, seorang suster mengahampiri kami.
"Mari Bu kita ke ruang VK ya Bu."Suster pun mendorong ranjang ku. Mas Aziz dan Imah pun mengikuti ku. Tak lupa ,barang bawaannya dia bawa.
"Bapak mau menemani di dalam?", tawaran suster terlihat seperti sebuah pertanyaan.
"Iya sus.Imah, kamu tunggu disini ya,"titah mas Aziz pada suami ku.
Rasa mulas sudah sangat menguasaiku. Seorang dokter sudah bersiap dengan sarung tangannya. Aku sudah berbaring di sebuah tempat tidur khusus melahirkan.
"Saya lihat dulu ya Bu?", kata Bu dokter merogoh kembali jalan lahirku.
"Alhamdulillah. Pembukaan lengkap bu. Mohon mengikuti instruksi saya ya Bu. Jangan mengejan sebelum saya perintahkan. Karena kalau ternyata salah waktu mengejan, ibu hanya akan menghabisi energi ibu."Bu dokter mulai memberi petunjuk.Aku mengangguk tanda mengerti. Mas Aziz mengusap kepalaku dan menghapus keringat di dahiku.
"Bismillah. Ayo Bu pelan-pelan tarik nafasnya. Lalu hembuskan. Silahkan dilakukan berulang-ulang. Usahakan rileks Bu, jangan tegang. Ibu bayangkan saja seperti ibu sedang bab Bu.Ayo Bu....satu....dua...", dokter kembali menjeda. Aku berusah menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ku dengar mas Aziz merapalkan doa dari al-Fatihah hingga ayat kursi berulangkali.
__ADS_1
"Mari Bu coba lagi. Seperti yang saya bilang tadi, mengejan setelah saya beri instruksi dan seolah-olah ibu sedang bab."
Aku mulai paham. Bismillah. Aku pasti bisa.
Eeeeehhhh.....aku mulai mengejan.
Oek...oek...aku mendengar tangis bayi ku. Mas Aziz mencium keningku berulang-ulang. Tak henti-hentinya ucapan hamdalah keluar dari mulutnya. Kulihat ada air mata mengalir dari sudut matanya. Ya, mas Aziz menangis terharu sekaligus bahagia dengan kelahiran putra pertamanya. Dokter memeriksa keadaan bayi.Lalu memotong tali pusatnya. Berikut nya ,salah seorang perawat mungkin tepat nya. bidan mencoba mengeluarkan ari-ari bayiku.
"Selamat ya Bu...pak. Putranya tampan seperti ayahnya." Dokter menunjukkan wajahnya padaku dan mas Aziz.
"Tapi, berhubung bayinya lahir jauh sebelum perkiraan lahir.Kami akan melakukan observasi dan perawatan khusus terlebih dahulu."
"Iya dok, lakukan saja jika memang itu yang terbaik."Mas Aziz menyetujui ucapan dokter.
"Dek, maaf mas tinggal dulu ya.Mas mau lihat Dede bayi diperiksa dulu.Mas juga mau azanin bayi kita."Aku mengangguk lemah. Seorang perawat menjahit jalan lahirku. Rasa nyeri jahitan jarum yang melekung itu tak kuhiraukan, yang ada hanya ucapan syukur.
"Alhamdulillah lengkap pak. Tapi, seperti yang bapak dengar bayi bapak kami rawat secara intensif."
"Baik sus.Setelah di bersihin boleh saya azanin sus?", tanya mas Aziz.
"Tentu pak.Silahkan."
Dede bayi sudah terlihat bersih dengan selimut yang membungkusnya. Ku dengar mas Aziz azan didekat bayiku. Ada rasa haru menyelimuti kalbuku . Seperti ini rasanya ternyata. Andai saja waktu itu aku jadi berpisah dengan mas Aziz, mungkin aku tak menemui moment ini.
"Alhamdulillah... keponakan tante sudah lahir."Ucap Imah setelah ia diijinkan masuk.Aku dan mas Aziz tersenyum.
Bayi kami dimasukan ke dalam inkubator sebentar lagi akan dibawa keruang khusus.
"mbak, Dede bayinya premium ya jadi di simpen pake inkubator ya?", tanya Imah dengan lugunya.
"Kamu pikir ponakan mu itu bensin mah?Nggak sekalian aja pertalite kalo perlu Pertamina?", kata mas Aziz.
Sontak, celetukan Imah menjadi bahan tertawaan para perawat.
"Bukan premium mah, prematur."Aku mencoba menengahi dua saudara sepupu ini.
"iya itu maksud Imah mas...mbak....", jawbanya santai tanpa dosa. Dasar Imah !!! Lalu Dede bayi pun dibawa oleh suster keruang khusus. Mas Aziz mengikuti kemana arah bayi itu dibawa.
__ADS_1